Hanya sebuah keterbatasan, aku adalah seekor Kucing yang tinggal di sebuah kotak bersama ibuku dan dua saudaraku. Aku adalah anak bungsu dari ibuku.
Kupandangi jalan perkampungan ini, penuh dengan orang yang tidak memiliki hati. Bahkan ibuku pernah babak belur saat pulang, dengan membawa sebuah ikan, mungkin ia dipukuli oleh manusia. Namun ibuku sudah sehat dalam beberapa hari, ini semua karena Tuhan.
Dua saudaraku terlihat sedang bermain, dan aku hanya duduk di dalam kotak. Sementara ibuku sedang pergi mencari makanan untuk kami.
Malam begitu kelam. Angin malam begitu menusuk hingga ketulang. Kini aku, ibu dan dua saudaraku sedang berada di dalam kotak untuk tidur. Kami bertiga dipeluk oleh ibu, sangat hangat pelukannya. Aku beruntung masih memiliki ibu yang menyayangiku.
Aku membuka mataku. Oh… dimana ini? aku telah berada di tempat yang begitu asing bagiku. Dan ibu serta dua saudaraku dimana? mereka tidak ada di sini!
Dan ini… aku bukan lagi di kotak, namun di sebuah jeruji besi. Aku mendengar sebuah auman yang kukenal, ya itu suara ibuku. Dimanakah gerangan dirinya?
Sesaat kemudian, seorang manusia dengan raut wajah yang terlihat setengah tua datang menghampiri aku yang sedang terkurung. Ia membuka pintu kurungan, dan mengeluarkanku.
Manusia itu menggendongku dibawa entah kemana. Sekilas aku melihat ibu dan dua saudaraku sedang dikurung di sebuah jeruji besi yang berada di tingkat atas, mereka terlihat senang karena ada ikan yang sangat besar di situ. Apakah mereka memikirkan aku? Entahlah…
Tak lama kemudian aku diberikan kepada seorang bocah berusia 5 tahun. Setelah itu bocah itu sangat senang dan berlari kegirangan setelah mengucapkan terima kasih. Kurasa dia baik.
Di bawa masuk aku di sebuah rumah yang bercat serba putih. Aku melihat beberapa benda yang sangat unik. Aku dikalungkan sesuatu oleh anak tersebut.
Anak itu tersenyun riang, ia berkata, “Kau kuberi nama Taring ya.”
Aku tak mengerti apa yang ia katakan, namun aku hanya mengeong. Sesaat kemudian anak itu berlari menuju dapur dan setelah itu ia membawa makanan kepadaku, yaitu ikan.
Aromanya menggoda, aku segera mengendus dan menyantap ikan yang diberikannya.
Tak terasa, cukup lama juga aku tinggal di rumah anak ini. Berkisar setengah tahun lamanya. Aku mulai gemuk di sini, makanku teratur. Namun, bagaimana dengan keadaan ibu dan saudaraku? aku rindu pada mereka. Andai manusia mengerti bahasaku, aku akan mengatakan bahwa aku ingin bertemu mereka.
Aku lihat keadaan mulai sepi, aku segera keluar dari rumah ini. Aku ingin mencari mereka. Setelah lamanya aku mencari keberadaan mereka, namun aku tak kunjung menemukannya.
Dengan berat hati aku kembali, namun sebuah suara yang kukenal tiba-tiba terdengar memanggilku.
“Hei dik bungsu…” itu adalah suara Kakak keduaku. Aku menoleh ke belakang dan benar, itu adalah dia.
“Kakak?” Aku langsung berlari dan memeluk kakakku itu. “Kak, ibu dan Kakak sulung mana?”
Kakakku itu menarik napas panjang, matanya mulai berkaca-kaca. Ia berkata, “Mereka berdua telah mati tertabrak truk 2 hari yang lalu.”
Bagai tersayat sembilu, dadaku sesak menahan sesak. Ternyata ibu yang kucintai telah pergi meninggalkan dunia dan isinya.
Hanya pada Tuhan ku berharap semoga ada orang yang punya hati yang mau menguburkannya.
“Apakah mereka sudah dikuburkan kak?” tanyaku dengan buliran hangat yang mengalir di pipiku bak air terjun.
“Sudah, mereka dipungut oleh seorang kakek dan aku melihat ia membalutnya dengan sebuah kain putih sebelum ditanam”, jawab kakak.
“Haah… ibu sudah tiada,” ujarku.
“sudahlah… mungkin ini takdir dari Sang Kuasa.”
“Ya sudah kak, lebih baik kau ikut aku, ke tempat majikanku.”
“Baikklah dik.”
*Selesai*