Gadis itu berlari dengan terengah-engah. Tas ransel di punggungnya melompat-lompat karena gerakannya yang cepat. Keringatnya mengalir dari pelipisnya membasahi wajahnya. "Hanzel! Tunggu aku!" teriaknya.
Hanzel, menoleh sejenak dan segera melangkahkan kakinya lebih cepat. "Sudahlah. Jauhi aku!" teriaknya pada gadis itu. "Kita pulang sendiri-sendiri!"
Sophie memperlambat larinya. Ia sudah sangat putus asa. Semua orang menjauhinya, bahkan saudaranya sendiri seakan-akan malu mengenalnya.
Semuanya gara-gara tubuhnya. Seandainya saja ia bisa mengontrol makannya, seandainya saja ia tidak selalu melampiaskan kekesalan, kemarahan dan kekecewaannya pada makanan ia tidak akan seperti ini.
Masa putih abu-abu telah berakhir. Dengan niat membara, Sophie pergi merantau ke kota. Mengejar impiannya untuk kuliah di sebuah fakultas kedokteran ternama.
"Sophia Marchia!" seru sang Asdos memanggilnya.
"Siap!" sahutnya. Sophia melirik sang Asdos yang tampan. Angan-angannya melayang, seandainya ia bisa memiliki kekasih setampan dia.
Sebuah pukulan di keningnya menyadarkannya dari lamunannya. "Apa kau melamun?" tanya sang Asos dengan suara baritonnya yang menggelegar.
"Ti- tidak kak."
"Hai gendut, bawa tasmu ke kamar di ujung sana. berikan laporan kegiatan apa saja yang dilakukan," Asdos itu memberikan perintahnya.
Sophia berjalan dengan tasnya dan masuk ke dalam ruangan di ujung lorong. Di dalamnya terdapat beberapa meja yang tertutup kain. Mendadak wajah Sophia memucat setelah ia menyadari bahwa ruangan itu adalah sebuah kamar mayat!
Sophia berbalik ingin keluar dari ruangan itu. Tapi malang, seseorang mengurungnya di dalam sana, sendirian. Dia mengetuk pintu itu berulang-ulang. Ia berharap seseorang yang lewat akan membuka pintu untuknya.
Satu jam - dua jam - tiga jam berlalu tanpa ada tanda seorangpun datang membantunya. Sophia mulai menangis tersedu-sedu. Tiba-tiba seorang perempuan cantik duduk di sampingnya. Perempuan cantik itu tersenyum padanya. Shopia terpesona, walaupun ia adalah seorang wanita.
"Si siapa kau?" tanya Sophia dengan tergagap. Ia masih ketakutan karena bisa saja itu adalah salah satu mayat yang tiba-tiba saja bangun dan mengganggunya.
"Aku adalah kamu. Kamu adalah aku," sahutnya. Kalimat yang sangat ambigu. Walaupun Sophia berpikir keras, ia tak dapat mencerna arti dari kata-kata itu.
"Kau sakit, aku juga sakit. Kau sedih, aku juga sedih," kata perempuan cantik itu lagi.
"Lalu apa yang kau inginkan dariku? Mengapa kau datang dan menggangguku, dan dari mana kau datang?" tanya Sophia. Begitu banyak pertanyaan yang muncul di benaknya.
"Aku muncul dari dirimu. Aku ingin membalas rasa sakit hati yang selama ini aku rasakan. Aku ingin mereka merasakan kepedihan yang selama ini aku rasakan." Perempuan cantik itu mengucapkan kalimat-kalimat itu dengan nada kesal dan dendam yang membara.
Shopia tertawa. "Silahkan. Aku akan menjadi penonton yang akan bertepuk tangan paling keras, jika kau telah berhasil membalas semua kepedihan yang mereka torehkan ke hatiku."
"Jadi kau setuju?" Perempuan itu bertepuk tangan kegirangan sambil tertawa. "Pejamkan matamu!"
*****
Sophia terbangun di atas sebuah ranjang. Di sebelahnya berdiri sang Asdos yang tampan. Wajahnya terlihat cemas menatap Shopia yang baru saja membuka sepasang matanya.
"Kau baik-baik saja? Mengapa kau ada di kamar mayat sendirian?" tanyanya seolah tak pernah memberikan perintah menginspeksi kamar mayat.
Sophia bangkit dari tidurnya, dengan terkejut dia melihat pantulan dirinya di kaca jendela. Dia -- kenapa dia berubah menjadi perempuan cantik semalam?
"Sepertinya aku tersesat, kak. Aku bahkan tak ingat mengapa aku ada di sana," Sophia mendadak menemukan sebuah ide.
"Kalau sudah baikan, kau boleh pulang," kata sang Asdos.
"Ta- tapi kak. Aku tak ingat rumahku dimana."
"Jadi siapa namamu?"
"Marchia."
"Jika kau tak keberatan, kau boleh tinggal sementara di apartemenku." Asdos itu memberikan ijinnya.
"Yess!" sorak Sophia di dalam hatinya.
"Iya kak. Terima kasih, nama kakak siapa?" tanya Shopia.
"Kenzie."
Shopia tersenyum, tentu saja saat ini yang terlihat adalah senyum manis seorang gadis cantik bernama Marchia. Senyum manis yang sangat memabukkan hati Kenzie.
Kenzie mengantar Sophia aka Marchia ke kediamannya. Kenzie adalah seorang yang mandiri. Ia mempunyai sebuah apartemen kecil yang telah dicicilnya selama beberapa tahun berjalan.
"Kakak Kenzie, aku tidak akan sendirian tinggal di apartemen ini, bukan? Aku takut sendirian, kak," kata Sophia aka Marchia.
"Baiklah, aku akan menemanimu. Lagipula aku tak mempunyai tempat tinggal lain selain di sini," Kenzie terkekeh.
Hubungan mereka semakin dekat. Kenzie sangat mencintai Marchia tentunya, karena perempuan ini sangat cantik dan manja. Kenzie tak pernah tahu bahwa Marchia adalah Sophia mahasiswi gemuk yang tak disukainya.
Hingga suatu malam tahun baru, mereka berdua melihat pesta kembang api dari jendela apartemennya. Kenzie yang sangat mencintai Marchia tak dapat lagi mengontrol gairahnya.
Ia memeluk Marchia dan mengecup bibirnya dengan lembut setelah menyatakan perasaan cintanya. Namun kejadian yang tak terduga terjadi, wujud cantik Marchia berangsur-angsur berubah menjadi sosok Sophia.
Kenzie yang merasa terkejut karena kejadian itu, merasa ketakutan. Ia menatap Sophia seperti melihat sosok hantu. Seperti kalap dan kesetanan, Kenzie mengambil sebilah pisau di meja.
Sophia terkejut, "Jangan Kenzie. Jangan bertindak bodoh. Aku mencintaimu. Sebagai Shopia ataupun sebagai Marchia. Dan aku telah memaafkan kesalahanmu."
Tak ada yang dapat menebak kejadian berikutnya. Pisau yang semula mengarah pada Shophia tiba-tiba berputar ke arahnya sendiri. Ya-- ke arah Kenzie. Perempuan cantik itu muncul kembali sebagai bayangan, ia tersenyum pada Kenzie dan mengangguk, seolah memerintahkannya untuk menyusulnya ke alam baka.
Dan pisau itupun bersimbah cairan pekat berwarna merah.