Alarm berbunyi. Hana pun bangun. Ia tak boleh lama-lama berada di tempat tidur. Ia harus datang lebih pagi karena hari ini hari pertamanya di tempat kerja barunya.
Hana membersihkan tubuhnya. Mengenakan setelan yang sudah ia siapkan malam sebelumnya karena ia tak ingin kebingungan memilih baju.
Hana mengecek kembali penampilannya.
Sip ...
Hana lalu mulai berangkat ke tempat kerja menggunakan bis. Angin yang berembus melalui jendela membuat Hana mengantuk. Ia tertidur.
Sampai akhirnya Hana terbangun.
"Stop ... Stop ... Stop ..." Hana meminta supir bis berhenti.
Bus berhenti di halte bus dan Han pun turun.
Aku di mana?
Hana menoleh ke kanan dan ke kiri. Ia lalu menghentikan taxi dan menaikinya sampai ke tempat kerja.
Hana terlambat.
Ia dimarahi habis-habisan karena di hari pertamanya ia sudah terlambat.
"Maafkan saya." Hana tidak mungkin beralasan karena tertidur di dalam bis.
"Ia terlambat karena saya," kata seorang pria yang mendekati mereka.
"Bos ..." Manajer Hana terlihat ketakutan.
"Baiklah. Saya mengerti. Saya permisi dulu." Manajer Hana tidak jadi memarahi Hana.
Hana melihat ke arah pria itu.
Siapa pria ini?
Apa aku mengenalnya?
"Siapa Anda?" Hana bingung karena perkataan pria itu yang jelas-jelas bohong walaupun dalam hatinya senang karena manajernya tidak berlama-lama memarahinya.
Pria itu menempelkan jari telunjuknya ke dahi Hana.
"Sifat pelupamu belum hilang rupanya."
Pria ini kok tahu kalau aku pelupa?
Hana berusaha mengingat-ingat pria itu.
"Bos ... Anda harus segera ke tempat meeting. Rapat akan dimulai." Pria yang lain memberi tahu pria yang dipanggil bos itu.
Bos Hana lalu pergi meninggalkan Hana yang masih belum bisa mengingatnya.
Siapa dia?
Seharian itu Hana masih saja tidak bisa mengingat pria itu.
Fokus ... Fokus ...
Ini hari pertama kerja.
Aku nggak boleh mikir yang lain.
Hana fokus pada pekerjaannya.
Saat pulang, pria yang dipanggil bos itu mendekati Hana.
"Kau sudah mengingatku?"
"Belum. Nama Anda siapa?"
"Park Jimin."
"Park Jimin?"
Hanya ada satu nama Park di kehidupan Hana.
"Si pendek." Hana langsung menutup mulutnya.
"Jadi kau lebih mengingatku dengan si pendek?"
"Maaf ... Maafkan saya." Hana membungkukkan badannya.
Dulu saat ia masih SMA, ia sering meminta si pendek untuk mengerjakan PRnya, membelikannya makanan dan lain-lain. Ibaratnya Hana itu bos dan si pemdek itu pesuruhnya.
Mereka tidak bertemu lagi karena Hana harus pindah keluar kota mengikuti orang tuanya.
Apa aku bakal dipecat? ~ Hana yakin 100% ia akan dipecat.
Di rumah Hana mulai menulis surat pengunduran dirinya.
Masa lalu tidak bisa aku ubah.
Aku harus minta maaf ke si pendek.
Eh ... Bukan si pendek lagi.
Tapi kepada pak Bos.
Keesokkan harinya Hana hendak menyerahkan surat pengunduran dirinya.
"Hana ... Kau disuruh ke ruangan Bos." Manajer itu berkata.
Ke ruangan si pendek?
Apa ia mau balas dendam?
Hana hanya bisa melangkahkan kakinya ke ruangan Jimin.
Sekretaris menghubungi Jimin melalui interkom.
"Tuan Park ... Kim Hana ada di sini."
"Persilakan ia masuk."
Hana masuk. Ia menundukkan kepalanya.
Apa Jimin bakal lakuin hal yang sama ke aku?
Tiba-tiba Jimin mendekati Hana dan langsung memeluknya erat. Hana sangat terkejut.
"Aku sudah begitu merindukanmu. Jangan pernah pergi jauh dariku lagi."