Alisha, ada apa denganmu? Mengapa sikapmu menjadi sekasar ini padaku? Sebenarnya apa salahku?" Cecarku padanya dengan hati yang tak karuan.
Dia kembali menatapku dengan tatapan nanar, pelupuk matanya dipenuhi dengan air mata.
"Aku tidak menyangka bahwa kamu setega ini kepadanya."
"Maksud kamu, siapa yang kamu maksud?" tanyaku tak mengerti.
Namun sebelum mendengar jawaban darinya, kami merasakan kedatangan orang lain menuju tempat ini. Sepertinya merka adalah Abi dan Ummi.
Menyadari hal tersebut Alisha segera bangkit dan mengusap air matanya dengan cepat seolah keadaannya tidak ingin diketahui oleh orang lain.
"Alisha, ternyata kamu disini, Nak? Apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Abi.
"Dari tadi kami mencarimu. Kenapa berada diluar? Ayo masuk!" Ajak Ummi merengkuh tubuh Alisha.
Aku merasa jika Alisha tidak ingin menunjukkan kemarahan yang tadi dia lakukan kepadaku. Terlihat dari sikapnya yang datar dan merasa tidak pernah terjadi apa-apa.
"Baik Ummi, tadi Alisha hanya ingin mencari angin segar. Mari masuk, Mi!" Ucapnya menyambut ajakan Ummi
dengan sikap yang ramah.
Gadis ini ... pandai sekali mengubah sikapnya dengan cepat, aku sendiri kebingungan dibuatnya.
Saat ini Ummi dan Alisha melangkah menuju ke kamar kami, sedangkan aku mengikuti langkah mereka dari belakang. Sedangkan Abi memutuskan untuk kembali ke kamar mereka.
Saat memasuki kamar, Ummi melihat serpihan bingkai fotoku dan Raffi yang hancur.
"Fahry, bingkai fotonya kenapa bisa hancur seperti ini?"Tanya Ummi.
"Fahri juga tidak tahu, Mi. Mungkin jatuh sendiri." Jawabku.
"Ya sudah, panggil bik Imah kemari untuk membersihkan. Ummi takut serpihan kacanya melukai kalian!" Perintah Ummi.
Setelah bik Imah menyelesajkan tugasnya, ia memohon izin meninggalkan kami bertiga didalam kamar.
"Ya sudah, istirahat ya, Nduk. Ummi lihat sepertinya kamu sangat lelah. Kalo butuh apa-apa tinggal minta tolong Fahry atau bik Imah ya." Ujar Ummi, sebelah tangannya mengelus puncak kepala Alisha dengan lembut.
Kurasa, Ummi sangat menyayangi Alisha seperti putri kandungnya sendiri. Mungkin hal ini sangatlah lumrah, melihat selama ini hanya aku putra tunggal mereka.
Sebenarnya ada Raffi sepupuku yang ikut tinggal disini sejak beberapa tahun yang lalu. Hal ini dikarenakan kedua orang tuanya meninggal akibat kecelakaan saat hendak keluar kota. Sehingga semenjak saat itu Abi dan Ummi sepakat mengangkat Raffi sebagai putra mereka.
Saat ini usiaku telah menginjak 27 tahun, sedangkan Raffi berusia 25 tahun, terpaut dua tahun lebih muda dariku. Meski kami memiliki perbedaan usia, namun banyak orang mengira kami adalah saudara kembar. Hal ini dikarenakan banyak kesamaan dalam garis wajah, tinggi badan dan postur tubuh kami. Meskipun banyak pula perbedaan yang terlihat bila mereka dengan seksama.
Raffi memiliki rambut yang sedikit ikal, dengan iris mata abu-abu, berhidung lancip sangat serasi dengan bibirnya yang sedikit tebal, ia memiliki kulit putih kecoklatan meniru ibunya yang berkebangsaan eropa.
Sedangkan aku memiliki rambut yang lurus, iris mata berwarna coklat, hidung mancung dengan bibir tipis serta berkulit putih meniru Ummi.
Dulunya Ayah Raffi adalah pebisnis hebat. Beliau memiliki bisnis yang meluas sampai keluar negeri bahkan sampai ke Eropa. Itulah sebabnya beliau menikahi Tante Merry dan mengajaknya tinggal di Indonesia.
Kepergian orang tua Raffi menjadi duka yang mendalam bagi Abi dan Ummi, mengingat betapa eratnya hubungan mereka sebagai saudara. Hal tersebutlah yang menyebabkan Abi langsung mengajak Raffi tinggal bersama kami di rumah ini.
Beberapa tahun terakhir ini aku harus menyelesaikan Study S2 di salah satu Universitas Mesir. Kemudian setelah dua bulan yang lalu kembali ke Indonesia, aku langsung diterima mengajar di salah satu Universitas Negeri di Surabaya.
Sedangkan Raffi saat ini tengah menempuh pendidikan Sekolah penerbangan di Singapore. Hal tersebutlah yang menyebabkan terbentangnya jarak diantara kami.
Betapa keputusan Raffi tiga bulan yang lalu untuk menempuh pendidikan di Singapura sangatlah mengejutkan. Pasalnya dua tahun yang lalu ia menolak tawaran tersebut dengan alasannya tidak ingin hidup berjauhan dengan Abi dan Ummi. Bahkan di hari pernikahanku dia menolak untuk pulang dan memilih memberi ucapan selamat lewat telpon.
***
Setelah Ummi meninggalkan Aku dan Alisha didalam kamar, segera kututup pintu perlahan. Kulihat saat ini Alisha tengah duduk diatas ranjang dengan punggung yang bersandar pada kepala ranjang king size kamar ini. Matanya tertutup dengan raut wajah yang seolah menahan beban.
Aku kembali melangkah menghampiri Alisha hendak meminta penjelasan mengenai sikapnya beberapa saat yang lalu. Namun pada saat jarak telah mengikis keberadaan kami, matanya yang terpejam kini kembali terbuka.
"Jangan mendekat, Mas!" Pekiknya tertahan.
"Ada apa denganmu, Alisha? Sebenarnya apa salahku padamu, coba katakanlah!" pintaku.
"Sebenarnya apa alasan mas Fahry menikahiku? Apakah kamu tidak merasa bahwa hal tersebut sangatlah melukai hati orang lain?" Sudut netranya kembali mengeluarkan air mata, membuatku semakin kebingungan tentang apa yang sebenarnya terjadi.
"Karna A ... aku mencintaimu Alisha. Bahkan aku sudah menginginkanmu semenjak kita masih bermain bersama puluhan tahun yang lalu." Kataku menjelaskan.
"Oh, jadi itu sebabnya mas Fahry langsung menerima perjodohan ini tiga bulan yang lalu? Aku tidak mencintaimu, Mas. Aku hanya menganggapmu teman dimasa kecil, tidak lebih. Asal kamu tahu, hatiku masih mencintai orang lain."
Deg.
Serasa hati ini dihantam ribuan sembilu. Sakit sekali.
Apa dia tidak merasakan bahwa pandangan mata ini begitu menyiratkan kasih sayang padanya meski hubungan kami berpisah jarak dan waktu. Rasa ini selalu tumbuh subur didalam hati sampai saat ini.
"Jika kamu tidak mencintaiku, mengapa kamu tidak menolak lamaranku dulu, Alisha? Kenapa baru sekarang kamu bilang bahwa ada orang lain dihatimu?
"Aku ingin melupakannya. Itulah Alasan mengapa aku menerima perjodohan ini karena ia yang kucintai tega memutuskan hubungan secara sepihak."Jawabnya tanpa memperdulikan perasaanku.
"Untuk selanjutnya, apa yang kau inginkan dariku, Alisha?"
"Lepaskan aku bila kamu mampu, Mas!" Ucapnya ringan namun seperti godam yang menghantam dadaku. "Maafkan aku. Tapi aku tidak bisa menghancurkan perasaan kalian berdua. Mustahil bagiku melupakannya jika nantinya kami akan sering berjumpa".
"Dia? Maksudmu dia siapa?" Tanyaku dengan perasaan berkecamuk. Namun aku tetap berusaha bersikap tenang. Aku akan berusaha mempertahankan rumah tangga yang bahkan baru aku mulai. "Alisha, apa kamu tidak memikirkan bagaimana perasaan orang tua kita bila kita berpisah?" Tanyaku berusaha menahan amarah. Pantang bagiku untuk membentak wanita. Apalagi dia yang sangat aku sayangi. Meskipun kepedihan ini membuat mataku sedikit berembun.
"Maafkan aku, Mas. Tapi aku tidak bisa mencintaimu, hati ini telah menjadi milik orang lain. Dan orang itu.... "
'Tok tok tok'
"Fahri?" Tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk. Aku yakin itu suara Ummi.
'Ah kenapa beliau datang disaat yang tidak tepat.' Segera ku usap embun mataku dengan telapak tangan dan segera melangkah lemah ke arah pintu.