Namanya Muhammad Fauzan.
orang-orang suka memanggilnya Fauzi, usianya kira-kira 14 tahun, dia adalah tetangga ku.
dia anak yg baik,
dia sangat suka bermain di rumah ku.
orang tuanya sudah bercerai,
dan ibunya sudah memiliki keluarga sendiri.
Awalnya dia tidak begitu akrab dengan ku, tapi... Setiap malam aku sering melihatnya tertidur di teras rumahnya (menunggu ayahnya pulang), aku pikir... Kasihan juga... Ampe segitunya dia nungguin ayahnya pulang.
Sudah 6 hari dia seperti itu, malam itu sangat dingin, dan aku lihat dia menggigil sambil memeluk lututnya.
"Dek... Ayo kerumah kakak... Ntar kalo ayah kamu pulang, kakak bangunin..." ucap q ramah. Awalnya dia ragu, tapi aku meyakinkannya, dia bangun lalu mengikuti ku.
Sejak hari itu setiap sore dia pasti datang, bahkan dia sering tidur di rumah, di rumah ku sering tidur ramai-ramai di ruang tengah, dan orang tua ku, kakak-kakak ku, dan beberapa anak tetangga lama ku dulu.
Fauzi sangat suka pada ku. Beberapa kali dia mengadu pada ku, bukunya habis, celananya udah cingkrang, bajunya sobek.
Dia juga pernah meminta pada ku "jadi ibu Fauzi aja... Mau ya kak?" ucapnya dengan mata yang berbinat - binar.
Jujur... Aku mengurusnya hanya karena kasihan...
Sampai akhirnya... Ayahnya menikah lg.
"andai aja kakak mau jadi ibu aku...Pasti aku nggak diomelin kayak gini..." keluhnya pada ku.
Sampai suatu hari...
"dasar anak tidak tau di untung... Udah bagus aku mau ngurusin kamu, ibu kamu sendiri aja nggak mau urusin km..." begitulah makian dr ibu tirinya.
Q sangat marah saat itu, ingin sekali rasanya aq merobek mulutnya, tapi aku di tahan oleh pertanyaan hati ku, "siapa aku..."
Beberapa bulan kemudian aku menikah. Baru seminggu pernikahanku, Fauzi datang mengadu padaku, dengan tubuh kurusnya yang dipenuhi bekas pukulan.
"kamu kenapa dek?" tanyaku memeriksa badannya. Dia hanya menangis, "bilang sama kakak... Siapa yang udah mukulin kamu kayak gini? Ayah? Atau... Ibu tiri kamu? "
"Fauzi cuma minta di beliin buku tulis kak... Tapi katanya nggak punya uang... Giliran beli mainan anaknya ada..." adu Fauzi sambil menangis sesenggukan.
Aku benar-benar terpukul mendengar pengaduan Fauzi
Aku bertanya pada Fauzi "siapa yg udah mukul kamu?" tanyaku dingin.
"Ibu" jawabnya lirih.
"Kamu nggak usah pulang, tidur disini aja..." ucapku, dia terdiam.
"sekarang... Kamu mandi, habis itu kakak obatin memar di badan kamu... Ok..." ucap q.
aku mengobati badannya yang memar.
"kak... Kalau aja kakak mau jadi ibuku dulu... Pasti aku nggak akan kayak gini..." ucapnya.
"kau tau... aku hanya bisa menjadi kakak kamu, dan bukan ibu mu... Itu tugas yg sangat berat..." ucapku.
Malamnya ayahnya datang menjemputnya.
"abang Arif... Nitha cuma mau pesan... Jangan dipukul seperti ini lagi Fauzi nya... dan ingat ya abang... Fauzi itu anak abang, apa salahnya abang sisihkan uang jajan Fauzi setiap harinya... Udah tau istrinya kayak gitu sama Fauzi, mana ada dia urus Fauzi? Dy makin kurus... Dulu waktu nitha yg urus, mana ada dia kurus dekil kayak gini... dan lagi ya... Harusnya abang yg tegas donk sama istri abang... Kok abang rela sih anaknya di gebukin kayak gini..." ucapku makin berapi2, ayahnya Fauzi hanya bisa mengangguk sambil menunduk.
"oh iya... Seragam sekolahnya robek saat istri abang gebukin dia... Beliin yang baru, awas z kalo g baru... Ntar nitha labrak itu istri abang... Ngerti?" ucapku padanya.
Fauzi pergi dengan ayahnya.
Beberapa bulan kemudian,
aku tidak mendengar kabar tentangnya lagi.
Saat usia kandunganku menginjak 4 bulan, aku dikejutkan dengan kabar yang cukup membuatku terguncang.
Fauzi bunuh diri di sekolahnya....
aku benar-benar nggak habis pikir
ada apa dengan Fauzi?
sore itu juga aku pergi ke rumah ayahnya, ayahnya hanya menangis sambil membaca beberapa lembar kertas.
"untuk mu..." ucap ayahnya memberikan kertas yang di bacanya. aku langsung pulang, aku membaca kertas tersebut dalam kamarku.
Dear
Kak Nitha...
kak... Aku mau cerita.
Hari pertama.
Ibu tiri ku sangat baik pada ku... Tapi... Tidak lebih baik dari pada kakak,
dia menyiapkan sarapan, makan siang, dan makan malam kami dengan sangat baik, aku rasa aku telah menemukan ibu yang baik. Dia sangat lembut.
Dari hari ke hari dia sangat baik pada ku... Jadi... Kakak tidak usah khawatir lagi pada ku...
Seminggu berlalu...
Dia memarahi ku, karena adik tiri ku jatuh dari ayunan, aku mengerti... aku salah... Tapi... aku benar - benar tidak sengaja...
Minggu ke tiga...
Ibu mencaci maki q karena q meminta beli tas baru, tas q sudah rusak, terakhir... Kakak yg membelikan tas sekolah ku.
Beberapa bulan ke depan.
Aku sangat sedih kakak menikah, itu artinya... Kakak akan di bawa suami kakak ke rumah, dan lingkungan yang sama sekali tidak ku ketahui.
Dari hari ke hari... aku semakin kesepian tanpa ada kakak,
tidak ada lagi yang mengurus keperluan sekolah ku, baju seragam yang kakak belikan setahun yang lalu juga sudah tidak muat di badan ku. Kalau aku minta sama ibu, ibu pasti marah dan mencaci maki aku lagi. Kak... aku rindu...
Seminggu kakak menikah.
"ibu... Beliin aku buku ya buk... Catatan ku sudah penuh..."
"ibu nggak punya uang, kamu usaha donk... Kamu kan udah besar... Cari uang sendiri donk..." ucap ibu melotot.
"ibu... Dela mau mainan baru..." rengek adik tiri ku (menyebalkan).
"ia sayang... Ayo kita beli..." ucap ibu ku.
Ibu membeli mainan adik q dgn selembar uang 100 rb.
"buk... 1 z... Fauzi mohon... Buku yg 2000 an z buk..." ucap q memohon.
"ibu bilang g ya g... Ngeyel..."
"ibu knp sich pelit bgt? Itu kan uang ayah... Knp yg ibu kasi cm Dela? Padahal Dela itu bkn anak kandung ayah..." ucap q kesal.
"APA KAMU BILANG? Dasar anak tidak tau d untung... G tw terimakasih... Ibu hajar km baru tw rasa... Dasar biadab...."
"mati saja km... Q tidak suka km masuk dlm rumah ini... Km bukan ibu q... Km n anak km cm benalu yg numpang hidup pada ayah q..." teriak q.
Tiba2 dy melempar q dgn sapu lidi, lalu dy memukul q dgn sapu lantai, dy memukul q dgn sangat brutal. Q kesakitan. Lalu dy mengunci q dlm kamar mandi, q melewatkan makan siang n makan malam, lalu pagi harinya dia memukul q lagi, saat dy lengah q mendorongnya, lalu kabur. Q kerumah kk, tp q sedih... Knp kk membiarkan ayah membawa q pulang, tadinyA q berharap pembelaan dr kk. Tp... Q ngerti kok...
Seminggu kemudian.
Ayah pergi ke sumba, n ibu tiri q makin kejam pada q, q tdk di ijinkannya makan, katanya: "ngabisin duit z ngasih km makan.
Q mulai bekerja di luar, bantu2 org kalau ada org yg lg bgn rumah, lumayan bisa makan gratis, n gajinya bs buat beli buku n lainnya.
Q sering menangis sendirian. Q sangat sedih dgn keadaan q sekarang.
Sampai hari ini... Rasa sedih, kecewa, marah, bercampur jd satu... Entah apa yg d katakan ibu tiri q pada Ayah q... Tiba2 dy bilang: "Ayah kecewa sma km... Dr pada km hidup hanya menjadi beban ibu km... Lebih baik km mati saja..."
K'... Q butuh kk... Tp... Q sadar... Kk sudah berkeluarga... Kk tdk punya waktu mengurus masalah q... K'... Q akan sll merindukan kk...
Pesan aq... Kalau nanti kk punya anak, Bagaimanapun suami kk, jgn pernah bercerai n memiliki keluarga baru lg... Karena... Pasti anak yg akan jd korban...
K Nitha... Mungkin saja d kehidupan ini q tdk beruntung, krn tdk menjadi anak mu, tp... Mungkin sj d kehidupan mendatang q bs menjadi anak mu.
K' Nitha... I Love You.
Cerita ini... Q persembahkan untuk:
Muhammad Fauzan. Adik kesayangan q... Semoga km tenang di sisi-Nya Amiinn ya robbh