hai, Gue Nathan tahun ini umur gue ganjil 19 tahun tepatnya Januari ini. Gue mau cerita tentang seorang gadis,tahun ini umurnya ganjil juga. Tapi bedanya dia 15 tahun dan gue 19 tahun selisih umur kita sekitar 4 tahun , Namanya Afrin. Sebenarnya dia adalah ponakan gue, ayahnya sama gue itu sepupu ayah gue sama ibu ayahnya saudara kandung. Tapi menurut agama jika kita menikah itu disahkan oleh agama, maka dari itu Afrin secara terang terang an suka sama gue. Gue jujur bingung harus seneng atau sedih, karena ini pertama kalinya orang suka sama gue sampai keluarga besar gue dan keluarga besar Afrin tau. Kisahnya dimulai waktu gue pergi Ke Malang sekitar 4 tahun yang lalu, keluarga besar gue semua ikut, yaaa tentu Afrin termasuk dari keluarga besar yang gue sebut. waktu itu kita Masi biasa aja bicara santai gak ada sesuatu yang ganjal karena waktu tu umur gue Masi 15 tahun dan dia 11 tahun ,ada percakapan pendek gue dan Afrin.
percakapan pertama
"Rin lihat deh kecil banget siputnya"
"mana than gue liat dong, aaaaa lucu banget"
"iya"
"tunggu , gue mau foto."ada
"oke"
percakapan kedua
"Rin Lo tinggal dimana"
"di jalan mawar nomer 46"
"OOO.. kayaknya pernah gue kesana"
"entahlah"
itu dia percakapan yang bener bener langsung dari mulut sudah hampir 4 tahun setelah percakapan itu setelah itu bom seperti orang yang tak kenal bicara sepatah katapun sama dia gue gak pernah
tepat setahun setelah kejadi itu tepatnya waktu gue umur 16 tahun, adik gue bilang kalau Afrin suka sama gue. karena gue anggap adik gue Masi kecil dan gak faham tentang suka, akhirnya gue gak pedulikan perkataan adik gue. tepat setelah 3 tahun semua berlalu , gue dapet kabar lagi kalau Afrin suka gue. sontak membuat gue kaget, kok bisa kata kata ini terulang kembali setelah 3 tahun lamanya bahkan gue tahun ini sudah mau lulus sekolah. lalu muncul di benak gue, apakah Afrin bener bener suka, sayang, cinta sama gue? itu buat gue bener bener bingung. setelah itu gue dapat DM dari akun fake diakun fake gue blokir sampai akhirnya si akun fake pakai akun gede followers nya sekitar 28k. gue kaget dong eh ternyata diakhir chat dia ngaku kalau dia itu Afrin
"sorry gue gak tau kalau temen gue pakai akun ini buat prank orang dan gue gak tau kalau orang yang diprank itu Lo"
awalnya sih gue gak percaya sampai akhirnya dia bilang
"kalau gak percaya gue bisa nunjukin dengan cara chat bersamaan"
dan ternyata Afrin benar benar ada temannya waktu DM gue,jadi gue percaya aja.
lama kelamaan gue risih gak tau kenapa, tapi muncul aja kata risih dimulut gue. Sampai akhirnya dia beneran berhenti stalk gue, gue langsung merasa ada yang kurang didalam hidup gue. Tapi akhir akhir ini ada aja akun fake yang follow Ig gue, ada yang DM juga berbagai bentuk DM.
DM pertama
"hai, assalamualaikum."
"waalaikumsalam"
"oh... ini yang namanya Nathan."
"iya... kenapa?"
"emm.. gak ada temen gue sering cerita tentang u"
"oh... gue tau."
"masa, tau darimana."
ya tentu gue tau, karena sekarang fitur Ig tampilkan langsung di DM, bahwa gue dan tu orang saling mengikuti Afrin. Gue akhiri chat itu dengan tidak membalasnya.
DM ke dua
"gue fans lu"
gue waktu itu jawab aja itu DM sampai akhirnya gue gak jawab lagi, ah... gue benar benar di teror.
setelah itu beberapa bulan kemudian paman saudara ibu Afrin nikah,gue diundang. Gue duduk dekat pantai gak dekat banget sih, tiba-tiba Afrin datang entah darimana. dia datang ke pantai karena dipanggil sama neneknya buat gril, Afrin datang bareng teman-teman nya alias sepupunya, disitu gue ngeliatin Afrin pandangan gue gak teralihkan. sampai entah mengapa gue ngerasa dia tau kalau gue ngeliatin dia, dan gue pun nunduk dan lanjut main hp.
tak lama dari kejadian itu gue tiba-tiba Tante gue bilang.
"eh Nathan, kamu besok nikahnya sama Afrin."
"hah. Afrin?"
gue pura pura gak tau aja siapa Afrin, Tante gue sudah ngeship lagi gue sama Afrin. Dan itu sudah ada persetujuan semua orang, bahkan dibelakang gue ada sepupu sepupu gue yang kasih kabar gue ke Afrin.
Selang beberapa minggu gue dapat undangan lagi, dan itu undangan pernikahan sepupunya Afrin, lagi-lagi Tante gue yang kemarin bilang ke gue.
"Nathan cepat nanti telat, Afrin udah ngundang kamu tuh."
Gue kayak "hah. apaan nih?. gue kirain itu cuman undangan biasa aja,ternyata itu dari Afrin.?"
Telah berlalu semua sekarang Afrin sudah saatnya untuk masuk ke pondok, karena menurutnya dia sudah gak bisa main-main lagi, itu sih yang gue dengar dari percakapan nya dengan seseorang.Gak ada cerita lagi tentang Afrin dia mondok sedangkan gue langsung kerja, begitu mulus dan lurus tanpa belok hidup gue berjalan, bahagia? enggak lah hidup gue benar benar membosankan. sampai akhirnya 3 tahun berlalu gue dengar-dengar Afrin bakalan pulang gue awalnya kayak biasa aja, sampai akhirnya gue lihat Afrin lagi setelah 3 tahun, anaknya jadi pendiam auranya dingin banget kata katanya singkat walaupun sama orang tua nya sendiri, gue benar-benar terpesona melihat Afrin yang sekarang, Afrin yang dewasa dan cantik. Gue gak percaya ini beneran Afrin, ya... Gue jatuh cinta sama Afrin, gue kirain dia cuman salaman aja kerumah keluarga besar, ternyata dia pamit untuk pergi lagi 5 tahun. Gue pun gak ikhlas banget sama kenyataan yang gue dapatkan, sampai akhirnya gue angkat bicara ke ayah gue.
"ayah, Nathan mau lamar Afrin"
sontak membuat seluruh isi ruangan matanya tertuju pada gue, bahkan Afrin pun melihat ke arah gue tapi dia langsung membuang muka, mendengar pernyataannya dari gue Afrin pun angkat bicara.
"gak"
hati gue langsung hancur berkeping keping dan benar-benar malu, tapi gue gak menyerah begitu saja, gue nanya alasannya kenapa nolak gue.
"kenapa.?"
"karena gue mau sekolah."
"ya... sekolah sambil nikah kan bisa, toh bukan SMA lo kan kuliah.!" itu pernyataan yang gue kasih ke Afrin.
"oh..."
"jadi gimana.?"
"gak tau."
"ya menurut lo gimana?. mau gak?."
"gak tau."
"ya... mau gak gitu.?
"tanya sendiri sama bokap nyokap gue."
gue dengan keberanian yang minim pun memberikan diri.
"bang Danendra boleh gak?."
sepupu gue pun nanya ke gue
"Nathan, kamu umur berapa.?"
"22 tahun bang."
"kamu yakin bisa jaga anak bang Endra dengan baik.?"
"yakin bang"
"kamu sudah berkerja.?"
"sudah bang Endra."
"dimana.?"
"di toko paman Farzan."
"oh...kalau gitu kamu boleh menikahi anak bang Endra."
"makasih om."
"tapi kamu harus benar-benar harus menjaganya jangan sampai membuat Afrin menangis jika kamu membuat Afrin menangis saya tidak akan memaafkan mu." bang Danendra bicara dengan sekali nafas sampai ia ngos-ngosan
"iya bang Nathan janji akan selalu menjaga Afrin dan gak akan ngebuat Afrin menangis."
"kalau begitu kapan.?"
"malam Minggu besok."
sontak seruangan lagi lagi matanya tertuju kepada gue, emang ada yang salah?.
"anjir ngebet banget lo tong." kata sepupu gue Emir
"ya... gak apa-apa lebih cepat lebih baik."
"gak gini juga Nathan,lagi 3 hari dong kalau malam sabtu, belum juga beli-beli barang nya belum di hias, kira-kira sekitar 7 sampai 10 hari untuk mempersiapkan semuanya Nathan."
"oooo... gitu toh mah."
"iya Nathan."
"kalau gitu ta." ucapan Nathan terpotong oleh Afrin
"tanggal 15 bulan depan aja buat apa cepat cepat"
"ya gak bisa gitu dong, kelamaan kalau gitu itu juga bulan dekat banget sama bulan puasa."
"yaudah tanggal 5"
"oh... ok, wait ini tanggal berapa.?"
"20 tan." ucap Ezra
"nahkan pas, tanggal 30 nya lamaran tanggal 5 nya akad."
"resepsi dirumah aja."
"gak bokap gue udah janji sama gue kalau nikah dia mau di hotel."
"yaudah besok gue bantu ngomong ke hotel nya."
"ok bang Danendra setuju besok kita tanya hotel Hastanta, karena disitu pas banget pinggir pantai dan suasananya enak."
"ok bang Danendra."
besoknya gue pun pergi ke hotel Hastanta yang jaraknya lumayan jauh sekitar 45 menit untuk sampai nya, sesampainya di hotel kita pun berbincang dengan pihak hotel, Alhamdulillah Allah memberikan gue peluang buat cepat menikahi Afrin, ya benar pihak hotel kebetulan tidak ada acara ditanggal 3 sampai 5 dan ayah Afrin sewa hotel untuk acara 2 hari dan gue buat acara akadnya 1 hari.
hari lamaran akhirnya tiba, kotak hantaran berderet sebanyak 20 kotak dan satu koper berisi baju dan uang sejumlah 1 miliar dan perhiasan hasil tabuangan gue bertahun-tahun, tapi untuk isi kotak hantaran dan baju di koper gue gak turun tangan semua itu pemberian Tante-tante gue isinya sepatu,tas,dan make up. oh... hampir lupa pemberian dari gue dikotak hantaran hanya hp keluar terbaru dan terkenal incaran seluruh umat wanita,gue gak ikut dalam acara ini karena gue gak berhak untuk datang, Karena itu masa dimana saatnya Afrin disembunyikan sampai waktu akad tiba.
untuk mengisi kebosanan gue, gue ajak semua sepupu gue ngumpul.
"weh, anjir ngebet banget lo." Izzam
"iya anjirr." serempak Emir, Ezra, Keenan
"MasyaAllah, bilang bahlol" ucap sepupu gue yang namanya Zachary
"sans ry" ucap Ezra
"y"
"gak nyangka gue Afrin jadi sama lo than, dulu gue sering kasih info ke dia."
"Anjir, ternyata lo ry."
"iya"
"gak merasa bersalah"
"gak"
"anjirr"
"yaelah, seharusnya Lo bilang "makasih ya ry lo itu sepupu terbaik gue" gitu."
"najis."
"kalau gak ada gue juga Afrin bakalan ninggalin lo waktu itu."
"hah?"
"yaaaaa, dia Masi suka sama Lo bego."
"wallahi.?"
"Hem..."
"gila, ekspektasi gue seperti bakalan sesuai."
"moga-moga." Emir
"Weh, ry kok lo bisa tau tentang Afrin sama gue."
"ya. karena Afrin lah."
"Lo sering chat sama dia.?"
"gak sering sih tapi kalau ada apa-apa masalah sama laptop hpnya nanya ke gue."
"kok bisa sampai ke pembahasan gue."
" gak tau aja."
"Lo chat pakai Ig tapi kan.?"
"enggak lah."
"terus pakai apa.?"
"wa."
" ANJING BISA BISANYA LO PUNYA NOMER AFRIN" ucap Nathan dengan nada tinggi
"santai setan, pakai teriak budeg gue"
"iya Tan bugeg gue." Ezra
"anjing ku Tan." Emir
"aowkwkkwkwkwkwkwk" tawa Izzam
"minta" ungkap Nathan
"nih, liat aja."
"ok"
setelah perkumpulan antara sepupu, dan acara selesai semua orang pun pulang, sekarang saatnya gue beraksi.
WhatsApp
assalamualaikum
waalaikumsalam
siapa ya?
Nathan
oh
sibuk ya
y
singkat amat sih jawabnya pas
sama gue pas sama cowok lain panjang
maksud lo gue cewe murahan gitu,
dih najis skip
eh bukan gitu maksud gue
Afrin, pliss lah AFRIN jangan di read aja
dong sayang
🤮
auw sayang
setelah percakapan itu afrin gak pernah balas chat gue lagi, sampai akhirnya hari yang gue nantikan tiba, gue merasa campur aduk seneng bahagia yang benar-benar gue gak pernah rasakan muncul.