Andai sungguh, ketemu tiada adalah ketemu pengetahuan kebenaran… mengapa generasi dalam perspektif/dimensi ada, tetap diberlangsungkan?
Lagi-lagi aku dibawa begini, berpikir ini. Apa, sih, ini??
Entah, ini antah berantah yang kuhadapi? Atau, peri-peri menawan di balik awan?
Oh, aku ingin segelas bir.
〰️
Apa guna estafet, jika inti adalah perseorangan? Apa guna sekarung anggur, jika aku hanya mau anggur? Rasanya bagaimana, sih? cuma itu. Kau aja yang rakus!
Bagaimana menghubungkan kesadaran yang masih berlangsung, dengan dimensi ketiadaan? Oh, rumit minta ampun!
Bagaimana kaitan ada untuk tiada, selain mungkin saling tidak menahu terhadap karakteristik dimensi masing-masing? Masih, rumit minta ampun!
Di sana, apa, ya? Apakah yang di sana tahu yang di sini? Apakah yang di sana menyadari hal bernama ‘di sini’? Apakah mereka tahu ayam geprek dan mie samyang?
Kecuali, ketiadaan sesungguhnya adalah bukan eksistensi (tidak ada), maka pertanyaan akan berhenti dan tak ada lagi kening-kening yang terlalu serius lalu mengalami kebotakan ringan.
〰️
Apa tiada? Bukan dari definisi, tapi dari identitas. Bukan dari imajinatif belaka, serupa: gelap, hitam, putih, kosong, sendiri, sepi, kesepian (kasihan), dan lain seragamnya.
Apa tiada??
Mampuss! Apaaa??
Bagaimana alam semesta dari ‘mata’ ketiadaan? Mungkinkah tiada adalah suatu eksistensi, sebagaimana realitas? Atau, itu hanya angan-angan melayang, mungkin akan terbang?
Oh, nalar akan kemana? Keyakinan akan merajalela?
But, at the end of the day, i still choose you! Percayalah!
〰️
Kenapa pemikiran bisa sampai pada hadapan hal-hal ini?
Maka, sekali lagi, berpikir itu apa?
Apa pemikiran?
Apa kita?
Kenapa sebagai manusia dan apa binatang/tumbuhan?
Kenapa ada beragam wujud dan beragam karakter? Apa tinggi? Apa rendah dan sebagainya? Apa wajah? Apa mata dan sebagainya? Apa ketertarikan dan tidak ketertarikan?
Kenapa aku cuma suka kamu, dan tak mau pindah-pindah?
〰️
Apa substansi-substansi realitas dan fenomena-fenomena yang sedang berlangsung dan berkembang? Apa waktu? Apa ruang? Kenapa, karena mereka aku jadi mengenal rindu untukmu?
Apa kehidupan?
Apa peradaban?
Apa ilmu pengetahuan?
Apa rasa dan logika? Apa rasa? Apa logika?
Apa intelektual?
Apa perubahan dan kemajuan?
Kenapa kita bertanya?
Kenapa sekarang tahu, nanti lebih tahu, nantinya lagi lebih tahu lagi?
Kenapa tidak hanya sekali tahu?
Kenapa tidak hanya ada satu tahu? (Bukan tahu goreng!)
Apa alam semesta dari identitas?
STOP!! Sungguh, aku ingin segelas bir. Sekarang ini juga!!
〰️
〰️
〰️
Halo, halo, saya Gede Wijana!
Terimakasih sudah meluangkan waktunya hadir di sini 😊
Bila berkenan, bisa juga bertamu di novel-novel saya, ya: "Segitiga Merah Jambu" dan "Dear Mr. Brilliant" 🔥🔥
Thankyou! 😘😘