"Hei bocah bisu, menjauh dariku." ucap temanku yang selalu merundung diriku. ya, di sekolah, aku adalah bahan rundung-an teman-temanku. walau mereka tidak mengakui diriku sebagai teman. alasan mereka merundung diriku, dikarenakan diriku yang bisu, dan selalu di spesial-kan oleh para guru. aku akan menceritakan kepada kalian saat awal aku masuk ke SMP.
Saat aku sudah tamat SD, ibuku mulai mencarikan ku sekolah SMP yang cocok untukku. hingga pada akhirnya, ibuku memilih sekolah A7. ibuku bilang di sekolah itu aku akan nyaman. karena ibuku sudah memberi pesan kepada kepala sekolah agar semua guru dan murid tidak ada yang akan merundung diriku.
Hari pertama masuk sekolah. sekolah sangat besar. aku pun langsung mencari kelasku dengan membawa buku dan pulpen. aku menuliskan "Apakah kamu tau dimana kelas 1A ?" di buku itu. kemudian aku memperlihatkan kepada murid lain dengan niat untuk bertanya.
Banyak orang yang bingung dengan tingkah ku. mungkin karena mereka tidak mengetahui kondisiku. hingga pada akhirnya...
"Wah, aku juga sedang mencari kelas yang sama. kalau begitu, kita cari bersama saja." ucap wanita seumuran ku yang sepertinya dia tidak keberatan dan tidak membenci dengan kekuranganku.
"Nah, ini kelasnya. ayo masuk. kamu duduk bareng sama aku yah." ucap wanita itu lagi. aku pun memberanikan diri untuk menanyakan namanya. dengan cara yang sama seperti sebelumnya. aku menuliskan pertanyaan ku di buku yang aku bawa.
"Aku Sintia. salam kenal." ucap wanita itu. aku pun memperkenalkan nama ku kepadanya.
"Aku Yully. salam kenal." tulisan ku di buku yang aku arahkan kepadanya. sintia pun tersenyum setelah membacanya.
"Aku sudah tau kok tentang dirimu. makanya, setelah bertemu dirimu aku sangat senang." ucap Sintia. aku pun tersenyum.
Pelajaran pertama pun dimulai. ini adalah pelajaran bahasa Indonesia. gurunya pun masuk ke kelasku. lalu dia pun mulai memperkenalkan diri. setelahnya, guru itu langsung menyampaikan dan menjelaskan tentang menteri yang akan dipelajari. saat selesai menjelaskan, guru itu pun menyuruh satu persatu murid untuk membaca cerita yang ada di dalam buku. aku yang duduk di baris kedua dari depan pun mulai kebingungan. karena diriku yang tidak bisa melafalkan kata dengan benar. pasti guru itu akan marah. dan saat murid yang lain sedang membaca, guru itu pun selalu memarahinya dengan alasan artikulasi dan gaya pembacaan yang kurang baik.
Giliran ku untuk membaca telah tiba. aku sangat gugup. aku takut kena marah, aku takut di tertawai.
"Ha_hayi ya'bayus untu mambarsikan wummah... "
ya Tuhan, mengapa ini terjadi padaku. saat aku membaca murid lain hanya tercengang mendengar perkataan ku.
"Bagus! berikutnya, Sintia." ucap guru itu. aku sangat kaget mendengar perkataannya. tetapi aku berfikir lagi. mungkin guru itu memaklumi diriku.
Ketika Sintia membaca, dia dimarahi habis-habisan oleh guru itu. aku sangat kasihan kepadanya. Sintia pun disuruh berhenti membaca.
"kok bisa sih kamu gak kena marah?" ucap Sintia saat jam istirahat. aku pun mulai menulis jawabanku. tetapi, sebelum aku selesai menulis, teman sekelas ku yang lain menghampiriku dan mengambil buku milikku. wajah mereka sangat marah.
"Hei gagu, enak banget ya gak kena marah. Lo ini pinter atau cuma di kasihan-i sama guru hah?" ucap seorang teman sekelas ku. hatiku sangat sakit mendengar perkataannya.
"Woi, omongan itu dijaga yah. Lo tau gak klo omongan Lo itu menyakiti hatinya? gak mikir loh?" ucap Sintia dengan marah.
Satu Minggu berlalu. sepertinya Sintia mulai cemburu kepadaku. karena di setiap pelajaran, aku selalu mendapatkan nilai yang bagus. tetapi Sania, selalu mendapatkan nilai yang kurang memuaskan. hingga pada suatu hari..
"Lihat tuh si gagu, yang nilainya bagus terus di semua mata pelajaran. kesel banget gue sama dia." ucap teman sekelas ku kepada teman-teman yang lain. lalu dia pun menghampiri ku dan menarik rambutku. aku pun berteriak kesakitan. kaku pun langsung melepaskan cengkeramannya dan berlari ke Sintia. tetapi Sintia tidak merespon diriku. aku pun mendorong-dorong dirinya dengan pelan. tetapi Sintia yang sedang menulis mulai terganggu. karena tulisannya yang jadi berantakan.
"Aduh. kenapa sih? tulisanku jadi rusak. kamu ini benar-benar ya Yully. pergi kamu, jangan dekati aku lagi." ucap Sintia dengan marah. aku pun terdiam karena tidak menyangka kalau Sintia akan mengucapkan hal itu. aku kemudian mengambil tas ku dan duduk di barisan paling belakang. aku menangis dengan keras. teman-teman yang lain pun menoleh kearah ku. dan tak lama, seorang guru masuk ke kelasku dan menanyakan yang terjadi.
"Dia nangis karena Sintia Bu. Sintia sudah marahi Yully." ucap orang yang tadi menarik rambutku.
"Kalau begitu, Sintia, ikut ibu." ucap guru itu.
Keesokan harinya aku tidak datang ke sekolah. ibuku melarangnya.
"ibu akan pergi ke sekolah." ucap ibuku.
entah apa yang akan terjadi pada Sintia dan yang lainnya.