“Baiklah atau aku harus melakukan hal ekstrim? Seperti mengaku telah kau hamili atau memberi tahu orang tuamu?”
*****
“Hei apa kau sudah memutuskan untuk ikut kegiatan ekstrakurikuler?”
Dengan senyum manisnya, ia mendekatiku yang baru saja pindah sekolah.
“Tidak, aku ingin langsung pulang saja.” Aku tersenyum tak enak.
“Tidak bisa, kau harus ikut minimal 1 ekstrakulikuler!” ia berdiri di sebelahku layaknya seorang guru.
“Ah begitu rupanya...”
Padahal aku ingin cepat-cepat pulang ke rumah.
“Bagaimana kalau kau ikut ekstrakurikuler memasak?”
Gadis itu menyodorkan selembar kertas ke arahku.
“Formulir pendaftaran?” Aku menatap kertas itu bingung.
“Dengar ya, ekstrakurikuler memasak adalah ekstrakurikuler yang sangat luar biasa! Kau bisa belajar memasak dan makan hasil kerja kerasmu dengan gratis!”
Benar juga! Selain itu aku dapat memasak sendiri di rumah dan menekan biaya hidupku!
“Baiklah aku setuju!” aku mengangguk dan mengisi formulir itu.
*****
“Jadi begitu rupanya?” ia menatap tulisan di bukuku.
“Aku tidak begitu baik dalam hal mengajari, tapi kalau belajar bersama tidak masalah.”
“Kalau begitu, kita belajar bersama untuk ulangan nanti di perpustakaan bagaimana?”
Ia menatapku dengan mata berbinar.
“Tidak masalah, kalau kau tidak keberatan.”
Perlahan aku menyadari betapa cantiknya ia.
Ia selalu berusaha berbicara denganku, walaupun kadang aku hanya menanggapi seperlunya.
“Hei! Kau kenapa Ricky-kun?” ia melambaikan tangan di depan wajahku.
“A-ah! Tidak! Tidak!” balasku gelagapan.
*****
“Anak itu!”
“Murid pindahan yang dekat dengannya.”
“Hentikan ia dapat mendengar ucapan kalian.”
Banyak murid lain berbicara tentangku, yang dekat dengannya. Tapi kami dekat karena satu kelas dan satu ekstrakurikuler, tidak lebih.
Aku tidak berniat untuk berpacaran di sini, aku hanya ingin lulus dengan nilai baik demi masa depanku.
“Surat?” ucapku setelah menemukan sepucuk surat dalam loker tempatku biasa menyimpan sepatu.
Ini surat ke sekian kali, yang aku terima sejak pindah ke sini, kenapa banyak sekali yang menyukaiku?
Apa yang menarik dariku?
“Surat lagi?” gadis itu menatap surat di tanganku.
“Iya.”
“Kau tolak lagi?” terkanya.
Aku menganggukkan kepala, membenarkan ucapannya.
“Kalau aku yang mengirim surat itu, apa kau akan menolaknya?”
Apa maksudnya? Apa benar surat ini miliknya?
“Tentu saja, aku tidak berniat berpacaran.”
jawabku yakin.
“Berarti aku harus bekerja keras!”
“Maksudmu?”
Aku salah mengambil kesimpulan atau ia memang menyukaiku?
“Aku menyukaimu!” ucapnya sembari berbalik.
*****
“Aku tidak akan menerimamu hanya karena kau memberikanku makan siang.”
Ia mengerucutkan bibirnya kesal.
Menggemaskan...
“Aku tidak peduli, makan saja!” ia menyodorkan sebuah kotak kepadaku.
“Bukannya aku tidak mau menerima niat baikmu, tapi jika setiap hari aku memakan bento buatanmu, aku akan selalu merepotkanmu.” Aku tersenyum tak enak ke arahnya.
“Ricky-kun! Aku tahu kau tinggal seorang diri, jadi tidak ada yang membuatkanmu bento. Sebagai calon istri yang baik, aku akan menjalankan tugasku lebih awal dari sebelumnya.”
Aku terbatuk kaget, sedangkan ia tertawa bahagia.
“Kenapa kau begitu yakin aku akan menjadikanmu seorang istri?”
“Aku akan memastikan kalau kau akan menjadikanku istrimu suatu saat nanti!”
Aku akan mewujudkan ucapanmu...
“Kenapa? Tidak enak?” Ia menatapku kaget.
“Ke-kenapa?” ucapku bingung.
“Kau berhenti menggerakkan sumpitmu, ada yang tidak enak?” Ia menatap dengan penuh selidik.
“Ah.. tidak, semua sangat enak seperti biasanya. Sekali lagi terima kasih telah membuatkanku bento seperti ini.” Aku tersenyum ke arahnya.
“Kau membuatku semakin menyukaimu! Hahaha!”
*****
“Apa yang kau lakukan padanya hah?”
“Membuat wanita menangis itu, sangat buruk kau tahu!”
“Sebaiknya kau kembali ke negaramu!”
Mereka tak berhenti menendang tubuhku yang meringkuk di tanah.
“Aku tidak melakukan apa pun padanya... Aku hanya tidak menerimanya...” ucapku pelan.
Tidak! Aku harus bertahan! Aku tidak mau membuat kedua orang tuaku kecewa!
“Sudah kita tinggalkan saja dia! Ayo kita pulang!”
“Sial! Padahal aku masih belum puas!”
“Hei! Kalau ia mati kita akan kerepotan!”
Setelah bosan, akhirnya mereka pergi meninggalkanku.
Ini lebih lama dari biasanya, kalau begini aku bisa kehabisan bento yang diberi potongan harga.
Aku bangkit dari tanah dengan pakaian seragam yang kotor. Badanku terasa sakit, tapi aku harus ke minimarket dekat rumahku.
Aku memang lemah, mudah sakit-sakitan dan tidak pandai dalam olahraga. Tapi berkat isi kepalaku dan kepentingan tertentu, beasiswa untuk menempuh pendidikan di Jepang dapat kuraih.
“Selamat datang! Astaga!” Natsumi-san pekerja paruh waktu di minimarket menatapku dengan kaget.
“Selamat malam Natsumi nee-san...”
“Anak-anak itu lagi?” ia menghela napas.
Aku hanya tersenyum pahit.
“Kalau aku bertemu dengan mereka, lihat saja!” Natsumi nee-san mengepalkan tangannya sedang matanya penuh dengan dendam yang membara.
“Sudah tidak perlu, kalau Natsumi-san melakukan hal yang sama dengan mereka, apa bedanya Natsumi-san dengan mereka?” aku tersenyum.
“Ah! Kau ini benar-benar!” ia mengacak rambutku, “tunggu di sana, akan aku mengobatimu!”
Aku mengangguk lalu menyusuri rak satu per satu, mencoba mencari bento yang biasanya dijual dengan setengah harga.
“Natsumi nee-san apakah bentonya sudah habis?”
“Maaf Ricky-kun, seorang gadis dari sekolahmu membelinya saat aku hendak menyisihkannya. Aku sudah berusaha mempertahankan bento itu tapi ia sangat keras kepala dan bersikukuh untuk membelinya.” Natsumi nee-san tersenyum tidak enak.
“Begitu rupanya...” aku menghela napas kecewa, “kalau begitu aku pulang dulu Natsumi nee-san.”
“Tunggu! Bagaimana dengan lukamu?” Ia keluar dari balik meja sembari membawa sebuah kotak kecil, “bagaimana juga dengan makan malammu?”
“Ramen instan saja sudah cukup.”
“Ah! Aku merasa bersalah! Kenapa kau tidak mau aku belikan makan malam?”
Wanita yang sudah kuanggap kakak sendiri, membimbingku duduk di kursi depan minimarket.
“Auu!” pekikku kaget saat sesuatu yang menyengat terasa di kulitku.
“Sakit?” tanyanya.
Aku mengangguk sembari menggigit bibirku sendiri.
“Andai saja aku pandai memasak, orang tuaku juga berada di desa.” Suaranya terdengar sedikit kecewa.
“Aku pasti semakin merepotkan hehehe,” tawaku tak enak.
“Apa yang kau katakan, kita senasib kau tahu?”
Natsumi nee-san berasal dari pedesaan di Nagano dan sedang kuliah di Tokyo.
“Baiklah! Sudah!” ia membereskan peralatan ke dalam tas kecil yang sebelumnya ia bawa.
“Terima kasih Nee-san.” Aku tersenyum ke arahnya.
“Sama-sama adikku haha!” ia mengacak rambutku sembari tertawa, “kalau begitu Nee-san akan kembali bekerja! Baik-baik adikku!”
Wanita itu berlari masuk, mendahului seorang pria dewasa yang akan berbelanja.
Aku berjalan perlahan, merasakan sakit di sekujur tubuh.
Aku harus kuat! Aku tidak boleh kalah dengan keadaan!
“Ricky-kun!” tiba-tiba suara seseorang yang kukenal masuk ke dalam telingaku.
Dengan cahaya yang menyinari lorong, aku dapat menebak siapa yang berada di depan kamarku.
“Untuk apa kau kemari?” jawabku ketus.
Ia tak menjawab, matanya memandangku dari ujung kaki hingga ujung kepala.
“Ini makan malam untukmu!” ia menyodorkan sebuah kantong kertas ke arahku.
“Tidak, terima kasih.” Aku membuka pintu dan beranjak masuk.
“Hei! Dengar! Aku tidak akan menyerah!” Ia meletakkan bungkusan itu di depan pintu, kemudian pergi meninggalkannya begitu saja.
Apa dia sudah pergi?
Sayang sekali kalau tidak dimakan!
Aku membuka pintu lagi dan menemukan kantong kertas yang tadi ia berikan. Dengan cepat aku mengambilnya dan segera menutup pintu.
*****
“Kau mengambilnya bukan?” gadis itu menahan tawanya.
“Aku merasa kasihan bila ia ditinggalkan begitu saja oleh pemiliknya, jadi aku bawa masuk ke dalam.”
“Dasar!” Gadis itu menarik kedua pipiku.
Jujur saja sebenarnya aku menyukai gadis ini, tapi aku harus fokus belajar terlebih dahulu.
“Hei! Punya waktu sebentar?”
Orang yang selalu merundungku datang bersama teman-temannya
“Rick... Jangan...” ia menatapku sembari menggelengkan kepalanya.
“Aku tidak apa-apa!” aku tersenyum ke arahnya.
“Hentikan! Kau kira aku tak tahu dengan apa yang kalian lakukan?” Ia berdiri menghadang mereka.
“Gadis sepertimu bisa apa hah?”
Gadis itu terjatuh terkena dorongan kuat seseorang di sana.
“Hentikan!” teriakku secara tak sadar.
“Oh berani melawan kau rupanya?”
“Sepertinya kau perlu pelajaran!”
Mereka menarikku secara paksa, meninggalkan pandangan tak berkutik dari teman-teman sekelasku, termasuk gadis itu.
Mereka menyeretku hingga ke belakang ruangan penyimpanan, yang cukup jauh dari kelas serta keramaian.
“Kau hanya menumpang di sini! Sadar diri sedikit!”
“Kau harus menuruti kami! Paham!”
Belum sempat aku menjawab, sebuah tendangan bersarang di perutku. Aku terbatuk dan terjatuh, kemudian meringkuk menahan sakit.
“Sudah berapa kali aku katakan? Jangan mendekatinya!”
Sebuah tendangan sekali lagi menghantam perutku, membuat rasa sakit dan sesak semakin terasa menyiksa.
“Kau tahu bukan? Dia idola di sekolah!”
“Benar! Kau hanya anak pindahan yang beruntung!”
“Jangan merasa besar kepala jika ia mendekatimu!”
Tak lama tendangan bertubi-tubi terasa di sekujur tubuhku, memaksaku meringkuk menahan sakit yang amat sangat.
Padahal aku tidak mengenal mereka sama sekali, teman sekelas saja bukan. Karena gadis itu?
Tidak... sebelum gadis itu dekat denganku, mereka telah menghajarku tanpa alasan yang jelas.
“Lebih baik kau pulang ke negara asalmu dan jangan bersekolah di sini!” ucap sang pemimpin sembari menekan kedua pipiku dengan jarinya.
Ia melempar kepalaku ke bawah dan membuat kepalaku merasakan betapa kerasnya bumi. Tak lama mereka segera berjalan pergi meninggalkanku yang tergeletak di tanah.
“Ricky!”
Gadis itu mendekat, aku spontan bangun dari tidurku.
“Jadi karena ini?”
Aku diam tak menjawab.
“Kenapa kau tak berkata apa-apa?”
“Aku kira itu adalah alasan mereka saja...” Aku tersenyum pahit.
Matanya mulai berkaca-kaca, ia menatapku dengan mata bergetar.
“Kenapa?”
“Mereka merundungku sebelum kita dekat, jadi aku rasa itu bukan alasan mereka yang sebenarnya.”
Aku bangun dan membersihkan baju seragamku.
“Sebenarnya aku menyukaimu... tapi aku harus fokus dalam belajar di sini.”
Ia memandangku seolah tak percaya dengan apa yang aku katakan.
“Jika itu alasanmu, aku tidak akan memaksa. Aku hanya gadis egois yang mau menang sendiri...”
Ia menunduk menatap ujung sepatunya.
“Jika kau tidak keberatan, bisa kita menjadi teman?”
Aku mengulurkan tanganku ke arahnya.
“Tentu saja! Tentu saja!” dengan wajah yang merona, ia menerima uluran tanganku.
Apakah mereka akan merundungku lagi?
Dekat dengannya ataupun tidak, mereka pasti akan melakukannya hingga aku benar-benar keluar dari sekolah ini.
“Ricky ayo kita ke UKS, agar sensei mengobati lukamu.”
Ia tersenyum dan merangkul bahuku.
*****
Hari ini kami berjanji akan mengunjungi restoran murah yang ramai orang bicarakan.
Saat ia mengajakku pergi, aku berkata dengan jujur bahwa aku harus berhemat agar kedua orang tuaku tidak bekerja terlalu keras.
“Ricky-kun!” suara gadis yang aku tunggu akhirnya memasuki telingaku.
Ia berlari mendekat sembari melambaikan tangannya, “sudah lama? Maaf aku terlambat.”
Dengan baju biru laut dengan aksen pita di dekat dadanya, rok putih dengan lipatan rapi yang berbentuk garis menurun serta rambutnya yang berhiaskan jepit rambut minimalis, ia terlihat sangat cantik, cantik sekali.
“Ah tidak, aku juga baru saja sampai,” ucapku yang baru sadar setelah memperhatikannya.
“Kau berbohong, salah satu temanku berkata melihatmu telah duduk di sini sekitar 20 menit yang lalu.”
Ahh! Aku ketahuan...
Aku sudah menatap keramaian kota Tokyo dari bangku ini cukup lama. Semilir angin serta sejuknya hawa di sekitar bangku ini, membuatku yang duduk di bawah pohon lupa waktu.
“Karena kau berbohong agar aku merasa tak bersalah, jadi hari ini aku yang mentraktirmu! Bagaimana?” Ia tersenyum penuh kemenangan.
“Tidak usah, aku masih memiliki uang haha.”
Ia mengerucutkan bibirnya seolah tak suka dengan apa yang aku katakan.
Kau sangat menggemaskan!
“Apa ada yang salah denganku?” ia berputar di hadapanku, “orang-orang melihatku terus menerus.”
Itu karena kau cantik! Sangat cantik! Apa kau tak sadar?
“Tidak... Hari ini kau sangat cantik..”
Aku mengatakannya?
Ia berbalik dan tampak canggung, “Aku sudah lapar! Kau harus mengikutiku! Jangan sampai terpisah!”
“Ah iya..”
Wajahku memanas, jantungku tak karuan.
Apa sebaiknya aku pulang saja?
Tidak! Tidak! Ini kesempatan yang baik untuk berdua dengannya!
“Ricky-kun cepat!” ia menarikku yang masih dalam keadaan duduk.
“Ah iya! Iya!” aku terpaksa bangun dan mengikuti tarikan tangannya.
*****
“Bagaimana? Enak bukan?” ucapnya sembari tersenyum ke arahku.
“Benar ini sangat enak!” aku tersenyum dan memasukkan daging belut yang telah dibumbui dan dibakar ke dalam mulut.
“Hei, kau tahu? Apa yang membuatmu menarik?”
Tiba-tiba ia berucap sesuatu yang membuat wajahku memanas.
“A-aku tidak tahu...”
Aku hanya remaja pria yang tidak pintar dalam hal olahraga dan tidak bisa mempertahankan diri.
“Senyummu.”
Aku terbatuk saat mendengar ucapan jujurnya.
“Kau lihat mereka?” ia menunjuk ke meja yang berada di dekat jendela, “mereka memperhatikanmu saat kau tersenyum manis kepadaku.”
“A-apa? Benarkah?”
“Ah! Sainganku sangat banyak...” ucapnya dengan nada frustasi.
“Apa yang kau katakan hahaha...” Tawaku yang terdengar tak natural.
“Jika kau sudah lulus, aku akan terus mengejarmu! Bahkan jika tubuhmu itu telah berganti jiwa! Aku akan menjadikanmu milikku seutuhnya!” ucapnya tanpa malu.
“Dasar egois, kau tahu bukan? Sebenarnya aku juga menyukaimu...” ucapku pelan.
“Aku tidak mendengarnya...” Ia tersenyum ke arahku seolah hendak menggodaku.
“A-ah! Baguslah!” aku melanjutkan makanku dengan sedikit kesal.
“Hei pelan-pelan! Nanti kau ter”
“Ughuk!” aku tersedak sama seperti ucapannya.
“Bahkan aku belum menyelesaikan ucapanku.”
“Ricky-kun!” tiba-tiba suara seseorang yang aku kenal memanggil namaku.
“Natsumi nee-san?” ucapku tak percaya setelah melihat sosoknya dengan jelas.
“Ah! Kalian sedang berkencan rupanya?” Natsumi nee-san memandang kami secara bergantian dengan senyum yang terlukis di wajahnya.
Wajahku memanas sedangkan gadis di hadapanku menunduk menyembunyikan wajahnya yang memerah.
“Natsumi nee-san sedang apa kemari?” Aku berusaha mengalihkan pembicaraan.
“Bertemu dengan teman-temanku, salah satu dari mereka,” ia menunjuk ke arah meja yang sebelumnya kami lihat, “ia sedang berulang tahun, jadi kami diundang untuk makan siang di sini.”
“Oh begitu rupanya...” aku mengangguk mengerti.
“Kalau begitu selamat bersenang-senang! Maaf mengganggu kalian!” Natsumi nee-san tersenyum kemudian meninggalkan kami berdua sembari mengedipkan sebelah mata ke arahku.
Apa maksudnya?
“Siapa dia?” tanyanya.
“Oh itu? Natsumi nee-san, pekerja paruh waktu di minimarket dekat rumahku.”
“Jadi kau lebih menyukai wanita yang lebih tua darimu? Ah! Tidak ada harapan bagiku...”
“Hei! Aku menyukaimu bukan menyukainya!” ucapku secara tak sadar.
“Jangan bergerak!”
Tiba-tiba sebuah teriakan menggema dan membuat semua orang mengalihkan perhatian ke sumber suara.
Beberapa orang bertopeng dan bersenjata memasuki restoran melepaskan tembakan ke udara.
Semua berteriak ketakutan.
“Berkumpul di tengah cepat!” hardik salah satu dari mereka.
Aku memegang tangannya yang gemetar, berusaha menenangkannya.
“Jika kalian melawan, kami tak segan untuk melukai kalian!”
Dengan penuh ketakutan, kami berkumpul dan berjongkok di bawah kungkungan moncong senjata api.
“Bagaimana ini?”
“Kita harus menjadikan mereka semua sandera!”
“Tapi masih ada yang tertinggal di dalam bank..”
“Ini pilihan kita agar dapat kabur dari situasi ini.”
Mereka perampok bank yang tengah dikejar oleh polisi, menjadikan kami sandera agar dapat kabur dari situasi mendesak.
“Hei! Lihat ini!”
Tiba-tiba seseorang dari mereka menarik rambut gadis yang sedari siang menemaniku.
“Hentikan!” pekikku sembari menahan tangan pria itu.
“Mau jadi pahlawan kau?” Ia melepaskan rambutnya dan beralih ke rambutku, “kau yang akan menjadi korban pertama!”
Ia menyeretku ke depan, kemudian menempelkan mulut senjata api di pelipis kananku.
“Berani mati kau rupanya?”
“Oh aku baru sadar, gadis itu pacarmu!” ia mendekatiku kemudian menamparku, “setelah kau mati, gadis itu akan jadi milikku!”
Aku hanya tertunduk dan menggeretak gigiku, tak bisa melawan.
Suara sirine polisi terdengar dari luar bangunan, seolah telah mengelilingi mereka semua.
“Gawat polisi!”
“Tenang kita memiliki sandera! Mereka tidak bisa bergerak bebas.”
Aku menatap wajah-wajah ketakutan para pengunjung, hingga aku menemukan ia menangis dalam pelukan Natsumi nee-san. Suasana tegang sangat terasa, tangisan ketakutan terdengar memenuhi ruangan ini.
Aku menatap mereka dan tersenyum, ia yang menangis dan Natsumi nee-san yang memeluknya menatapku khawatir.
Tiba-tiba mereka menarikku ke luar ruangan.
“Berikan kami mobil! Kalau tidak aku membunuhnya! Cepat! Kami tunggu 5 menit!” hardik seseorang dari mereka yang tengah memegangi pistol di dekat kepalaku.
Para pria berseragam, saling memandang.
“Kami serius!”
“Kalian! Bawa gadis itu juga!”
Ga-gadis itu? Jangan-jangan!
“Jangan! Aku mohon! Jangan!”
Benar saja gadis itu yang mereka bawa hingga ke sini. Ia menatapku dengan mata yang terus mengeluarkan air mata.
“Hei kalian! Mana mobil yang kami minta?”
“Atau kalian harus kami beri peringatan?”
Tiba-tiba suara ledakan yang memekakkan telinga, terdengar di sebelahku. Bersamaan dengan rasa sakit yang amat sangat di pelipisku, sesuatu yang cair dan berbau tak sedap mengalir, menyusuri wajahku.
Perlahan aku tumbang, memaksa mataku menatap langit biru berhiaskan kelopak bunga sakura yang terbang tertiup angin.
Ah... Aku tertembak...
Kenapa hidup ini sangat tidak adil...
Kenapa aku yang selalu menderita...
Kenapa? Apa salahku?
*****
“Ricky, apa yang kau lakukan?” suara berat seorang pria memanggil namaku.
“Ah! Tidak! Aku hanya kelelahan! Hahaha!” tawaku sembari menepuk bahunya.
“Ricky, kapan kau akan pulang? Aku ingin pergi ke negaramu!” Edward meninju bahuku.
“Aku juga tidak tahu, tapi tentu saja aku ingin secepatnya!”
Pria blonde bermata biru itu menangkap sesosok bayangan yang berada di sudut jalan.
“Aku tahu kau cukup terkenal di kalangan wanita, tapi setidaknya kau harus memiliki alasan untuk menolak tawaran mereka, memiliki pacar contohnya?”
Aku menggeleng kemudian tersenyum.
“Bagaimana perkembangannya?”
Aku menggeleng tersenyum pahit.
“Kau harus kuat!” ia merangkul bahuku layaknya adik sendiri.
“Kalian!” tiba-tiba suara ceria seorang wanita terdengar memanggil kami.
“Misaki!” aku melambaikan tangan ke arahnya.
“Wah! Wah! Tepat sekali! Kami butuh hiburan kau tahu?” Edward mengedipkan sebelah matanya.
Gadis itu berjalan mendekati kami dengan mengerucutkan bibirnya, tapi kali ini ia bersama teman wanitanya sama-sama terlihat dari jepang.
“Kenalkan ini Arisa, sepupuku dari jepang.”
Misaki mendorong maju sepupunya yang tampak ragu mengenalkan diri.
“Arisa Tachibana salam kenal...” ia membungkukkan badannya.
“Ricky dan ini Edward.” Aku menarik rangkulan bahunya.
“Hei Misaki, apa karena kau ditolak oleh Ricky , kau mengenalkannya?” Edward menahan tawanya.
“Itu masa lalu kau tahu! Benarkan Rick?” Misaki memandangku memohon untuk berkata ‘iya’.
“Iya tentu saja.” aku memutar bola mataku tak setuju.
“Hei kau tidak setuju Ricky-kun!” Misaki memprotes kelakuanku.
“Hahaha kalian ini lucu sekali hahaha!” Arisa tertawa lepas melihat kelakuan kami.
Sudah cukup lama aku meninggalkan Jepang dan hidup di USA, tapi rasanya ada sesuatu yang hilang.
“Aku dengar kau menolak Chaterine? Apa kau gila?” Misaki yang sudah hafal dengan pendirianku menatapku tak percaya.
“Aku tidak ingin berpacaran. Aku ingin membahagiakan kedua orang tuaku.”
“Aku sudah puas mendengar alasanmu itu Rick!” Edward melepaskan pelukannya dan menatapku kesal.
“Ada apa dengan kalian?” Aku menatap mereka bergantian.
“Tidak ada,” Edward merangkulku kembali,
“bagaimana kalau kita pergi karaoke?”
“Ide bagus!” sahut Misaki penuh semangat.
*****
“Sebenarnya aku menyukaimu...”
Suatu malam aku menemukan chat dari Arisa di ponselku.
Apa dia salah kirim? Ah! Aku tak peduli! Aku harus membelikan rumah untuk kedua orang tuaku.
Dan keesokan paginya, saat aku hendak berangkat bekerja Arisa telah berdiri di depan pintu.
“Selamat pagi!” ucapnya sembari tersenyum.
“Pagi, ada apa kau kemari?” tanyaku tak mengerti.
“Menunggu jawabanmu...” Ia menundukkan kepalanya.
“Aku kira kau salah kirim, jadi tidak aku balas,” ucapku enteng.
“Hei Rick! Kau harus memberinya jawaban!” tiba-tiba Misaki keluar dari balik sudut tembok sembari menatapku kesal.
Misaki, kalau kau tidak diterima jangan ajarkan ia melakukan hal yang sama sepertimu.
“Ini pasti ulahmu!” ucapku kesal.
“Tidak, ini semua keinginanku,” ia menatapku depan wajah yang memerah, “aku akan melakukan ini terus, mengganggumu!”
Misaki versi 2 ini cukup keras kepala rupanya.
“Baiklah, lakukan sesukamu aku tidak peduli.”
“Ricky kau pria yang tidak peka!” ucapnya kesal.
“Aku? Baiklah, kau mau jawaban dariku? Aku tidak menyukaimu, paham?”
Aku pergi meninggalkan mereka berdua.
“Hei! Kau lupa menutup pintu!” pekik Misaki.
Aku berbalik dan kembali untuk menutup pintu.
“Selamat pagi dan selamat tinggal!” ucapku kesal.
*****
“Selamat Ricky!”
Dan ini ke sekian kalinya kolegaku memberiku selamat.
“Bukannya aku tidak berterima kasih, tapi kenaikan jabatanku sudah lewat seminggu lalu bukan?”
Mereka menahan tawa.
Apa ada yang salah?
“Bukan itu yang kami maksud!” Evory gadis keturunan kulit gelap itu mendekatiku.
“Benar, kini tidak ada Mr Dense lagi!” Heide ibu muda dari Filipina ikut bersuara.
“Mr Dense?” aku menatap mereka tak mengerti.
“Astaga jadi selama ini kau tak mengerti?” Edward menepuk jidatnya sendiri.
“Kau Ricky! Kau! Mr Dense yang menolak semua wanita mentah-mentah! Hahaha!” Rodriguez spesialis bahasa spanyol tertawa dengan lepasnya.
“Apa yang kalian bicarakan? Aku benar-benar tidak mengerti!”
Aku menatap mereka dengan ekspresi bingung, tapi mereka hanya menahan tawanya.
“Sudah-sudah temui saja pacarmu sana!” Heide mendorong tubuhku menuju ruang tunggu.
“Selamat bersenang-senang!” Evory yang mengekor di belakangku berucap dengan bahagia.
Aku menemukan sesosok gadis muda yang tengah terduduk dengan membawa sebuah kotak.
“Hai Ricky-kun apa kabar?” ia tersenyum dengan manis.
Gadis ini lagi! Kenapa ia sangat mirip dengan Misaki!
“Kau mencari Misaki? Ia sedang mengurus seorang warga Jepang yang terkena masalah di sini.”
Aku berbalik dan hendak meninggalkannya.
“Sayang? Kau mau kemana?”
Sayang? Dia kira dia siapa?
“Jadi kau yang mengaku menjadi pacarku?” aku menatapnya tak percaya.
“Kenapa? Ini salah satu trikku, kau tahu?” ia tersenyum jahat seperti seorang penjahat.
Misaki cepat pulang! Bawa dia pergi dari sini!
“Baiklah atau aku harus melakukan hal ekstrim? Seperti mengaku telah kau hamili atau memberi tahu orang tuamu?”
“Kau manusia gila!” aku membuka pintu dan menutup rapat-rapat.
“Aku tidak akan menyerah! Ingat itu!” teriaknya.
“Hei! Ada apa?” Edward yang tengah bersantai mendekatiku.
“Tidak apa.” Aku berjalan menjauh dari ruangan itu.
*****
“Rick, Arisa meninggalkan ini di meja,” Edward memberiku sebuah kotak bekal, “sepertinya ia ingin memberimu ini.”
“Bisa gila aku Edward, Misaki dan Arisa itu sama-sama keras kepala!” aku menghela napas kesal.
“Mereka bersaudara kau tahu?” Edward menahan tawanya.
“Tapi Arisa lebih nekat! Ia mengancamku akan melaporkan pada kedua orang tuaku kalau aku telah menghamilinya.”
“Jadi kau menghamilinya? Aku kira selama ini menyukai pria! Hahaha!” tawanya lepas.
“Apa kau bilang? Menghamilinya? Tidak! Aku tidak pernah tidur dengannya! Dan menyukai pria? Kau mabuk?” aku menggelengkan kepalaku.
“Hahaha maaf, karena kau seolah tak tertarik pada wanita. Bahkan wanita yang aku sewakan untukmu saja tidak kau sentuh.” Edward menahan tawanya sekali lagi.
“Dengar Edward, aku tidak melakukan hal yang seperti itu kau paham?” aku menghentikan pekerjaanku sejenak.
“Baiklah! Baiklah! Mr Dense! Makan ini, aku rasa nasi itu akan menangis bila tidak dimakan benar?” Edward menggodaku.
“Iya! Iya! Akan aku makan!” ucapku kesal.
Dasar wanita keras kepala! Harusnya kau membawa lagi bekal ini!
*****
“Selamat malam!” ucap Arisa sembari membuka pintu.
Aku menghela napas kesal lalu memberikan kotak bekalnya.
“Aku ingin memberikan kotak bekal ini, terima kasih.”
“Bagaimana? Enak?” Arisa menatapku, menunggu jawaban dariku.
“Enak sekali, terima kasih.”
“Benar kata Misaki, sesuatu yang tidak akan kau tolak adalah makanan.” Arisa tersenyum penuh kemenangan.
“Aku tidak menyia-nyiakan makanan, orang lain di luar sana saja susah mencari makan.”
“Baiklah, kalau begitu aku akan terus membuatkan bekal untukmu! Selamat malam!” Arisa tersenyum lalu menutup pintu rumahnya rapat-rapat.
“Hei! Aku tidak mau! Arisa aku tidak mau!” pekikku.
Tapi tak peduli seberapa keras aku berteriak, tidak ada jawaban darinya.
*****
“Bagaimana?” ia menatapku dengan mata berbinar seperti Misaki yang tertarik dengan sesuatu.
“Enak, aku suka rasa saus kacangnya, semua sempurna.” Aku mengangguk sembari memasukkan pecel buatannya ke dalam mulut.
“Baiklah! Apa aku harus membuatkan sesuatu yang berbeda?” tantangnya.
“Bagaimana jika kita makan di luar?” ajakku.
“Akhirnya kau membuka hatimu... setelah puluhan hari..." ia tersenyum bahagia.
“Jangan besar kepala! Aku tidak menerimamu kau tahu?”
“Kau ajak aku makan di luar saja, aku sudah senang.” Ia tersenyum lagi.
Kenapa pasrah sekali?
“Ricky-kun!” tiba-tiba suara Misaki mengagetkan kami.
“Misaki! Kau mengangetkanku saja!” protesku.
“Arisa-chan makan siang kita kali ini apa?”
“Pecel! Salad dari Indonesia! Taa-daa!” ia memberikan Misaki kotak bekal yang sedari tadi berada di atas meja.
“Rick! Aku bahagia kau akhirnya membuka hati!” Misaki menatapku khawatir, “sejak kejadian itu-”
“Sudah-sudah! Tidak usah dibahas! Ayo kita makan! Itadakimasu!”
*****
“Kenapa aku yang harus dikirim ke sini? Padahal aku akan resign akhir pekan ini!” sungutku kesal.
“Karena kau juga bisa berbahasa Jepang?” terka Arisa.
“Setidaknya aku tidak sendirian di Jepang haha!” Misaki tertawa penuh kemenangan.
Aku menghirup udara dalam-dalam mencoba menyesap udara kota Tokyo yang sudah lama kutinggalkan. Bunga sakura yang bermekaran di pinggir jalan, bahkan tatanan kota yang tak berubah membuatku merasa kembali ke masa lalu.
“Ricky-kun! Karena aku baik hati, kau bisa berjalan-jalan dulu, besok saja kita melakukan pekerjaan kita bagaimana?”
Misaki mengedipkan sebelah matanya, “Arisa temani dia makan! Aku harus pergi sebentar!” ia melambaikan tangannya ke arahku.
“Baiklah! Aku yang akan memilih dan membayarkan makanan kita!” Aku menyusuri bangunan tampak seperti cafe atau restoran.
Tiba-tiba mataku menangkap sebuah cafe yang cukup menarik. Dengan hiasan bunga berwarna warni yang menjalar dari pot yang digantung, membuat bangunan itu lebih mencolok.
“Bagaimana kalau kita ke sana?” aku menunjuk ke arah cafe itu.
“Ide bagus! Ayo!” ia menarik tanganku dan masuk ke dalam sana.
“Selamat datang!” seseorang menyapa kami dengan senyum ramah.
Wanita itu menatapku dengan terkejut, seolah kaget melihatku.
“Maaf! Silahkan duduk!” ia membimbing kami ke sebuah meja yang cukup dekat dengan jendela.
Belum sempat kami memesan makanan, keributan terdengar dari depan cafe.
Tiba-tiba kepalaku berdenyut, terasa sakit sekali.
Sila! Kenapa sekarang!
Arisa yang duduk dihadapanku tampak ketakutan.
“Kau tidak apa Arisa?” aku memegang tangannya dengan kedua tanganku.
“Aku sedikit takut saja...”
“Maaf Arisa sepertinya aku harus pergi sebentar.”
Aku bangkit dan berjalan keluar cafe, ternyata suara ribut itu berasal dari pertengkaran antara sepasang kekasih.
Aku harus cepat! Kepalaku terasa sangat sakit!
Aku berjalan perlahan melewati mereka, hingga sang wanita mendorong pasangannya dan membuatku terjatuh tersungkur di atas tanah.
Tiba-tiba pandanganku berubah menjadi langit biru dan bunga sakura yang beterbangan tertiup angin.
Perlahan sakit yang kurasakan semakin terasa bertambah, bersamaan dengan itu kelopak mataku memberat dan semua gelap seketika.
*****
Perlahan sinar terang memasuki mataku, membuatku berusaha menyesuaikan diri dengab kondisi cahaya saat ini.
“Ricky! Kau tidak apa-apa?” Arisa tampak duduk di sebelahku.
“Aku baik-baik saja...” aku tersenyum lemah.
“Hentikan senyummu! Aku benci melihat senyummu yang seperti ini!” tangis Arisa pecah.
“Arghhh! Kepalaku...” pekikku saat kepalaku terasa benar-benar sakit.
“Rick! Rick! Rick!” Ia menatapku dengan wajah khawatir.
Perlahan rasa sakitnya menghilang dan aku menatap Arisa dengan rasa tak percaya.
“Kau! Arisa! Kau selamat!” tangisku pecah.
“Kau ingat semuanya Rick?” Arisa menatapku dengan mata membulat, "awalnya aku juga terkena amnesia, dan saat aku bertemu denganmu. Aku ingat semuanya!"
Tanpa buang waktu, aku memeluk tubuhnya.
“Aku ingat semuanya! Semua kejadian yang kita alami! Maafkan aku! Aku tidak mengenalimu!”
“Akhirnya kau mengenaliku!” tangis Arisa semakin pecah.
“Tapi maaf aku tidak bisa bersamamu...” aku melepaskan pelukannya.
“Apa maksudmu?” Arisa tampak tak mengerti.
Tiba-tiba suara tangis seorang wanita terdengar mendekat.
Perlahan pintu kamarku terbuka dan sosok seorang wanita masuk ke dalam.
“Natsumi nee-san?”
Tanpa berbicara ia memelukku dan menangis sejadi-jadinya.
“Kau! Kenapa! Kenapa!” Ia menangis sembari terus memelukku.
“Aku tidak tahu...” aku tersenyum pahit.
“Jadi... Kau terkena kanker otak?” tangan Arisa bergetar setelah membaca surat yang ia pegang.
Aku hanya mengangguk dan memeluk Natsumi nee-san.
Perlahan air mataku turun, sesak di dadaku terasa membunuhku perlahan.
Tak lama Arisa kembali menangis dan ikut memelukku di sebelah Natsumi nee-san.
“Karena waktuku tidak banyak lagi, bagaimana kita habiskan musim semi ini bersama?”
Dan pada akhirnya, aku telah menghabiskan waktu tanpa mengingat mereka yang sangat penting bagiku.
Sepertinya dosa masa laluku terlalu berat, hingga Tuhan melakukan ini kepadaku.
Tapi aku beruntung, mengenal mereka yang selalu peduli kepadaku.
*****
“Sayang lihat, aku harus memiliki hadiah untukmu.”
Arisa menunjukkan sebuah benda panjang bergaris dua.
“Aku hamil!” ia tersenyum dengan air mata yang mengalir dari sudut matanya.
“Maaf, aku tidak bisa menemanimu untuk membesarkan anak kita.”
Sakit rasanya, tapi aku tak bisa berbuat apa-apa.
“Tidak apa, kau harus istirahat,” ia menyelimutiku, “aku akan ke rumah ibuku sebentar.”
“Itu ibuku bukan ibumu,” candaku.
“Ibumu adalah ibu mertuaku, apa aku salah memanggilnya ibu?”
“Tidak hahaha, hati-hati di jalan,” ucapku sembari tersenyum.
Ia membalas senyumku dan menghilang di balik pintu.
*****
Pemandangan yang sangat menenangkan, langit biru berhiaskan bunga sakura yang beterbangan terkena angin.
Terima kasih telah memenuhi permintaanku, aku rasa aku dapat beristirahat dengan tenang di sini.
Arisa...
Maafkan aku yang telah meninggalkanmu terlebih dahulu...
Aku harap kau baik-baik saja tanpa adanya aku di sisimu.