Kukira aku sudah tiada. Setelah terbangun, aku bertemu dengan seorang prajurit tampan! Ini.. bagaimana mungkin?! Aku tidak percaya!
=•=•=•=•
"Lapor, pemeriksaan zona kedua puluh delapan telah selesai, Kapten!" ucapku berbicara pada alat komunikasi untuk memberi laporan.
"Kerja bagus, Nona Sky. Segeralah kembali." balas seseorang dari seberang sana. Dia adalah Kapten dari penelitian ini.
Namaku Sky, usiaku 14 tahun. Saat ini, aku baru akan kembali ke markas pusat luar angkasa, aku sedang dalam perjalanan.
"Haaaa.. Akhirnya selesai juga. Aku mengantuk, sebaiknya cepat kembali." ucapku sambil mencoba kembali fokus mengemudikan XY308, pesawat ruang angkasa yang biasa aku gunakan.
Usiaku memang baru 14 tahun, namun aku sudah mempunyai bakat luar biasa, tepatnya pada bidang sains fisika dan biologi. Mereka mengajakku untuk ikut dalam penelitian ini. Aku pun menerimanya dengan senang hati.
"Sluurpp!" aku menyedot minuman dari dalam kemasan yang biasa digunakan untuk stok minum di pesawat ini. Berperisa cokelat, enak sekali.
"AI, tolong ambil alih sebentar, aku mau cuci muka." ucapku beranjak dari kursi kemudi.
"Permintaan diterima." jawabnya. Dia adalah AI, nama mesin yang digunakan sebagai.. hmm apa ya? Aku juga bingung. Singkatnya untuk mewakili pekerjaan manusia. Mungkin begitu. Saat kutinggal sebentar, AI mengaktifkan autodriver, kemudi otomatis. Jadi pesawat ini tak perlu pilot untuk sementara waktu.
Sekarang ini sudah abad ke-23. Peradaban manusia sudah sangat canggih dan mutakhir. Banyak penelitian-penelitian aneh yang mereka lakukan. Ya meskipun tak kunjung membuahkan hasil yang bagus, sebagian besar eksperimen mereka selalu gagal.
Termasuk apa yang aku lakukan saat ini. Yaitu mencari planet lain di galaksi ini. Aku telah menemukan beberapa, tapi ada saja hal yang membuat planet yang kutemukan disebut 'tak layak huni'. Misalnya banyak kadar gas beracun, tanah yang mengandung logam berat, tak ada air, hingga suhu yang sangat ekstrim.
Singkat cerita, aku sudah kembali ke ruang kemudi. Sebenarnya aku bukan hanya mencuci muka, namun membersihkan wajah. Wajahku lumayan kotor dan lengket setelah hampir dua hari tak aku bersihkan, haha.
Aku kembali mengemudikan pesawat. Santai saja, yang penting selamat sampai tujuan, tapi.. aku sudah mulai mengantuk lagi. Aku pun mempercepat laju pesawat. Hingga tiba-tiba..
"Peringatan darurat! Terdeteksi black hole besar di dekat sini. Sebaiknya segera putar balik!"
Seketika aku tersentak setelah mendengar peringatan dari AI. Mendadak, otakku tak dapat digunakan. Ayo berpikir! Kenapa harus loading saat darurat seperti ini?!
"Gawat! Tidak bisa menghindar! Waaaaa!"
Aku pun banting setir. Berserah diri untuk menerima nasibku selanjutnya. Black hole atau lubang hitam, mempunyai gaya gravitasi yang sangat kuat, bahkan cahaya tak dapat menghindarinya. Pesawat kami pun masuk ke dalam black hole tersebut.
=•=•=•=•
Perlahan aku membuka mataku. Kurasakan tubuhku terbaring lemas dan basah kuyup. Kulitku bersentuhan dengan pasir putih nan halus. Saat ini cuaca sedang cerah, namun suhu udara tak begitu panas. Angin laut yang berhembus menyejukkan, dapat ku rasakan di tempat ini. Saat ini, aku terdampar di pantai. Entah ada orang yang tinggal atau tidak.
Aku mencoba mendudukkan diriku. Badanku sakit semua. Aku duduk di pinggir pantai itu untuk istirahat dan memulihkan tenagaku, sekaligus mengeringkan pakaianku. Tidak lama kemudian..
Tap! Tap! Tap! Tap!
Ada beberapa orang laki-laki, berseragam dan memakai pelindung, serta membawa senjata. Namun, ada seseorang yang tidak. Mereka berjalan menghampiri diriku.
"Selamat siang. Barusan kami mendengar dentuman dari daerah sini. Apakah ada serangan musuh?" tanya seseorang yang sepertinya adalah pemimpin mereka. Aku menatap mereka dengan tatapan bingung. Bahasa mereka sedikit sulit kupahami.
"Hey nak, kau mendengarkan aku?" tanyanya lagi setelah tak kunjung mendapat jawaban dariku. Aku kembali diam. Dia sedikit menunduk untuk mensejajarkan tingginya denganku.
"Hati-hati Kapten, bisa saja dia adalah mata-mata musuh!" ucap salah satu anak buahnya. Orang yang mereka panggil 'Kapten' langsung menatap tajam ke arah mereka.
"Kalian jangan berprasangka buruk. Dia hanyalah gadis kecil yang masih polos, tak mungkin dia dimanfaatkan pihak musuh." ujar kapten mereka membelaku. Aku masih tak menanggapi.
"Hmm kalau dilihat-lihat, kau sedikit berbeda. Bisa kau katakan, siapa namamu?" tanyanya padaku.
"Sky.." jawabku singkat. Dia tersenyum.
"Kenapa kau berada di sini nak? Di sini berbahaya," ujarnya. Aku sedang berpikir untuk menjawab pertanyaannya.
"Aku.. tersesat."
"Tersesat? Di mana rumahmu? Aku akan mengantarmu pulang."
"Earth Gen-03." jawabku dengan sedikit keraguan. Dan benar saja.
"HAHAHAHAHAHA!" keempat anggota yang lain tertawa mendengar jawabanku.
"Apa? Ada-ada saja, apa dia pikir dia itu alien?"
"Mungkin dia sudah kecanduan cerita fiksi."
"Hahaha, kau bersekolah di mana nak?"
Begitulah yang aku dengar. Mereka tak mengerti. Aku bingung ini abad ke berapa, di mana aku sekarang?
"Diam kalian!" ucap kapten dan seketika mereka terdiam.
"Sebaiknya kalian lanjut patroli saja, aku akan mengurusnya." lanjutnya sambil belum berhenti menatap tajam mereka.
"Siap!" balas rekan-rekannya, kemudian segera meninggalkan kami berdua.
"Oh iya, kenapa kau bisa ada di sini? Apa yang terjadi denganmu?" tanyanya lagi. Aku memandang laut untuk mencari cara menjawab pertanyaannya.
Tak jauh dari sana, aku melihat suatu benda yang mengkilap dan letaknya tak jauh dari sana. Aku berjalan ke arahnya dan mengambilnya. Ah.. pakaianku jadi basah lagi.
Benda itu terbuat dari baja berkualitas tinggi, tahan peluru, tahan karat, tidak mudah rusak. Baja itu merupakan serpihan dari pesawat yang bertuliskan XY308, pesawat yang aku gunakan tadi.
Aku pun menunjukan baja tersebut pada orang tadi. Dia menatapku heran.
"Ini kan.. ini baja yang sangat bagus! Bagaimana kau bisa mendapatkannya? Bukankah di sini belum ada teknologi sebagus itu?" dia menanggapi.
"Pak, ini.. abad ke berapa?" tanyaku.
"Ini baru abad ke-19. Tahun 1893. Bagaimana kau bisa lupa?"
Apa?! Abad ke-19? Bagaimana bisa aku ada di sini?! Sungguh aneh. Bukankah tadi aku masuk ke lubang hitam? Abad ke-19, abad di mana banyak negara-negara dunia berperang untuk mempertahankan daerah kekuasaannya. Tapi, aku tidak tau aku ada di mana.
Kruwuuuk!
Ups! Perutku berbunyi, aku lapar. Dia tersenyum tipis padaku.
"Kau lapar? Ayo ikut aku." ajaknya. Pertama aku ragu, orang tuaku mengajarkan aku supaya tidak terlalu dekat dengan orang tidak dikenal.
"Ayo, tidak apa-apa. Aku bukan orang jahat." ucapnya lagi untuk meyakinkan aku. Aku pun menurut saja, lagipula di sini memang tidak ada orang yang aku kenal. Meskipun di kehidupanku, ada sangat banyak orang-orang terkenal, tapi tentu saja mereka belum ada di era ini.
=•=•=•=•=•
Saat ini, orang itu mengajakku ke suatu tempat. Dia bilangan tempatnya sangat aman. Dan aku pun terpaksa ikut. Ah iya, aku sudah tau namanya. Namanya kapten Galaxy. Entah kenapa diberi nama demikian.
"Sky, bisa kau tunggu di sini? Aku masih punya tugas." ucapnya sebelum dia pergi meninggalkan aku.
"Tidak, aku mau ikut. Aku takut di sini sendiri." jawabku. Memang benar, aku tak kenal siapa-siapa di sini.
"Ini berbahaya. Sebaiknya kau tetap di sini. Aku tidak akan lama." ucapnya membujukku sambil mengusap lembut rambutku.
Aku belum sempat menjawab, dia sudah pergi begitu saja. Aku menatap punggung kokohnya yang semakin menjauh dariku. Kalau dari yang kulihat, dia itu cukup tampan dan dewasa. Perkiraanku, dia masih berumur dua puluh delapan tahun. Dua kali usiaku.
Saat ini, aku berada di dalam benteng. Melalui celah yang tak terlalu besar, aku melihat keadaan di luar. Kapten Xy dan beberapa rekannya hendak melakukan patroli dari udara. Mungkin dia itu kapten dari tim angkatan udara. Mereka menaiki pesawat jet khusus, meskipun belum secanggih di kehidupanku sebenarnya.
Aku terus mengamati mereka dalam diam. Hingga tiba-tiba..
"XS894, bagaimana kondisimu?" ucap seseorang yang jaraknya tak jauh dariku. Aku menolehkan kepala ke arahnya.
"Darurat! Pesawat tak bisa dikendalikan akibat terkena serangan musuh!" jawab seseorang melalui alat komunikasi mereka. Tunggu, kalau tidak salah, itu suara kapten!
Tiba-tiba perasaanku tidak nyaman, campur aduk, antara takut, sedih dan khawatir. Aku pun langsung berlari keluar dari benteng, tak menghiraukan panggilan dari anggota-anggota lainnya.
Aku menatap ke langit, ada kepulan asap hitam. Tak jauh dari sana, ada benda baja yang mulai terbakar. Itu pesawat!
Dengan keberanian yang kupaksakan, aku berlari mendekati pesawat yang terbakar itu. Membuka paksa salah satu pintu darurat yang setengah terbuka, tapi dapat kupastikan kalau di sini masih ada orang.
Di dalam kabin yang sudah dipenuhi asap, aku mencoba memandang sekeliling.
"Kapten!" seruku saat melihat seseorang tak sadarkan diri di kursi kemudi. Aku langsung menghampirinya, tak peduli ada semakin banyak asap yang memenuhi ruangan.
"Kapten, bangun! Jangan tinggalkan aku!" ucapku panik plus cemas sambil mengguncang tubuhnya. Aku pun membuka-buka laci dekat setir kemudi pesawat. Semoga menemukan sesuatu yang dapat membantu.
"Hah? Hanya satu." ucapku pelan setelah melihat tabung oksigen kecil yang sudah berkurang separuh. Aku tak punya pilihan lain, selain menyelamatkannya dan keluar dari pesawat ini.
"Uhuk! Uhuk! Bertahanlah sebentar," ucapku sambil memasangkan masker oksigen padanya, dan kemudian memapahnya keluar.
=•=•=•=•=•
Perlahan aku membuka mataku. Sedari tadi, aku tertidur setelah beberapa saat menunggu kapten Xy tersadar. Aku mengucek singkat mataku. Berpikir tentang sesuatu.
Aku berjalan keluar dari ruang perawatan. Aku kembali ke tempat yang pesawat jatuh tadi. Badan pesawat sudah hancur. Ingin aku memperbaikinya, tapi tanpa gadget, ini sangat sulit. Aku hanya membawa dua lembar kertas putih kosong dan satu pensil.
Di sana, aku mulai mendesain pesawat yang aku inginkan. Pesawat tempur yang lebih modern yang mempunyai serangan yang dahsyat, serta tahan terhadap serangan dan lebih mengutamakan keamanan. Aku mendesainnya mirip seperti pesawat-pesawat jet yang sering terlihat saat aku pergi ke sekolah.
Mendesain bagian kerangka, mesin, sayap, serta kemudi pesawat juga aku desain. Bagiku ini kurang memuaskan, biasanya aku menggunakan desktop untuk menggambar, kali ini menggambar secara manual. Jadi ada beberapa garis yang kurang lurus.
Entah sudah berapa lama aku menggambar, tiba-tiba..
"Selamat sore, Sky." ucap seseorang dari arah belakangku. Suara yang aku kenal. Dia..
"Kapten! Kapten sudah sadar?" tanyaku sambil berdiri menghadapnya. Dia tersenyum padaku. Benar-benar tampan. Ah apa yang kupikirkan?!
"Terima kasih karena tadi sudah menyelamatkan aku.." ucapnya berterima kasih padaku.
"Bukan apa-apa, kapten."
Setelah itu, dia menatap kertas yang kugunakan untuk menggambar tadi. Mengambil salah satunya dan mengamatinya.
"Ini.. kau yang membuatnya?" dia bertanya padaku. Aku mengangguk dengan pasti.
"Benarkah? Sebenarnya kau sudah lulusan universitas mana? Rancanganmu begitu bagus." ucapnya takjub setelah melihat hasil rancanganku.
"Aku.. belum lulus SMP." jawabku dengan polos dan jujur.
"Apa?! Ehmm.. bisa kau jelaskan bagaimana kau bisa melakukannya?" aku baru tau, kalau kemampuan anak SMP abad ke-23 sana dengan mahasiswa abad ke-19. Memang agak aneh, tapi bisa saja hal itu terjadi, iya kan?
"Kalau aku menjelaskan, apakah kapten akan percaya padaku?"
"Percaya atau tidak, itu urusan belakangan. Kau bisa cerita padaku."
"Sebenarnya aku.. Aku.. Datang dari abad ke-23. Saat akan kembali dari penelitian, pesawat kami masuk ke lubang hitam, dan tau-tau aku sudah di sini. Apa kapten percaya?"
"Belum, kalau aku boleh tau, kau dari negara mana?"
"Tidak tau, yang aku tau, aku tinggal di benua Otherhumans."
"Benua apa itu? Aku belum pernah mendengarnya," tanyanya, kan benar. Dia tidak akan percaya begitu saja.
"Benua yang akan ada di masa depan. Benua Otherhumans, sebagai benua paling maju di Bumi, ada banyak robot dan mesin." jelasku. Dia mengangguk, tunggu, dia percaya padaku?
"Tak peduli kau berasal dari mana, yang penting aku ingin kau menjadi masa depanku." ucap Kapten Xy tiba-tiba. Entah mengapa, wajahku terasa agak panas, mungkinkah aku demam?
"Kenapa? Kau meragukan aku? Kamu adalah langitnya galaksi." lanjutnya sambil merangkulku ke pelukannya, wajahku semakin terasa panas. Jantungku berdebar tak karuan.
"Tu.. tunggu kapten. Aku ini masih kecil, mungkin lebih cocok kalau aku menjadi putri angkatmu. Dan bagaimana kalau nanti anda dijuluki pedofil?" tanyaku sambil mencoba melepaskan diri, tapi dia malah semakin erat memelukku.
"Pedofil? Apa itu? Apapun itu, pokoknya langit akan selalu berdampingan dengan galaksi."
=•=•=•=•=
Tahun 2230,
Breaking news! Kabar menggemparkan! Otherhumans telah kehilangan salah satu gadis jeniusnya!
Kirey Clarissa, atau biasa dipanggil Sky, salah satu gadis jenius di benua ini. Dikabarkan dia tertelan lubang hitam saat dalam perjalanan setelah menyelesaikan penelitian.
Berdasarkan sinyal terakhirnya, dari rekaman kamera, tampak ada lubang hitam yang sangat besar dan menelan pesawat dan juga dirinya. Terakhir kali dirinya terdeteksi, di galaksi Bima sakti zona kedua puluh delapan.
Tidak bisa dipastikan keadaannya saat ini, sebab belum pernah ada yang kembali setelah masuk ke lubang hitam. Tapi berdasarkan hipotesis, kalau pesawat XY803 telah hancur berkeping-keping.
Kini, zona tersebut telah diamankan oleh tim patroli ruang angkasa, supaya tidak ada lagi yang menjadi korban.
-Tamat-
=•=•=•=•=•=•
Terima kasih sudah membaca cerpen Nino untuk yang kesekian kalinya. Cerita ini hanya fiksi ya. Cover diambil dari pinterest.
Btw mungkin ini latarnya agak mirip kayak salah satu anime. Yang cewek humanoid yang mencari tau apa arti cinta. Dia jatuh cinta sama mayornya yang sudah tiada. Kalian tau?
Jangan lupa like dan komen setelah membaca ya! Supaya Nino makin semangat. Sampai jumpa di cerpen berikutnya...