"Kau jangan anggap aku musuhmu, meskipun kita tak selalu sepemikiran." Ben mengingatkan hal itu ke Terry dengan dingin. Matanya menjelajah ke wajah Terry seakan itu adalah alam yang terbentang dan belum terjamah.
"Apa kamu yakin kita tidak bermusuhan?." Terry berdiri hendak meninggalkan Ben, ia merasa berada di dekat Ben saat ini hanyalah membuang-buang waktu.
"Tunggu...tahan dirimu disitu!." Suara dingin Ben mencegah Terry untuk melangkah. Seperti terhipnotis saat ini Terry hanya terdiam tanpa tahu harus berbuat apa.
"Kenapa hatimu begitu keras sekali?." Ben berdiri tepat di hadapan Terry. Sikap mendominasi tampak dari setiap gestur tubuh Ben.
"Ben, sudahlah...biarlah kita bermusuhan saja!." Terry setengah putus asa melihat Ben masih berusaha menahannya.
"Aku tak tahu apa bisa seperti itu." Ben berusaha terlihat tenang, namun gagal saat binar mata Terry mampu menerobos ke relung hatinya.
"Aku pergi dulu Ben, bagiku engkau tetap musuhku...entah sampai kapan!."
Kali ini Ben membiarkan Terry melangkah gontai meninggalkan dirinya, namun dalam hati ia bersumpah suatu saat semuanya akan kembali seperti semula. Seperti saat ia belum menyadari jika ia jatuh cinta ke Terry.