"Aku bosan Bang. Hidup begini terus, kalau bisa mati. Lebih baik mati saja!"
___________
Namanya Usup, penjual pentol atau bakso colok. Dan Asih nama istri tercinta. Mereka memiliki bayi berumur sembilan bulan. Marla, bayi yang menggemaskan.
Setiap pagi Usup dan istrinya menyiapkan keperluan daganganya. Dagang berkeliling ke lokasi-lokasi dumping atau sawitan.
Entah mengapa akhir-akhir ini Asih selalu uring-uringan. Banyak yang dikeluhkan. Terlebih masalah ekonomi yang dikeluh kesahkan Asih.
Sebagai suami, Usup tak banyak bertindak. Apalagi pandemi tak ada habisnya.
"Gasnya habis, Bang. Beras sisa sedikit, bawangpun habis. Abang nggak bisa gitu, cari kerja lain aja. Bosan aku mikirnya!" repet Asih pada Usup.
"Untuk sementara jualan pentol dulu Dek. Sekalian Abang cari kerjaan lain," jawab Usup lesu.
_______
Niit....niiit
Bunyi token listrik yang hampir habis. Membuat Asih semakin tertekan.
"Belum selesai yang ini. Yang itu udah bunyi aja Bang! gelap-gelapan nanti malam. Muak aku!" maki Asih kembali.
"Sabar Dek." Usup mengingatkan.
"Aku bosan Bang. Hidup begini terus. Kalau bisa mati. Lebih baik mati saja!" seru Asih histeris.
"Astaghfirullah, Dek! Ngomong apa kamu! Pendek kali pemikiran kamu. Nanti Abang yang belanja. Untuk hari ini jualan seadanya. Nggak usah lah, kamu bicara seperti itu. Banyakin istighfar Dek, Abang berusaha sebisanya." Terang suami Asih.
"Huhu ... Huhu ... Adek udah nggak tahan Bang. Lelah rasanya," isak Asih pilu.
Pergilah Usup mencari bahan dan keperluan rumah yang habis. Sementara Asih di rumah bersama Marla.
Pergilah Asih ke rumah mertuanya. Tidak jauh hanya melewati tiga rumah dari rumah mereka. Asih menitipkan Marla kepada neneknya. Asih sibuk, ingin membersihkan rumah alasannya.
_________
Kembalinya Asih, bukan rumah yang hendak dibersihkan. Melainkan Asih menyiapkan seutas tali yang Ia lepas dari ayunan sang buah hati.
Asih ikat di antara lubang angin di atas pintu kamarnya. Air mata bercucuran, hati yang berkecamuk. Entah...
Diambilah kursi kecil untuk menopang bobot Asih agar bisa mengalungkan tali yang Ia ikat simpul. Perlahan Ia kalungkan, kursi Ia tendang dan....
Asih tergantung!
Tak lazim memang. Mata melotot lidah terjulur.
__________
"Assalamualaikum ..." suara Usup di luar.
Hening tak ada sautan.
''Masih marah kayanya, Asih,'' batin Usup tak curiga.
"Dek, Abang pulang nih. Udah beli semuanya." Usup mencari Asih sembari membawa belanjaan.
Namun tiba-tiba...
" Astaghfirullah Deeeeek! Astaghfirullah. Asiiih sayang. Kenapa begini Dek." Raung Usup dan menjatuhkan semua barang bawaannya.
"Tolong! Tolong! Tolong!" Usup berlari ke rumah tetangga. Berharap Asih diturunkan dan masih bisa diselamatkan.
Namun, terlambat. Asih sudah tiada untuk selama-lamanya. Asih lelah dengan keadaanya, dan memilih berakhir diseutas tali yang menggantung di atas pintu.
Alfatihah untuk almarhumah.
Terima kasih untuk admin dan Momod
Catatan :
Teruntuk Emak-emak tangguh. Tetaplah dengan kewarasan kita. Jangan sekali-kali mengambil jalan pintas yang merugikan.