Hiduplah sebuah keluarga yang saling menyanyangi. Dalam keluarga itu Siska mahesa sangat menyanyangi Little, mereka hidup bersama sudah sangat lama.
Little dan siska bagaikan sahabat yang tak bisa terpisahkan satu sama lain. Dimana ada siska disutunjuga pasti ada littel.
Manun suatu hari saat siska dan littel pergi jalan jalan tiba tiba siska meninggalkan little sendirian di jalan.
"Siska.. dimana kau siska? kenapa kau meninggalkan aku sendirian dinsini?" little binggung mencari keberadaan siska
"Siska rupanya kau sudah di rumah. aku sangat cemas mencari mj tadi" little sangat senangbsaat melihat siska ternyata sudah berada di rumah mereka
"Little kau pulang? rupanya kau bisa menemukan jalan pulang ke rumah sendiri" siska berkata sambil memeluk littel Yang baru saja dilihatnya masuk ke dalam rumah.
Lagi lagi siska meninggalkan little sendiri di luar rumah. Dan dengan segala kenpandaian little dia pun bisa menemukan jalan pulang.
"Little. kenapa kau terus pulang ke rumah. hah.!" teriak siska kesal pada little yang selalu bisa pulang lagi.
Hari itu cuaca sedang mendung, siska membawah little naik mobil dan menurunkan little di sebuah desa Yang belum pernah little datangai.
"Little, tunggu aku disini kau jangan pergi kemana mana dan juga jangan pulang lagi. jika kau pulang aku tak akan mau melihat mu lagi. apa kau mengerti littel" siska memerintah dan mengancam little
Little Yang tak tau apa apa itu hanya bisa melihat punggung siska yang semakin Lama semakin menjauh, masuknke dalam mobil dan menggilang.
Sudah sangat Lama sekali littel menunggu siska kembali, dia berdiam dirindi tempat Yang sama waktu siska meninggalkannya dulu. Namun siska tak kunjung datang hingga hari Yang di lewati boleh littel sudah tak terhitung lamanya.
Kesetiaan littel menunggu siska datang tak pernah hilang sedikit pun. Littel selalu mengawasi setiap mobil yang lewat melintasi tempat itu.
Mulai dari musim hujan, musim panas hingga datang musim hujan lagi. Penantian littel tak berbuah hasil, namun dia masih tetap setian menunggu.
"Siska dimana kau sekarang? Aku sangat merindukan mu dan ingin bertemu dengan mu" littel mulai merasakan lelah dalam menanti kedatangan siska
"Uh ya ampun kenapa hujan datang dengan tiba tibah sih. kan baju ku jadi basah semua" sita menggerutu pada hujan dan berteduh di tempat littel berapa
"Sita... ini sangat menyenangkan kenapa kamu malah meringkuk disitu dengan bocah itu" Lintang sedang hujan hujan. dia menari dan berlari menikmati hujan
"Lintang apa kau sudah gila? cepat berteduh" sita berteriak kesal melihat saudaranya itu Yang menikmati hujan
"Iya benar dia emang sudah gila. bagaimana dia bisa sebahagia itu hanya dengan hujan" gerutu littel Yang menyaksikan lintang menengadakan kedua tanganya dan mendongak seolah dia sedang menyambut kedatangan hujan yang emang dia nantikan
Mata lintang dan littel saling bertemu. Lintang tersenyum dengan sangat manis, sadangkan littel haya duduk diam menyaksikan kegilaan lintang yang sedang bermain hujan.
"Pagi. hai kau yang kemaren kan?" sapa lintang saat dia melihat littel yang duduk dengan tenang
"Apa kau sudah sarapan?"
"Aku ada bekal. tunggu sebentar" lintang menyerahkan setengah dari bekalnya kepada littel
"Makan dengan baik ya. aku pergi dulu"
Selama seminggu lintang selalu membagikan bekalnya pada littel. dan hari itu lintang duduk dengan littel Yang sedang di kasih makan siang olehny.
"Kau sangat menggemaskan" lintang menatap littel dengan sangat hangat
"Kenapa gadis ini selalu datang menghampiriku" littel menatap lintang dengan bingung
"Kau selalu disini. apa kau tak punya rumah?" lintang menatap littel dan melihat kalung Yang dikenakan oleh littel
"Littel. itu nama mu kan? nama Yang bagus" lintang tersenyum
"Ya nama Yang bagus karna ini pemberian siska"
Saat kepergian lintang. littel menatap punggung lintang Yang semakin menjau hingga hilang tak terlihat.
"Siska. kenapa aku teringat dengan siska" littel menatap jau ke langit
Seminggu berlalu lintang tak terlihat dan tak datang seperti biasanya. Hanya sita Yang selalu lewat dengan terburu buru tanpa menoleh atau menyapa littel.
"Kemana gadis itu. kenapa dia tek terlihat lagi?" littel tidur dengan menyangga kepalanya dengan tangannya
"Apa dia juga akan pergi meninggalkan aku seperti siska" matanya mulai berkaca kaca
Hari itu cuaca mendung dengan sangat gelap. Littel meringkuk di bawah kursi halte itu. gerimis pun mulai turun hanya dingin merasuki tubuh. Littel semakin meringkukkan tubuhnya, dia sangat merindukan siska dan ingin bertemu dengan siska, bulir being mulai metes dia merasakan sakit, pedih dan juga sesak.
"Ternyata dugaan ku benar, kau masih disini"
Littel terperanjat mendengar suara orang yang sudah sangat di kenalnya. Ada rasa hangat di dada littel. dia mendongakkan kepalanya dan benar itu adalah lintang gadis Yang menghilang selama seminggu
"Apa kau mau ikut pulang bersama ku?" lintang menatap littel dengan senyumnya yang selalu menghangatkan
"Littel, jika kau ikut bersama ku. aku akan memberimu nama Rain"
"Rain..?"
"Bagaimana apa kau mau ikut?"
"Jika aku ikut bagai mana dengan siska. kalo dia datang dan mencariku tapi aku g ada bagaman?" littel bingung harus memilih ikut atau tidak
"Baiklah. sepertinya kau g mau ikut ya"
"Kalu begitu aku pergi dulu, gunakan jaget ku agar kau tak kedinginan" lintang melepas jaketnya memberikannya pada littel dan dia beranjak pergi
Pagi itu littel tak melihat lintang, tapi dia denger dari sita Yang marah dengan orang Yang ada di telpon. Kalo lintang kedinginan saat pulang dari suatu tempat tanpa menggunakan jaket dan dia jatuh sakit lagi
"Lintang, jadi waktu itu kau sedang sakit ya"
Dua hari kemudian tanpa sadar littel mengikuti sita Yang mau pergi ke rumah lintang.
Littel melihat lintang Yang terkulai di tempat tidur, mukanya pucat tak ada lagi senyum manis di wajahnya.
"Lintang kau harus sembuh" littel masuk ke kamar lintang lewat jemdela dan menggesekkan tubuhnya di kaki lintang
"Egmm. kau? kau datang enjenguk ku atau datang untuk tinggal dengan ku."
"Jika itu membuat mu senang dan cepat sembuh aku akan tinggal dengan mu" littel sambil menggesek wajahnya ke pipi lintang
"Hehehe.. rain, kau adalah rain mulai sekarang" jawab lintang sambil memeluk erat lintang Yang telah berubah jadi rain
"Meow" menikmati dekapan hangay lintang
"Hehehe... jadi kau setujuh ya"
Sebulan berlalu rain tinggal bersama lintang dan kegiatan baru dari rain sekarang adalah menunggu ke pulangan lintang dari sekolah.
"Lintang apa kau tau, aku menunggu mu dari tadi. kenapa kau pulang telat?"
"Hahaha... apa kau sedang memarahi ku? kau mengeong dari tadi" lintang menggendong rain dalam dekapannya
"Hey apa Yang kau lakukan pada lintang. kenapa kau mengganggu dan mengambil tasnya"
"Hek kau hanya kucing kecil. kau mau melawan ku?"
"Walo aku kecil aku g takut dengan mu, anjing jelek"
"Weeee.. kalian sedang apa hah? mau berkelahi ya? dasar nakal" lintang mengangkat rain tinggi di atas kepalanya dengan ke dua tangannya
"Rain?! bukankah dia littel. aku mengenali dia dari kalung Yang dia kenakan" suara seseorang dari belakang rain dan lintang
"Siska, kau... jadi kau meninggalkan aku sendirian di jalan dan melarang ku pulang karna ada dia?" tatapan sedih rain Yang melihat siska membawa tali dan mengbungkannya dengan pengikat di leher anjing Yang tadi mengganggu lintang
"Kau mengenalnya? apa kau orang Yang telah meninggalkannya?" lintang bertanya sambil menatap siska
"Jika aku memintanya apa kau akan mengembalikannya pada ku?" tanya siska pada lintang
"Jika rain ingin kembali aku tak keberatan" jawab lintang
"Kalau begitu tinggalkan dia disini" perintah siska pada lintang
"Lintang kau akan benar meninggalkan ku?" rain menatap lintang dengan bingung
Lintang menurunkan rain lalu dia beranjak dan pergi menjau dari hadapan rain dan siska.
Siska mengangkat rain dan memeluknya dalam dekapannya dengan erat seolah dia sedang melepas rindu.
"Lintang kau akan benar benar meninggalkan ku?" rain menatap punggung lintang Yang semakin menjah dan itu membuatnya sedih
"Raaaaaiin. kau tau jalan pulangkaaaann.. aku akan menunggu mu di rumah pulanglah jika sudak selesai" teriak lintang dari jau sambil melambaikan tangan
"Lintang.. lintang aku pasti akan pulang, aku tak mau jau dari mu" bola mata rain berbinar
3 hari kemudian rain pergi meninggalkan rumah siska dan menuju rumah lintang, tempatnya untuk pulang.
Rain terus berlari menerjang gerimis untuk bisa cepat ketemu dengan lintang.
Seolah ada ikatan batin, lintang menybut kedatangan rain dan berlark ke arah rain Yang berlari. Mereka saling memeluk, lintang membawa rain berputar dan tertawa di tengah gerimis.
"Littel rain. mulai sekarang kau adalah littel rain, lintang melepas kalung Yang mengikat leher rain dan menggantinya dengan kalung pemberiannya.
Kini mereka hidup berdampingan dan mereka selalu kamanapun bersama. sampai sampai semua orang menjulukinya brather cat.