Tepat tiga ratus tahun lalu dimana seluruh semesta tengah berbahagia dengan lahirnya seorang pangeran yang nantinya digadang-gadang akan menjadi raja tangguh. Semua, kecuali seseorang yang tengah menatap murka pada sebuah festival di tengah alun-alun. Maka dari itu, ketika kemarahannya tak mampu terbendung ia lantas menancapkan tongkat dengan bentuk ular itu ke tanah. Seketika festival yang mewah penuh sukacita berubah menjadi malapetaka saat badai tiba-tiba menerpa. Memporak-porandakan seisi festival.
Wanita dengan balutan gaun hitam itu tersenyum puas. "KALIAN TERLALU BAHAGIA SAMPAI MELUPAKAN KU, UNTUK ITU ANAK KALIAN YANG AKAN MENANGGUNG SEMUANYA." Ucapnya menggema hingga dapat di dengar semua orang. Tepat setelah hari itu, badai tak kunjung berhenti selama hampir seratus hari. Membuat resah. Hingga banyak korban jiwa karena kelaparan. Pada akhirnya dengan berat hati raja dan ratu memutuskan untuk menghanyutkan putra mereka di sungai suci tak bertepi. Mulai saat itulah badai berangsur-angsur mereda. Semua berbahagia walaupun terkadang sedih mengingat pewaris satu-satunya harus pergi meninggalkan kerajaan.
Taehyung menatap ponsel pintarnya, sudah tiga ratus tahun berlalu. Ia sudah mengalami banyak masa, mengumpulkan banyak harta, melakukan banyak pekerjaan, dan mengencani banyak wanita. Tapi tetap saja hidup Taehyung benar-benar hampa. Seperti ingin mati tapi tidak tahu caranya, setiap Taehyung mencoba bunuh diri, ia selalu dapat terselamatkan entah bagaimana caranya. Pun akhir-akhir ini ia tahu jika ini adalah kutukan yang diberikan kepadanya sewaktu kecil, dimana ia akan hidup panjang walaupun wajahnya terlihat seperti umur dua puluh lima tahunan tetapi faktanya Taehyung sudah hidup tiga ratus tahun lamanya. Mungkin ini maksud si penyihir mengutuk Taehyung, agar ia tahu rasanya hampa tanpa teman.Sejauh ini pun Taehyung tak pernah mau jatuh cinta atau memiliki seorang sahabat. Ia hanya berkencan untuk kesenangan semata, tak melibatkan hati. Karena percuma saja melabuhkan perasaan jika akhirnya harus melihat mereka pergi satu-persatu seiring dengan bertambahnya tahun.
Taehyung mengamati keluar jendela, dimana mobil-mobil melewati jalanan padat. Waktu berlalu begitu cepat. Seingatnya baru kemarin ia menaiki kuda kemana-mana, sekarang sudah ada teknologi berupa mobil yang lebih cepat dari kuda. Banyak orang berfikir jika hidup lama itu enak, terlebih Taehyung kaya, memiliki paras yang tampan, juga bisa melihat banyak masa. Tapi tidak ada yang tahu jika sejauh ini Taehyung benar-benar kesepian.
Ketika sibuk melamun ketukan pintu membuyarkannya. Terlihat sekretarisnya memasuki ruangan dengan membawa sebuah berkas. "Permisi pak Taehyung, ini adalah data pengganti saya. Semua calonnya sudah berada di luar, jika ada yang sesuai dengan kriteria, bapak bisa memanggil mereka untuk interview lebih lanjut." Ucapnya dengan tersenyum. Taehyung menatap malas ke arah berkas itu. "Kau serius ingin mengundurkan diri?" Tanya Taehyung. Wanita itu mengangguk. "Saya akan menikah sebentar lagi pak, saya ingin fokus mengurus keluarga saya." Taehyung tertohok, dalam hati pun sebenarnya Taehyung ingin seperti itu. Bagaimana ya rasanya menikah lalu mempunyai anak? Berkeluarga lalu menua bersama? Taehyung iri sekali dengan manusia yang bisa melakukan semuanya dengan normal.
"Baik akan saya lihat." Sekretaris Taehyung mengundurkan diri untuk pamit keluar. Menyisakan Taehyung yang hanya membalik sepintas kertas-kertas berisi foto dan data diri serta kalimat-kalimat janji yang sudah sering Taehyung baca.
Tapi sebuah kalimat tak sengaja terbaca oleh Taehyung, ia kemudian mengamati foto gadis itu seksama. Hingga akhirnya ia menekan sesuatu yang langsung terhubung dengan sekretarisnya.
"Tolong panggilkan pelamar nomor tiga." Ucapnya.
Tak berselang lama yang dimaksud Taehyung datang di depannya. Memperkenalkan diri setelah duduk tepat di depan Taehyung.
Rain, gadis itu bermata teduh seteduh hujan. Membawa sejuk bagi yang menikmati. Taehyung sempat terpaku dengannya sesaat. "Apa alasan kamu melamar disini?" Tanya nya.
"Saya butuh uang, Pak." Ujarnya. Taehyung mengangguk.
"Baik, kau bisa mulai trainee dari hari ini. Pelajari semua termasuk apa-apa saja yang saya sukai dan tidak saya sukai. Kau bisa bertanya dengan Sekretaris lama ku." Ujar Taehyung. Dilihatnya Rain yang mematung. "Saya diterima pak?" Tanya Rain memastikan.
"Menurut kamu?"
Rain tersenyum menatap Taehyung, binar nya benar-benar menyiratkan bahwa Rain sungguh sesuatu yang Taehyung tak tahu apa.
Dan saat itu pula Taehyung yang sudah berkelana tiga ratus tahun lamanya tak sadar jika ternyata Rain adalah labuhan terakhir sebagai hadiah atas kutukan yang ia jalani selama ini. Bersama Rain, Taehyung berkeluarga, memiliki anak, dan menua bersama.