Laura dan Robert sudah menikah. Robert kesal karena Ia dijodohkan dengan Isterinya dan Ia selalu mencaci maki Istrinya setiap pulang kerja. Yaps, mereka menikah karena perjodohan dan Robert sudah memiliki seorang pacar sebelum mereka menikah. Saat mereka tau perjodohan itu, Robert marah dan Laura hanya pasrah saja. Bagaimana pun caranya mereka tidak ingin perjodohan itu terjadi?tapi itu memang sudah takdir mereka untuk bersatu.
Walaupun selalu dicaci maki oleh Robert, Laura selalu tersenyum dan tidak menunjukkan kemarahan. Sebenarnya, Laura sudah mencintai Robert saat SMA dulu Ia sekelas dengan Robert si bintang kelas.
Saat di Cafe..
"Emang kurang ajar tuh si Robert, gak punya hati tuh.” Ucap Agnes sambil mengempalkan tanganya.
“Gak apa-apa kali Nes, udah biasa juga kan gue digituin.” Laura tersenyum sambil menyeruput kopi.
“Gila, bener-bener cocok deh lu namanya Laura. Hatinya bener bener seperti seorang malaikat dan terus terusan di sakiti Robert.” Kata Agnes dalam hati.
Agnes adalah sahabat baik Laura saat SMA dulu.
Laura cepat-cepat keluar dari cafe. Agnes dengan bawaan yang cukup banyak, berusaha mengejar Laura. Mereka pun sampai di Kantor Robert
“Lo mau ke Robert lagi? Cukup Laura! Gue gak mau lo sakit hati untuk ke sekian kalinya..” Agnes dengan nada terengah-engah karena mengejar Laura.
“Apa sih, perhatian banget, hihi. Gak apa-apa lah.. Udah tenang aja. Aku mau kekantornya membawakan bekal ini” Ucapnya sambil melihatkan bekal yang Ia bawa.
“Angel cantik.. Lo ngasih kalung aja yang mahalnya super duper aja udah di tolak sama dia.. Apalagi bekal?” Agnes memeluk Laura erat. Laura tahu, Agnes hanya khawatir.
Laura tak peduli. Ia tetap tersenyum dan menunggu Robert keluar kelas. Terlihat Robert menatap Laura aneh. Laura memberikan bekalnya ke Robert. Robert terdiam dan melempar bekal dari tangan Laura.
“Tuh kan Lau..”Laura tetap tersenyum.
“Kita coba besok lagi ya Nes.”
Robert merasa senang. Tak ada lagi Laura yang berada dirumah. Saat pulang dan saat ia pergi bersama pacarnya. Namun di sisi lain, Robert merasa hilang. Entah mengapa.
Agnes berjalan di depannya. Robert menghampirinya.
“Nes, Angel mana”
“Mau ngapain? Ada apa?! Mau sakitin hati sahabat gue lagi?!” Agnes nadanya mulai marah, disusul dengan wajahnya yang memerah.
“Tidak, tapi sungguh! Aku sangat kesepian tanpanya..”
“Laura di rumah sakit.” Jawab Agnes singkat, selebihnya ia memberikan kertas berisikan tempat dan kamar dimana Laura dirawat.
“Laura kenapa? Kenapa harus dirawat?” Agnes diam dan pergi meninggalkan Laura.
Pulang kantor. Robert datang cepat-cepat ke tempat Laura dirawat. Semua orang menangis, termasuk Agnes. Mungkin itu sebabnya Agnes pulang lebih awal. Laura menyelinap dari orang-orang yang menangis. Terlihat Laura terbaring lemah. Matanya tertutup, bibirnya tersenyum dan tangannya memegang bekal yang dilemparnya kemarin. Robert membulatkan matanya, ia tak percaya.
"Leukimia bert, leukimia yang ambil dia. Maafin dia ya bert. Gue tahu banget, dia hanya ingin perhatian kamu.” Agnes memegang pundak Robert yang mencoba menahan tangisnya.
“Robert, ini ada kado dari Angel.” Agnes memberinya kotak kado, kotak kado yang berisikan barang-barang yang selalu di tolaknya dari tangan Angel. Banyak kejadian yang ia sesalinya memutar di kepalanya.
“Laura.. Maafin Robert.”
Saat Laura dirumah Orangtua nya Ia memberitahukan penyakitnya. Orangtuanya pun terkejut. Laura sudah terkena Leukimia sekitar 10 tahun yang lalu dan Hanya Ia sendiri yang tau. Jika Ia memberitahukan Orangtuanya akan terkejut dan Robert pun tak akan menikahi Ia.
-THE END-