hello semua, aku zahra. aku ingin menceritakan sedikit tentang pengalaman hidup ku.
Cerita ini berawal saat aku duduk di bangku kelas 3 SD. Pada awalnya semua berjalan dengan sangat baik. Hanya saja sejak orang tua ku bertengkar aku sering menjadi tempat pelampiasan oleh ibu ku.
"seandainya aku tidak melahirkan kalian, seandainya aku tidak bertemu dengan si bang**t itu" kata-kata itu yang terngiang di otakku dan membuat ku berpikir apakah jika aku tidak ada, apakah ayah dan ibu akan tetap bersama.
rasa ingin menangis terus ke bendung, jika aku meluapkan nya maka ayah ibu akan tetap bertengkar. aku tidak ingin adikku juga menjadi bahan pelampiasan. sejak ayah mengetahui apa yang dilakukan ibu terhadap ku. ayah segera menceraikan ibu dan membawa aku beserta adikku pergi.
sejak saat itu aku tinggal bersama kakek, nenek, dan bibi. ingin sekali aku bercerita soal sekolah, soal cinta tetapi tidak ada satu pun yang ingin mendengarkan ku. aku seperti sebuah batu yang tidak ada satu pun melihat ku. rasa gembira waktu aku duduk di kelas 2 SD kini menghilang.
*aku ingin mempunyai keluarga yang harmonis, apakah itu salah.* ingin sekali aku menangis tapi jika aku menangis ayah akan mengajak ku ketempat ibu lagi. aku sangat tidak menginginkan itu, aku tidak ingin melihat ibu marah dan aku tidak ingin juga melihat ayah menangis.
sudah hampir 2 tahun sejak ayah dan ibu bercerai. ayah kembali menikah dengan seorang bunga desa dari suatu tempat entah dimana itu. aku cukup senang mendapat ibu baru. hari demi hari ku lewati dengan sangat bahagia tetapi kebahagiaan itu singkat. ayah meninggal dunia dan aku ditinggal sendirian oleh ibu baru itu. sungguh ironis orang yang aku kira sangat baik rupanya lebih jahat dari ibu kandung ku sendiri.
hari demi hari sangat membosankan, canda dari ayah kini menghilang. aku hanya bisa tersenyum agar paman bibiku tidak mencurigai ku. waktu bagiku berjalan sangat cepat aku sama sekali tidak bisa menghentikan waktu. hingga aku bertemu dia, meski tidak sepandai Albert Einstein, meski tidak jago basket, dan meski tidak ganteng. tapi ia mengetahui apa yang aku rasa kan meski aku tidak pernah membicarakan nya. dia bahkan membelikan ku sebuah boneka meski aku tidak meminta nya.
"boneka?kenapa harus boneka? bukannya coklat bisa bikin orang bahagia." tanya ku
"coklat emang benar bikin orang bahagia tetapi itu sementara. tetapi jika orang tersebut menangis sekuatnya dan meluapkan semua emosi itu, kamu bakal lebih baik. jadi peluk boneka itu dan menangis lah sekuatnya." jawabnya sambil tersenyum.
kami memutuskan pacaran saat tamat SMA dan memutuskan untuk LDR-AN karena kampus kami berbeda.
~~~~~~~~
amanat
kalian boleh memendam nya tetapi jangan terlalu di paksakan, jika kali tidak kuat kalian boleh meluapkan nya. kita semua makhluk hidup yang membutuhkan perhatian, bukan boneka yang bisa dibuang seenaknya. jika kalian tidak meluapkan nya kalian sendiri yang akan menyakiti diri kalian.