secuil sop buntut:
"Berengsek. Bajingan."
Beberapa umpatan yang dialamatkan pada sosok tadi menguar dari ranumnya. Astaga, sumpah. Pemuda itu sudah mencuri ciuman pertama Nara kemarin—meski secara teknis Nara yang memulai—dan kini juga terjadi untuk kali kedua.
Menghela napas kelewat berat, Nara jelas butuh penjelasan dari sosok sialan tadi sebelum dirinya kehilangan presensi karena kabur dari tanggung jawab.
Nara bergegas keluar dari toilet. Dan tepat saat tangannya menyentak daun pintu, kejutan dari pribadi di balik pintu toilet jelas membuat gadis itu terkesiap.
Pemuda yang telah Nara bunuh di dalam kepalanya itu kini berdiri dengan kesan canggung luar biasa.
Benteng pertahanan diri yang secara alamiah alam bawah sadarnya bangun nyata membuat Nara refleks menyilangkan lengan dan berdiri angkuh. Sorotnya menikam tajam manik rusa memikat pemuda di depannya. Ya, harus Nara akui pemuda itu punya paras rupawan.
"Hai."
Nara melotot. Bagaimana bisa dari semua kalimat pembuka konversasi malah yang paling sederhana itu menguar di atas perang dingin yang Nara sulut?
Nara hendak mencecar pemuda itu, namun nyatanya dirinya tersadar di detik berikutnya telah menangkap raut gelisah dari paras pemuda di depannya. Maka kembali menghela napas, kali ini lebih rileks dengan bahu yang mulai melorot santai, "Hm?"
"A-Aku minta maaf. Sungguh aku tidak tahu apa yang aku laku—"
Jeon Jungkook, pemuda itu berhenti berbicara. Birai menggoda itu jelas menyadari kalimatnya barusan benar-benar melucuti pertahanan diri sendiri.
Sialan. Ini terasa tidak benar. Namun juga tidak bisa disalahkan.
Sejujurnya, satu praduga yang mematut di dalam benak Jungkook sungguhan jelas membuat pemuda itu hampir kelimpungan diserang frustrasi. Nyatanya, itu memang sangat mengerikan hingga Jungkook takut memastikan.
"K-Kau..."
Nara menaikkan sebelah alis. Jelas menilai seperti apa tingkah pemuda di depannya. Memilih enggan membuka mulut sedari tadi, Nara rasa ia tahu bahwa hal itu cukup untuk membuat pemuda ini menjadi gugup.
Jungkook menutup mata. Hampir tidak sanggup meloloskan pertanyaan itu dari saring ranumnya.
"Kau tidak.. hamil, kan?"
Ragu sekali, hingga intonasi kalimat berubah amat rendah dan hampir tidak terdengar.
Nara jelas melotot. Suka kaum lelaki saja tidak, bagaimana dirinya bisa dikatakan hamil? Apa kepala pemuda itu baru saja digadaikan demi mi instan?
.
.
.
Putri bungsu sekaligus suksesor Kim Group, perusahaan dengan profit tertinggi se-Asia ternyata menyimpan rahasia besar bahwa dirinya mengidap penyakit penyimpangan seksual. Jeon Jungkook, Tuan Muda penerus Golden Hit Group yang merupakan pemegang posisi ke-2 secara tidak sengaja mengetahui fakta tersebut.
Bak dipermainkan takdir, Tuan Muda Kim Group sekaligus kakak sang gadis meminta Jungkook untuk "menjaga" sang adik. Saat benih-benih perasaan mulai tumbuh di hati si pemuda, kenyataan selalu berkali-kali menamparnya manakala gadis pujaan memperlihatkan ketertarikan pada seorang perempuan.
Namun mantan cassanova di SMA-nya ini jelas tidak mau menyerah. Jeon Jungkook akan berusaha menyembuhkan Kim Nara, sekaligus menjadikan gadis itu miliknya.
Mari selami takdir menyebalkan yang mengikat virgo-virgo ini.
___________________________________________
dikutip dari novelku "Virgo", masih on going, langsung cek profil ya 😊
jgn lupa mampir dan tinggalkan jejak 💕💕
⚠️bahasa baku
⚠️latar k-pop
⚠️slow update