Cacing tanah naik ke permukaan tanah dan melihat kagum bulu-bulu burung merak yang mengembang dengan indahnya.
Cantiknya ...
Cacing tanah melihat dirinya yang berwarna coklat polos dan bisa dibilang tidak indah.
Di hari lain, cacing tanah melihat gajah yang bertubuh besar.
Gagahnya ...
Cacing tanah melihat tubuhnya yang mungil kecil panjang. Yang dengan mudahnya diinjak-injak.
Di hari lainnya, cacing tanah melihat singa yang bersurai menampakkan wibawanya sebagai raja hutan.
Ia melihat dirinya lagi.
Aku jelek ...
Cacing tanah meratapi dirinya.
"Hiks ... Hiks ... Hiks ..." Cacing tanah menangis.
Burung hantu yang melihatnya bertanya "Cacing tanah, kenapa kau menangis?"
"Burung hantu ... Kenapa aku dilahirkan sejelek ini? Kenapa aku tidak dilahirkan dengan bulu seindah merak, bertubuh besar seperti gajah atau segagah singa?"
"Kenapa kau harus menangis? Kau seharusnya bersyukur. Karena ada kaulah mereka bisa hidup?"
"Maksud kakek?"
"Karena kau, tanah menjadi gembur. Tanaman bisa tumbuh dengan lebat. Gajah dan rusa bisa memakan tumbuhan. Bayangkan bila kau tak ada. Tumbuhan hanya ada sedikit atau bahkan tidak tumbuh sama sekali. Mereka bisa kelaparan dan mati. Semuanya diciptakan dengan maksud dan tujuannya masing-masing."
Cacing tanah merasa bersyukur. Ia bisa berbangga diri. Karena dia, tumbuhan, air dan matahari, hewan-hewan yang ia kagumi tidak kelaparan dan bisa bertahan hidup
Aku hanya harus bersyukur dan menerima diriku.
Semuanya diciptakan dengan tujuannya masing-masing.
Aku memang tidak secantik merah.
Aku memang tidak sekuat gajah.
Aku juga tidak segagah singa.
Tapi karena aku, air dan matahari, tanaman bisa tumbuh dengan subur.
Cacing tanah akhirnya masuk ke dalam tanah untuk tidur.