Siang itu pas jam pulang sekolah, terlihat Wahyu memandangku dari kejauhan dan perlahan menghampiriku, sedangkan aku masih berdiri kedinginan di pinggir teras gedung kelas IX D . “ sejak kapan kamu disini? “ sapanya dengan lembut, saat melihat aku menggigil lalu dia melepaskan sweeternya dan mengenakannya ke badanku, “ trimakasih,, “ balasku dengan senyuman. Pasti kalian bertanya-tanya siapa Wahyu itu, dan kenapa dia perhatian sekali sama aku, baiklah.. wahyu adalah pacar pertamaku, saat itu aku masih duduk di smp kelas IX, dan kami satu kelas. Dia memang baik, saat awal kami pacaran, tapi suasana berbeda saat dia aku kenalkan dengan sahabatku, namanya Cika . sebenarnya sahabatku ada banyak, yaitu Oliv, Aya, Yana, Fatim, Yuni dan Cika itu, tetapi Wahyu agak aneh saat aku kenalkan dengan Cika.
Singkat cerita hubunganku dengan Wahyu semakin merenggang, ada salah satu sahabatku yang mendapati Cika sedang smsan ama Wahyu, dan dia bilang padaku. “ Nda, kamu gak curiga ama Wahyu ? “ kata Oliv memulai pembicaraannya, aku hanya diam dan berusaha tenangkan telinga ini saat mendengar cerita yang amat mengerikan itu. Sampai pada suatu hari, hubungan mereka sangat akrab, nama panggilan pun sudah berbeda “sayang” itulah cara Wahyu memanggil Cika saat ini. Aku tahu itu dengan mata kepala ku sendiri, saat kucoba meminjam hp nya Wahyu, karna aku ingin membuktikan sendiri perkataan sahabat-sahabatku itu, ternyata benar dan aku sangat kecewa.
Aku menceritakan ini kepada sahabat-sahabat ku, dan mereka merasa tidak terima atas sikap Cika yang tanpa attitude itu, tapi aku melarang mereka untuk melakukan apapun terhadap Cika. yang lain nurut tapi tak demikian dengan Aya, seketika itu juga dia berlari dan menuju ke tempat Wahyu dan teman-temannya berkumpul, yaitu di kantin bangku paling depan, dan “PLAAK” tangan Aya mendarat tepat di pipi Wahyu, dan Wahyu hanya bengong dan suara itu saat itu juga menghancurkan focus anak-anak dan memaksa mereka untuk memperhatikan apa yang akan dilakukan Aya selanjutnya, “ eh apa-apaan ini “ kata wahyu sambil berdiri dengan wajah memerah, “ kurang ajar lo, siapa elo ha? Sok ganteng lo, sampek berani-beraninya ngeduain Vinda, hah?” sahut Aya setelah meluapkann semua kata-kata kotor dari mulutnya, tapi sesaat kemudian aku dan teman-temanku yang lain menghampiri Aya, dan mengajaknya pergi, sementara Wahyu, entah dia tak tahu atau hanya pura-pura bego’ dia tetap berdiri di tempat dengan wajah tanpa dosa sedikitpun. Saat itu juga aku menghampiri Wahyu dan bilang “ mulai sekarang kita putus “ itu kata terakhirku kepadanya. Dan pada saat itu juga dia tak mencegahku, hanya kembali duduk dan pasang wajah blo’on, aku sempat berfikir dua kali, apa Wahyu itu bego’ atau pura-pura bego’ entahlah, yang jelas aku sangat membencinya.
Dan satu minggu setelah kita putus, mereka berdua jadian, tepat di tanggal jadianku dulu. Sejak saat itu kami putus persahabatan, kami benci mereka “ penghianat itu tak pantas di kasih hati “ kata Aya sambil berjalan di depan Cika yang tanpa dosa sedang berduaan dengan Wahyu di depanku, asstagfirulloh haladziim, benar-benar tak punya hati.