Karena suatu perjalanan waktu, kami yang seharusnya terpisah dalam ruang waktu yang berbeda tak sengaja bertemu.
Seorang pria dengan berpakaian tentara zaman dulu, terus menatapku dari kejauhan. Pakaian yang dikenakannya persis seperti para tentara Indonesia, yang aku lihat di buku sejarah.
Entah mengapa, sore ini di taman kota cukup sepi. Aku pun mempercepat langkahku dan berjalan melewatinya. Suara gerak langkah terasa seperti mengikutiku. Aku pun tidak berani untuk menoleh ke belakang. Aku sangat yakin, jika pria tadi mengikutiku. Aku pun semakin mempercepat langkahku. Lebih cepat, dan lebih cepat lagi. Hingga akhirnya aku pun berlari kencang.
Saat aku merasa lelah, ku putuskan untuk berhenti berlari dan melihat ke belakang. “Haaaah ... Aman ... Sudah tidak ada yang mengejar,” ucapku.
Ketakutan dan kelelahan karena berlari, membuat napasku memburu cepat. Ku dekati sebuah bangku yang ada di sana. Lalu aku duduk, mengambil botol air dari dalam tasku dan meminumnya.
Tiba-tiba ada suara pria yang memanggil diriku, “Mei..,” ucapnya dengan suara yang bergetar.
Aku menatap pria yang kini berdiri di depanku. Tanpa bisa tertahan, air yang tadinya memenuhi rongga mulutku, akhirnya tersembur ke arahnya.
“Ya Tuhaaan ... Kenapa harus tersembur ke bajunya? Aku tidak mau kalau tentara zaman kolonial ini sampai menusukku dengan bambu runcing,” batinku. Aku pun menutup mulutku yang menganga.
Seakan tak peduli dengan bajunya yang terkena semburanku tadi, pria itu malah mendudukkan dirinya, tepat di sampingku. Ku beranikan diri untuk meliriknya. Namun dia malah memegang kedua pundakku hingga membuat tubuhku berhadapan dengannya.
“Kau masih hidup, Mei?”
Aku menatapnya heran, bagaimana dia bisa mengetahui namaku? Ah ... Bukan itu yang lebih mengagetkan. Dia bertanya apakah aku masih hidup? Dasar tentara aneh!
“Memangnya anda pikir saya hantu?” Aku lantas berdiri, “nih, lihat! Kaki saya masih menginjak tanah! Itu artinya saya masih hidup, Pak Tentara!” ketusku.
“Kenapa kau menjadi pemarah seperti ini, Mei? Mei yang aku kenal adalah seorang wanita yang lemah lembut. Meimunah yang anggun.”
“Meimunah? Siapa Meimunah? Nama saya Meiza! M - E - I - Z - A. MEIZA bukan MEIMUNAH!”
Dengan langkah kesal, aku berjalan meninggalkannya yang terus terpaku di sana. Sesekali aku menoleh untuk memastikan apakah pria itu masih di sana sambil menatapku dari jauh.
***
Hari demi hari berlalu, sudah dua bulan berlalu, sejak aku bertemu tentara aneh itu. Dan hingga saati ini, aku tak pernah melihatnya lagi.
Namun sore ini, ketika aku menikmati tiupan angin yang berhembus di taman kota, ada seorang pria berpakaian necis menghalangi jalanku. Aku terpaku, menatapnya dari ujung kepala hingga kaki. Bahkan berkedip pun aku enggan. Aku sibuk menatap maha karya sang pencipta di hadapanku.
Apa ini mimpi? Bukankah dia tentara aneh itu? Kenapa sekarang dia bisa sangat tampan begini?
“Meiza,” ucapnya sembari memberikan senyuman lembut. Aku yang masih terpaku, hanya diam dan tak merespon panggilannya. Pria itu pun memberikan aq sebuah benda berbentuk persegi dan dibungkus dengan kertas bermotif hati.
“Apa ini?”
“Kau buka saja,” jawabnya. Dengan sedikit ragu, aku pun membukanya. Lagi-lagi aku tertegun dibuatnya. Bukan karena wajah tampannya, melainkan benda yang tadi tersembunyi di balik kerta bermotif itu.
“Ini kamu yang melukis?” tanyaku penasaran. Tentara aneh itu pun mengangguk, “iya ... Aku membuat lukisan itu, khusus buat kau, Meiza,” ucapnya. Pipiku pun merona mendengar kata-katanya. Kami pun berbincang hingga malam hari. Kami bahkan makan malam bersama.
Dari situlah aku tau, jika selama dua bulan ini, dia bekerja sebagai cleaning service di salah satu perusahan di dekat taman kota. Selama dua bulan dia mengumpulkan gaji, untuk dibelikan kanvas dan alat lukis. Hanya untuk melukisku. Dan ternyata, selama ini, setiap sore dia selalu menungguku berjalan melewati taman ini. Dia juga menunjukkan foto mantan istri yang ternyata sangat mirip denganku.
Sejak saat itu, kami sering bertemu dan menghabiskan waktu bersama. Seperti Sabtu malam ini. Seperi muda mudi lainnya, kami pun menghabiskan waktu bersama dengan makan malam di warung pecel lele yang tak jauh dari kediamanku.
Perlu kalian tau ... Banyak sekali nyamuk di sana. Namun, di tengah kesibukanku menggaruk kakiku yang dikerubungi nyamuk, ucapan Bang Ginting membuatku ikhlas mendonorkan sebagian darahku untuk nyamuk-nyamuk itu.
“Meiza ... Apakah kau bersedia menjadi istriku?”