Malam semakin pekat kala kutengok ke luar. Lampu-lampu di sekitarku tak benderang sempurna hingga ke sana. Jam persegi di dinding lapang itu mengingatkanku akan menit-menit berlalu sedari aku menunggu. Sedetik lagi, terlihatlah dia menuju lagi ke sisiku duduk sembari menghadirkan secangkir ‘robusta’ lengkap dengan kue-kuenya.
Kuyakin betul, adik-adiknya masih mengintip atau menguping kami, entah darimana? Dari balik sekat menuju dapur mewah itu? Dari sudut kamar yang tak jauh dari ruang tamunya ini? entahlah?
Kuhirup asap kopi itu sesaat, sebagai bukti bahwa aku tenang meski dia tatap wajahku sedari mempersilakanku meminum itu. Kuminum seteguk dalam tak kalah tenang, sebagai bukti bahwa aku tak gugup meski dia hadiahkan senyum tipis pula di bibirnya sana. Kutaruh cangkir itu kembali ke mejanya, lantas tak kutahu lagi apa yang hendak kukambing-hitamkan.
🦋🦋🦋
Bolehkah kuumbar ini?
Bahwa, aku malu ditatap kamu.
Sebentar-sebentar, ingin cari tenang.
Serta-merta, menyerta tanya: takkah aku jelek di depanmu? Bagaimanakah aku kamu lihat?
🦋🦋🦋
“Baru kali ini ke rumahku,” ucap gadis itu menutup kelu, senyum itu pun masih dia tunjukkan.
“Iya,” balasku. Apalagi yang mesti kusambungkan? Sekali kutatap matanya, rambut hitam lurusnya, bibir manisnya… tiada lagi yang kumau selain itu.“Bisakah kamu panggil lagi adik-adikmu ke sini?” sambungku.
“Kenapa?”
“Aku sedang gugup.”
Dia tertawa kecil. “Mau tahu sesuatu?” tanyanya kemudian, usai tawa itu hilang dan berganti senyum malu sebagaimana aku tadi.
“Apa?”
Dia dekatkan bibirnya ke sebelah telingaku, “Aku pun gugup,” bisiknya.