BOLA mataku tak henti-hentinya
menatap setiap orang yang sedang
berlalu lewat muka rumah kecil ini. Yah,
akhirnya kulihat juga kakek kurus
pembawa ubi kayu. Hampir setiap hari
laki-laki lanjut usia itu melewati jalan
setapak yang ada di depan rumah, pulang
dari arah persawahan. Kalaupun ada hari
di mana ia tak lewat jalan setapak itu
pasti karena ubi kayunya masih ada sisa,
seperti dua hari lalu.
Sama seperti kemarin, hari ini aku terus
memperhatikan jalan setapak sepi itu.
Melalui jendela kamarku, jalan setapak
yang lebarnya mungkin hanya setengah
meter itu terlihat sangat jelas. Kulihat
kakek berjalan dengan terhuyung-huyung
tanpa alas kaki, bertelanjang dada, dan
hanya celana pendek hitam yang terlihat
menutupi tubuh keriputnya. Wujud kakek
terlihat semakin mendekat. Tak berapa
lama kemudian terdengar suara pintu
terbuka.
“Kakek sudah pulang?,” sambutku penuh
senyum.
“Hemm”, jawab kakek.
“Selalu saja begitu, setiap kali bertanya
pasti hanya dibalas dengan deheman
Kakek,” gerutuku dalam hati.
“Aduh, pasti berat sekali ya Kek?”,
tanyaku lagi.
“Ah, tidak juga Cu. Ini hanya sedikit
saja.” Sahut kakek dengan enteng.
“Huh, Kakek selalu saja begitu! Harusnya
hari ini tidak usah pergi ke sawah. Kakek
kan tahu kalau batuk kakek belum
sembuh betul.” Balasku sedikit kesal.
“Kalau kakek tidak pergi mengambil ubi
hari ini, besok kamu mau makan apa Cu?”
Aku hanya diam, memang benar apa
yang dikatakan kakek. Jika tidak ambil
ubi di sawah hari ini, besok mau makan
apa? Ah, jadi malas memikirkannya lagi.
Segera kuambil alih ubi yang baru saja
diturunkan dari pundak kakek. Kubawa ke
dapur untuk segera dibersihkan dan
dimasukan ke dalam karung untuk
dibawa ke pasar esok hari.
Hari berikutnya aku duduk diam
termangu di atas ranjang tidurku.
Menatap keluar lewat kaca yang buram
melihat jalan setapak berkerikil itu lagi.
Menunggu kakek pulang dari sawah.
Betapa kagetnya aku saat itu. Dari
kejauhan aku melihat kakek tak berdaya,
berjalan tertatih tak seperti biasanya.
Semakin dekat menuju rumah, mataku
melotot melihat kaki kakek bercucuran
darah. Kakek terluka! Segera kupaksa
berlari tubuh ini menuju pintu keluar.
“Kakek! Kakek! Apa yang terjadi?”
tanyaku dengan gugup.
“Tak apa Cu,” balas kakek dengan
entengnya.
Aku paham sekali, pasti kakek
terluka oleh cangkul tajamnya saat akan
mengambil ubi kayu. Kulihat ibu jari
kakinya hampir terpotong, darah merah
masih terus mengucur deras seperti tidak
mau berhenti. Raut muka kakek berubah
saat itu menjadi sangat pucat. Terlihat
lemas, sudah kehilangan banyak darah.
Kutuntun kakek untuk masuk ke dalam
rumah dan aku tahu kakek pasti
kesakitan.
“Bawa ke pak mantri ya Kek?”
rajukku dengan isak karena takut.
“Tak usah, nanti juga sembuh,”
masih saja setenang ucapan
sebelumnya.
Aku hanya bisa menghela napas. Selalu
begini, kakek tak pernah mau menuruti
permintaanku. Kakek tak pernah mau
menyetujui usulku. Setiap aku
memintanya untuk menyembuhkan
sakitnya melalui tenaga medis, kakek
menolak mentah-mentah. Entahlah, tapi
mungkin bukan karena kakek takut akan
jarum suntik seorang mantri. Kakek pasti
takut jika ia harus mengeluarkan rupiah
dari dalam saku celanannya yang lusuh
itu hanya untuk membayar biaya
pengobatan.
Aku menundukan kepala terfokus pada
luka di kaki kakek yang menganga dan
bingung harus berbuat apa. Aku 16 tahun
yang hanya bisa mematuhi setiap ujaran
yang keluar dari mulut kakek. Sambil
kebingungan mencari cara agar darah
kakek tak terus mengalir keluar, kusobek
saja sedikit ujung bawah bajuku.
Membasahinya dengan air sumur dan
mulai mengelap darah kakek di kakinya.
“Sekarang kakek pasti tahu, apa
sebabnya jika sedang sakit tetapi tetap
memaksa untuk bekerja. Jadi seperti ini
kan Kek? Apa Kakek tidak ngeri melihat
ibu jari kaki Kakek hampir putus?”,
tanyaku serius kepada kakek.
“Hahaha, sedang berbicara apa kamu Cu?
Sudah dibilang tidak apa-apa. Lihatlah
kakek sudah segar kembali,” balas kakek
dengan senyum di bibirnya.
“Segar apanya, kaki Kakek juga
sudah mulai membiru tahu!,” jawabku
sewot.
“Kalau warnanya jadi biru malah bagus
kan, Kakek tidak perlu repot-repot bikin
tato warna biru. Khekekekekek.” Timpal
kakek.
Apa-apaan, kakek ini tidak
mengerti atau pura-pura tidak merasa
sakit. Kaki luka parah seperti ini masih
saja menganggap enteng. Huh, jadi
marah sendiri melihat ulah Kakek seperti
itu.
“Sudah Kakek! Jangan bercanda terus
dong!”, balasku mulai marah.
“Lhoh, kenapa kamu Cu? Kok
malah nangis?” tanya kakek kemudian.
Kakek sepertinya tahu persis kalau aku
benar-benar khawatir, luka kakek
sungguh mengerikan. Bagaimana aku
tidak menangis melihat kakek sakit
seperti itu. Dalam hati aku berdoa pada
Tuhan memohon pertolongan. Kakek
hanya seorang penanam ubi kayu. Itu pun
bukan menanam ubi di sawah miliknya
sendiri tetapi di tanah pinggiran parit
sawah. Semua orang juga pasti tahu jika
sebenarnya lahan pinggir parit tak boleh
ditanami dan tak boleh dimiliki oleh
perorangan. Namun, karena keadaan
semuanya juga pasti paham dan
membiarkan begitu saja jika kakek
menancapkan bibit ubi kayu di sana.
Sudah ku lap berkali-kali kaki kakek.
Akan tetapi, darah kakek yang merah
menetes tak kunjung berhenti. “Kek,
bagaimana ini darahnya tak mau
berhenti?”, kataku dengan takut.
“Tunggulah sebentar, nanti juga
berhenti,” sahut kakek pelan.
Aku hanya bisa menggelengkan kepala
mendengar jawaban kakek yang selalu
menganggap ringan masalah sakitnya.
Saat itu kenangan masa laluku muncul,
teringat saat aku dan kakek hidup
berkecukupan dengan semua yang serba
ada. Kebencianku muncul kembali. Sama
seperti keadaan dua tahun silam. Rasa
benci yang mungkin bisa membius
nyawa mahluk hingga mati. Siluet
seorang nista muncul di hadapanku.
Sebuah sosok yang disebut dengan
“Ayah”.
Ah, bagiku dia bukan “ayah” tapi “setan”.
Bagaimana tidak aku tak menyebutnya
seperti itu. Dia yang telah mengacaukan
jalan hidup yang sudah mulus. Dia yang
membuat Kakek tua tak berdaya
mengais-ngais tanah kering untuk
menemukan bongkahan ubi kayu demi
sebutir beras.
Aku tidak pernah tahu mengapa Tuhan
waktu itu mengijinkan ayah menjadi
orang besar bak raja. Aku tidak mengerti
sama sekali kenapa dulu ayah
diperbolehkan merasakan manisnya
dunia melalui istana megah yang disebut
negara ini. Ayah yang kemudian menjadi
haus akan materi dan melupakan semua
aturan yang telah ada telah
memanipulasi data demi uang. Bodohnya
aku yang waktu itu tak mengerti sama
sekali akan keadaan kotor yang dilakukan
ayah dalam pekerjaannya.
“Kek, apa Kakek tidak rindu dengan
kehidupan kita yang dulu?”, tanyaku
tertunduk.
“Kenapa Cu? Kok pertanyaanmu
aneh,” Balas kakek dengan heran.
“Aku sedih, kita tidak punya apa-apa lagi.
Mau mengobati luka kakek saja tidak
bisa. Kita tidak punya uang.” Aku mulai
menangis lagi.
Kulihat kakek hanya diam mendengar
perkataanku, lalu mengalihkan
pandangannya menatap langit-langit
rumah yang kotor penuh dengan rumah
serangga.
Kasihan sekali kakek, rumah mewahnya
hilang, tabungannya habis, dan semua
perusahaan yang dimilikinya telah
berpindah tangan untuk menutup utang.
Demi menyelamatkan anak laki-lakinya,
yaitu ayahku sendiri. Untuk menutupi hal
yang disebut “hukuman denda”, kini
hidup kakek terlunta-lunta. Merelakan
hari-hari dari hidupnya yang tersisa
dengan bergantung pada ubi kayu.
Aku juga merasakan hal yang sama.
Hanya bisa tersenyum kecut. Tak bisa
lagi menyepadankan diri dengan anak-anak yang lain. Untuk kembali ke status
pelajar pun tak bisa. Bagaimana bisa aku
kembali bersekolah, sedangkan untuk
makan saja kurang. Hanya duduk di
rumah reot peninggalan orangtua kakek
di desa kecil ini. Diam menunggu kakek
pulang dari sawah. Berharap kakek
pulang dengan membawa ubi kayu yang
banyak dan kemudian dijual ke pasar.
Kaget sekali tiba-tiba ada yang
menepuk pundakku.
“Hei Cu, apa yang sedang kamu
lamunkan? Rindu pada Ayah? Besok kita
kunjungi dia, Kakek juga ingin bertemu
sudah setahun kita tak pernah datang
untuknya”, seru kakek dengan semangat.
“Hemm, Aku tak ingin menemui
Ayah! Aku benci dia Kek!”, timpalku keras.
“Apa yang kamu benci, Ayahmu
kan sudah menerima imbalannya. Apa
kamu menyesal sekarang hidup miskin
dengan Kakek? Apa kamu menyesal tidak
bisa lagi hidup dengan mewah seperti
dulu?”, balas kakek.
Aku diam, mataku yang sudah mulai
kering menjadi basah kembali. Aku
memang ingin sekali bisa seperti dulu
lagi. Mempunyai segalanya tanpa kurang
satupun.
“Iya Kek. Meski sedikit menyesal karena
tidak bisa hidup mewah lagi tapi aku tak
ingin jadi kaya karena uang haram
Ayah.”, jawabku pelan.
Aku kembali terisak tetapi
kebencianku kepada keadaan yang
kualami sekarang sedikit pudar. Senada
dengan langit senja yang kala itu sudah
berubah jadi hitam pekat. Aku ingat
bahwa ayah sudah dikurung.
Ditempatkan di kamar petak jeruji besi.
Sebagai hasil menebus kesalahannya
menjadi pemimpin yang serakah.
Aku punya sebuah janji, bahwa takkan
pernah mau menjadi pemimpin negeri.
Aku takut jika serupa dengan nasib ayah.
Aku takut jika aku tak bisa
mengendalikan napsu akan materi
seperti ayah. Kaki kakek sudah bersih.
Meski lelehan darah merah masih
mengucur dari luka sayatan cangkul
tajam itu.