Udara sore hari begitu terasa di tengah-tengah hutan rindang, menerpa banyaknya pohon-pohon yang tumbuh menjulang tinggi. Sudah hampir mau malam, anginnya semakin kencang, saat Mumu sampai di tempat banyaknya pohon bambu.
Gesekan bambu-bambu itu terdengar memekakkan telinga, membuat Mumu kembali berjalan dengan cepat. Takut. Satu kata yang terbenam saat dia semakin melangkah menjauh.
"Di mana aku?"
Pertanyaan itu menguar begitu saja, tak ada jawaban dari siapa pun, yang terdengar hanya kicauan burung-burung yang berterbangan luas di atas dahan-dahan.
Srekk
"Aaa!" Mumu terkejut. Kucing yang baru berusia delapan bulan itu berlari tak tentu arah.
Napasnya ngos-ngosan saat berhenti di depan sebuah gubuk, yang dia sendiri tak tahu gubuk apa. Jelek dan kumuh, berbeda dengan rumah majikannya yang berada di kota, bersih dan rapi.
Mumu sangat jijik saat melihat berbagai bungkus makanan yang tercecer di dekat-dekat rumah itu. Seharusnya, walaupun ini hutan, mereka yang sering datang ke sini, perlu membawa tong sampah untuk mengumpulkan semua itu. Kebersihan tetap harus dijaga.
"Ini yang membuatku malas keluar rumah," monolognya, masih berdiri memperhatikan gubuk itu.
"Itu gubuk bekas manusia yang berburu di sini, mereka begitu tidak tahu diri dengan kelestarian hutan. Bagaimana binatang tidak terancam punah, kalau begini caranya." Suara dari belakang mengagetkan Mumu. Dia segera berbalik, terlihat seekor Kancil yang tengah berdiri sempurna.
"Apa mereka melakukan pemburuan juga setiap hari?" Mumu mengajukan pertanyaan. Wajah imutnya berkerut saat menunggu jawaban dari kancil.
"Ya."
"Apa hewan-hewan di sini juga sudah banyak yang ketangkap?"
"Banyak sekali, kaum-kaum seperti aku, kelinci, rusa, dan kijang yang selalu menjadi mangsa. Andai saja aku tidak cerdas dan licik, mungkin tubuhku ini sudah habis dimakan mereka." Ucapan Kancil membuat Mumu merinding.
Menatap langit, hampir gelap. Mumu jadi khawatir dia tak akan bisa kembali dari hutan ini, apalagi akan malam. Bagaimana bisa dia bermalam di tempat yang gelap tanpa lampu?
"Kau ini dari mana? Bulumu yang indah, warnamu yang sangat mengesankan, tidak mungkin hewan hutan." Kancil berbicara seraya mengelilingi Mumu.
"Aku dari kota, dan tak sengaja masuk ke hutan ini dan tersesat. Apa kau bisa mengantarku kembali?" Iris biru itu berbicar, Kancil menatap jengah dan segera mengangguk. Dia membimbing jalan mereka menuju luar hutan.
Mumu yang terus mengikuti mempercepat langkahnya dikala suara lolongan terdengar. Ia menjajari langkah Kancil yang semakin cepat.
"Apa itu serigala yang jahat?"
"Humm. Mana ada serigala yang baik, hanya aku saja lah hewan terbaik di hutan ini." Dengan bangganya Kancil menyongsong dirinya, lagak seorang raja kepada parajuritnya.
"Jangan sombong Kancil. Jika kamu memang baik, gunakan kebaikanmu untuk menolong sesama," ujar Mumu.
"Aku selalu begitu. Tetapi, pemburu itu, begitu kejam. Mereka tak mengenal kasihan terhadap kami. Tidak cukupkah makanan di kota?"
"Mungkin salah satu faktornya adalah hobi. Aku juga pernah melihat majikanku pergi dari rumah membawa sebuah senapang yang sangat besar," jelas Mumu pada Kancil yang kini menjadi pendengar setia.
"Mungkin saja ini memang nasib kami, yang harus tinggal di hutan. Bersusah payah menyembunyikan diri agar tak tertangkap oleh pemburu-pemburu itu."
Mumu menarik sudut bibirnya, membentuk sebuah senyuman. Mereka kembali melangkah saat cahaya putih tampak di depan sana.
"Yang harus kamu ingat hanya satu, selalu bersyukur karena sekarang masih hidup dan bisa makan. Dan juga, harus berusaha untuk diri sendiri dan yang lainnya."
"Terima kasih Kucing atas semua pelajaran yang kamu berikan." Kancil menyipitkan matanya saat satu titik air turun dari kelopak mata.
"Sama-sama. Aku juga berterima kasih, nyasar ke dalam hutan memberikan aku banyak pelajaran yang tak kudapat saat di kota."
Kancil memundurkan langkahnya perlahan, senyuman tak pernah memudar dari mulutnya. "Selamat tinggal! Semoga kita berjumpa lagi!" teriaknya sambil berlari meninggalkan Mumu yang sudah berada di luar hutan.
"Jumpa lagi!" Mumu melambaikan tangannya sebagai tanda perpisahan.
Dia bersyukur bisa kembali. Ternyata hutan juga tak begitu menakutkan, saat bertemu dengan sejenis yang baik. Kancil benar-benar memberikannya banyak pengalaman. Mumu pasti akan selalu ingat itu.