Semangat Di Balik Air Mata dan Orang Tersayang
Dimarahi dosen!!! siapa sih yang mau dimarahi? Tentunya semua orang tidak ingin dirinya dimarahi atau tidak disukai. Yang pastinya semua ingin yang terbaik.
Di suatu hari pada saat pertemuan belajar mengajar secara virtual atau yang biasa dikenal dengan sebutan online.
“ Oh iyah, hari ini kan kelompok ku presentasi”. Kata ku dalam hati.
Sesegera mungkin aku pergi meraih hpku dan membuka sebuah aplikasi.
‘whatsapp’
Yah, nama aplikasi itu whatsapp, tentunya kita sudah pada tahu kan apa itu whatsapp? Aplikasi yang dapat kita gunakan untuk berkomunikasi dengan siapa saja lewat aplikasi ini asalkan kita terhubung dengan internet.
“Oh, ternyata belum mulai kelas ternyata” ucapku dengan mengelus-elus dadaku.
Aku terdiam sejenak dan menarik napas panjang dan melepasnya perlahan, untuk menghilangkan rasa panikku.
“Titi…, kenapa tangan sama kepalanya di goyang-goyang terus ?”
“tuh kakinya juga kenapa ikut-ikutan digoyangin juga?”
Titi… yah, itu sapaan yang biasa dipakai oleh keponakan aku untuk memanggil aku sehari-hari, yang mempunyai arti tante.
“sayang…, titi tidak apa-apa, titi lagi pengen gini aja” aku tersenyum sambil mencubit lembut pipinya.
“Anya sayang, Anya pergi main sama kakak mereka dulu yah, titi mau belajar.”
“iyah titi, siap bosku,” katanya sambil ia tersenyum dengan tatapan manisnya ia tetap menatap aku dan ia tiba-tiba mengangkat tangan kanannya lalu hormat menghadap aku.
“yaelah, kamu. Emang yah tingkah anak imut macam kamu itu ada aja dan bisa aja yah hmhmhm,” Sesaat aku menyalahkan layar hpku lagi.
“18.00”
“Yah,,, tepat jam mengajarnya Ibu Ria”
Aku melepas genggaman ku pada hpku dan menaruhnya di atas meja belajar. Aku bergegas meraih selembar baju kemeja berkerak dari dalam tas pakaianku, lalu aku kenakan. Karena salah satu aturan ketika mengikuti mata kuliah yang diasuh oleh Ibu Ria adalah mengenakan baju berkerak. Jikalau tidak yah, kemungkinan tidak diizinkan masuk.
“Trrrrrrrt… trrrrrrrt… trrrrrrrrrt…”
Suara getar hpku berdering sebanyak tiga kali. Aku membalikkan mukaku dan menoleh ke atas meja belajar, terlihat bahwa layar hpku kembali bernyala.
“ https://meet.google.com/…….“ link untuk meet ibu Ria bagikan ke dalam grup.
“Silakan bergabung yah anak-anak”
“Baik ibu, terima kasih,” kata salah seorang mahasiswa melalui chat di dalam grup kelas mata kuliah.
“Baik ibu”
“Terima kasih Ibu, baik, kami akan segera masuk Ibu,” kata teman-temanku yang lainnya dalam grup.
***
Aku hanya terdiam dengan membaca pesan-pesan daripada teman-teman. Aku gemetar, takut, gugup, apalah itu? aku sendiri tidak mengerti dengan perasaan ini!
Hari ini adalah hari di mana kelompok 1 yaitu kelompok kami harus mempresentasikan tugas kami.
“Selamat sore anak-anak” kata ibu Ria
“selamat sore ibu” Kata teman-temanku secara serempak yang telah bergabung dalam meet.
Aku tetap terdiam kaku…
“Hallo!! bagaimana hari ini untuk kelompok yang bertugas, apa sudah siap??”
Aku pun masih terdiam…
“ Hallo,, selamat sore, bagaimana? Sudah siap kah??” sambung ibu Ria
“Selamat sore ibu,” kataku dengan nada gugup.
“okeh, bagaimana dengan tugas kelompokmu, nak? sudah selesai atau belum?”
“Sudah selesai ibu,” jawabku.
“baik, apakah teman-teman kelompokmu sudah bergabung?”
“Belum semuanya Ibu, baru dua orang ibu,”
“memangnya dalam kelompok ada berapa anggota, nak?”
“kami kelompok satu ada enam orang ibu,”
Aku pun membaca nama-nama teman kelompokku satu per satu
“Sudah berapa orang yang bergabung sekarang, nak?”
“Hingga saat ini baru tiga orang dengan saya ibu,”
“ Kita menunggu beberapa saat lagi, yah?” kata ibu Ria.
“ Baik ibu,” jawab kami serempak.
***
Aku masih bingung, entah siapa dari teman-teman kelompokku yang bisa mempresentasikan hasil kerja kami, mengingat dengan daya hpku yang tersisa hanya 12%. Di cas selama 2 jam, namun dayanya tidak ada sedikit pun peningkatan. Aku takut ketika aku menyumbang diri untuk mempresentasikan materi yang kami dapat, di saat belum selesai namun aku sudah harus keluar meet karena hpku kehabisan daya. Aku takut ibu marah. Aku juga takut teman-teman dalam grup atau pun teman-teman yang lain marah.
***
“teman-teman, jadi siapa yang presentasi?” kataku lewat chat di dalam grup kelompok kami.
Tidak ada yang menjawab, bahkan belum ada yang read.
“Tolonglah teman-teman, aliran hpku tidak mendukung sekali, nih!!!” sambungku lagi.
Dua garis centang berwarna abu-abu kecokelatan itu tertera di bawah pesan teks yang aku sentt ke dalam grup.
“Okeh Uslin, biar aku aja yah,? jikalau memang kamu punya kendala,” kata Nur, salah satu anggota kelompokku.
“OK Nur, makasih yah,”
Aku pun kembali bergabung dalam meet.
18.32. Waktu sudah kurang lebih 30 menit menunggu teman-teman yang lain untuk bergabung. Namun, entah dengan alasan apa, yang jelas mereka tidak kunjung masuk dan sama sekali tidak ada kabar.
***
“Hallo, sudah dua puluh tujuh orang yang bergabung, bisakah kita mulai,?”
“Daripada kita menunggu teman-temanmu, nanti sayang waktu kita terbuang, nak!!!”
“baik ibu…” kami pun menjawab ibu secara serempak.
“baik, silakan bagi moderatornya, untuk membuka sesi presentasinya”
“baik Ibu” kata moderator, salah seorang mahasiswi kelas kami.
Hanya aku dan dua orang teman kelompokku yang bergabung. Jadi jumlah kami yang akan mempresentasikan tugas hanya tiga orang. Siap? Atau tidak? Yah, tetap harus!!!
“aa… baik. Selamat sore menjelang malam ibu dan teman-teman semua, saya selaku moderator membuka sesi presentasi bagi kelompok satu untuk mempresentasikan hasil kerjanya,!”
“Baik, terima kasih untuk kesempatannya, ibu dan moderator, saya atas nama Nurhasnnah akan mempresentasikan hasil penelusuran kami, …” kata Nur, temanku yang mempresentasikan hasil kami. Temanku membaca setiap slide pada power point yang berisi materi kelompok kami.
***
“Baik, terima kasih untuk materi yang sudah dipresentasikan, silakan bagi teman-teman yang ingin bertanya dan memberi saran untuk kelompok satu, saya membuka sesi bertanya dari sekarang, dan penanya saya batasi hanya lima orang penanya saja dengan satu pertanyaan dari masing-masing orang. karena kita dibatasi waktu, maka silakan untuk bertanya,” kata moderator.
“baik, saya ingin bertanya tentang ini, …”
“Mohon izin untuk memberi saran, dan saya pun ingin menanyakan hal ini, …”
“saya ingin menanyakan terkait dengan hal ini, …’
***
Seketika aku berhenti menulis. Karena semua soal dari pertanyaan teman-teman sudah aku tulis. Juga karena target penanya pun sudah terpenuhi.
“Baik, untuk teman-teman kelompok satu silakan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang di ajukan!!” ujar moderator.
“Baik, saya mohon izin menjawab pertanyaan dari teman, …”
Aku pun menjawab pertanyaan yang diajukan oleh teman-teman kelompok lain.
Tersisa dua pertanyaan lagi yang belum terjawab, tidak bisa saya jawab? Kesulitan? Tidak tahu? Keliru? Entahlah … Aku diam. Teman-teman kelompokku pun terdiam semuanya. Otak dan pikiranku buntu. Aku kurang mengunjungi sumber-sumber materi yang tersedia. Aku kurang belajar. Kurang menguasai materi. Kurang menguasai bahan presentasi. …???
***
“Bagi yang bisa membantu jawab, silakan bantu,” ucap ibu Ria dengan nada yang sedikit tidak biasa.
Saya pun sadar, saya saja bingung pasti juga dengan teman-teman yang lain bingung.
“Baik ibu, saya dari kelompok tiga ingin bantu menjawab soal tentang ini, …”
Teman-teman dari kelompok lain pun berbondong-bondong menjawab pertanyaan yang diajukan guna membantu kelompok kami. Yang seharusnya itu bukan urusan mereka namun merupakan tanggung jawab kami. Namun mereka tetap berbesar hati membantu kami.
***
“Okeh, hari ini, waktu kita habis di menunggu, yah anak-anak,”
“ini artinya kalian kurang membaca materinya,” kata ibu Ria, lagi-lagi ibu Ria berkata dengan nada yang sangat asing, tidak biasanya ibu Ria berbicara dengan nada yang seperti saat ini ia ucapkan.
Dengan tak terasa, pipiku terasa basah, aku menoleh pada cermin kecil yang berada sejajar dengan wajahku. Menangis. Yah, aku menangis.
“Ibu harap untuk kelompok lain di hari-hari ke depan tidak seperti ini lagi, yah!!! yang aktif hanya satu, dua orang! Yang lain ini kalian ke mana sih..?”
Marah. Aku tahu ibu Ria marah. Aku juga tahu bahwa sebenarnya ibu Ria kecewa. Apalagi ini adalah presentasi di hari pertama. Kelompok pertama bahkan.
***
“Okeh, baik. Pertemuan kita hari ini cukup sekian. Ibu sudahi perkuliahan kita yah. Selamat malam!!!”
“baik ibu, selamat malam juga ibu,” kata separuh temanku.
“Terima kasih ibu,” sambung temanku yang lain.
Satu per satu temanku keluar dari ruang meet.
Aku kembali terdiam. Aku gabut, hatiku mendung.
“ Hallo Uslin,”
Serasa ada suara yang memanggil namaku,…??? aku tersontak kaget.
“eh, ya ampun, ya ibu, mohon maaf ibu,,”
“Silakan keluar, nak,!” Ternyata yang memanggilku tadi adalah ibu Ria.
***
Aku meraih kotak tisu yang ada di atas meja belajarku, aku menarik selembar tisu ini dan menghapus air mata dan mengalir deras di pipiku.Waktu sudah menunjukkan jam delapan malam, aku bergegas mengambil handuk yang berada tepat di tali jemuran dan berlari ke kamar mandi.
Aku menangis sepuas aku di sini. Karena memang ketika aku rapuh, kesal atau apa pun perasaan aku. Tempat untuk aku meluapkan emosiku adalah di sini. Kamar mandi. Aku memukul kepalaku. Aku acak-acakin rambtku. Hingga rasa kecewa dan kekesalanku pada diriku sendiri sedikit berkurang.
“Papa, Mama … maafkan aku yang sampai dengan hari ini, masih terus gagal untuk menjadi kebanggan kalian,,,” aku berbising sendirian di dalam kamar mandi.
Aku terus menangis. Aku merasa gagal membuat teman-teman kelompokku merasa puas dengan jawabanku. Aku gagal memuaskan mereka. Aku juga merasa sangat bersalah pada Mama sama Papa yang bekerja susah payah untuk aku.
‘Tok…………. tok……. tok……” bunyi ketukan pintu kamar mandi.
“Dek, kamu lagi apa di dalam? Kamu belum mandi yah? Kok lama. Udah dari tadi loh kamu masuk.” kata kakak iparku.
“iyah kak, ngga lagi apa-apa kak, bentar lagi udah kok. Kataku sambil berusaha menormalkan suaraku agar tidak ketahuan lagi menangis.
***
“sedikit lega, udah mandi, segar.” kataku.
Aku menoleh ke meja belajar, semua buku berantakan. Laptopku tidak memiliki daya. Di dalam buku catatan tugas harian, tugas pun menumpuk sekali.
Aku menyalahkan laptopku, tatapanku terpana, dan senyumanku melebar karena ada senyuman dari sosok orang terhebatku, yang terpapar di layar laptop. Papa sama Mama. Yah, mereka adalah semangatku dalam hal apa pun. Semangatku seketika membara. Dalam sekejap kamarku kembali rapi seperti layaknya kamar seorang anak perempuan. Tugas-tugasku yang sedikit lagi mencapai tenggat waktu pengiriman, aku mulai kerjakan.
“02.41” yah, tulisan ini yang terpapar di layar hpku. Ternyata aku masih didepan layar laptopku. Tanganku masih menggenggam sebuah pena dan berada tepat di atas sebuah buku tulis. Dengan mata yang tertujuh pada tulisan-tulisan di layar laptop dan buku. Mungkin karena kelelahan hingga aku tertidur ………!
“sayang semangat, semangat…. semangat…”
“kamu semangat yah, berdoa terus dan terus berharap sama Tuhan, Tuhan pasti akan ada untukmu, nak,,”
Tut………….. tut……… tut……
Bunyi alarm dari hpku menujukkan jam 04.00. Sudah subuh. Aku terbangun kaget dan penglihatanku buram. Layar laptopku masih menyalah dan masih dalam sebuah aplikasi. Word, itu nama aplikasinya.
Aku kembali pada mimpiku, dengan cerita aku sedang berada di sebuah jurang namun sepertinya bukan juga, namun bisa dibilang pinggir gunung disertai tebing. Lalu seluruh keluarga ada di sana dan menyorakin aku untuk semangat. Kembali senyumanku melebar dan serasa aku sedang dipelukan mereka. Aku memeluk sebuah gambar yang ada beberapa wajah orang yang aku sayangi. Foto keluarga.
“Tuhan… mereka adalah harta yang Engkau titipkan ke dunia ini. Mereka adalah surga duniaku. Engkau adalah Tuhan yang utama dan pertama bagiku. Sehingga mereka adalah tuhanku di dunia ini. Tuhan jaga mereka, Amin.”
Tatapanku terarah kembali pada buku yang ku tulis semalam, yaitu buku tugas mata kuliah terakhir yang belum aku selesaikan. Dalam waktunya singkat aku mencari definisinya dan memahaminya perlahan hingga akhirnya bisa menyelesaikan tugas.
“Akhirnya,…” aku menghela napas panjang dan melepaskan perlahan.
Selesai