"Saat aku kembali nanti, aku ingin mengajakmu, lalu menjadikan mu permaisuri. Kau mau kan?" Aku melabuhkan tatap pada presensi yang sedang duduk sembari menatapku. Aku terkekeh singkat, sebelum kembali berkutat pada masakan yang aku buat.
"Di kerajaan banyak pelayan, kau tidak perlu memasak lagi. Walaupun aku suka dengan masakan mu. Tapi aku tidak suka melihatmu kelelahan." Ucapnya, lagi-lagi aku hanya tersenyum singkat.
"Bagaimana kau mau kan?" Pertanyaannya mengudara untuk beberapa saat. Tanganku sibuk meletakkan makanan ke dalam piring untuk ku sajikan kepadanya.
Mungkin kalian bingung dengan percakapan ini. Baiklah, akan sedikit ku jelaskan perihal apa yang terjadi. Dan bagaimana bisa terjadi.
Ini mungkin terkesan mustahil, semua bermula ketika aku tak sengaja menemukan sebuah kotak kayu kecil saat aku pindah di rumah baru ku ini. Aku membelinya dari seorang agen properti. Aku membelinya sebab harga nya yang lumayan murah untuk takaran rumah lantai satu tradisional, minimalis. Sebelum ku beli sudah dilakukan beberapa renovasi hingga tampak tertata rapi. Dulu desas-desus yang beredar di kalangan tetangga rumah ini cukup angker setelah ditinggalkan penghuninya. Aku tak peduli sekalipun banyak hantu tinggal di rumah ini, asal mereka tak meminta makan padaku tidak masalah. Jujur saja aku lebih takut terlilit hutang karena tak mampu membayar sewa apartemen. Setidaknya aku punya tempat berlindung.
Aku yang waktu itu baru tiga hari menempati rumah ini tak mendapatkan gangguan apapun. Mungkin memang benar, cerita yang beredar terkadang memang sudah dibumbui. Aku tebak pasti sudah banyak mulut yang turut serta menambahkan sesuatu sebagai pemanis.
Oke, kembali lagi pada diriku saat baru tiga hari tinggal di rumah yang katanya berhantu ini. Saat itu aku sedang tidak bekerja, lumayan bosan jika duduk-duduk saja, terlebih diriku tinggal sendirian di rumah ini. Aku pun berinisiatif menjelajahi rumah ini sekalian bersih-bersih. Siapa tau ada yang bisa ku kerjakan disini.
Aku pun berjalan menuju sebuah ruangan yang disebut gudang penyimpanan. Waktu melihat rumah ini aku memang sudah melihat gudangnya, tapi hanya sekilas. Gudangnya tidak kotor. Malah tertata rapi, benda-benda di dalamnya cukup banyak yang aku tidak tahu apa itu. Jadi mungkin disini ada yang bisa ku buang.
Aku menaiki tangga kecil untuk meraih kotak yang berada di sebuah papan kayu yang menggantung. Walaupun bersusah payah tetapi pada akhirnya kotak itu berhasil ku ambil, tetapi sesaat kemudian bunyi benda jatuh mengagetkan ku.
Ku lihat sebuah kotak kecil, sekecil kotak yang biasanya digunakan untuk menyimpan cincin. Kotak itu lumayan usang, tapi jujur saja ketika pertama kali melihatnya aku jatuh cinta dengan ukiran kayu tersebut. Sangat detail, sejenak aku ingin menjadikannya koleksiku. Tapi terbesit rasa penasaran apa isi kotak ini. Tanpa berfikir lagi aku pun membukanya. Entah bagaimana caranya cahaya seterang kilatan lampu flash kamera di malam hari terasa menyengat mataku sesaat setelah membuka kotak itu. Cahaya tersebut berlangsung beberapa detik sebelum berangsur-angsur memudar. Aku mengerjap berulang kali, ku lihat kotak itu kosong. Tapi seseorang yang berdiri di depanku secara tiba-tiba benar-benar membuatku terkejut, nyaris aku terjatuh. Beberapa saat aku berfikir mungkin ini yang orang-orang sebut hantu penghuni rumah ini.
Pun secepat kilat aku mencoba lari dari sini dengan teriakan-teriakan yang keluar sebagai reflek keterkejutan ku. Tetapi sampai di ambang pintu aku terdiam. Tunggu, mungkin aku berhalusinasi sebab tadi mataku sempat terkena kilatan cahaya. Jadilah aku berbalik arah untuk memastikan.
Tapi yang ku lihat benar adanya, tepat beberapa langkah dariku berdiri seorang pria dengan pakaian aneh. Seperti pakaian jaman kerajaan. Aku pun membulatkan mataku, napasku memburu, jatungku berdegup kencang.
"Siapa kau?" Perlahan ku beranikan diri bertanya, walaupun aku juga tengah bergerak mundur sedikit-sedikit.Takut- takut tiba-tiba ia menyerang ku.
Ia menatapku sama bingungnya. "Berani sekali kau berbicara tidak formal dengan putra mahkota." Ucapnya.
Tunggu? Putra mahkota?
Kepalaku benar-benar pening sekarang. Secara sengaja aku melihat kakinya, konon katanya hantu itu melayang atau bahkan tidak punya kaki. Tapi saat kudapati pria itu kakinya masih lengkap, maksudku masih berpijak di bumi aku sedikit bernapas lega. Tapi tunggu, bisa jadi ini tipuan hantu kan?
"Jangan becanda, putra mahkota apanya? Ini sudah abad ke-21." Ucapku. Ia mengerutkan keningnya heran. "Kau yang becanda. Aku tadi sedang berjalan-jalan di taman istana lalu tiba-tiba aku disini. Kau siapa? kenapa kau berpakaian aneh seperti itu?" Ujarnya.
Aneh katanya, aku reflek menatap pakaian yang sedang aku kenakan. "Hey, ini pakaian yang umum digunakan, kau yang aneh. Kau ini sebenarnya siapa? Kau hantu?" Aku belum berani mendekat.
"Hantu? apa itu hantu?"
"Hantu itu arwah orang yang sudah meninggal. Kau pasti hantu kan? Kau dulu putra mahkota?" Entah sejak kapan aku mulai berani, tak setakut tadi. Hantu di depan ku tak seseram yang ditampilkan di film-film horor.
"Aku bukan hantu, aku masih hidup. Aku ini pangeran Junkoo, Putra mahkota kerajaan. Berani sekali kau menyebutku hantu. Cepat minta maaf atau aku akan menghukum mu." Aku semakin bingung dengan keadaan. Aku memijat pelipisku pelan.
"Kerajaan apa maksudmu? Sekarang pemerintahan sudah dipimpin presiden. Yang benar saja." Sanggah ku. Tak kehilangan akal aku pun membuka ponselku. Mencari di internet tentang Junkoo-Junkoo ini. Aneh-aneh saja.
Tepat ketika pencarian ku mulai muncul di internet, seketika aku hampir melempar ponselku saking terkejutnya.
Pangeran Junkoo benar adanya. Dia adalah salah satu raja pada jaman kerajaan. Terlebih lagi ia terkenal kejam dan tak kenal ampun. Namun banyak yang menyukainya sebab pemerintahannya yang jujur dan bertindak tegas tanpa pandang bulu. Jika ada yang bersalah sekalipun anggota kerajaan maka Junkoo akan bertindak tegas sesuai hukum.
"Kau sedang mengerjai ku kan? Belakangan ini banyak sekali Youtuber yang melakukan hal ini untuk konten." Aku masih mencoba mengais akal pintar ku.
"Youtuber? Apa itu? Dan untuk apa aku mengerjai mu? Aku ini sibuk. Cepat kembalikan aku ke kerajaan. Pasti semua orang sedang mencariku. Kau bisa dihukum berat karena menculik putra mahkota." Junkoo berucap dengan nada yang memang sering ku dengar di film-film yang berlatar kerajaan. Aku melihat ke arah kotak yang tergeletak setelah ku lemparkan karena terkejut tadi. Entah sejak kapan ada gulungan kecil kertas lusuh dengan warna yang coklat. Aku pun segera mengambilnya.
Aku kembali membulatkan mata, lagi-lagi semua terasa membingungkan. Kertas ini ditulis dengan aksara yang tidak aku kenali. "Apa itu?" Tanya Junkoo yang penasaran. ia pun lantas menarik kertas kecil ini untuk ia baca.
"KAPSUL WAKTU TELAH MENARIK SESEORANG DARI JAMAN YANG BERBEDA." Junkoo membacanya dengan keras hingga aku pun dapat mendengar. "Itu maksudnya apa?" Junkoo kemudian menatapku.
Ia berjalan mendekat ke arahku, membuatku perlahan mundur seiring dengan langkah Junkoo yang maju. Tubuh kami telah sampai di luar gudang, Junkoo seperti sedang mengamati keadaan sekitar. Ia bahkan mengamati ku kemudian.
"Di jaman ku ada seorang penyihir yang membuat kotak kapsul waktu. Kau membukanya hingga aku bisa terseret kemari." Terangnya.
"A-apa? Bagaimana bisa?" Tanyaku. "Aku tidak tahu." Ucapnya, entah kenapa ekspresinya juga menjelaskan jika ia adalah manusia yang menyebalkan.
"Lalu sekarang harus bagaimana?" Tanyaku lagi.
"Bagaimana lagi? Aku akan mencari cara untuk kembali. Tapi sebelum itu tolong buatkan aku makanan. Aku lapar." Ujar Junkoo, perkataannya membuat kedua pupilku kembali membulat. Apa-apaan?
Dan begitulah awalnya, hingga satu bulan berlalu. Tapi Junkoo tak kunjung menemukan cara untuk kembali. Perlahan pun kehadiran Junkoo lumayan membantuku, ia bisa melakukan banyak hal. Ia cukup menyenangkan.
Lalu secara tiba-tiba Junkoo bilang ia mencintai ku. Saat itu aku juga sebenarnya sudah menyimpan rasa jadi aku iyakan. Hari-hari terus berlalu dengan Junkoo yang kini mulai mengisi ruang kekosongan di hatiku dan juga dihidupku. Kami menjalani hari tanpa peduli lagi darimana asal Junkoo. Tetapi walaupun begitu setiap hari Junkoo selalu bilang ingin menjadikan ku permaisuri jika ia berhasil kembali ke jamannya.
Seperti yang kita bicarakan sekarang. Aku tak mau ambil pusing, jujur saja aku masih ingin bersama Junkoo. Kita bahkan tidak tahu apakah jika Junkoo bisa kembali lagi, apa kita bisa bersatu? Mungkin tak semudah ucapan Junkoo sebab jamannya dengan jaman ku yang tentunya berbeda.
Setelah meletakkan semua makanan diatas piring, aku membawanya ke meja makan tempat Junkoo duduk. Aku mengulas senyum menantang. "Bagaimana bisa kau menjadikan ku permaisuri? kau saja bahkan tidak tahu caranya pulang." Ucapku dengan nada mengejek. Dulu jika aku mengatakan hal itu Junkoo pasti akan langsung mengajakku berdebat. Tapi kali ini ia terkekeh.
"Kau tenang saja, walaupun nantinya aku tidak bisa kembali lagi setidaknya aku bersama mu. Itu sudah cukup." Tukas Junkoo sembari menyendokkan nasi ke dalam mulutnya.
"Aku juga, aku ingin terus bersama mu, Junkoo." Sejenak pandangan kami saling beradu. Junkoo kemudian meraih tanganku, menggenggamnya sembari mengusapnya pelan.
"Kalau begitu ayo menikah." Ucapnya entah sudah yang keberapa kali. Berakhir kita berdua tertawa bersama mengingat betapa anehnya kisah kita di mulai. Tapi apapun itu aku ingin berterimakasih kepada Penyihir yang sudah menciptakan kapsul waktu itu, lalu agen properti yang menawarkan rumah ini untukku, kemudian para tetangga dengan gosip tentang rumah ini sehingga aku bisa membeli rumah ini dengan harga murah. Terimakasih banyak, berkat kalian aku bisa bertemu dengan Junkoo.