"Hei! Kenapa kau melamun saja?" Aku tersentak mendengar perkataannya.
"Ah... bukan apa-apa." Ucapku. "Hei, kalau kau mau bagaimana jika satu saja barang berharga menghilang dan tak bisa kau temukan lagi?" Tanyaku.
"Kau bicara apa tiba-tiba? Yah, kalau aku hanya bisa bersedih. Apalagi itu barang berharga! Memangnya kenapa? Kau kehilangan sesuatu?" Tanyanya.
"Ya. Aku kehilangannya cukup lama." Kataku.
Sebelumnya,
Kau hadir. Cuma karena kau ingin membuatku tersenyum. Waktu pertama kali kita bertemu adalah kau menyelamtkanku dari kegelapan hati. Sampai saat ini aku tak akan membiarkan hati ini takut untuk menghadapi apapun hanya karena semua ini demi dirimu.
Waktu yang kita habiskan bersama adalah waktu yang paling berharga. Semua karena begitu indah melihatmu tersenyum. Suatu saat ketika salah satu dari kita kehilangan kendali, kita belajar sesuatu dari hal itu.
Saat aku masuk ke dalam sebuah ruangan yang biasanya kita habiskan bersama, aku melihat hal yang tak wajar. Lampu tak menyala. Malam hujan dan gelap gulita. Tak ada seberkas cahayapun dalam ruangan.
Saat aku mengetahui ada yang salah dalam rumah ini, aku mencarimu ke manapun. Namun, hasilnya tak ada. Hanya ada satu tempat yang belum di lihat.
Aku menaiki tangga secepat mungkin dan membuka pintu loteng yang dingin. Bulir-bulir air mulai menimpaku secara terus menerus. Hujan dan angin yang begitu sulit untuk dihadapi. Aku tak bisa melihat apapun dengan jelas.
Memaksakan diri untuk berjalan perlahan dan mempertahankan sedikitnya pandangan. Dimanakah dirimu? Entah masih belum kutemukan dirimu atau pandanganku memang di butakan oleh takdir ini.
Aku hampir terjatuh dari lantai atas. Seseorang menarikku namun, kita jatuh bersama. Tak dapat di pungkiri bahwa aku tidak bisa melihat siapa yang telah menangkapku. Namun, hanya aku yang tidak terluka. Petir kini terdengar sangat keras.
Dia, memposisikan tubuhnya jatuh terlebih dahulu dan memelukku dengan sangat erat. Pada akhirnya, aku tak mengalami cedera. Sementara dia terluka cukup parah. Sempat aku dengar detak jantungnya yang sudah berhenti sekarang ini.
Aku tak sadarkan diri. Selama 3 hari.
Tiga hari yang lalu dikabarkan bahwa korban jiwa dari fenomena cumolonimbus sekitar 52 orang. Sangat mengejutkan serta wajar kalau ini perumahan. Tapi, aku masih tak terima bahwa salah satu dari korban jiwa itu adalah dirimu.
"Benar sudah cukup lama? Wah... maaf kalau kamu teringat hal itu ya?" Tanya dia. Menatapku risau.
"Tentu, tak apa. Malah aku jadi lega sedikit." Kataku.
Dia sudah menjadi temanku sejak kejadian itu. Sebuah peristiwa dimana kau menghilang dariku untuk selamanya dengan hadiah yang dulu kau berikan padaku.
Aku pergi ke tempat dimana kita pertama kali bertemu. Kau memberiku gelang saat itu. Untuk pertama kalinya seseorang sepertimu datang padaku. Ditempat favoritku sebagai teman pertama. Sebagai cahaya hatiku yang gelap.
Setiap hari minggu, aku pergi ke tempat pohon yang masih berdiri ditemani bangku yang terlupakan. Disana aku hanya duduk menikmati hari libur. Dan kau datang padaku.
Sekarang semua itu hanya kenangan saja. Yang membekas tanpa pasti apa itu sakit atau menghangatkan. Tanpa tahu apa ini yang disebut perpisahan.
Angin menerpa wajahku. Kini daun-daun berguguran. Saat itu pula, secara bersamaan kau hadir saat daun itu berkumpul dan mendarat di tanah. Aku mencoba menahan tangisku.
Kau mendekat tapi, aku tak bisa bergerak. Ada yang menahanku. Dan kau mengangkat tanganku agar kau bisa memberiku sesuatu yang telah lama aku cari. Gelang yang menyatukan kita.
Suasana menjadi berangin dan kau menghilang bersama dengan daun-daun itu. Aku tak bisa berkata apa yang sempat ingin aku sampaikan. Namun, kau hanya bisa memberi gelang ini tanpa sepatah kata pun dariku.
Aku duduk dan mencoba mencerna apa yang telah terjadi.
Aku sudah menahannya selama ini. Menahan semua tekanan yang ada dalam diriku. Aku tahu ini tidak baik. Aku tahu kau ingin aku terus tersenyum. Tapi, sekali ini saja. Kumohon maafkan aku yang tidak tegar ini.
Jika saja...
Jika aku bisa, aku ingin kembali ke kejadian itu. Aku ingin mengubahnya.
Jika saja...
Aku tak mencarimu di kala peristiwa itu terjadi.
Jika saja...
Ada hukuman berat untukku yang membuatmu pergi selamanya, aku tak akan lari darinya. Tapi, jika aku terus mengingatmu?
Aku mungkin lebih baik buta. Daripada teringat padamu yang mengorbankan nyawa untukku. Tapi, karena kebutaan sesaat itu jugalah yang membuat kita bertemu takdir ini.
Semuanya tumpah disini. Di bangku yang sudah terlupakan ini. Aku takut. Takut juga akan melupakanmu seperti pohon dan bangku ini.
Tapi, kau tetap memberi bekas dan barang yang sangat aku sayangkan untuk kau berikan padaku.
Bukankah kita sama dengan mereka? Sama dengan pohon dan bangku ini...