Jam dinding sudah menunjukkan pukul 07.15 WIB. Zul dan Karina tengah bersiap-siap pergi ke kampus.
“Zul ayo buruan, entar kita telat lagi,”
“Iya, iya ini juga udah mau selesai,”
Pria itu tengah menyisir rambutnya didepan cermin. Merapikan baju dan menyemprot parfum ke pakaiannya.
“Bentar, ini pake parfum apa kamu?,” Karina mengendus-endus kemeja Zul.
“Parfum yang biasa aku pakai, emang kenapa?,”
“Hhmm!! Bau!. Ganti sana bajunya jangan pake parfum ini!,”
“Lah, biasanya juga kan aku sering pake yang ini?,”
“Enggak, enggak, aku gak suka. Baunya bikin enek, sana ganti lagi. Gak usah pake parfum-parfum segala,”
“Ya elah, ini bentar lagi masuk lho udah siang,”
“Cuma ganti baju doang Zul, gak akan lama. Aku nunggu kamu di mobil ya, buruan,”
Karina berjalan keluar dari kamarnya. Zul menghela nafas.
“Itu mah bukan salah parfum, hidungmu aja yang bermasalah,” lirihnya pelan.
*****
Saat dalam perjalanan..
“Zul, nanti tolong beliin rujak yang di depan alfa ya,” pinta Karina.
“Bukannya di depan kampus juga ada yang jualan?,”
“Enggak, disitu gak enak bumbunya. Kurang ngena aja dilidah aku,”
Ya sudahlah jangan dibantah. Ucapnya dalam hati.
Maklum, istrinya ini sedang masa-masanya hamil muda, jadi tak ayal jika sikapnya banyak yang berubah. Ia pun memakluminya, hanya saja kadang terasa menyebalkan.
“Kamu turunnya disini aja ya, aku kesana dulu,”
“Iya, aku tunggu di kantor,”
Karina turun di depan gerbang Kampus, kemudian Zul melanjutkan menyetir untuk membeli rujak ke depan minimarket yang jaraknya agak jauh dari kampusnya itu.
Setelah berhasil mendapatkan makanan yang dicari, segera ia mendatangi kantor Karina. Namun, belum saja sampai, ia malah berpapasan dengan Pak Surya yang juga akan mengajar dikelasnya. Langkahnya kini terhenti, bingung. Akhirnya ia putuskan untuk masuk saja dulu ke kelas. Ya, ia tak mau nama baiknya sebagai kosma terlihat jelek dimata sang dosen yang terkenal dengan kedisiplinannya itu.
Dua jam berlalu, pelajaran Pak Surya sudah selesai, Zul mengambil rujak yang terbungkus di keresek putih yang ia simpan dalam tasnya, lalu berniat untuk mengantarkannya ke ruangan Karina.
“Woy! Apaan tuh? Waahh seger nih kayaknya,” tiba-tiba si Kribo muncul didepannya, hingga Zul tersentak kaget.
Terlihat ia mengusap-usap telapak tangan, sesekali lidahnya melet-melet melihat kearah rujak yang tengah dipegang Zul.
“Minta dikit dong, gue ngeliatnya udah kesemsem duluan nih,” ia merebut bungkusan itu dari tangan Zul.
“Hey, siniin, itu pesenan orang,” Zul berusaha merebutnya kembali.
“Pesenan siapa?,”
“Eeuu...itu...pesenaaan...,” Zul bingung untuk mengatakannya.
“Alah,, bilang aja kagak boleh diminta sama kita-kita. Woy, sini kita makan bareng-bareng,” Egi mengajak teman-temannya yang lain untuk berkumpul menikmati aneka buah segar dan pedas itu.
Zul berdecak kesal. Kemudian melangkah pergi keluar kelas.
“Sini Zul, kita makan bareng,” Seru Aldo.
Namun Ia tak mengindahkan ajakan teman-temannya. Langsung saja ia pergi ke depan minimarket untuk membeli lagi rujak pesanan Karina. Ia berharap, semoga penjualnya belum pergi. Namun sayang, setelah sampai disana penjual yang tadi mangkal digerobak itu sudah tak ada.
Zul kebingungan, harus mencari kemana lagi sekarang? Daripada tak membawa hasil sama sekali, akhirnya ia beli saja ke tempat lain. Yang penting bukan yang didepan kampus saja, fikirnya.
Setelah dapat, segera ia kembali ke kampus dan cepat-cepat mengantarkannya ke kantor Karina.
“Maaf ya, tadi pagi keburu datang Pak Surya soalnya, jadi gak sempet nganterin kesini,” ucap Zul dengan nafas yang sedikit tersengal-sengal.
“Apa susahnya anterin dulu kesini sebentar,” Karina cemberut.
“Iya maaf, nih sekarang kamu makan ya,”
Zul membukakan plastik mika, lalu menyuapinya.
“Enak gak?,”
Karina mengunyah perlahan sambil sesekali merasakan bagaimana rasanya. Tak lama ia memuntahkannya.
“Ih, ini bukan yang di depan alfa itu ya?”
Zul tercengang ‘kok dia bisa tau?’
“hmm...soalnya, yang didepan sana si emangnya udah pergi,” jujur Zul.
“Masa sih? Bukannya biasanya pagi-pagi suka nongkrong disana penjualnya,”
Pria itu kebingungan ia menggaruk-garuk belakang kepalanya.
“Hmm...yang tadi pagi ituu.. Udah....disabet duluan ama anak-anak,” jawab Zul hati-hati.
Karina melongo. Entah kenapa ia begitu marah mendengarnya. Ya, padahal hanya soal rujak saja.
“Gak tau ah, pokoknya aku pengen yang di depan alfa itu. TITIK!!,”
Kemudian ia keluar dengan langkah yang dihentakan. Zul menggeleng kepala melihatnya.
“Hadeeuuuh... Salah lagi,”
*****
Ia kembali ke kelas lalu duduk di kursinya dengan lesu. Ada perasaan lelah juga sudah muter-muter nyari tukang rujak. Tapi hasilnya, tak dimakan sama sekali. Perlahan Ia senderkan kepalanya ke tembok disamping.
“Bro... Hari ini Bu Karina masuk gak?,” tanya Egi.
“iya,” jawab Zul malas.
“Lu habis dari mana? Kayak yang capek gitu?,”
“Habis olahraga,” Jawabnya asal.
“Hebat, gak dirumah gak dikampus olahraga mulu,” tukas Egi seraya cengengesan.
“Berisik lu ah!,”
Ya, gara-gara si kribo itu dia jadi kena marah sang istri. Tak lama Karina masuk kelas. Saat berjalan ke kursinya, terlihat ia mendelik kesal ke arah Zul. Zul mengernyitkan alis melihat sikapnya.
‘kenapa dia? Apa masih marah karena masalah rujak tadi?’ Batinnya bertanya-tanya.
“Bu Karina, apa kabar hari ini?,” si Kribo mulai caper.
“baik,” jawab Karina datar. Tanpa senyum sedikitpun.
“Untuk tugas hari ini, masing-masing harus memaparkan materi tentang salah satu dari ke-enam BAB yang beberapa waktu lalu telah kita pelajari. Bebas, pilih salah satunya saja mau yang mana. Sebelumnya kalian rangkum dulu dalam kertas Polio lalu beri nama dan BAB apa yang kalian ambil. Ya? hasilnya dikumpulkan dimeja saya, sekarang!”
“Bu, kelompok aja lah bu,” pinta Egi.
“Masing-masing woy!,” sahut Fian dibangku belakang.
“Cuma satu BAB doang lu mah, pengen kelompok. Wakakakak,” ejek Aldo.
“Lagi males mikir gue,” celetuk Egi pelan, namun masih terdengar oleh Karina.
Karina mengusap-usap perutnya seraya melirih pelan ‘amit-amit, amit-amit’
*****
Malamnya. Zul tengah berbaring di tempat tidur. Sementara Karina berselonjor kaki disampingnya, punggungnya menyanda pada bantal. Ia tengah menikmati buah mangga muda utuh yang ia gigit dengan santainya. Tanpa terlihat ekspresi keasaman sama sekali. Tangan kirinya sesekali membuka-buka lembaran majalah yang tengah ia baca.
“Yang, ini nanti lama-lama pasti makin membesar dan akan terlihat. Kalau suatu saat ada yang tau, gimana reaksi kamu?,” tanya Zul seraya mengelus-elus perut Karina yang sedikit membukit.
Ya, kini usia kehamilannya sudah masuk tiga bulan. Namun belum terlihat jika ia sedang berjalan.
“Ya gak apa-apa, anggap aja ini kejutan buat mereka,” tukas Karina santai.
Suara gigitan mangga muda itu terasa asam dilidah Zul. Membuatnya sedikit berdecak. Hih, uyuhan. Batinnya.
“Tapi aku kok khawatir ya, terutama sama Egi. Kayaknya aku belum siap kalau dia tahu,” Ucap Zul bimbang.
“Ya pasti dia juga bakalan tau lah, secara, itu orang demen banget kalau ngepoin aku. Udah ah gak usah difikirin, siapa dia. Ya kan?,”
Karina beranjak turun dari kasur, lalu melenggang pergi ke kamar mandi untuk membersihkan mulutnya sebelum tidur.
*****
Sebelum pergi ke kampus, Karina meminta Zul untuk mengantarnya dulu ke Bidan, kebetulan hari ini jadwalnya kontrol kandungan. Akhirnya mereka pergi.
Tak menunggu waktu lama, pemeriksaan telah selesai. Alhamdulillah kondisi bayinya dalam keadaan sehat. Keduanya bersyukur mendengar kabar baik itu. Lalu mereka beranjak untuk kembali ke mobil. Namun tak disangka, keduanya dibuat kaget begitu melihat didepannya ada Egi yang tengah turun dari motor lalu berjalan menghampiri.
“Oh gitu... Selamat ya atas kehamilan anak pertamanya,” ucapnya seraya meraih tangan Zul untuk bersalaman.
Netra nya melirik ke arah buku KIA yang Karina pegang .
Zul tampak gugup mendengarnya.
“Euu...bro, lu kok ada disini?,”
“Ya, kebetulan aja lewat sini dan ketemu kalian juga disini,” Jawab Egi sembari tersenyum yang dipaksakan.
Sebenarnya Egi tengah berbohong, padahal sebelumnya ia membuntutinya dibelakang mobil Karina saat bertemu diperjalanan menuju kampus.
Zul dan Karina merasa tak nyaman saat mendengar pengakuan Egi barusan, seperti ucapan satire.
“Kalau gitu saya berangkat duluan ya,” Ucap Egi seraya berbalik badan dan berjalan ke arah motornya.
“Gi, tunggu!,”
Zul berniat menyusul, namun Karina segera menahan tangan suaminya itu.
“Udah biarin aja,”
“Ta-tapi dia...,”
Keduanya melihat Egi melaju pergi. Zul merasa yakin, setelah ini akan ada masalah besar menimpanya. Apalagi ia belum sempat menjelaskan semua pada sahabatnya itu.
“Gak usah difikirin Zul, aku kan udah bilang, siapa dia coba kalau harus marah?,” ucap Karina saat melihat kegelisahan pada diri Zul.
“Tapi dia itu sahabat aku!,”
Karina memalingkan wajah, sebal.
‘Gitu amet sama si kribo’ ucapnya dalam hati.
*****
Saat di kelas, Zul melihat Egi duduk di kursi yang jauh dari tempatnya. Tumben, biasanya pria itu tak pernah duduk berjauhan dengannya.
“Hey, hey, hey...! Bu Karina dateng tuh,” Seru Fajar yang tetiba masuk kekelas sembari berlari.
“Gue udah nyiapin puisi buat dia. Hahaha..,” celetuk Arman.
“Woy! Gak usah kalian gangguin dia lagi. Secara dia udah punya suami!,” Ucap Egi sambil melirik ke arah Zul.
“Ah, yang bener lu?,”
Egi tersenyum kecut. “Bisa-bisa ada yang ngamuk disini,”
Teman-temannya tak mengerti, sebagian tak ada yang percaya pada celetukannya itu.
Zul hanya menoleh ke arah Egi dan menatapnya dingin, tanpa ingin bicara sepatah kata pun. Entah mengapa hatinya merasa kesal dengan ucapan pria itu barusan.
Tak lama, Karina masuk dan menyapa mereka seperti biasa. Setelah ia duduk dikursinya, tiba-tiba Arman menghampirinya dan memberikan secarik kertas berwarna merah jambu, lalu duduk kembali.
Karina menoleh sekilas.
“Apa ini?,” tanyanya.
“Boleh dibaca bu,” jawab Arman sambil tersenyum.
Wanita itu membukanya, ternyata isinya sebuah puisi cinta yang ditulis dengan tinta merah dan tulisan yang indah. Terlihat ia mengernyitkan alis, lalu melipat kembali kertasnya.
“Terima kasih atas tulisannya. Bagus sekali,” puji Karina.
Arman tersenyum girang mendengarnya. Ya, ia tengah berlomba dengan Egi untuk mendapatkan hati dosennya itu.
“Man! elu lancang banget sih. Kalau suaminya tau bisa marah loh dia,” Seru Egi ketus.
Namun Zul merasa pria itu tengah menyindirnya. Ia hanya bisa menghela nafas. Mencoba bersikap tenang.
“Emang bener Bu, ibu udah nikah?,” tanya Arman tak percaya.
“Sama orang mana Bu?,” tanya yang lain.
“Siapa gitu bu suaminya?,”
Beberapa pertanyaan murid-muridnya itu berhasil membuat kepalanya pusing. Ia memijat-mijat keingnya pelan.
“Gue suaminya,” ucap Aldo sembari cengengesan.
“HUUUUHHH...!!,” Sorak teman-temanya yang lain.
“Sudah-sudah, jangan ribut ya. Dari awal saya sering katakan, jangan membahas apapun diluar tema saat jam pelajaran berlangsung. Kalau ada yang mau ditanyakan seputar saya, bisa temui saya di akhir jam sekolah. Mengerti?,”
Karina mencoba rileks untuk menghadapi murid-muridnya ini.
Selama jam pelajaran berlangsung, Egi lebih banyak diam dan cuek. Tak seperti biasanya yang selalu ceria dan tak bisa diam. Pelajaran berakhir, Agung menghampiri Zul dan mengajaknya ke warteg Mpok Yuyun.
“Bro, ngewarteg yuk!,”
“Boleh,”
“Suiitt! Cuy! Warteg...,” Agung bersiul ke arah Egi.
“Males,” sahutnya seraya berjalan keluar kelas.
“Tumben males?,” Ia memperhatikan Egi yang berjalan menjauh “Eh, tadi si Egi diem mulu napa ya? Kayak bete gitu,” tanya Agung.
“Dia lagi marah ke gue,”
“Hah? Yang bener? Marah kenapa dia?”
“Entar lah gue ceritainnya. Sekarang kita makan dulu, laper,”
Akhirnya mereka berdua pergi.
*****
Di Taman Kampus...
“Hey!! Disini lo rupanya?,”
Agung menepuk bahu Egi dari belakang. Ia datang bersama Zul sekembalinya dari warteg.
Egi menoleh, saat tahu Zul ada disitu lekas ia beranjak dari duduknya.
”Eehh...! Mau kemana lu? sini dulu dong bentaran...,” ucap Agung sembari menahan badan Egi yang akan pergi.
Wajah Egi terlihat bete, pandangannya melihat ke arah lain.
“Bro, lu kenapa? Lu marah ama gue?,” tanya Zul santai.
“Enggak, gue gak marah, gue Cuma kecewa aja,” jawabnya.
“Bentar, bentar, ini sebenarnya masalahnya apa sih?,” Agung tak mengerti.
“Oke, mungkin emang udah saatnya gue buka suara untuk hal ini ke kalian,” Zul menghela nafas, berharap kedua sahabatnya itu bisa menerima penjelasannya.
“Gue udah nikah,” ucapnya pelan.
Agung melongo kaget ,”se-serius?? Kapan? Terus sa-sama siapa?,”
“Ama bidadari gue!,” timpal Egi kesal.
Mendengar itu Agung serasa ingin pingsan. Ya, tentu ia pun kaget.
“Ah, yang bener lu Zul? Sama Bu Karina?,”
Zul mengangguk pelan. Melihatnya seperti itu, Egi tersenyum kecut.
“Hhh! Gue emang udah curiga dari dulu. Selama ini lu sering banget ketemu Bu Karina keruangannya, gue yakin itu bukan Cuma urusan pelajaran. Terus lu juga jarang ada dikostan sekarang-sekarang, makin kesini gue liat lu makin intens aja sama dia, kemaren rujak itu, elu beli buat bu Karina kan? Dan beberapa hari yang lalu pun gue sering denger Bu Karina muntah-muntah di kamar mandi. Terus lu sering nebeng ke mobil dia, apa lagi coba? Hah? Sedangkan gue tau elu Zul, lu gak mungkin berani datengin cewek yang bukan muhrim lu, apalagi sampai berduaan di satu ruangan yang tertutup. Awalnya gue gak percaya, tapi makin kesini gue makin yakin. Dan sangkaan gue itu terbukti sekarang!,”
“oke, semua yang lu katain itu bener. Bener banget. Dan gue faham, serapat-rapatnya bangkai ditutupin pasti akan ketahuan juga. Tapi lu juga harus tau kebenaran yang sesungguhnya, kalau gue nikah ama dia itu karena terpaksa! Kita sama-sama korban perjodohan disini,” ungkap Zul tegas.
“apa? Lu dijodohin?,” tanya Agung
“Halah...alasan klasik itu. Lu bisa aja kan nolak perjodohan itu kalau lu mau?,” sanggah Egi.
“Gi, selama ini lu juga kan tau, kalau Bu Karina itu bukan tipe gue, dan gue pun juga bukan tipenya dia. Tapi gue gak berdaya kalau udah nyangkut urusan orang tua. Percaya ama gue... Mana mungkin gue mau nyakitin sahabat gue sendiri!,”
“Zul, kapan lu nikah?,” tanya Agung yang masih tak percaya.
Ia sedikit menunduk. Lalu menghela nafas perlahan.
“Sekitar delapan bulan yang lalu,”
“Whaatt???!!,” keduanya sama-sama kaget bukan main.
Egi menahan amarahnya, kemudian pergi meninggalkan kedua temannya itu.
****
Setelah pengakuan Zul beberapa hari yang lalu, hubungan persahabatannya dengan Egi sedikit merenggang. Meski ia berkali-kali mencoba mendekatinya, namun Egi sepertinya belum bisa menerima kabar menyakitkan itu.
“Bro...udah deh lu jangan diemin si Zul terus, kesian dia. Gue capek, balik sana balik sini, pengennya tuh kita bareng-bareng lagi kek dulu,” pinta Agung saat menemuinya di kediaman Egi.
“Males gue temenan ama penjilat dan penikung kayak dia!,” Sentak Egi penuh emosi.
“Heh,, si Zul kan udah bilang kalau dia itu dijodohin ama orangtuanya. Bukan keinginan dia. Nah terus kalau emang dia udah jodohnya Bu Karina, kita bisa apa?,”
Kata-kata Agung barusan, sedikit meluluhkan hati Egi yang keras.
“Tapi dia udah bohongin kita bro! Delapan bulan kita dikibulin. Sumpah, gak ngerti dah gue,”
“Nih, dia itu udah cerita banyak ke gue, dan dari ceritanya, dia ngalamin banyak hal pilu di pernikahannya ini. Dan semua ini tuh atas keinginan Bu Karina sendiri yang pengen statusnya ditutupin. Lu juga kan tau cewek itu dinginnya kek gimana? Pasti si Zul kalah lah ama dia,”
“Gung, kalau misal nikahnya itu sama orang laen, gue gak akan sesakit ini, tapi ini sama sobat gue sendiri bro... Itu rasanya beda. Yang sehari-hari bareng kesana kesini, sering main, curhat bareng, tapi tega dia bohongin gue..,” Egi mulai terisak.
“Pantesan aja pas gue minta dicomblangin dianya nolak. Rupanya...mereka itu...aaarrgghhh...!,”
“Udah lah bro... Lu terima aja dengan ikhlas. masa iya cuman karena masalah cewek, persahabatan kita kandas gini. Lagian nih, gue tanya ama lu ya, Bu Karina itu sebenarnya siapa nya lu sih? Pacar lu bukan? Atau calonnya elu? Terus kalau bukan siapa-siapa, terus apa hak elu buat marah ke mereka, Hah?!,”
Egi merasa tertampar oleh kata-kata Agung barusan. Ia pun sebenarnya tahu diri, tapi rasa kecewa dan cemburu itu terlalu kuat bersemayam dihatinya.
“Sekarang kita udah tau kalau mereka itu suami istri. Nah, terus lu mau apa? Mau jadi pebinor gitu? Mau ngerusak rumah tangga orang?,” Cecar Agung.
“Udah dong Gung ah, lu bikin gue tambah stres aja tau gak!,”
“Ya abis nya elu, udah dijelasin gimana-gimana juga masih aja gak mau nerima. Malahan gue jadinya yang kesel ama lu!,”
Egi mengacak rambut kribonya itu dengan kasar. Kesal dan bingung pastinya.
“Lu fikirin aja baik-baik kedepannya mau gimana, itu terserah lu. Lu udah gede, udah bisa mikir. Nasihat gue Cuma satu, semarah dan sebenci apapun elu, gakan bisa ngebalikin lagi semuanya ke semula. Dan menurut gue itu percuma, buang-buang waktu! Cuman nguras tenaga dan fikiran lu doang,” sambungnya
“Ya udah, gue mau balik dulu. Mau ada urusan ama neneng gue dulu, penting. Yuk ah, Assalamu’alaikum,”
Agung pamit seraya pergi meninggalkannya. Pria itu hanya diam tak menyahut, mencoba menenangkan hatinya yang masih bergemuruh.
****
Esoknya saat dikampus.
Banyak para mahasiswa yang berbisik-bisik saat melihat Zul. Ia merasa kurang nyaman sebenarnya, tapi ia tahu, pasti kabar mengejutkan itu sudah sampai ke telinga warga kampus.
Saat dikelas pun teman-temannya banyak yang melirik ke arahnya. Saat pelajaran Karina berlangsung, tak banyak yang menggodanya seperti biasa. Namun entahlah, malah Karina merasa nyaman dengan kondisi yang seperti itu.
Beberapa hari berlalu, sepertinya hubungan mereka sudah bukan menjadi rahasia umum lagi dikampus. Hampir semua dosen pun sudah mengetahuinya. Meski terkadang pertanyaan dari mereka itu membuat Zul dan Karina harus banyak tersenyum, dan berfikir keras mencari sebuah alasan. Apalagi saat terlontar pertanyaan mengapa mereka tak menyebar undangan. Ya, sepertinya itu menjadi konsekuensi yang harus diterima keduanya.
Zul dan Karina berjalan memasuki kelas bersamaan.
“Ciiee.... Pasutri..,” terdengar suara godaan dari temannya.
“Gandengan atuh Zul, diem-diem bae,” celetuk Rian diiringi suara tertawaan yang lainnya.
Zul hanya tersenyum menanggapi. Meski sebenarnya ada perasaan malu dan tak enak dihati keduanya.
Pelajaran hari ini berlangsung lancar, meskipun sesekali ada celetukan lucu yang mengarah pada hubungan mereka.
“Zul, gimana rasanya kawin?,” goda Aldo setelah pelajaran berakhir.
“Gitu deh,” jawabnya singkat.
Ya, dikelasnya hanya ada tiga orang yang sudah menikah, dirinya dan kedua teman wanitanya.
“Bisaan lu ngegaet hati Bu Karina, punya ilmu pelet lu ya,” canda Fajar
“Iya diem-diem ngehanyutin lo,” timpal Arman seraya tertawa puas.
“Enak lu bro, bisa dibantuin dong nanti pas ujian. Wahahaha...,”
“Ya enggak lah, kita udah professional,” sahut Zul diiringi tertawa.
“Zul, lagi saklek ya ama si Kribo?,” tanya Aldo.
Mereka baru menyadari sikap Egi yang berubah pada Zul setelah kabar pernikahannya itu terbongkar di sebagian awak kampus.
“Enggak, biasa aja,” jawab Zul tak ingin banyak berkomentar.
“Iya secara dia ketua Fanbase nya Bu Karina. Haha... Parah, duh,”
“Ya udah lah gak apa-apa, gue aja biasa-biasa aja kok nanggepinnya. Santai aja.” Sahut Zul.
“Tapi gue pribadi lebih ngedukung ke elu sih, daripada ke si kribo, gak cocok,” Ucap Arman setengah berbisik.
“Aaah,,, yang beneeeerr??? Kemaren lu bikin puisi itu apa coba, hayoo...,” sindir Fajar.
“Aah...udah-udah gue malu nih sama si Zul,” ujarnya seraya menutup mukanya dengan buku.
Terdengar mereka tertawa terbahak-bahak.
****
Dua bulan berlalu, tak terasa ujian tengah semester telah selesai, kini waktunya libur sekolah. Hari itu, Agung memberi kabar pada kedua sahabatnya kalau ia akan pergi ke Bandung untuk melamar Hilya, wanita yang sudah dipacarinya semenjak beberapa bulan yang lalu.
Keduanya memberi selamat. Ya, hubungan Egi dan Zul sudah mulai membaik. Egi sudah bisa menerima kenyataan hidupnya yang tak bisa memiliki Karina seutuhnya. Dan ia berencana untuk ikut mengantar Agung dalam prosesi lamaran besok ke Bandung.
“Sorry ya bro, gue gak bisa ikut nganter, bini gue maboknya minta ampun. Jadi gue hanya bisa ngirim do’a aja buat kalian berdua,” ucap Zul saat mereka bertiga bertemu di sebuah kaffe.
“Iya gak apa-apa, makasih atas do’anya,” sahut Agung seraya tersenyum.
“Rumah lu sama si Hilya deketan?,” tanya Egi pada Zul.
“Beda kampung sih, tetanggaan,”
“Oh... Entar lah gue sekalian mau nyari calon bini disana,” Celetuk Egi seraya menyedot es kopi nya itu.
“Hahaa...bener banget tuh. Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui. Tapi nih, kata orang-orang-orang sih ya, gadis desa itu cantik-cantik, lugu-lugu, ayu-ayu. Ah Pokoknya bikin gemeeesssh... Kayak neneng gue gitu....,” sahut Agung bangga.
“Bilangin ama si Hilya, keluarin gitu temen-temennya yang masih pada jomblo, entar mau gue pilih,” ujar Egi.
“haha...okeehh...,”
Mereka bertiga kembali menikmati pertemuannya dengan suka cita.
*****
Delapan bulan berlalu, kartu undangan pernikahan telah tersebar, disana tertulis dua nama dengan huruf yang indah.
Menikah, Hilyatunnafisah & Agung Pramudya.
Zul menghembuskan nafas lega membacanya, ia bahagia, wanita yang pernah singgah dihatinya itu kini telah dipinang oleh salah satu sahabat terbaiknya. Pernikahannya digelar di sebuah gedung di daerah Jakarta Timur, tak jauh dari kediaman Bibiknya Hilya. Zul hadir di acara resepsi itu dengan memboyong istri serta putri cantiknya yang berusia empat bulan.
Disana, ia pun bertemu dengan Egi, terlihat ia menggandeng seorang wanita cantik berjilbab. Ia mengaku kalau itu ialah calon istrinya. Ya, gadis desa yang pernah Hilya kenalkan padanya tempo lalu, ternyata telah membuat Egi jatuh hati dan memilih untuk segera menjadikannya istri. Di pelaminan cantik nan indah itu, Zul, Agung dan Egi beserta masing-masing pasangannya mengabadikan moment bahagia mereka dengan berfoto ria.
Cekrek! Cekrek!
___________________END______________