"Berhenti mencarinya! Kau tahu, itu tak ada gunanya!" Bentaknya.
"Lalu? Aku harus apa? Ini sudah terlanjur! Aku tidak bisa berhenti!" Seir membela dirinya.
Sore yang mendung di atas menara kini menunggu waktu yang tepat untuk menghujani tempat itu.
"Kau sadar atau tidak?! Buku itu tak akan ada habisnya! Meski kau merombaknya lagi dan lagi!" Kata Flors yang sedari tadi mencoba menyadarkan Seir dari obsesinya.
"Aku harus! Harus menyelesaikan semua ini!" Kata Seir menepuk buku yang ia bawa. "Sedikit lagi aku menuju titik terang." Sambungnya.
"Hah... mengapa? Mengapa kau sangat tergila-gila untuk membuat ramuan keabadian?" Kata Flors menyerah untuk berdebat dan mempertanyakan obsesinya.
"Itu karena wasiat bibi ku dan rasa penasaranku." Katanya tegas.
"Suatu hari kau akan menyesal." Kata Flors dan pergi meninggalkan Seir yang masih menatap tajam padanya.
Flors tahu bahwa bukan Seir yang memiliki hak untuk buku itu. Namun, dia mulai membantai satu keluarga itu dan mengasingkan diri. Hanya dia yang tahu dan Seir masih menutupi kebohongan bahwa dialah pembunuh yang terobsesi dengan kata 'keabadian' yang mustahil.
Dia adalah iblis yang ingin hidup abadi. Pikirnya.
Dia menatap langit yang mendung itu. Kapan hujan akan datang? Tanyanya.
"Padahal aku sudah menyiapkan kejutan." Kata Flors sambil tersenyum.
Lalu petir muncul di tengah awan itu. Hujan saja yang masih belum terlihat. Dia sudah pergi agak jauh dari menara. Agar dia tidak terkena dampak dari sihirnya sendiri. Kalau itu terjadi, senjata makan tuan, bukan?
Dan tak lama suara meledak dalam menara terdengar nyaring. Hujan datang setelahnya. Flors berlari cukup kencang untuk melihat karyanya yang lain.
Hangus sudah. Hanya asap yang tertinggal. Buku itu masih utuh di pelukan Seir yang sudah tak bernyawa lagi. Diambillah buku itu oleh Flors.
"Yah, sayangnya aku tak bisa membiarkan buku ini jatuh ke dalam pelukan mu ya, kan?" Katanya sambil tersenyum riang.
Sudah beberapa bulan kejadian itu terlewat. Dan yang dibutuhkan oleh ramuan setengah jadi dari buku ini adalah pengorbanan jiwa. Gadis itu mencoba melakukan percobaan pada hewan.
Berkali-kali ia gagal. Tak ada satupun yang berguna. Ia pun melakukan percobaan lain yaitu mengukur usia. Saat satu makhluk memiliki umur yang sedikit, dia mencampurnya dengan makhluk yang sama.
Tapi berbeda jika umur hidup kadal dicampur dengan tikus hasilnya gagal. Jadi itu hanya bisa dilakukan kalau mereka satu jenis.
Dia memang berhasil. Tapi, itu hanya bertahan sesuai perhitungan ukuran jiwa yang telah ia buat. Peluang bertahan hidup dari satu ke yang lain seperti memindahkan makanan yang tersisa sedikit. Dia berpikir lagi.
Satu-satunya makhluk yang berumur panjang adalah... manusia. Ya! Manusia! Pikirnya.
Dia mulai menculik satu anak kecil yang penyendiri tanpa ada yang mengawasi. Tapi, tak ada yang peduli dengan anak itu. Seakan dunia mengatakan biarkan ia menghilang, dia hanya beban.
"Apa kau tak sedih karena tak ada yang mencarimu?" Tanya Flors keheranan.
"Untuk apa? Apa harus ada alasan kenapa aku tak dicari sementara aku menangis?" Tanyanya balik.
"Kau anak baik rupanya." Kata Flors yang memuji objek eksperimennya. Flors tak menganggap anak itu sebagai manusia.
"Tak sebaik orang yang berjuang untuk hidup panjang." Kata anak itu.
"Tahukah kau bahwa aku seorang penyihir yang jahat? Aku akan menggunakanmu sebagai alat penambah umur. Apa kau tidak takut?" Flors bertanya sambil membuat simbol di lantai. Lingkaran sihir yang dibuat semirip mungkin dengan yang ada di buku.
"Aku tidak tahu." Jawabnya.
"Sudah. Berdiri saja di tengah lingkaran ini." Perintahnya pada anak itu.
Anak itu menurut dan berdiri diatas altar yang penuh dengan simbol itu.
"Aku punya permintaan. Boleh aku memintanya padamu?" Tanya anak itu. Dia menatap penuh harap agar ia bisa didengar.
"Terserah." Jawab Flors yang mulai menyiapkan ritual itu.
"Jika ramuan itu telah jadi seutuhnya, aku ingin kau memberikannya pada ibuku. Dia sekarat." Katanya.
"Kau ingin aku melibatkan ibumu sebagai objek eksperimen?" Tanya Flors.
"Aku tidak tahu." Flors hanya memutar bola matanya dan memulai ritual penyimpanan umur dalam botol. Botol tersebut memang diberi ramuan yang hanya bisa menyimpan umur dan mengukurnya.
Saat selesai, anak itu menghilang seperti partikel kecil di udara. Dia tersenyum pada penyihir yang berhasil membuat apa yang ia inginkan itu.
"Kita lihat... usia anak itu sampai..." Flors tersentak melihat fakta yang mengejutkan itu. "Sampai 90 tahun?! Luar biasa!" Katanya.
Flors pergi meninggalkan markasnya dan menemui ibu anak itu. Memang sedang sekarat. Ibu dari anak itu dikelilingi oleh anak-anaknya dan tetangganya. Dia seperti bunga yang hampir layu. Mereka tak ingin bunga tersebut mati.
Entah kenapa Flors menepati janjinya dan mengatakan pada mereka bahwa dia bisa menyembuhkan penyakitnya. Dia juga mengatakan dia tidak tahu efek apa yang akan ia terima.
Awalnya mereka tak setuju. Mereka berhutang budi pada orang yang sekarat itu. Entah jasa apa yang bisa membuatnya menelantarkan satu anak. Tapi, mereka tak punya pilihan lain dan menerimanya.
Sesuai dugaan Flors, ibu itu sadar dan terlihat memiliki wajah yang sangat muda. Tak ada efek samping. Mereka berterima kasih pada Flors yang telah menyelamatkan nyawa dari bunga mereka.
Mereka meninggalkan wanita tersebut dan mulai merencanakan perayaan kembalinya bunga kesayangan mereka. Semapt ada wajah kekecewaan pada mereka namun, ia tak peduli hal itu.
"Terima kasih! Kau sudah menyembuhkanku." Kata wanita itu yang kini memiliki paras yang cantik. Padahal usianya 60 tahunan.
"Jangan berterima kasih padaku. Berterimaksihlah pada anakmu." Kata Flors tak peduli dengan memasang wajah simpati.
"Anakku?! Yang mana?" Katanya kaget.
"Yang masih kecil. Dia menawarkan usianya untuk dipindahkan padamu. Lalu kau meminum ramuan. Itu adalah hadiah terakhir dari anakmu." Kata Flors berbohong walau sebagian ada benarnya juga.
"Dia?!" Katanya. "Padahal dia anak yang tidak berguna. Tapi dia malah... tidak. Kembalikan anakku! Kumohon..." dia mulai memohon agar anaknya kembali.
Flors bilang tidak ada yang bisa ia lakukan. Lalu dia pergi meninggalkan wanita itu dalam kesedihan. Apa sesedih itu mendengar orang yang tak berguna mati? Pikirnya.
Lalu di mengumumkan sesuatu yang mengejutkan. Dia menawarkan, pada semua orang, ramuan penambah usia. Tak ada yang menolak sebenarnya. Namun Flors memberi harga mahal pada ramuan itu.
Seiring berjalannya waktu, satu kota hampir hancur karena ramuan itu. Tak ada yang peduli lagi pada kasus besar atau kecil. Banyak pencuri yang mencuri lebih banyak dari biasanya. Atau bahkan hal terburuk lainnya.
Flors tak peduli. Malah ia jadikan kesempatan untuk menculik dan menyamar. Alasannya agar dia dapat membeli budak dan menyimpan nyawa mereka.
Saat raja mengetahui hal tersebut, Flors menjadi bahagia dengan tawaran undangan yang datang padanya. Namun, isi dari surat tersebut sangatlah berbeda.
Flors dinyatakan sebagai buronan karena telah menculik dan hampir menghancurkan kota. Dia lari kesana-sini. Padahal raja hanya akan memanfaatkan hal ini sebagai alasan. Raja juga ingin sekali hidup abadi.
Satu jawaban untuk semua ini. Dia harus kembali ke masa lalu. Caranya? Hanya satu orang yang bisa membuatnya pergi dan mengubah segalanya.
Harington tak percaya dengan tamu tak di undang itu. Flors memohon dan bersujud padanya.
"Kumohon!" Kata gadis itu.
"Sebenarnya apa yang terjadi?" Walau Harington tahu dia buronan, dia tak hanya ingin cerita dari satu pihak saja. Dia juga ingin mendengar kisah gadis ini. Flors menceritakan yang sebenarnya. Tak ada unsur kebohongan apapun.
Harington merasa simpati. "Baikalah kalau kau memaksa. Jika kau tak mengubahnya dan malah memperburuk dengan menghadirkan perang... tak ada yang bisa aku lakukan lagi."
Flors mengangguk patuh. Harington mengajaknya ke salah satu ruangan. Flors yang tubuhnya melemah karena berlari dari pengejaran, terpingkal-pingkal. Dia pun membantu Flors berjalan.
Flors tak tahu atau bahkan tak ingin tahu apa yang akan terjadi. Memang itu hanya kamar biasa. Harington tiba-tiba mendorongnya dan menahan tangannya ke kasur putih tersebut.
"Semua itu bohong. Kau tak bisa pergi ke masa lalu. Kau hanya bisa berlindung disini sampai kau terlupakan begitu saja." Kata Harington menahan kedua tangan yang rapuh itu di kasur.
Flors tak mampu melawan. Tubuhnya sudah tak kuat untuk digerakkan. Hanya air mata saja yang kini turun. Menyesal dengan apa yang telah ia lakukan. Tanpa pikir panjang dia mencium bibir dinginnya Flors.
Dia teringat dengan terakhir kali dia mengucapkan 'suatu hari kau pasti akan menyesal.'
"Padahal kau juga pembohong. Kenapa baru menyesal sekarang?" Tanya Harington mengusap air matanya.
"Entahlah..." kata Flors berbisik. Harington melepaskannya serelah mendengar hal itu.
"Kenapa?" Tanya Flors.
"Aku hanya mengujimu." Jawab Harington tersenyum. "Tapi, memang benar aku tak bisa mengirimmu ke masa lalu. Itu sudah lama. Aku lupa bagaimana--" tiba-tiba dia di bungkam dengan bibir yang kian menghangat itu.
"Untuk pertama kalinya aku menemukan wajah simpati sepertimu." Kata Flors setelah melepas bibirnya.
"Walau begitu, tak apa kau menggunakan aku sebagai alat atau apapun itu. Asalkan aku bisa pergi ke masa lalu. Hanya itu. Maka kau bisa meminta bayarannya sekarang." Kata Flors.
Harington hanya tersenyum dan memeluk gadis itu.
"Hei! Kau pikir aku pria seperti apa?" Kata Harington kesal. "Sudahlah. Aku juga tak ingin semua ini terjadi." Sambungnya.
Walau semua sudah terlambat, jika ada cara untuk menyelesaikan ini aku akan melakukan apapun! Tekadnya.
Sudah setahun lamanya dia kembali ke masa lalu. Dia menemui temannya dan membakar buku itu. Dia muak melihat benda seperti itu. Seir hanya terduduk lemas.
Flors menenangkan dan bilang,
"Ada banyak hal yang bisa membuat kita bersenang-senang." Katanya. "Memang hidup abadi itu enak? Kau hanya akan ditinggalkan semua orang karena mereka mati satu persatu." Sambungnya.
Dia juga menemui anak itu. Anak yang pertama ia culik. Tak heran kalau ia sendirian. Anak itu bisa membaca masa depan tanpa sihir atau apapun. Pengakuan anak itu membuatnya terkejut.
Tapi, Seir malah mengatakan kalau anak itu imut dan malah menjadikannya murid. Flors hanya tertawa.
Hanya tertinggal satu. Flors sudah mencari Harington kemanapun ia berada. Tapi, tak ada hasil. Setahun lamanya dia mencari pria itu. Dia seperti menghilang tanpa jejak. Bahkan tak ada yang tahu bahwa ada nama Harington yang bisa memutar waktu.
Mungkinkah ini efeknya? Pikirnya. Tapi kau meninggalkan jejak padaku. Inikah bayaran yang kau tagih?