Namaku Nanda.. Aku adalah salah satu gadis remaja yang terbelenggu dalam angan semu perihal asmara.
Harusnya kau tau. Bahwa aku mencintaimu. Namun kau tak pernah melihatku. Tak pernah mengerti akan diriku. Dan harusnya aku pun menyadari bahwa aku.. Tak akan pernah bisa bersamamu.
"Hay Nan! Sedang apa kamu di sini?" sapanya.
Ya.. Dia adalah Veno. Teman semasa kecil hingga kini. Dengan segala sifatnya yang unik dan lucu. Aku pun mulai menaruh hati padanya semenjak kelas 2 SMP. Dan sekarang aku sudah menginjak Masa SMK bersamanya.
Aku tak tau mengapa perasaan ini tiba tiba saja muncul dalam hatiku. Padahal aku dan dia tak jarang juga mengalami sebuah pertengkaran..
"Pikirmu aku sedang beli bakso ditoko buku seperti ini??" sahutku membuatnya terkekeh.
Hari ini aku bahagia sekali bisa berjumpa dengannya. Senang rasanya jika melihat tawanya.
Namun tawa itu seolah olah menjadi luka untukku ketika..
"Gimana bee? Jadi kan beliin novel buat aku?" ujar Syila dengan manjanya bergelayut di lengan Veno.
Sesak.. Itulah yang ku rasa. Tapi apalah daya, jika aku hanya bisa mendambamu (Veno) tanpa bisa menyandingmu.
"Jadi donk.. Yaudah kita pilih novel mana yang ingin kamu beli" ucap Veno.
"Eh Nanda. Kamu juga mau beli novel?" tanya Syila kujawab dengan senyum getir dan gelengan kepala.
"Kalau gitu kalian lanjut aja.. Aku mau pulang duluan ya." pamitku dijawab anggukan dari mereka.
Hikss.. Hiks...
Tes.. Tes.. Tes..
Air mataku membasahi jalanan yang lengang. Sepi.. Sunyi bak hatiku. Aku terduduk lemas.
Bodohnya aku membiarkan orang yang aku cintai tak pernah bisa menyadari akan rasaku. Kenapa aku harus mengalah.
Tap.. Tap.. Tap.. Langkah kaki mendekat kearahku.
"Aku tau kok kamu menyukainya. Tapii jangan paksakan perasaanmu bila memang dia tak ditakdirkan untukmu"
"Aku.. Hiks.. Aku mendamba nya tapi tak bisa bersamanya. Apa aku salah jika memiliki rasa padanya? Apa aku salah- Hiks.." ujarku sesenggukan dalam pelukan Yuda sebagai kakak tiriku.
"Tenanglah masih ada aku yang mencintaimu" ucapnya membuatku sedikit tenang.
Skip..
Beberapa bulan telah berlalu
Aku selalu merasakan pahit dari yang namanya memendam rindu.
Drrrt.. Drrrt..
Telfon masuk dari Veno. Tumben sekali..
"Halo.." ucapku
[Ha-halo Nanda!! Hikss... Veno Nan! Veno!! Dia.. Hiks.. Dia kecelakaan, sebenarnya sudah dari beberapa hari lalu dan sekarang dia butuh donor mata karena dia menjadi buta sekarang... Hiks.. ]
HP ku terjatuh. Suara Syila yang menggema dalam telfon menggunakan nomer Veno sukses membuat tubuhku bergemetar hebat. Tak kusangka akan begini jadinya..😣
Aku pun menghubungi Syila lagi melalui SMS. Menanyakan dimana letak RS tempat Veno dirawat.
Sesampainya di RS...
Aku mulai sadar.. Bahwa yang namanya cinta butuh pengorbanan.. Meski aku hanya bisa mendambamu. Aku berikan mataku untukmu. Agar kau bisa melihat ku. Agar kau bisa dekat denganku🙂.. Aku mencintaimu...