"Walau di dalam tubuh itu terdapat jiwa yang berbeda, tapi aku tetap akan menjadikanmu milikku seutuhnya,"
Lelaki muda yang duduk di hadapannya hanya melontarkan tatapan senduh.
"Jangan menangis, kau adalah majikanku dan pengikut selalu setia kepada majikannya," kata lelaki muda tersebut membalas genggaman sang gadis.
....
Rumah dengan gaya Jepang modern itu dihiasi dengan megah, guna menyambut ulang tahun anak bungsu keluarga Aihara yang sekarang berumur 5 tahun.
"Cepat, cepat, Zana sudah bangun!" kata Emiro, putra tertua.
2 adik laki-lakinya yang hanya beda 2 tahun darinya segera mengambil tempat. Begitupun dengan yang lainnya.
"Wah cantiknya! Ayah? Ibu? Kakak? Sstt Seiki?! Semua orang ke mana?" tatap Zana mulai kesal.
Dalam hitungan detik, semua orang langsung muncul dan memberi supraise.
"Otanjoubi omedetou, Zana-chan!"
"Otanjoubi omedetou Ojou-sama!"
Seketika, Zana tercengang melihat kue ulang tahun dalam ukuran besar. Ia langsung bersemangat menyalakan lilin, lalu meniupnya.
Zana kemudian memberikan potongan pertama ke Seiki, pengasuhnya.
"Eh, kenapa tidak memberikannya kepada ke Ayah dan Ibu dulu?" tegur Agera, putra kedua.
"Kau ini lebih menyayangi Seiki-san, ya? bocah," kata Maroko, putra ketiga.
Zana cemberut, dan segera memberikan potongan kepada kedua orang tuanya.
"Zana minta maaf," katanya dengan imut sambil mengeluarkan tatapan kasihan.
Melihat tingkah Zana, tentu saja membuat pasangan Aihara malah gemes.
Saat itu juga, pandangan Zana tertuju ke arah bocah laki-laki seumurannya.
"Siapa dia?" tanya Zana.
Untuk sesaat semua orang terdiam, hingga akhirnya Tuan Aihara angkat bicara.
"Itu hadiah ulang tahunmu, sayang, dengan begitu kau mempunyai teman main, dia akan menemanimu bersama Seiki-san,"
Zana mengangguk sambil berlari kecil menghampiri bocah laki-laki itu, dan langsung menggenggam tangannya.
"Namamu siapa? Aku Aihara Zana,"
Namun, bocah laki-laki itu hanya diam tanpa ekspresi.
"Kebetulan, dia belum mempunyai nama, karena ini adalah hadiahmu, maka kau sendiri yang boleh memberinya nama," kata Nyonya Aihara.
"Barbie!" seru Zana, spontan membuat semua orang membengkap mulut menahan tawa.
"Um, itu, Zana, dia laki-laki, jadi tidak boleh memberinya nama Barbie," kata Emiro.
"Puff! Barbie? Bocah ini benar-benar maniak Barbie," ledek Maroko.
"Kein!" seru Zana sekali lagi, dan semua orang baru membetulkan.
Itulah pertemuan awal dari kedua insan tersebut. Semenjak hari itu, Zana dan Kein tumbuh dewasa bersama. Sekarang keduanya memasuki SMA yang sama, sebab Kein harus mengawasi keselamatan Zana, sebagai bodyguard.
Perjalanan pulang....
"Kein-kun, kita mampir ke resto dulu, ya? Katanya ada menu baru yang lagi enak," kata Zana.
Kein hanya tersenyum memberi anggukan tanpa bicara. Tanpa ia sadari, Zana melirikkan matanya ke samping.
"Seperti itu lagi, kenapa Kein-kun begitu dingin, hanya membalas senyuman singkat, setelah itu kembali seperti biasa? Masalahnya dia seperti ini sejak kecil, apakah mungkin dia ada kesalahan mental?" kata Zana dalam hati.
"Ada apa?" tanya Kein membuat Zana terkaget.
Zana tersadar, sebab kasir sudah menunggu pesanannya sejak tadi.
"Ah, sumimasen!" kata Zana lalu melihat menu baru itu dan memesannya.
Beberapa menit kemudian, ia dan Kein keluar untuk pulang. Di perjalanan tidak ada yang terjadi, hingga sebuah mobil tiba-tiba melaju cepat.
Dengan cepat, Kein menarik Zana untuk menyelamatkannya.
"Bruk!"
Ya, menu yang mereka pesan tadi berhamburan bersamaan kedua orang itu terjatuh ke tanah.
"Akh! Hei! Kalau menyetir lihat-lihat dong" ringis Zana memegang lengannya yang berdarah.
Kein bangkit duduk dan melihat luka di lengan dan lutut Zana. Lelaki itu dengan cepat merobek ujung seragamnya dan membalutinya.
"Baka! Kenapa merobek seragam milik- akh!" bukannya Kein yang meringis, malah Zana yang meringis saat menjitak kepala lelaki itu.
"Kepalamu keras sekali, memangnya kau ini apa sih?" tanya Zana.
Kein tidak mempedulikan dan menarik Zana berdiri sambil menggenggam tangannya. Ini pertama kalinya mereka berdua berpegangan tangan, dan entah kenapa jantung Zana berdetak.
Sesampainya di rumah, semua orang bingung melihat kondisi 2 orang itu. Apalagi lengan dan lutut Zana terbaluti kain seragam milik Kein.
"Ehh, ada apa ini, kenapa kalian pulang dalam keadaan seperti ini?" tanya Tuan Aihara.
Zana cemberut dan menceritakan semuanya.
"Seiki-san, tolong pesankan seragam untuk Kein!" kata Tuan Aihara.
"Baiklah, Aihara-sama," angguk Seiki.
Kein meminta pamit ke kamar begitupun Zana.
Sambil mengingat kejadian tadi, Zana merasa aneh, padahal Kein lebih terhempas ke tanah tapi kenapa lelaki itu sama sekali tidak meringis kesakitan? Ia juga tidak melihat dengan jelas luka di tubuh Kein. Saat dirinya menjitak kepala Kein, ia juga merasakan ada yang aneh.
Tak ingin merasa penasaran, membuat Zana menuju ke kamar Kein.
Kamar Kein
"Kein-san, maafkan kami, bagian tubuhmu jadi rusak begini, aku akan menghubunginya dulu," kata Emiro.
Namun, sebelum Zana mencapai kamar Kein, gadis itu dipanggil.
Semenjak kejadian itu, Kein sedikit aneh. Saat di sekolah, lelaki itu hanya diam terus di bangkunya, saat pelajaran di mulai, Kein tidak terlalu banyak menulis, serta jalannya agak lambat. Hingga akhirnya Zana dikejutkan saat pulang sekolah.
Karena ketidaksengajaan, perban yang menutupi lengan Kein terputus. Mata Zana membulat besar melihat isinya.
"T-Tunggu, kenapa ada begitu banyak kabel di dalam lenganmu?"
Kein hanya diam membuat Zana semakin tidak mengerti. Gadis itu langsung pulang duluan meninggalkan Kein, karena kejutan itu.
Rumah Keluarga Aihara
Zana masuk dengan tampang shock bercampur frustasi. Ia meminta penjelasan kepada semua orang mengenai apa yang dilihatnya tadi di dalam lengan Kein.
Semua orang diam, membuat Zana semakin marah karena mereka mengabaikannya. Dengan terpaksa, ayahnya menceritakan yang sebenarnya.
"Aku mempunyai kenalan yang sangat genius, dia menciptakan sebuah robot manusia yang bisa tumbuh dengan diberikan kasih sayang, tapi karena belum mencobanya, ia memberikan percobaan pertamanya kepadaku sebagai hadiah ulang tahunmu, dan Kein adalah robot pertama sekaligus percobaan pertamanya,"
Mata Zana membulat besar bersamaan jantungnya menjadi cepat.
"Saat Kein menyelamatkanmu, sebagian tubuhnya rusak, Emiro sudah menghubunginya, dan dia berkata agak sulit menyembuhkannya, karena Kein adalah percobaan pertama, jadi lambat laun Kein sepertinya akan mati daya,"
"Jadi alasan kenapa Kein akhir-akhir seperti itu, karena..., cih! Kenapa ayah tidak memberitahuku?!" marah Zana dengan mata berkaca-kaca.
Setelah semua kenangan yang mereka lalui dan dengan mudah Kein akan mati daya, rasanya Zana tidak bisa mengekspresikan emosinya lagi.
Di saat yang bersamaan, Kein muncul di depan pintu. Lelaki itu terbelalak melihat Zana menangis lalu pergi begitu saja.
Tuan Aihara menjelaskan semuanya, dan menyuruh Kein membujuk Zana agar tenang.
Taman Rumah
Zana terduduk sambil mengusapi air matanya berulang kali.
"Zana-sama?" panggil Kein.
Gadis itu mendongakkan kepala. Ya, Kein masih seperti biasanya, wajah tampan tapi tidak berekspresi. Zana memandangi luka-luka yang di dapatkan Kein saat menyelamatkannya waktu itu.
"Ini semua karena diriku, hikss, maafkan aku Kein, aku tidak tahu kalau kau sebenarnya adalah robot percobaan yang diberi kasih sayang sehingga bisa tumbuh seperti manusia lainnya,"
Kein menyeka air mata Zana yang tidak berhenti jatuh. Air mata Zana semakin deras karena takut Kein sebentar lagi akan mati daya.
"Kein, sudah lama aku menyimpan kalimat ini, meskipun terlambat, aku tetap akan mengatakannya,"
Lelaki itu diam menunggu sambil melihat Zana berdiri ke hadapannya.
"Aku menyukaimu!" seru Zana.
"Tapi aku robot," kata Kein.
"Aku tidak peduli!" seru Zana.
Kein terdiam dan mengangguk sambil ia menggenggam tangan Zana.
"Walau di dalam tubuh itu terdapat jiwa yang berbeda, tapi aku tetap akan menjadikanmu milikku seutuhnya," kata Zana dengan butiran air mata.
Lelaki muda yang duduk di hadapannya hanya melontarkan tatapan senduh.
"Jangan menangis, kau adalah majikanku dan pengikut selalu setia kepada majikannya," kata Kein.
"Kau menganggapku majikan?!" kesal Zana disela tangisannya.
"Puff, baiklah, aku juga menyukaimu, Zana Ojou-sama," balas Kein.
"Aku akan menyuruh kenalan Ayah agar memperbaikimu secepatnya," kata Zana.
"Karena aku percobaan pertama, mungkin agak sedikit lama waktu perbaikanku, tidak tahu kapan aku bisa kembali ke sini lagi melihatmu tertawa, cemberut, kesal, marah apalagi mengomel. Jadi, Zana Ojou-sama, tunggu aku," kata Kein
"Tidak peduli kau pergi begitu lama, aku akan tetap menunggu, jadi segeralah kembali, ya?" pinta Zana.
"Tentu saja, karena tidak ada yang menjagamu lebih baik dariku," kata Kein.
Kein menyeka air mata Zana, memandangi gadis berambut merah panjang gelombang disertai lesung pipi itu selama masih ada waktu sebelum dirinya mati daya.
"Aku akan merindukanmu, Zana Ojou-sama,"