Manusia adalah makhluk yang tidak berperasaan. Mereka itu bengis, rakus dan tidak kenal ampun. Segalanya telah diambil dari hutan kami. Pohon-pohon mereka tumbangi, sarang kami dulu juga dihancurkan. Hanya sebagian dari hutan ini yang belum dirusak, tempat kami sekarang tinggal.
Itulah yang keluh kesah kami para kucing liar yang hidup di hutan ini. Namaku Kero, aku adalah salah satu anggota kawanan kucing terakhir di hutan ini. Kawanan kucing lain sudah banyak yang mati.
Di kawanan kami ada enam kucing. Kami dipimpin oleh seekor kucing bernama Uro. Dia sangat bijaksana. Segala persoalan kami bisa diselesaikannya dengan adil. Selain Uro, di kawanan kami ada anggota lain, mereka adalah Ciro, Iko, Nero dan Gemo.
Kami ini mempunyai sifat yang berbeda satu dengan yang lainnya. Ciro dan Iko itu kucing kembar, warna mereka sama dari ujung kepala sampai ujung ekornya. Tapi mereka sering tak akur, sering berkelahi hingga harus dipisah oleh si ketua. Nero itu pendiam, dia lebih suka berdiam diri dan tenggelam dalam lamunannya. Anggota terakhir, Gemo, dia adalah yang paling pandai dari antara kami para anggota. Dia juga yang menjadi juru bicara kami kepada si ketua.
Sementara aku, yah memang tak valid rasanya jika menilai sendiri. Tapi apa daya, aku yang ditunjuk menjadi pemeran penting dalam cerita ini. Hahaha. Aku tidak punya keahlian seperti Gemo yang pandai itu, aku juga tak jago berkelahi seperti si kembar. Apalagi bijaksana seperti si ketua. Ahhh, rasanya tak ada hal yang bisa kubanggakan. Yang kubisa hanya makan dan makan.
Hei bangun!”
Haaa, bisa-bisanya aku ketiduran dalam rapat penting ini. Aduh malunya aku, sampai dibangunkan oleh si ketua. Oh ya, aku juga punya kebiasaan gampang mengantuk.
“Maaf ketua.” Kataku sambil tertunduk malu.
Kami sedang dalam rapat penting. Hutan kami mulai dirusak lagi oleh para manusia yang rakus itu. Maaf aku juga rakus, tapi kerakusan manusia itu jauh di luar batas kewajaranku. Ingin aku berkata kasar tapi tak boleh. Nanti jatah makanku dikurangi lagi. Kami di kawanan ini makan dengan dijatah. Pertama-tama kami harus berburu makanan dulu, terus dikumpulkan.
Karena hutan kami yang tinggal sebagian saja ini kembali dirusak, kami harus mencari sarang baru di luar hutan. Kami juga sudah kehabisan makanan, besok rencananya kami akan berpencar dan mencari makanan.
Pada rapat itu kami diingatkan lagi tentang petuah dari si ketua. Petuah itu sudah lama menjadi aturan dasar bagi kami semua. Kami tidak boleh disentuh oleh manusia! Jika tersentuh maka kucing yang disentuh itu harus keluar dari kawanan ini.
Aku masih merasa bersalah karena ketiduran tadi. Kuputuskan untuk bertemu dengan si ketua.
“Selamat malam, ketua. Saya mohon maaf karena sikap buruk saya tadi. Saya bersedia dihukum untuk menebus kesalahan saya, ketua.” Ungkapku dengan perasaan bersalah yang sangat dalam.
“Hmm, kamu masih ingat tidak apa saja yang saya bicarakan dalam rapat itu, Kero?”
“Masih ketua.” Kataku mantap. Memang tadi aku tertidur tapi aku sudah diberitahu isi-isi penting rapat tadi oleh Gemo.
“Kalau memang ingat, tidak masalah sebenarnya. Tapi tentang masalah ketiduran itu akibat kamu sering makan dalam porsi besar. Kita juga sedang kekurangan makanan. Porsi makanmu harus dikurangi!”
Baik ketua, porsi makan saya akan dikurangi.”
“Bagus. Ya sudah, baliklah ke tempatmu istirahatlah besok kita harus berpencar mencari makanan.”
“Terima kasih, ketua!” Jawabku tegas, sambil menunduk sedikit, memberi hormat padanya.
Keesokan harinya, aku bangun tepat waktu. Semua sudah bersiap-siap untuk menunaikan tugasnya. Tapi sebelum itu, si ketua kembali mengingatkan petuahnya. Petuah yang sudah mendarah daging bagi kami. Itu akan kami ingat terus.
Selepas keluar dari hutan, kami pun masing-masing berpisah. Aku harus berjalan cukup jauh untuk mendapatkan sebuah perkampungan. Hari begitu terik, jalanan yang kupijak ini begitu kering. Untung aku adalah seekor kucing, aku tidak berkeringat seperti para manusia. Mungkin bakal repot jika berkeringat, aku bakal risih dengan air yang keluar dari tubuhku sendiri.
masuk ke halaman yang cukup luas. Itu sarang manusia.
“Manusia! Minta makanan dong” Seruku berharap ada manusia yang mendengarkan.
Ahh, aku beruntung ada manusia yang bertubuh kecil yang meresponku. Mungkin dia anak manusia. Dia pun setengah berlari ke arahku.
Aku yang masih memegang teguh petuah dari si ketua langsung menyingkir menjauh dari manusia kecil itu. Ia tak habis akal, larinya makin kencang. Tapi bruaak! Ia jatuh karena kakinya tersandung batu. Ingin ku tertawa tapi tak bisa, aku harus menghemat energiku. Perjalananku masih jauh.
Manusia kecil itu menangis, lama-kelamaan tangisannya tambah kencang. Tiba-tiba keluar manusia lainnya. Kali ini tubuhnya lebih besar. Diangkatnya manusia kecil yang sedang menangis tadi, dibawanya masuk ke rumah.
Sial, gerutuku dalam hati. Niat mengenyangkan perut, ini malah telingaku yang kenyang karena suara tangisan manusia kecil tadi. Aku pun dengan berat hati meninggalkan rumah itu.
Tapi aku terdiam, hidungku refleks mencium wangi makanan. Aku menoleh ke sumber wewangian ini. Wah, manusia besar tadilah sumber wangi makanan itu. Sepertinya daging ikan, kesukaanku.
Aku pun mendekat namun dengan kewaspadaan tinggi. Dengan perlahan-lahan aku mendekatinya hingga tinggal sejengkal saja denganku. Tentu saja dengan ukuran jengkal kucing ya!.
Setelah kupastikan jarak si manusia besar denganku aman, makanan itu pun mulai kulahap. Gigitan pertama terasa begitu nikmat. Tanpa sadar saat menyantap itu, tangan manusia besar itu menyentuh dan mengelus kepala dan badanku. Aku terkejut dan lari tunggang langgang meninggalkannya. Di perjalanan, kepalaku mulai mengingat-ingat isi petuah itu. Habislah aku.
Sepulang dari pengalaman buruk itu, aku tidak membawa makanan apa-apa. Aku terlihat murung oleh teman-temanku. Pertama yang melihatnya adalah Ciro dan Iko, si kembar. Tetapi syukurlah, mereka tidak menaruh curiga padaku. Sementara Nero tak menegurku sama sekali, ya memang dia pendiam. Kedokku itu baru ketahuan saat Gemo melihatku.
“Tidak biasanya kau murung begitu. Makanan juga tidak kau bawa, apa yang sudah kau lakukan?” Tanya Gemo padaku.
“Ehh, tak ada apa-apa. Aku tadi sangat kelelahan sampai lupa bawa pulang makanan. Kau kan tahu saya rakus.”
Gemo pun terdiam, namun raut wajahnya seakan memberitahu ada yang salah.
“Kau disentuh manusia kan? Saya mencium bau asing dari tubuhmu.”
Aku pun tersontak kaget. Tak tahu apa lagi yang bisa kukatakan. Aku tak pandai berbohong. Apalagi membohongi Gemo yang terkenal pintar itu.
“Sekarang ayo kita menuju ketua!” Seru Gemo.
Aku pun berjalan mengekorinya. Nafasku mulai terengah-engah. Langkah demi langkah menuju ketua itu terasa sangat berat. Kakiku bagaikan tertimpa ikan nila seratus ekor.
Sesampainya di tempat ketua, aku tak mendengar percakapan antara mereka. Pikiranku jauh mengawang-awang mengingat kejadian tadi. Lamunanku terhenti teriakan si ketua.
“Aturan tetaplah aturan. Mulai sekarang kamu harus angkat kaki dari sini!” Ketua terlihat sangat marah namun masih dengan sikap bijaknya.
Aku tak sanggup berkata apa-apa lagi. Dengan begitu terputuslah hubungaku dengan kawanan ini. Kawanan yang sudah memberiku tempat tinggal yang nyaman dan teman-teman yang baik. Aku tidak menaruh dendam sama sekali pada Gemo, apa yang dikatakannya itu memang benar.
Aku pun berjalan keluar dari sarang. Tujuan pertamaku adalah rumah tadi, tempat si manusia besar itu menghancurkan hidupku. Aku berniat membalas dendam padanya.
Sampai di rumah itu, aku langsung mengacak-acak tumbuhan yang ditanaminya di halaman luas itu. Semua bunga si manusia itu kucakari, tak ada yang terlewat. Si manusia besar itu akhirnya keluar, mendengar keributan yang kuhasilkan.
Begitu melihatnya mendekat, serangan sudah kuancang-ancangkan padanya. Cakar-cakarku sudah kukeluarkan meruncing siap dipakai. Namun alih-alih menyerangku, ia malah kembali mengelusku dengan tangannya yang lembut itu. Dibawanya aku masuk ke rumahnya. Perasaan gugup menyerangku. Sebentar lagi ajalku akan menjemputku. Lega rasanya karena aku sudah tidak punya apa-apa lagi di dunia ini. Aku menutup mataku, pasrah dengan semua itu.
Tapi hmmm, nyaman sekali apa ini. Mataku langsung kubuka. Aku berada di sebuah kotak yang empuk. Tidak buruk juga pikirku. Tapi aku masih pasrah dengan keadaanku selanjutnya. Aku tak tahu apa yang direncanakan manusia besar tadi.
Lama waktu berlalu, aku merasa betah di rumah itu, begitu nyaman bagiku. Ada dua manusia besar yang ada di rumah ini, mungkin mereka adalah sepasang ayah dan ibu. Juga ada seorang manusia kecil, ia anak kedua manusia ini sangkaku. Aku juga sudah mulai mengerti dengan bahasa yang mereka pakai. Mereka menamaiku, Pus.
Manusia di sini sangat berbeda dengan manusia yang kami hadapi di hutan. Di sini mereka sangat baik kepadaku. Aku ingin sekali menghapus apa yang kukatakan di awal cerita ini. Tapi itu tak cukup dengan keserakahan mereka yang sudah meratakan sebagian hutan kami!.
Kuedarkan pandanganku ke luar jendela rumah ini. Tampak kawananku berada di halaman. Mereka mungkin sedang mencari makanan. Ironis sebenarnya, mereka di sana kelaparan dan hidup susah. Sementara aku di sini bersenang-senang saja. Kuputuskan menemui mereka untuk mengajak bergabung bersamaku di rumah ini.
Mereka melihatku. Aku mempercepat jalanku hingga berlari kecil. Sulit rasanya bergerak karena beberapa hari aku hanya makan dan makan. Aku sudah berubah menjadi kucing yang sangat besar.
Namun mereka kabur setelah melihatku keluar rumah ini. Sedih dan sepi kurasakan kembali. Ingatan mengenai canda dan tawa bersama teman-teman berkelibatan di kepalaku. Kutepis ingatan itu dan melangkah kembali ke rumah. Ke dunia baruku.
Keesokan harinya, aku melihat gambar bergerak di kotak yang barusan kuketahui namanya, televisi. Di gambar itu terlihat kawananku mati semua. Para manusia-manusia perusak itu yang mendapati mereka. Kawananku mati karena kelaparan, begitulah kata berita di televisi. Coba waktu itu mereka tak melarikan diri dariku.
_________________________
TAMAT