Merawatnya semalaman
---
" Pak Jarud, Pak Jarud. " aku berteriak ketika tiba didepan penginapan. Pak jarud membuka pintu dan hendak berbicara tapi langsung terkejut melihat aku dan seorang gadis dipunggungku. Tanpa aku perintahkan, Pak Jarud menyiapkan tempat tidur. Pak Jarud juga meminta tolong pada pengurus penginapan, seorang wanita berusia 40 an untuk mengganti pakaian gadis itu.
" Kok bisa hujan hujanan nak? Terus dia siapa? " tanya Pak Jarud sambil menyerahkan handuk pada ku.
" Dia teman ku Pak. " jawab ku sambil melap rambut ku dengan handuk.
" ya sudah, cepat ganti pakaian mu nanti kamu sakit " Pak Jarud terlihat penasaran. Sejak kapan aku punya teman, kira kira seperti itulah isi kepala Pak Jarud saat ini.
" Pak tolong panggilkan dokter atau bidan ya " aku meminta tolong pada Pak Jarud, sebelum menutup pintu kamar mandi.
" iya Nak " Sahut Pak Jarud.
Beberapa menit kemudian aku selesai mengganti pakaian. Aku keluar dan mendapati suasana dipenginapan tampak sepi. Pak Jarud pasti pergi memanggil dokter.
" Mas, " Aku menoleh dan wanita paruh baya itu keluar dari kamar gadis tadi.
" Gimana Bu? " Aku langsung bertanya.
" Saya sudah ganti pakaiannya Mas. Tapi kasurnya basah Mas. Dan badannya panas banget Mas.
" Ya udah Bu, nanti saya pindahkan ke kamar saya ajah Bu. Tolong masakin air panas Bu. " pinta ku
" Iya sudah Mas. " jawab Ibu itu.
" Maaf Mas, tapi saya tidak bisa tungguin. Saya harus pulang sekarang. " ujar ibu itu lagi sebelum aku berbalik. Aku mengikuti arah pandangan nya pada jam dinding diruangan itu.
" iya tidak apa apa Bu. Saya yang seharusnya minta maaf karena sudah merepotkan ibu. " ucap ku sesal.
" Iya Mas, kalau begitu saya pamit dulu. " ujar ibu itu dengan sopan.
" Iya Bu, hati hati " aku mengikuti ibu itu keluar.
" Hati hati Bu " ucap ku lagi ketika ibu itu membunyikan klakson motornya. Aku menunggu beberapa detik sampai ibu itu tidak kelihatan dari penginapan ku lalu aku masuk dengan terburu buru. Aku benar benar gelisah.
Aku membuka pintu kamar dan mendapati gadis itu terbaring pucat. Kasurnya basah begitu pula rambutnya. Aku menggendong nya dan membawahnya ke kamar ku. Terasa suhu tubuh gadis ini sangat panas. Aku meraba nadinya dan masih berdenyut. Aku juga menempelkan tanganku didadanya dengan hati hati, aku bisa merasakan jantungnya berdetak. (Begitu pula dengan ku)
" ah, syukurlah. " ucap ku spontan. Menepis segala pikiran yang menghantui ku tadi.
Setelah memastikan bahwa gadis itu masih hidup, akupun keluar dan mengambil air panas yang sudah disediakan oleh Ibu tadi dan handuk kecil untuk mengompres.
Aku mengompres keningnya dan juga tangannya. Aku membiarkan handuk itu menempel di keningnya beberapa menit, lalu aku mengambil handuk kering dan melap rambutnya. Aku mengulanginya beberapa kali sambil merabah suhu badannya.
" Panas nya belum turun. " gumamku
" Pak Jarud kok lama banget sih. " ucapku gelisah. Aku keluar dan mencari hp ku. Aku menemukan Hp dan langsung menghubungi nomor Pak Jarud. Terdengar suara operator memberitahukan bahwa nomor Pak Jarud tidak dapat dihubungi.
" ah, sial. " umpatku. Aku menaruh hp di meja dengan kasar.
Aku kembali ke kamar dan mengompresnya. Ia terlihat sangat pucat dan kurus. Tapi tetap cantik.
" Kamu pasti sudah melalui banyak hal yang menyakitkan. " Ucapku sambil mengelus pipinya yang pucat.
" Dingin. " Aku tersentak kaget, dan langsung menarik tanganku dari pipinya.
" Dingin" ucapnya lagi tapi matanya terpejam. Dia mengigau.
Aku menarik selimut dan menutupinya. Aku berhenti sejenak dan memandang nya, lalu aku mengecup pelan keningnya. Dan entah apa yang merasuki ku, tiba tiba aku merasakan sekujur tubuhku berkeringat. Dada ku bergumuruh, dan napas ku memburu. Tubuh ku menginginkan lebih. Aku perlahan mencium keningnya, matanya lalu turun ke hidung dan pipinya. Pikiran ku mengatakan hentikan, namun tubuhku tidak. Aku mengecup bibirnya, lalu perlahan mengisapnya lembut. Dan tanpa diduga, ia membalas ciumanku. Aku berhenti sejenak dan memandang nya, ia masih terpejam. Terlihat ia sedang mengecap ngecap bibirnya sendiri. Sepertinya ia tidak sadar.
" aku tidak boleh melakukan ini. " aku berbicara sendiri. Lama aku menatap nya, aku berperang dengan pikiran dan keinginan tubuhku. Tapi akhirnya aku kembali mencium nya. Tubuhku menginginkannya.
Aku melumat bibirnya, dan ia pun membalasnya walau masih dengan mata terpejam. Suara desahan nya, membuat ku semakin bersemangat. Aku menelusuri lehernya dengan permainan lidah ku dan tak butuh waktu lama aku sudah meninggalkan banyak bekas dilehernya.
Jduurrrrr jdreeeek
Suara guntur menggelegar disertai hujan deras, aku tersontak kaget. Aku menghentikan kegiatan terlarang ku ini. Dan ia pun terbangun. Suasana seketika hening, hanya terdengar suara hujan dan angin kencang diluar. Kami saling menatap lama. Ia masih menatap ku, tanpa mempertanyakan posisi ku yang bisa berada diatasnya. Aku pun tidak mengatakan apapun dan masih enggan bangun, karena tubuhku menolak. Dan sepertinya ingin melanjutkan nya.
" kau? Aku dimana? " tanya nya dengan suara serak. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh kamar.
" Kau ada di penginapan ku. " jawabku tanpa bangun dari atasnya, masih bertumpuh pada tanganku.
" Tadi kau pingsan jadi aku membawah mu ke sini. " lanjut ku
" Maaf sudah merepotkan. " ujarnya.
" Tidurlah " Aku merabah keningnya, masih panas.
" Aku akan mengganti airnya " ujarku. Aku pun bangun, dengan sedikit salah tingkah karena ia terlihat biasa biasa saja. Ia bahkan tidak mempertanyakan pakaiannya yang sudah terganti. Atau sedari tadi ia memang sudah sadar? Entahlah? Memikirkan hal itu membuat ku marah.
" Aku lapar " ujarnya pelan, sesaat setelah aku turun dari ranjang.
" baiklah, tunggu sebentar. Aku akan membawahkan makanan untuk mu " ucapku, sambil mengambil wadah air dari meja.
Aku meninggalkannya dikamar, lalu menuju dapur. Aku mengobrak abrik dapur sebentar, lalu berhenti ketika aku menemukan yang aku cari. Bubur instan. Sebenarnya, aku tidak mengobrak abrik dapurnya. Heheh
Aku membaca panduan memasaknya, karena aku belum pernah memasak bubur instan ini. Aku tau bubur ini karena pernah melihat di supermarket. Setelah memahami panduannya, aku pun mulai menyiapkan mangkuk. Aku mengikuti panduan yang tercantum dikemasannya. Setelah yakin buburnya sudah jadi, aku mencicipinya sedikit. Rasanya lumayan. Tapi sayangnya, aku tidak menyukai nya.
Aku membahwa bubur dan juga segelas air hangat dengan nampan ke kamar. Ketika aku masuk, ia tertidur. Atau pura pura tertidur. Entahlah.
Aku meletakkan nampan di meja, lalu aku membangunkannya.
" Hei, bangun." Aku merabah keningnya lagi. Masih panas.
" Ayo makan dulu. " ucapku saat ia membuka matanya. Ia bangun dan bersandar pada ranjang.
Aku langsung berinisiatif menyuapkannya makanan dan ia pun tidak menolaknya. Kami hanya diam saja selama aku menyuapinya. Hanya suara guntur dan hujan yang terdengar. Mataku tertuju pada lehernya yang memerah. Aku menelan ludah ku. Sepertinya aku harus menenangkan diriku.
" Kau bisa makan sendiri kan? Aku mau menelpon sebentar " Aku memberikan nampan padanya. Aku tiba tiba teringat Pak Jarud yang belum juga kembali. Ia mengambil nampan, dan aku pun segera keluar dari kamar.
Aku mencoba menghubungi nomor Pak Jarud tapi belum sempat aku memencet nomornya, Pak Jarud membuka pintu.
" Pak Jarud.. " spontan aku memanggil namanya.
" waduh, maaf nak. Saya lama, masih tunggu hujan redah dulu tadi. Eh malah hujan nya semakin deras. Ini saya dipinjamin mantel sama bidan. " jelas Pak Jarud panjang lebar.
" Bidannya mana Pak? " tanyaku
" Waduh nak, ini udah malam banget. Saya kasihan sama bidannya harus bolak balik, jadi saya cuma minta resep obatnya saja nak. " jelas Pak Jarud lagi.
" Ya udah gpp Pak. Makasih ya Pak. " Aku mengambil obat yang diberikan Pak Jarud dan membaca sekilas resepnya.
" Bagaimana keadaannya nak? " tanya Pak Jarud kemudian.
" Tadi sudah saya kompres, jadi demamnya sudah berkurang Pak. " jelasku pada Pak Jarud.
" ya udah, Pak Jarud ganti dulu. " ujarku, aku melihat pakaian Pak Jarud sedikit lembab.
" Iya nak. " Pak Jarud menjawab.
Aku segera membahwa obat ke kamar. Ia sudah selesai makan dan kini ia menutup seluruh tubuhnya dengan selimut. Aku memanggilnya, dan ia membuka selimut.
" Bagaimana bisa kau langsung tidur setelah makan? Ayo minum obat dulu." ujarku seperti seorang ayah.
Ia hanya diam. Ia membuka mulutnya saat aku memberikan obat. Lalu aku memberikan air padanya. Selesai minum ia langsung beringsut kedalam selimut tanpa mengatakan apapun padaku.
" Hei, kau harus duduk sebentar. " ujar ku sambil membuka selimutnya.
" Dingin, aku kedinginan. " gumamnya hampir tak terdengar.
Aku merabah keningnya, lalu tangannya. Semakin panas. Aku melihat nya gemetaran. Aku panik.
Aku menaruh gelas dimeja dan tanpa pikir panjang aku membuka baju ku dan langsung memeluknya. Aku memasukkan tanganku kedalam baju nya dan mengusap usap punggung nya. Aku mulai menciumi lehernya, berharap ia merasakan kehangatan dari tubuhku. Aku bahkan lupa kalau ada Pak Jarud diluar, bagaimana jika Pak Jarud masuk dan melihat hal ini.
Lama aku menciumnya dan mengusap bahu punggung nya. Akhirnya, perlahan ia tidak gemetaran kedinginan seperti tadi. Aku juga bisa merasakan tubuhnya mulai hangat. Aku bisa merasakan bahwa ia sudah terlelap sekarang. Aku tidak melepaskan pelukanku, aku semakin mempererat pelukanku hingga aku pun tertidur.