#truestory
#dibumbui fiksi sedikit
Cerita ini dialami oleh teman bapakku. Ambil hikmahnya ya, jangan julid.
Sebut saja namanya Karto dan bapakku adalah Sutris.
Sepulang kerja memupuk sawit Karto membersihkan diri di barak. Kontrakan yang disediakan PT.
Barak Karto dan Sutris berhadap-hadapan jarak lima belas meter.
Istri Karto terlebih dulu sampai di rumah. Ia memasak ikan hasil memancing di paretan kebun sawit.
Semua telah tersaji dan siap akan disantap oleh Karto dan istrinya. Diambilah piring dari raknya.
Namun Karto terkejut ketika didapatinya penutup piring ikan goreng terbuka. Istri Karto tak menyadari jika ada kucing liar yang telah mencuri ikan di piringnya dan menyisakan satu kepala ikan saja.
Karto marah besar terhadap kucing hitam tersebut. Diseretnya kucing yang sedang memakan ikan di pojok dapur, kemudian ditenggelamkan di bak penampungan air.
Dipukulkan lagi menggunakan gagang sapu.
Bugh!
Bugh!
"Ngeong! Ngeong!" rintihan kucing mengiba meminta ampun pada Karto. Tubuhnya kedinginan dan basah kuyup. Memberontak melepaskan diri. Sayangnya, cengkraman Karto lebih kuat. Sehingga tak mampu melepaskan diri. Istri Karto hanya bisa menyaksikan geram.
Tiba-tiba Sutris datang hendak meminjam satu bungkus rokok kepada Karto.
Melihat perbuatan Karto, Sutris mencegahnya untuk tidak memukuli kucing tersebut. Tetapi tidak digubris oleh Karto.
"Jangan dihajar, To!" ucap Sutris mencegah. Hendak diambilnya kucing tersebut, namun sayang terlambat ....
Ngek!
Ngek!
Kucing diinjak Karto dan ....
Bugh!
Kucing dibanting tiada ampun.
"To! Jangan To! Istighfar kamu!" bentak Sutris nyaring. "Jangan disiksa gitu, To. Kucing taunya ya, makan. Biar kamu hajar habis-habisan, besok balik lagi," ucap Sutris menasehati Karto yang sedang kalap.
Kucing hitam itu nafasnya terputus-putus sesak. Kedua bola matanya tersirat kesedihan diambang sekarat. Mungkin menangis iba.
Ngik!
Ngik!
"Kamu tau apa, hah! Dia nyuri ikan punya ku. Apa ya, salah aku hajar? Aku lapar, Tris!" ujarnya tak terima. Dadanya nampak naik-turun bergemuruh emosi yang membuncah dan meledak-ledak.
"Ya, cukup diusir 'kan bisa, To? Kwalat baru tau rasa kamu! Dibalas nanti, kamu nyesel!" Sutris membentak Karto, tak kalah marahnya ia sama Karto. Diambilnya kucing hitam tersebut yang tergolek lemah. Hati Sutris terenyuh sakit!
"Ambil sana, bawa pulang!" perintah Karto.
*******
Tiba-tiba malamnya Karto merasakan sesak di dada begitu hebat. Menghimpit nyeri!
Persis seperti kucing yang ia banting siang hari. Karto menangis menahan sakit tak terkira.
Ngik!
Ngik!
Naik-turun dada Karto mengatur nafasnya yang tersengal-sengal. Istrinya menangis melihatnya, mengelus-elus dada sang suami agar sakitnya reda.
"D----dek .... Sakit dadaku," ucapnya terputus-putus. Kedua matanya mendelik ngeri.
"Mas kenapa, toh? Tadi siang baik-baik aja kok! Sakit apa, Mas?" Istrinya terisak merasakan apa yang dirasakan Karto. Bagaimana tak pilu melihat kondisi suaminya yang pucat, bibir biru, dan keringat membanjiri seluruh tubuh Karto basah hingga nembus ke seprai kasur.
Ngik!
Ngik!
Karto megap-megap seperti kucing yang ia tenggelamkan. Tangannya mencengkram bantal, ia remas berbarengan dengan dada yang sesak.
Sang istri bergegas memanggil tetangga kanan dan kiri untuk meminta pertolongan.
Salah satu tetangganya memanggil mantri untuk memeriksa Karto.
Naas Karto menutupkan mata untuk selama-lamanya. Istrinya meraung-raung tak terima ditinggalkan begitu saja. Ia tahu bahwa Karto sehat-sehat saja dan tak memiliki penyakit bawaan ataupun sedang sakit.
Disisi lain, kucing yang dirawat Sutris pun menghembuskan nafas terakhirnya.
Mendengar berita meninggalnya Karto, Sutris merasa bersalah karena ucapan terakhirnya. Sutris menyesal, tapi ini demi kebaikan Karto.
********
Malam harinya diadakannya tahlilan di rumah duka. Aneh, hanya Sutris seorang yang tak diundang. Seluruh penghuni barak lainnya datang berbondong-bondong.
Padahal ketika mengundang tahlilan, Sutris duduk di teras. Hanya dilalui begitu saja. Ada lirikan marah dari keluarga almarhum Karto.
Meskipun demikian Sutris tetap mendoakan teman kerjanya. Semoga Husnul khatimah.
Asam baru,1999
Tamat
Diambil sebagai pelajaran ya, pembaca. Meskipun bukan pecinta kucing tapi jaga sikap. Kita hidup berdampingan dengan mahluk hidup lainnya.