Undangan yang sangat mendadak. Namun, tidak bisa ditolak juga. Dua kerajaan ingin mengundang raja dan ratu dari kerajaan Neltion yang dikatakan pasangan serasi.
Karena keromantisan merekalah yang membuat mereka selalu terhindar dari peperangan untuk perebutan kekuasaan wilayah. Lebih tepatnya, negosiasi dan menjalin hubungan dengan baik dari berbagai kerajaan hingga benua.
Undangan tersebut datang dari negara tetangga. Disana juga menjadi peluang yang bagus untuk mempererat hubungan.
Itulah yang dipikirkan raja dan ratu dari Neltion.
Sang raja yang di sayangi oleh ratu Diana Neltiones keracunan akibat teh yang diberikan. Raja memang polos, tapi itu hanya di hadapan istrinya. Tapi tetap saja, sang ratu tak menyangka akan mengalami hal ini.
Nahasnya kedua kerajaan itu beranggapan rajanyalah yang tangguh, sementara istrinya hanya perlu di singkirkan dengan mudah. Dan pikiran kotor yang selalu tertuju pada sang ratu.
Ratu menahan amarahnya dan bersikap tenang di meja perjamuan itu. Kedua raja itu tertawa dan bersulang kemenangan.
"Aku tidak tahu dia bisa sepolos ini." Kata raja bagian barat daya. Namanya Britsatin.
"Sekarang, apa yang akan kita lakukan pada wanita itu?" Tanya raja Reslat. Keduanya langsung menatap penuh nafsu pada ratu Diana.
"Bawa saja dia ke manapun yang kau inginkan~ hahaha..." kata raja Britsatin yang gemuk itu.
"Tentu saja, penjaga!" Lalu seorang penjaga datang dengan pedang yang berada di sisi kirinya. "Masukkan dia ke dalam penjara!" Kata raja Reslat.
Tanpa basa-basi lagi, sang ratu dengan cepat mencabut pedangnya yang posisinya sangat dekat dan langsung memenggal kepala penjaga tersebut. Darah segar terciprat pada gaun pemberian sang raja untuk ratu Diana. Mungkin itu akan jadi hadiah terakhirnya.
"Hei! Wanita ja****! Awas kau! Semua penjaga, tangkap wanita it--" dengan cepat ratu Diana sudah memenggal kepala raja Reslat. Kini raja Britsatin yang gemetar.
"T-tunggu, kita bisa bicarakan ini." Katanya sambil bergetar hebat.
"Bicara lebih banyak pun kau tak bisa mengembalikan nyawanya!" Kata sang ratu sambil menahan tangis.
Lalu pedang yang telah ia rebut, di layangkan dan dengan mudah memenggal kepala raja Britsatin. Para penjaga yang berada disana sudah siap menyerang walau dengan ketakutan dan tekanan yang diberikan sang ratu cukup tajam.
Para penjaga lainnya menyusul. Namun, mereka sangat terlambat. Para penjaga yang berada disini sudah terbunuh. Mereka melihat sang ratu yang memecahkan kaca dan memakai mantel suaminya, terjun ke bawah.
Dengan sigap untuk mendarat dari patung ke patung dan melompati balkon yang mudah di jangkau. Dia turun dengan isak tangis yang menyertainya.
Sesampainya ia di pintu rahasia dibalik batu dekat istana, dia menelusuri gulungan kertas dan mengambil salah satunya. Ada satu pintu yang dirancang untuk langsung terhubung ke dalam dapur istana.
"Yang mulia!" Salah seorang pelayan kaget dengan kedatangannya yang entah darimana muncul begitu saja. Dia menghiraukannya.
Wajar hanya dia seorang yang bertugas. Ini sudah tengah malam.
"Astaga! Yang mulia! Apa yang terjadi pada anda?!" Tanya salah seorang kepercayaannya melihat sudut matanya yang kini memperlihatkan bekas air mata yang berjatuhan.
Dia berjalan dengan amarah yang meluap. Kesedihan yang sulit diungkap. Serta tekanan yang begitu saja menimpanya. Dia mendobrak ruang kerja sang raja yang kini tertinggal di kediaman raja br*ngs*k.
Dengan keadaanku sekarang, tidak ada yang bisa aku lakukan selain bersikap tenang. Tapi, kali ini tunda saja dulu. Pikirnya.
"Kita mulai nyatakan perang pada kerajaan yang telah bekerja sama dengan negara tetangga!" Ucapnya penuh amarah.
"Tunggu! Sebenarnya apa yang terjadi ratu?" Tanya Dierty. Perempuan yang paling di percayai olehnya.
Sang ratu yang kini tangisnya bertambah banyak menceritakan yang sebenarnya.
"Aku yakin, tak hanya dua kerajaan itu yang melakukan semua ini. Semua kejadian ini terlihat sangat jelas sudah direncanakan." Katanya sambil menghela nafas menenangkan diri.
Dierty setuju dan mulai bertanya target mana saja yang perlu di dahulukan. Ratu Diana menjawab kerajaan barat daya. Setelah itu kerajaan bagian timur.
"Tak lama lagi akan ada kabar bahwa aku menggila tanpa sebab dan menuduhku. Perketat penjagaan malam ini." Katanya. Diana kini melihat pemandangan ke luar jendela yang tepat berada di belakangnya.
"Kita tidak akan tahu seberapa cepat mereka akan menyerang." Lalu Dierty pergi setelah menerima perintah tersebut.
Sudah lama mereka, para raja dan ratu di benua lain, mempertanyakan identitas asli sari sang ratu. Tidak ada yang tahu bahwa dia adalah anak dari pembunuh bayaran kerajaan yang kini dikabarkan menghilang tanpa jejak.
Mewarisi kepintaran dari ibunya dan kekejaman dari ayahnya, dia telah memusnahkan para raja yang menyetujui menghilangkan kerajaan Neltion.
Tapi, apakah harus seperti ini? Tanya ratu Diana pada malam hari. Tak akan ada yang menjawab pertanyaan yang sulit untuk memenuhi ketidaktahuannya itu.
Satu tetes. Atau bahkan ribuan tetesan air mata yang kini selalu menemani malamnya ratu Diana.
Satu hari, satu minggu, satu bulan bahkan sudah satu tahun dia membantai targetnya. Balas dendamlah yang menjadikannya tanpa belas kasih.
Tak peduli rakyatnya akan berkata seperti apa. Baik ratu yang membebaskan mereka dari penderitaan atau ratu yang memiliki kekejaman dengan senyum yang manis selalu terukir ketika melihat rakyatnya. Atau mungkin tirani bagi suaminya terdahulu.
Diana, ratu yang telah melakukan pembantaian dan balas dendam itu di tanyai Dierty tentang bagaimana perasaannya.
"Perasaanku? Aku memiliki beberapa topeng disini. Kalau kau ingin tahu," katanya lalu dia meletakkan pena yang sudah memberi tanda pada selembar kertas. Helaan nafasnya kini terdengar cukup panjang dan pelan.
"Didepan rakyat, aku mencoba untuk tegar dan mencoba mengembangkan ketulusanku walau hanya dari senyuman." Dia berdiri dan membelakangi Dierty.
"Didepan musuhku, aku mencoba menunjukkan betapa menderitanya walau hanya dari wajah yang kejam dan tajam." Lalu dia melirik Dierty.
"Disini mungkin aku memasang topeng ketidakpedulianku tentang dunia dan apa yang akan terjadi nantinya." Ratu Diana sudah tahu apa yang akan terjadi padanya.
"Tapi, tak ada satupun yang tahu. Tak ada. Mungkin kau sudah tahu, bahwa aku menangisi kepergian suamiku, raja kita setiap malam." Lalu senyuman kesedihan muncul di wajah ratu Diana.
Satu tusukan di jantungnya ditekan agar langsung menembus jantung Diana. Sang ratu bukannya menurunkan kewaspadaannya, melainkan menerima apa yang akan terjadi.
Dia tahu bahwa Dierty memegang belati tersembunyi dibalik punggungnya.
"Tapi, aku tidak percaya dengan perkataanmu." Ucap Dierty tanpa melepas belatinya itu. Malah terus ditekan.
"Kau tidak perlu s-seperti itu. Uhuk." Katanya. Kini darah memenuhi mulutnya.
"Karenamu semua rencanaku berantakan. Tapi, baguslah raja sudah tiada." Ucap Dierty penuh kesombongan.
"Kuserahkan... semuanya... padamu... uhuk! Katakan pada mereka..., seluruh dunia... bahwa a-aku telah melakukan bunuh diri..." ucap Diana yang mulai sedikit demi sedikit kekurangan tenaga.
"Terimakasih..." nafas terkhir di hembuskan begitu saja.
Jujur, Dierty melakukan ini bukan karena kehendaknya. Tapi, karena misi yang selama bertahun-tahun tertunda. Dia membaca surat terakhir yang di tanda tangani Diana untuk terakhir kalinya.
Dia menutup mulutnya supaya tidak berteriak.
Kini seluruh kerajaan dan benua miliknya seutuhnya.
Secara resmi. Sementara dia melihat darah ditangan kanannya.