Apa jadinya jika seorang gadis cantik berjaket karakter panda tapi bersifat tomboy tapi menggemaskan? Mungkin banyak orang yang akan mengiranya lucu, bahkan ketika dia sudah beranjak SMA.
Jaket Panda warna hitam putih itu terus menemaninya hingga sekarang, meskipun jaket lama, tapi dia sangat menyukainya sampai dia dipanggil panda. Dia adalah Naraya Vanessa, siswa kelas 11 di salah satu SMA swasta di Jakarta. Dia selalu naik sepeda ke sekolah. Naraya dikenal ramah dan baik sama semua orang, makanya dia punya banyak teman baik di sekolah maupun di luar sekolah. Di sekolah Nara sering menghabiskan waktu dengan Fany, Jesica, dan Bella. Mereka sering mengerjakan tugas bareng maupun nongkrong bareng.
“Pagi …” Ucapnya ketika datang ke sekolah dengan sepeda kesayangannya.
“Hei panda ….” Teriak salah seorang siswa di sana.
Nara pun melambaikan tangan, dia terlihat akrab dengan semua siswa di sini. Bahkan dia seperti ketua OSIS yang hafal dengan semua nama siswa di sekolahnya.
“Selamat pagi pak Mansyur …”sapa Nara ketika memarkirkan sepedanya di parkiran.
“Pagi non …. Wah non Nara selalu ceria ya… “ ucap pak Mansyur.
“Terima kasih pak …” jawab Nara lalu di berjalan dengan memegang tas tali tas ransel yang ada di pundaknya.
Dia selalu tampak tersenyum dengan semua orang, tapi tidak dengan ketua OSIS, Keenan Dirgantara. Keenan adalah ketua OSIS di SMA Budi Luhur. Siswa yang paling tampan di sekolah ini dan paling tegas dalam kedisiplinan. Nara selalu mendapatkan hukuman dari Keenan karena ketidakdisiplinannya.
Seperti saat ini, ketika Nara membuat kotor kantin karena bakso yang ia tumpahkan karena tak sengaja.
“Duh ketahuan ketua OSIS rese itu bakal berabe nih…”ucapnya sambil membersihkan bakso yang tumpah di lantai.
“Kamu dapat 3 poin kesalahan karena tidak menjaga kebersihan kantin dengan benar.” Kata Keenan sambil mencatatnya di buku kesalahan.
“Sial …” Kata Nara dalam hati.
“Kamu harus bersihkan sampai benar-benar bersih atau kamu saya tambah 3 poin.” Ucap Keenan yang membuat Nara semakin kesal.
“Lu nggak liat gue lagi bersihin …” Jawabnya kesal.
“Tapi itu belum bersih …, kenapa bisa sampai kotor begitu?” Tanya Keenan agak sedikit kesal, karena dia tidak suka dengan kotor.
“Lu bisa diem g sih, gimana gue mau cepet-cepet bersihin kalau gue ngladenin Lu mulu.” Jawab Nara lalu pergi begitu saja dengan membanting kain pel yang dia pegang. Nara begitu kesal dengan Keenan yang terlalu sok-sokan mengedepankan kedisiplinan. Nara tahu itu bagus, tapi ya nggak gitu juga.
Nara pergi begitu saja dan dia naik ke atap sekolah untuk menyendiri. Ratusan mata melihatnya dari kantin hingga lorong sekolah. Keenan pun mengejarnya, Keenan harus meminta Nara kembali membersihkan lantai kotor di kantin karena perbuatannya.
Nara duduk di sudut atap sekolah, dia terlihat begitu kesal. Keenan mendatanginya.
“Kenapa malah kabur ke sini?” Tanya Keenan.
“Ngapain Lu ngikutin gue, rese banget sih.” Jawab Nara.
“Kamu belum selesai membersihkan kanti yang kotor akibat ulahmu, jadi kewajibanku mengingatkan tanggung jawab kamu untuk menyelesaikannya sampai benar-benar bersih.” Ucap Keenan
“Gue heran ya sama Lu, Lu nggak ada capek-capeknya ngasih poin pelanggaran sama orang. Itu tadi gue nggak sengajak.” Ucap Nara emosi.
“Itu sudah tanggung jawabku, kamu kamu bersihkan sekarang atau aku kasih tambahan poin pelanggaran lagi buat kamu?” balas Keenan sungguh-sungguh.
“Bodo amat, tambahin aja 100 poin, gue nggak peduli. Lu mau bikin gue didepak dari sekolah juga gue nggak peduli.” Jawab Nara kesal dan udah nggak peduli lagi sama apa yang dikatakan Keenan.
Keenan menghela nafas panjang, kemudian melipat buku sakunya dan memasukkannya ke kantong bajunya. Keenan kemudian duduk di samping Nara,”Maafkan aku.”
Nara langsung menoleh pada Keenan, dia bingung kenapa seorang Keenan minta maaf padanya. Padahal sebelumnya dia selalu marah-marah padanya karena kesalahan yang diperbuat.
“Kamu pasti kesel dan benci banget sama aku selama ini, karena selalu ngasih kamu poin pelanggaran.” Ucap Keenan dengan nada sendu.
Nara terkejut karena Keenan tiba-tiba ngomong santai seperti itu padanya. Nara diam memperhatikan setiap kata yang keluar dari mulut Keenan. Nara berpikir Keenan sedang tidak sehat saat ini. Sampai dia menyentuh kening Keenan memastikan dia tidak demam. Keenan pun terdiam melihat tingkah Nara.
“Aku baik-baik saja Nara, aku juga nggak sakit.” Kata Keenan dengan tenang.
“Kok gue jadi takut ya sama Lu, ini kayak bukan Keenan si ketua OSIS rese.” Kata Nara.
“Emang bukan Keenan ketua OSIS, aku Keenan Dirgantara siswa kelas 11-4.” Kata Keenan jelas tanpa ragu.
“Lu kesambet setan sekolah ya? Jadi aneh gini.” Ucap Nara yang ceplas ceplos.
Keenan tersenyum tipis tapi senyumnya sungguh membuat hati jadi adem.
“Lu kenapa senyum-senyum nggak jelas gitu, duhh … bener deh kayaknya dia kesambet setan sekolah nih. Tunggu bentar, gue panggil guru agama dulu.” Ucap Nara sambil berangjak dari tempat duduknya tapi tangannya ditahan oleh Keenan.
“Aku nggak kesambet Nara, aku baik-baik aja.” Ucap Keenan.
Nara pun akhirnya kembali duduk di samping Keenan dengan jarak setengah meter. Keenan masih diam, Nara bingung harus ngomong apa. Dia tak terbiasa menghadapi situasi seperti ini. Apalagi Nara belum pernah sekalipun pacaran.
Nara mendengar bel berbunyi, “Bel masuk tuh, Lu nggak masuk kelas?” Tanya Nara pada Keenan.
“Guru rapat sampai jam terakhir, itu bukan bel masuk Nara, itu bel pulang sekolah. Hari ini kita pulang lebih cepat karena guru ada rapat dengan yayasan.” Ucap Keenan.
“Hah? Serius?” Nara tak percaya.
Keenan menganggukkan kepala dengan senyum tipis.
“Yes ….” Ucap Nara sangay senang.”Lu nggak pulang?” Tanya Nara.
“Nanti aku pulang.” Ucap Keenan.
“Ya udah …” Nara bangkit namun ditahan oleh Keenan.
“Aku mau ngomong banyak sama kamu.” Kata Keenan.
Akhirnya Nara kembali duduk dan Keenan melepaskan tangan Nara.
“Aku mau minta maaf sama kamu, karena aku udah bikin kamu benci banget sama aku yang selalu menghukum dan ngasih poin pelanggaran.Jujur, aku memperhatikanmu sudah dari kelas 10 dulu. Cewek yang datang ke sekolah dengan naik sepeda dan jaket panda. Awalnya aku nggak tahu siapa namamu, yang aku tahu kamu jaket panda. Aku menamainya begitu, terus aku tahu nama kamu Nara aku seneng meskipun belum bisa berkenalan denganmu secara langsung.” Ucap Keenan.
“Terus?” Tanya Nara penasaran.
“Semua orang di sekolah ini mengenalmu, dari adik kelas sampai kakak kelas pun banyak yang mengenalmu. Gadis periang dan ramah pada semua orang kecuali orang bernama Keenan.” Ucap Keenan sambil melirik pada Nara.
“Itu karena Lu nyebelin.” Jawab Nara tegas.
“Aku tahu, tapi aku senang aku berbeda dari yang lain. Meskipun agak aneh tapi aku suka. Kamu tahu, aku sering menunggumu di gang dekat rumahmu untuk memastikan kamu pulang dengan selamat. Masih ingat dengan segerombolan anak dari sekolah lain yang mengganggumu dulu.” Tanya Keenan.
“Ohhh …. Gue inget, gue denger mereka di skors dari sekolah karena malakin gue waktu itu. Hah? Jadi Lu yang laporin mereka ke sekolah mereka dan Lu juga yang udah bikin mereka minta maaf sama gue?” Tanya Nara dengan penuh semangat.
Keenan mengangguk dengan senyum manisnya.
“Kenapa Lu nglakuin itu?” tanya Nara.
“Karena kamu spesial Nara …” Ucap Keenan
“Maksudnya?” Tanya Nara bingung.
“Aku suka sama kamu Nara, dari sejak aku melihatmu waktu pertama kali sekolah di sini.”Kata Keenan jujur.
“Suka? Apanya yang suka? Tiap hari aku dikasih hukuman yang nggak jelas gitu.” Ucap Nara sebal.
Keenan senyum lebar dengan pengakuan Nara,” Kamu tahu, aku melakukan itu biar aku selalu dekat sama kamu, selalu ketemu sama kamu.” Ucap Keenan.
“Dengan ngorbanin gue dapat poin kesalahan sebanyak itu? Gila ya Lu…” Ucap Nara semakin sebal.
“Bukan ngorbanin Nara, lebih tepatnya memang kamu melakukan kesalahan dan aku mengetahuinya. Sekali mendayung aku dapet dua-duanya.”Ucap Keenan sambil tersenyum.
“Kalau emang beneran suka nggak mungkin menghukum yang orang yang disuka.” Jawab Nara.
“Emang kamu pernah nyelesein hukuman kamu? Coba pikir siapa yang ngebersin semua?” Tanya Keenan.
Nara kaget, bener juga kata Keenan, Nara emang nggak pernah sekalipun menyelesaikan hukumannya, Keenanlah yang menyelesaikan itu semua.
“Yang lari muter lapangan 8 kali itu, setengahnya juga Lu yang lakuin?”Tanya Nara ingin tahu, Keenan mengangguk dengan pasti. Nara menutup mulutnya tak percaya dengan semua ini.
“Nara, aku suka sama kamu. Aku sayang sama kamu? Aku ingin kamu jadi pacar aku.” Ucap Keenan tegas tanpa basa-basi.
“bodo amat, gue mau pulang.” Jawab Nara kemudian pergi meninggalkan Keenan.
Keenan pun masih duduk di atap, dia melihat kepergian Nara tanpa berkedip. Keenan tau apa yang diucapkannya membuat Nara kaget dan bingung. Apalagi selama ini sikapnya pada Nara tak sepertin yang dibayangkan Nara sebelumnya.
Sudah sebulan Nara menghindari bertemu dengan Keenan, dia berusaha menjauh karena sikap Keenan yang menyukainya.
Sampai akhirnya Keenan dan Nara tak sengaja bertemu di atap sekolah.Nara ingin pergi tapi ditahan oleh Keenan.
“Tunggu Nara …. Kenapa kamu selalu menghindariku?”” Tanya Keenan.
“Aku nggak mau berbuat kesalahan dan mendapat poin lagi, aku ….” Nara terdiam.
“Apa karena waktu itu aku mengungkapkan perasaanku sama kamu?” Tanya Keenan.
“Enggak … maaf ya, gue pergi dulu.” Ucap Nara, tapi tanggannya ditahan Keenan.
“Kamu menghindariku Nara … kalau memang pernyataanku kemarin menjadi beban buat kamu, anggap saja aku nggak pernah ngomong kemarin.” Kata Keenan lali ia pergi.
“Heh ketua OSIS ….” Teriak Nara tapi Keenan tak berhenti, dia terus berjalan.”Keenan …..” Nara kembali meneriakkan nama Keenan, dan Keenan pun menghentikan langkahnya dan berbalik arah menatap Nara.
“Gampang banget ya lu nyerah …..” Teriak Nara, Keenan pun terkejut dengan ucapan Nara.
“Kalau Lu emang bener-bener suka sama gue, teriak sekenceng-kencengnya, gue pengen semua orang tau kalau Keenan sang ketua OSIS suka sama gue.” Ucap Nara kencang.
“Nara ….aku sayang sama kamu, kamu mau nggak jadi pacar aku?” Teriak Keenan.
Nara membelalakkan matanya, jantungnya berdegup kencang, dia menatap Keenan dari kejauhan terdiam. Lalu Nara berlari ke arah Keenan, berhenti tepat di depan Kenan.
“Bilang sekali lagi…” Kata Nara dengan lirih sambil menahan air matanya.
Ketika Keenan akan berteriak, Nara menutup mulut Keenan dengan tangan kanannya. Nara meneteskan air mata. Keenan menghapus air mata di pipi Nara kemudian menutup kepala Nara dengan tudung jaket panda milik Nara. Nara pun memeluk Keenan. Dan Keenan membalas pelukan Nara. “Kamu nerima aku?” tanya Keenan. Nara pun mengangguk dalam pelukan Nara.
Akhirnya Keenan menggandeng tangan Nara untuk turun dari atap menuju kelas untuk mengambil tas mereka. Semua mata tertuju pada pasangan yang baru kasmaran itu. Mereka pulang bersama-sama dengan sepeda masing-masing, bersuka cita menyambut hari baru bersama sebagai pasangan kekasih.