Dina mengenal Chaca saat mereka sedang melamar pekerjaan di sebuah perusahaan.
di PT XX, Dina dan Chaca di tempatkan dalam satu divisi sehingga mereka selalu bersama. mereka jadi sangat akrab satu sama lain seiring berjalannya waktu meski belum lama.
suatu hari Dina mengadakan sebuah acara syukuran di rumahnya. ia mengundang semua teman satu devisinya.
sekitar 9 orang yang menghadiri undangan Dina. chaca juga hadir dalam acara itu. karena chaca tidak membawa kendaraan sendiri. ia akan di jemput oleh seseorang. namun jemputan Chaca tiba sebelum acara selesai.
"Dina jemputanku sudah datang." ucap Chaca.
"iya suruh dulu masuk cha, kan acaranya juga belum selesai masa kamu mau pulang. suruh makan dulu, gih." ucap Dina tanpa tau siapa jemputan Chaca.
Chaca memanggil seorang yang menjemputnya untuk turut masuk ke rumah Dina.
"teman-teman kenalin ini suamiku. namanya Wahyu." terang Chaca saat Wahyu sudah berada di ruangan yang telah di siapkan oleh Dina.
Dina yang keluar dari mengambil minuman dari dapur terpaku untuk sesaat.
"Dia..." ucap Dina yang membeku.
'kenapa dia? kenapa dia ada disini?' batin Dina
"dia suamiku, Din. namanya Wahyu." ulang Chaca karena tadi tidak ada Dina.
"eh, iya suruh makan juga cha." ucap Dina canggung.
acara berjalan dengan lancar sampai pada penghujung acara. hingga semua teman Dina berpamitan kecuali Chaca dan Wahyu.
"sayang bentar ya bantu beberes Dina dulu." ucap Chaca pada Wahyu. mulai membersihkan ruangan dari melipat tikar hingga menyapu.
"iya." ucap Wahyu yang juga mulai ikut mengumpulkan piring-piring.
sedangkan Dina mengumpulkan gelas-gelas yang sudah kotor itu. kemudian membawanya ke dapur meletakkannya di atas meja dekat tempat cucian piring.
dibelakangnya ada Wahyu yang menyusul membawa tumpukan piring.
"biar aku saja, jangan buat dirimu merasa direpotkan olehku." ucap Dian hendak mengambil alih tumpukan piring yang di bawa Wahyu.
"tidak, biar aku saja. dari dulu aku tidak pernah merasa direpotkan olehmu." sahut Wahyu.
"maaf kan aku, Dina." tambah Wahyu.
"kamu meninggalkan ku begitu saja tanpa kabar setelah kita bersama selama 3 tahun. entahlah, tapi rasa sakit karena kehilangan tidak akan hilang begitu saja." ucap Dina dengan tenang meski gelora dalam hati bergejolak.
"maafkan aku Dina." ucap Wahyu lagi merasa bersalah karena meningglkan Dina begitu saja setelah memberikan sebuah janji yang tak bisa ia tepati yaitu menikah dengannya.
"sudahlah, kita tidak ada hubungan lagi hanya sebatas teman. sebatas suami yang istrinya teman baikku. meski tanpa ada kata berpisah di antara kita tapi kamu sudah meninggalkanku." sahut Dina yang enggan berdebat dengan mantan kekasih.
[Lanjutkan...]