BERKAH PADA MAKANAN
Ummu Malik mempunyai minyak samin yang diletakkan
pada sebuah tempat yang terbuat dari kulit unta. Pada suatu
hari, tiba-tiba ia ingin sekali memberikan minyak samin itu
kepada Rasullullah. Maka tanpa pikir panjang lagi diberikan
semua minyak samin yang dimilikinya kepada Rasulullah.
Tidak beberapa lama kemudian, datang anak Ummu
Malik meminta minyak samin untuk lauk pauk. Wanita itu
menjelaskan kepada anaknya bahwa minyaknya telah habis.
Namun anak itu tidak mau mengerti dan ia terus menangis
karena keinginannya belum terpenuhi.
Melihat tangis anaknya, Ummu Malik menjadi bingung.
bagaimana ia mendapatkan minyak samin lagi, sedang
minyak miliknya telah diberikan kepada Rasullullah.
Dengan pikiran bingung, iseng-iseng ia melihat tempat
minyak tersebut untuk lebih meyakinkan anaknya bahwa
minyak itu telah habis.
Tetapi alangkah terkejutnya ketika Ummu Malik melihat
tempat minyak samin itu masih penuh isinya. Seakan tidak
percaya dengan penglihatannya, dicelupkan ujung jarinya
ke dalam minyak itu. Ternyata minyak itu memang benar
benar ada dan memenuhi tempatnya. la buru-buru
mengambil secukupnya untuk diberikan kepada anaknya.
Dengan penuh rasa syukur, Ummu Malik menggunakan
minyak itu untuk keperluan sehari-harinya. Namun ia
semakin heran dan tak mengerti tentang kejadian yang
dialaminya. Minyak samin yang setiap hari diambilnya, tetapi masih tetap tidak berkurang isinya.
Rasa heran itu lama kelamaan menjadi rasa penasaran. Seberapa banyak sebenarnya isi minyak itu? Tanpa pikir panjang lagi, ditakarlah minyak itu oleh Ummu Malik dengan memakai takaran lain, lalu diletakkan lagi di tempatnya semula.
Sejak minyak itu ditakar dan dipergunakan setiap hari,
kini makin lama makin berkurang dan akhirnya habis sama
sekali.
Kejadian yang dianggapnya sangat aneh dan menakjubkan itu kemudian diceritakan kepada Rasullullah. Beliau tersenyum mendengar penjelasan Ummu Malik.
"Seandainya engkau tidak menguras dan menakarnya.
minyak samin tersebut dapat engkau gunakan untuk
keperluan hidupmu selamanya," kata Rasullullah.
Demikianlah kejadian aneh dan mengherankan yang berhubungan dengan Rasullullah. Hal lain yang terjadi dengan mukjijat Rasullullah adalah kejadian yang dialami oleh keluarga muslim yang taat beribadah, yakni Abu Thalhah dan istrinya Ummu Sulaim.
Seperti yang diriwayatkan oleh Bukhari dari Anas bin Malik. Abu Thalhah berkata kepada Ummu Sulaim;
"Aku mendengar suara Rasullullah sudah lemah sekali. dan ini menunjukkan bahwa beliau dalam keadaan lapar. Apakah sekarang engkau mempunyai makanan untuk beliau?"
"Ya. Aku masih mempunyai sepotong roti," jawab ummu Sulaim, istri Abu Thalhah. Kemudian roti yang tinggal sepotong itu dibungkus dan
diberikan kepada Rasullullah oleh Ummu Sulaim, saat itu Rasullullah tengah berada di masjid bersama para sahabat
yang lain. Ketika berada di hadapan Rasullullah, Ummu Sulaim menyerahkan bungkusan yang dibawanya.
"Apakah engkau telah diperintahkan oleh Abu Thalhah?" tanya Rasullullah lebih dulu sebelum menerima bungkusan
itu.
"Benar, ya Rasullullah. Aku diperintahkan oleh suamiku datng kemari," jawab Ummu Sulaim.
"Apakah engkau ke sini untuk menghidangkan makanan buat kami?" tanya Rasullullah lagi. "Benar. Kedatanganku kemari adalah untuk hal itu."
Tanpa diduga oleh Ummu Sulaim, Rasullullah mengajak semua sahabat yang berada dalam masjid itu untuk ikut makan bersama-sama ke rumah Abu Thalhah. Ummu Sulaim terkejut dan kebingungan, karena tidak
menyangka Rasullullah akan mengajak semua sahabat
untuk makan bersama di rumahnya.
Maka cepat-cepat Ummu Sulaim pulang untuk memberi tahu suaminya, ia bingung karena di rumah tak ada makanan sedikit pun kecuali sepotong roti yang telah dibungkus dan sedianya akan diberikan kepada Rasullullah. Roti itu pun masih berada di tangannya.
"Rasullullah hendak ke mari bersama-sama dengan para sahabat yang lain, sedangkan kita sudah tidak mempunyai makanan untuk dihidangkan kepada mereka, kecuali sepotong roti ini," kata Ummu Sulaim setelah tiba di rumah.
"Allah dan Rasul-Nya yang mengetahui," jawab Abu
Thalhah dengan tenang.
Ketika rombongan Rasullah itu tiba di rumahnya, Abu Thalhah pun menyambut mereka dengan wajah gembira
dan dipersilakan masuk ke rumahnya.
Rasullullah kemudian memanggil ummu Sulaim dan
bertanya, "Apakah engkau mempunyai makanan?"
"Hanya sepotong roti, Rasullullah," jawab Ummu Sulaim
apa adanya.
Rasullullah kemudian menyuruh Ummu Sulaim untuk
mengaduk roti yang hanya sepotong itu dengan sebaskom
air dan diberi penyedap secukupnya.
Setelah semuanya siap, Rasullullah mendekati baskom
tersebut dan membacakan dengan bacaan maasyaa Allah
(sesuatu yang dikehendaki oleh Allah).
Rasullullah kemudian memanggil para sahabat untuk
mendekati beliau sambil membawa piring kosong.
"Mendekatlah ke mari sepuluh orang," kata Rasullullah.
Dan kesepuluh orang itu pun mendapat jatah satu piring
roti yang diambil dari baskom itu. Setelah itu, beliau
memanggil sepuluh orang lagi, begitu seterusnya sampai
sahabat yang berjumlah kurang lebih dari tujuh puluh atau
delapan puluh orang itu mendapat jatah sampai kenyang,
sehingga tidak ada orang yang merasa kurang diantara
mereka.
Dan legalah hati Ummu Sulaim dan Abu Thalhah.
Sebagai tuan rumah, ia terhindar dari rasa malu karena tidak
memiliki sesuatu yang dapat dihidangkan kepada para
tamunya. Semua itu berkat pertolongan Rasullullah dengan
kemukjijatannya.