Di malam yang begitu indah, di bawah sinar rembulan yang menyinari bumi di malam yang sangat sunyi. Terdengar suara tangisan seorang gadis.
Gadis itu adalah Ayyara, gadis yatim piatu yang kini hanya tinggal di sebuah panti asuhan. Usianya masih 17 tahun.
Ayyara adalah gadis yang pendiam dan selalu mengurung diri dari siapapun, membuat nya tak memiliki teman sama sekali sejak kecil hingga sekarang.
Dari kecil hingga sekarang Ayyara juga selalu di bully oleh teman-teman sebayanya.
Ayyara duduk seorang diri di bangku yang ada di bawah pohon di belakang panti, dia menangis karena dia di persalahkan akan hilangnya uang dari teman nya di sana.
" semua menuduhku " ucapnya sembari terisak.
Seketika mata Ayyara terbelalak saat di hadapan nya ada sebuah buket bunga mawar merah yang di sodorkan padanya.Ayyara menghapus air mata nya dan menatap bingung siapa yang memberikan bunga itu padanya, orang yang menyodorkan nya tak terlihat karena tertutup oleh bunga itu.
Ayyara tak bergeming, tak berani menerima bunga itu sebelum dia melihat siapa pemberinya. Karena tak kunjung di ambil, perlahan-lahan bunga itu bergerak dan memperlihatkan wajah tampan yang tengah tersenyum dan berlutut di hadapan Ayyara.
" Kamu siapa? " tanya Ayyara bingung.
Pria itu belum mau menjawab namun dia tetap tersenyum dan sekali lagi menyodorkan buket itu pada Ayyara.
Ragu-ragu Ayyara menerima nya dan langsung membuat pria itu berdiri dan duduk di sebelahnya.
" namaku Fandy. " jawab nya tanpa melihat ke arah Ayyara dan menatap lurus ke depan.
" A-aku.. " ucapan Ayyara terhenti.
" kamu Ayyara, kan? " ucap Fandy menyela kata dari Ayyara yang ingin mengenalkan dirinya juga.
Ayyara mengangguk bingung, bagaimana bisa pria yang pertama kali dilihat nya ini bisa mengenalnya, siapa sebenarnya dia. Ayyara begitu pusing memikirkan nya.
" Jangan bersedih hanya karena masalah kecil, meskipun mereka semua tak percaya tapi aku selalu percaya padamu" ujar Fandy.
" Selalu? " batin Ayyara.
Bagaimana mungkin Fandy selalu percaya padanya padahal ini adalah awal pertemuan mereka berdua. Ayyara terlihat mengernyit semakin bingung.
" pergilah tidur, ini sudah larut. Tidak baik untuk mu jika selalu begadang dan di luar seperti ini " ucap Fandy.
Hati Ayyara merasa tersentuh, baru kali ini ada orang yang sangat pengertian padanya dan juga peduli akan kesehatan nya. " Hm.. " Ayyara mengangguk dan segera beranjak untuk pergi membawa buket bunga dari Fandy.
Ayyara menoleh setelah beberapa langkahnya, Dia tersenyum kecil melihat Fandy yang juga tersenyum menatap nya. " sebenarnya siapa Fandy? " batin Ayyara bingung.
_________
_______
Lambat laun hubungan Ayyara dan Fandy semakin dekat, bahkan Fandy sering datang secara tiba-tiba menemui Ayyara.
Seperti pagi ini, Ayyara terkejut gara-gara Fandy mengagetkan nya di saat dia sedang menyiram tanaman di belakang panti.
" Doorrr!!
Fandy menepuk kedua bahu Ayyara dengan kilat membuat Ayyara terkejut dan melepaskan gayung yang dia bawa dan air nya pun tumpah di hadapan nya.
" Akk!! " teriak Ayyara.
Ayyara melonjak cepat menatap Fandy yang kini malah terpingkal meledek Ayyara yang sangat terkejut. " hahaha.... lihatlah wajahmu... hahaha!! " tawa Fandy dengan sangat keras.
Kesal Ayyara memukuli Fandy dengan tangan kecilnya, Ayyara begitu geram dengan keisengan yang di lakukan oleh Fandy. " Dasar... iseng... rasain nih..!! " Ayyara terus memukuli Fandy hingga Akhirnya mereka berdua tertawa bersama dengan bahagia.
Mengenal Fandy membuat Ayyara menjadi gadis yang periang, dia selalu tersenyum.
Tak jauh dari mereka berdua ada dua gadis yang menatap bingung Ayyara. " apa Ayyara sekarang udah gila? " ucapnya.
" dia bicara dengan siapa? " ucap yang satu lagi.
Gadis yang satunya pun mengangkat bahunya tak tau, mereka berdua tak melihat siapapun di sana kecuali Ayyara yang terus memukuli udara dengan kedua tangan nya sembari tertawa dan berlarian kecil.
Keduanya berjalan mendekati Ayyara karena penasaran, dan langsung bertanya pada Ayyara sembari mengedarkan pandangannya memeriksa tempat itu, yang tetap saja tak ada siapapun.
" Ayyara! kamu mulai gila, Ya? " tanyanya to the poin.
Ayyara menoleh dengan cepat, menurunkan tangannya dengan pelan. " maksudnya? " Ayyara mengernyit bingung.
" kamu bicara dengan siapa? " tanyanya lagi.
" dengan Fan..... " ucapan Ayyara terhenti saat menoleh ke arah Fandy yang ternyata sudah hilang dari sana. " loh.. Fandy dimana? " bingung Ayyara.
" Fandy? Fandy siapa? di sini nggak ada yang namanya Fandy. jangan ngaco deh loh! " sinis nya.
Ayyara terdiam, memang benar tak ada yang namanya Fandy yang tinggal di panti ini, tapi Fandy bilang dia tinggal di dekat sini.
" Fandy... Fandy... " teriak Ayyara terus mengayunkan kakinya sembari mengedarkan pandangannya mencari Fandy.
" beneran sudah gila tuh anak " kedua gadis tadi menyunggingkan bibir nya dengan sinis, menuduh Ayyara telah gila sekarang.
_______
_______
Satu minggu Fandy tak datang menemui Ayyara, membuat nya sedih dan kembali kesepian. Seperti biasa Ayyara akan duduk di tempat pertama kali Fandy datang membawakan bunga untuk nya, berharap Fandy akan datang lagi menemuinya.
" Fandy, kamu dimana? " ucap Ayyara sedih.
Kebahagiaan yang Fandy berikan membuat Ayyara terlupa akan penderitaan dan kesepian nya, bahkan kekaguman dan juga sebuah rasa mulai tumbuh untuk Fandy.
Hari itu Fandy tetap tak datang.
Dan malam nya Ayyara kembali datang dan duduk menunggu Fandy hingga larut malam.
Ayyara menyandarkan tubuhnya di punggung bangku menutup matanya sekejap.
Hidung Ayyara menghirup aroma mawar yang sama dari Fandy, sontak Ayyara membuka mata dan tersenyum lebar.
Ayyara mengacuhkan buket bunga itu dan beranjak menubruk Fandy dan memeluknya dengan erat. Air mata Ayyara pun tumpah membasahi baju yang Fandy kenakan.
" kamu darimana saja, Fandy? " tanyanya dengan terisak.
" Heyy " Fandy melepaskan diri dari Ayyara, menghapus air mata Ayyara dengan lembut. " ada dan tidak adanya diriku kamu tidak boleh lemah seperti ini " ucapnya.
Lagi-lagi Ayyara tak menghiraukan Perkataan Fandy dan kembali memeluknya. " Jangan pernah pergi dariku, aku tak mau sendiri " Ayyara kembali menangis.
Fandy Pasrah, membiarkan Ayyara memeluknya hingga dia sendiri yang melepaskan nya dan Fandy pun membalas pelukan nya.
" seandainya bisa, Ayyara... Aku juga ingin selalu bersamamu, menjadi alasan mu tersenyum dan bahagia " ucap Fandy yang sontak membuat Ayyara melepaskan nya.
" maksudnya? "
" Aku minta padamu Ayyara, ada dan tidak adanya aku, kamu harus tetap bahagia dan tersenyum. " ucap Fandy.
Bukan hanya Buket bunga mawar yang Fandy bawa, melainkan kotak kecil berwarna merah terbuat dari beludru juga Fandy bawa.
" aku ingin kau memakai nya untuk ku " pinta Fandy menyodorkan cincin dari kotak itu kepada Ayyara. Ayyara mengangguk, seketika Fandy memakaikannya di jari manis milik Ayyara.
" suatu saat kita pasti akan bersama, selama aku pergi jangan kembali menjadi Ayyara yang pendiam dan murung, jadilah Ayyara yang ku kenal periang dan juga selalu tersenyum. Jika aku tak kunjung datang, lihatlah bintang di atas sana yang paling terang itulah diriku " ucap Fandy seraya menunjuk ke atas langit dengan jarinya.
Ayyara mendongak menatap langit dan saat itu juga Fandy mencium kening Ayyara. Ayyara merasakan kehangatan dan menutup matanya. Namun saat dia membuka mata ternyata Fandy sudah pergi.
" Fandy.. Fandy.. " panggil Ayyara berkali-kali.
" Fandy!!.. " teriak Ayyara namun tetap tak ada jawaban sama sekali.
Ayyara terduduk lemas di bangku dan kembali menangis sembari memeluk buket bunga dari Fandy. " Fandy,, jangan pergi. "
______________
____________
satu bulan berlalu, meskipun Fandy tak lagi datang, kini Ayyara menjadi Ayyara yang di inginkan oleh Fandy. " cepatlah kembali Fandy, aku sangat merindukan mu " gumam Ayyara.
Ayyara melihat teman-teman sebayanya yang berkerumun di gerbang, Ayyara acuh tak perduli dan kembali dengan kegemarannya merawat bunga-bunga yang kini sudah bermekaran.
Gayung yang Ayyara bawa terjatuh saat matanya melihat pria yang sangat dia rindukan. " Fandy." lirih Ayyara.
Pria itu berjalan mendekat namun langkah nya terganggu oleh teman-teman Ayyara yang selalu mengerubunginya.
Pria itu berhenti di depan Ayyara, pria itu menatap Ayyara aneh.
Sedangkan Ayyara yang tak mampu menahan kerinduannya langsung menubruk pria itu namun pria itu langsung mendorong Ayyara.
" pergi! siapa kamu beraninya memeluk ku!" ucapnya dengan kasar.
Air mata Ayyara berhasil lolos. " Fandy. " kecewa Ayyara karena Fandy kini tak lagi mengenalnya.
Fandy melenggang pergi.
Ibu panti mendekati Ayyara. " dia adalah Mas Fandy Alfaro, anak dari pemilik panti ini. Beliau kesini karena rasa bersyukur nya setelah dia mengalami koma hampir dua bulan. Dan baru satu minggu ini beliau sadar dan sembuh. " ucap Ibu panti.
Ayyara terdiam. " Ka-kalau begitu berarti.. yang kemarin menemui ku.. " tersentak Ayyara.
Perasaan yang Fandy berikan kemarin sama saja seperti mimpi indah bagi Ayyara. Ayyara menatap sedih punggung Fandy yang ternyata sekarang sudah menjadi orang asing baginya.
__________🙏🙏🙏🙏🙏
Terima kasih sudah mampir, dan terima kasih atas dukungan nya... 🙏🙏🙏🙏