"Cukup! Aku tidak butuh!"
Ribuan pisau yang menyayat hati, tubuh Adinda ambruk di lantai. Air matanya sudah mengucur deras, sakit, hatinya sakit. Putri yang sudah dia besarkan selama delapan belas tahun, dengan beraninya membentak dirinya seperti ini.
Adinda berjalan lunglai ke dapur. Menuang sedikit air di gelas. Dari sekian banyak hal yang membuatnya menangis, inilah yang paling menyakitkan.
Ya Allah.
Menatap luar, Adinda kembali menangis. Bagaimana kabar anaknya di luar sana? Sedangkan hujan tengah turun deras membasahi bumi.
"Nadia, kamu di mana Nak?"
Ibu mana yang tak cemas bila sudah begini, bahkan untuk sekedar menghirup napas saja rasanya berat. Begitu pun Adinda, tak henti-hentinya ia berjalan ke sana kemari, menunggu kepulangan anaknya.
Ckleek
"Nadia, kamu dari mana saja? Ibu khawatir,"
"Gak usah sok peduli deh! Lebay tau gak!"
"Nadia! Kamu kenapa begitu. Ini Ibu Nak, yang melahirkan kamu." Air mata yang sempat tersimpan kembali luruh, seiring tubuh melemah.
"Makanya Ibu diam! Jangan campuri urusanku!" Nadia membanting pintu kamarnya.
Adinda hanya bisa beristigfar dalam hati, seraya berdoa atas kebaikan untuk Nadia. Walaupun melukai, Nadia tetap anaknya, lahir dari rahimnya. Dan yang sudah dia dan almarhum suaminya nanti-nantikan sejak lima tahun lamanya.
**
"Nadia, kamu enggak makan Nak?" ucap Adinda di depan pintu kamar anaknya. Sejak kemarin gadis delapan belas tahun itu belum juga keluar dari kamar, membuat Adinda semakin khawatir.
"Sudah aku bilang, gak usah peduli!" teriak Nadia, kembali membuat luka yang tergores dihati Adinda semakin lebar dan menyakitkan.
"Tapi kamu belum makan dari kemarin Nak. Ayo keluar, kita makan bareng-bareng," bujuk Adinda kembali. Ia belum mau menyerah. Dia tak mau anak satu-satunya sakit.
Tak ada jawaban dari dalam. Adinda menghela napas, dengan pelan dia melangkah menuju kamarnya yang berada di belakang. Di raih foto sang suami. Rindu. Satu kata yang hanya bisa ia ucapkan dalam hati, untuk merengkuh, itu hanya sebuah mimpi yang kerap menghampiri.
Mas. Aku rindu, rindu sekali.
**
Beberapa bulan kemudian.
Hujan tak lagi dapat menghentikan langkah kaki yang semakin lebar dan cepat. Tak peduli, bagaimana angin menerjangnya, menghantam tubuhnya yang hanya terbalut kaus saja. Menyisahkan kedinginan yang begitu menusuk. Tak menjadi alasan untuknya berhenti.
Air mata yang tak pernah jatuh, kini deras membasahi pipi seiring air dari langit pun turun. Sesenggukan yang sempat terpendam kini menguar dengan kencangnya. Nadia terus berlari, melewati lobi rumah sakit dengan air mata yang sudah mengalir deras.
"Ibu!"
Pintu yang semula tertutup, kini terbuka lebar, memperlihatkan seseorang yang sudah terbujur kaku di atas brankar. Tak ada senyuman di sana, hanya ada wajah pucat pasi tak bernyawa lagi.
Memeluk, mencium, semua yang Nadia lakukan sia-sia. Selama ini dia tak pernah melakukan itu, yang ia lakukan hanya membentak dan membentak saja. Kini, dia menyesal, ibunya, surganya telah pergi. Jauh, bahkan dia tak bisa menjangkau.
"Ibu, maaf. Maaf."
The End
Peluklah ibumu, rengku tubuhnya dengan erat. Jangan biarkan ego mengusai dirimu hingga membuatnya merasa sangat sakit.
Dari kisah ini, kita bisa mengambil pelajaran. Hargai dia, sayangi dia, sebelum Tuhan mengambilnya, dan kita tak bisa lagi memeluknya, meminta maaf untuk yang kesekian kalinya.
Ibu, ibu. Kaulah surgaku. Tempatku pergi dan pulang. Hanya kau yang mengerti dengan perasaanku. Peluk aku, peluk.
Ini hanya kisah fiktif yang mengalir indah di otak Author saat masih bersemayam di atas sajadah. Author sadar, diri ini juga belum baik menjadi seorang anak.
Saran. Bacanya sambil dengerin lagu Bila Tiba cipt Ungu.