Malam. Langit yang gelap berubah menjadi terang ketika sambaran petir yang hebat muncul. Bahkan sebelum hal itu terjadi, tanah telah bergemuruh dan bergetar keras. Saat sambaran petir bertabrakan dengan tanah, itu tidak menimbulkan kerusakan yang mengerikan. Sebaliknya, itu benar-benar menghilang.
Saat ini, tepatnya di Pegunungan Naga Hitam. Seorang pria paruh baya sedang di kepung oleh puluhan ribu petarung. Wajahnya yang acuh tak acuh menatap orang-orang di depanya dengan tajam.
"Senior Dewa Perang, jika tidak ingin berakhir disini maka serahkan benda pusakanya."
"Xi Tian, kau hanya sendiri, tidak akan bisa mengalahkan kami, kami memiliki puluhan ribu petarung hebat. Jika menyerangmu secara bersamaan, kau pasti akan kalah."
Satu demi satu orang-orang di depanya mulai membujuk pria paruh baya itu. Namun semua itu tidak membuat pria paruh baya di depan-nya mengeluarkan sedikit pun kata-kata di mulutnya. Akan tetapi ia hanya tersenyum kepada mereka dan dengan cepat mengangkat salah satu tangan-nya.
* bbzzz *
Terkejut! Melihat sambaran petir hebat mengarah pada pria paruh baya di depannya. Tubuh mereka seolah-olah bergetar keras dan perasaan yang tidak biasa menghantuinya. Bukan karena sambaran-sambaran petir itu, namun mereka seolah merasakan akan kedatangan senjata yang sangat mengerikan datang ke medan pertempuran.
Ketika puluhan ribu petarung mulai dipenuhi oleh rasa ketakutan yang kuat. Pria paruh baya itu menatap mereka dengan senyuman di bibirnya dan menoleh ke langit.
Sambaran-sambaran petir itu tidak membuat pria paruh baya di depanya ketakutan. Sebalinya, itu seolah-olah di tangkap dengan salah satu tangan-nya.
Tepat sebelum sambaran petir meledak dan menghilang. Sebuah cahaya terang muncul di telapak tangan-nya dan membuat puluhan ribu orang kehilangan pandangan.
Sekali lagi, setelah orang-orang itu menatap pria paruh baya di depanya, mereka dikejutkan dengan sebuah senjata yang ada di salah satu lengan pria itu.
"Tombak Dewa Naga Berdarah!"
Mereka tidak pernah menyangka. Sambaran petir itu bukan disebabkan karena amarah alam. Namun karena seseorang di depan mereka yang sedang mengeluarkan senjata yang sangat dasyat "Tombak Dewa Naga Berdarah."
* booom *
Tombak Dewa Naga Berdarah merupakan senjata yang sangat mengerikan. Hal itu terlihat ketika pria paruh baya di depanya mengayunkan Tombak Dewa Naga Berdarah tersebut, itu membuat ledakan yang sangat dasyat dan daya hancur yang besar. Setidaknya itu membuat ribuan nyawa hilang dalam sekejap, yang dimana setiap nyawa merupakan jenius dari para jenius.
"Bagaimana mungkin?"
Bagi mereka yang tersisa, hanya rasa ketakutan yang ada di hadapan mereka. Tidak habis pikir, Tombak Dewa Naga Berdarah akan semengerikan ini.
"Tidak bisa. Sudah terlanjur. Mari kita serang bersama."
Tidak jatuh dalam keputus-asaan. Seorang petarung mulai mengeluarkan beberapa patah kata dan itu membuat mereka bangkit kembali. Mereka tau walaupun mereka meminta ampun kepada pria paruh baya itu, namun pada akhirnya mereka akan mati juga karena meraka tau sipat pria di depan mereka.
"Bodoh!..."
Tepat sebelum pria paruh baya itu melanjutkan perkataanya. Dia mengangkat Tombak Dewa Naga Berdarah dan bersiap untuk maju dan menyerang kembali.
"...Baiklah, biarkan Tombak Dewa Naga Berdarah ini merasakan percikan darah kalian."
Untuk yang kedua kalinya tanah kembali bergemuruh dan bergetar keras. Langit seolah-olah marah besar dan mengeluarkan sambaran-sambaran petir yang dasyat.
Beberapa langkah yang telah di ambil pria paruh baya, membuat puluhan ribu petarung hebat di depanya ketakutan dan mundur perlahan-lahan.
Tidak lama, sambaran petir merah muncul dan seolah mengelilingi Tombak Dewa Naga Berdarah. Jika petir merah itu benar-benar mengenai orang-orang itu, mungkin itu tidak akan membuat kesempatan bagi mereka untuk hidup. Namun itu tidak berguna untuk pria paruh baya.
Menghembuskan napas ringan, pria paruh baya itu tiba-tiba menghilang dari tempat seharusnya berada. Puluhan ribu orang yang terkejut melihat kejadian ini, benar-benar tidak mengetahui dimana pria paruh baya itu berada.
"Aagghh!"
Mencari dan mencari dengan pandangan mereka, sama sekali tidak menemukanya. Hingga saat beberapa orang berteriak dan langsung jatuh, akhirnya mereka menemukan keberadaan pria paruh baya itu.
"Maju! Apapun yang terjadi, kita serang bersama-sama."
Sambaran petir merah yang tadinya hanya sedikit mulai bertambah. Dalam beberapa ratus meter di sekeliling pria paruh baya itu, petir merah terus bergesekan dengan udara di sekitarnya. Namun itu tidak membuay luka sedikitpun pada pria paruh baya itu.
"Gelombang Halilintar Merah."
Melihat puluhan ribu petarung hebat yang mengeluarkan jurus andalan mereka dan maju bersama-sama. Pria paruh baya itu hanya menebaskan Tombak Dewa Naga Berdarah miliknya. Seketika, sambaran petir merah yang mengelilingi Tombak Dewa Naga Berdarah langsung menyebar dan membuat gelombang petir merah yang besar dan semakin besar.
Gelombang petir merah itu mulai bergesekan dengan udara, karena saking cepatnya bahkan ada dari beberapa yang membuat pecahnya ruang dan waktu. Bagaikan lubang hitam, sebelum robekan ruang dan waktu itu menutup kembali, itu menarik apa saja yang ada di sekitarya.
*Beberapa menit kemudian.
Pegunungan Naga Hitam yang merupakan salah satu pegunungan indah di dunia ini, berubah menjadi Pegunungan Kematian. Puluhan ribu petarung hebat di dunia, hanya dalam beberapa menit mati tanpa tersisa sedikitpun.
Menghembuskan napasnya kembali, pria paruh baya itu membalikkan badannya dan berjalan menjauh dari Pegunungan Naga Hitam.
Dia adalah salah satu petarung hebat di dunia petarung, yang mendapatkan julukan dewa.
"Dewa Perang, Xi Tian"
__________
* Ini hanyalah Spoiler dari Novel "World of Fighters". Novel ini di buat oleh 'Rifal IM' yang akan rilis dalam waktu dekat.