Cinta dengan seseorang yang berbeda keyakinan tidaklah mudah untuk ditaklukkan. Cinta seharusnya dapat menjadikan dua insan yang berbeda menjadi satu.
“Diana..” seseorang menarik tanganku.
“Eh iya, ada apa?” kataku sambil menoleh ke belakang.
“Entar, pas pulang tungguin Eka ya” katanya sambil melepaskan tanganku.
“Mau pulang sama?” kataku.
“Hehe iya, tahu aja” katanya.
“Ya udah” jawabku. “Oke deh, sampai jumpa pas pulang nanti” katanya sambil berjalan menuju tangga.
Dia pacarku namanya Ekadanta. Dia juga termasuk kakak kelasku di sekolah, kami udah ngejalani hubungan ini selama 6 bulan. Tetapi keyakinanku dengan dia berbeda.
Jam ke jam, menit ke menit, detik ke detik pun berlalu. Lonceng bel pun berbunyi menandakan bahwa waktu pulang sudah tiba. Aku pun menunggunya di depan kelasku, dengan melihat
segerombolan anak kelas lain ke luar dari kelasnya.
“Haii” sapanya.
“Eh, hai juga” jawabku.
“Yuk pulang” ajaknya.
“Yuk” jawabku.
Selama di perjalanan dia hanya diam sama sepertiku, dan aku pun membuka percakapan duluan.
“Kok tumben nyamperinnya cepat? Biasanya kan lama?” dia hanya tersenyum.
"Diana boleh nanya sesuatu enggak sama Eka?” tanyaku.
“Boleh, tanya aja” jawabnya.
“Eka yakin sama hubungan ini?” tanyaku secara serius.
“Kok Diana nanya kayak gitu? Diana udah dapat yang lebih dari Eka ya?” tanyanya balik.
“Bukan, bukan gitu. Diana enggak yakin aja sama hubungan ini” jawabku sambil melihatnya.
Dan seketika lokasi yang kami tuju pun sudah sampai, dan kami pun turun dari angkutan yang kami naiki tadi. Dia membayarnya sedangkan aku menunggunya.
“Kok Eka diam aja, Eka marah?” tanyaku sambil memegang tangan kanannya.
“Eh, engga kok. Eka cuma takut aja kehilangan Diana.” jawabnya sambil membalas pegangan tanganku.
“Tenang, Diana enggak akan ninggalin Eka. Diana akan selalu ada di hati Eka untuk selamanya.” kataku dengan tersenyum penuh arti.
“Makasih, ternyata Eka enggak salah pilih” katanya dengan lembut.
Sedih rasanya jika harus jujur padanya, satu sisi aku sayang banget sama dia, satu sisi lagi aku memikirkan keyakinan kami yang berbeda.
“Ekaa..” panggilku sambil menatap matanya.
“Iya sayang” jawabnya.
“Maaff..” kataku sambil menangis.
“Maaf buat apa sayang? Jangan nangis dong, Diana kan enggak ada salah sama Eka” katanya sambil menghapus air mataku dengan tangannya yang lembut.
“Maaf ka, mungkin hubungan kita sampai di sini aja” kataku menangis sambil memeluknya. Dia hanya terdiam seribu bahasa.
“Eka kamu denger Diana kan? Diana sayang sama Eka, Diana juga takut kehilangan Eka. Tapi kita gak mungkin bersama, Kita gak mungkin kayak gini terus kaa.” Kataku dengan hati yang begitu kecewa.
Sebenarnya aku tak ingin seperti ini kaa, aku ingin selalu bersamamu sampai akhir hayatku. Namun apa daya, kita sudah ditakdirkan untuk tidak dapat bersama-sama.
Dia membalas pelukanku, pelukan yang begitu penuh arti bagi hidupku.
“Eka tahu kita tidak akan bisa selamanya, tapi bolehkah hatimu tinggal di hatiku untuk selamanya? Eka sangat menyayangimu Diana, tak ada yang mampu menggantikan posisimu di hati ini. Jika ini jalan yang terbaik untuk kita, baiklah kita akhiri saja hubungan ini. Terima kasih sudah menemaniku selama 6 bulan ini, terima kasih sudah mewarnai hidupku dengan warna yang begitu indah. Berkatmu aku mengenal apa itu sebenarnya cinta.” katanya sambil meneteskan air mata yang mengenai bajuku
Aku hanya diam, diam, dan terus diam. Menangis di dalam pelukannya, pelukan terakhir yang sangat penuh arti yang ku rasakan di dalam hidupku. Semoga engkau dapat yang lebih baik dariku Reza, dan mendapatkan jodoh yang seiman denganmu. Terima kasih sudah bersedia masuk di dalam hidupku.
Sosokmu tak akan pernah aku lupakan sepanjang hidupku. Ya begitulah cinta beda keyakinan membuat kita bingung, apakah kita lebih mencintai ciptaanNya atau penciptaNya. Tapi tenang. Akan ada masanya cinta akan mendatangimu dan tak akan pernah meninggalkanmu untuk selamanya.
DIANA EKADANTA LOVE STORY
-THE END-