"Hanya di perjamuan terakhir saja, kau buat seolah pergi untuk melihat langit. Padahal yang kau lihat sekarang rembulan yang tersenyum." Seseorang yang katanya tak bisa menyebut nama itu, mengatakan hal yang berbeda lagi.
"Rembulan itu tersenyum hanya untuk melihat seseorang yang bisa merelakan segalanya dan terjun dalam kebebasan yang abadi." Dia berhenti dan meminum wine yang ada di tangannya.
"Wow! Kata-katamu selalu punya kesan yang sulit dipahami, ya? Tapi kurasa aku mengerti." Salah seorang wanita yang disebut Interesy olehnya tertarik dengan penggalan bualan belaka miliknya.
"Yah, aku hanya bisa samar-samar melihat gambaran mengerikan di sana." Yang satu ini dipanggil Analys. Dia memang bisa menggambarkan apa yang sulit menjadi sederhana.
"Lalu, apa yang anda sekalian pikirkan dalam bualanku kali ini?" Tanyanya pada kedua wanita tersebut.
"Kematian." Analys menjawab secepat mungkin.
"Kesenangan sesaat!" Interesy tertinggal beberapa detik dengannya.
"Kematian adalah jawabannya." Wanita itu membenarkan.
Disini, hanya dia yang tak boleh menyebut nama orang lain. Orang-orang memanggilnya dengan sebutan 'Curscalnme' yang ambigu atau membingungkan. Bukan karena dia tidak mau tapi, kutukan akan menyertai orang yang namanya telah disebut oleh wanita itu.
Entah rumor atau nyata, tapi dia menerimannya. Dia tak mundur begitu saja. Janjinya pada diri sendiri dan abdi negaranyalah yang membuat ia bangkit. Dia memperluas wawasan yang rumit bagi orang lain. Makanan sehari-harinya saja adalah memikirkan strategi dan solusi dari masalah rumit.
Karena wawasan miliknya, negara Prenias ini menjadi negara yang makmur dan banyak didambakan oleh banyak orang. Mulai dari bangsawan hingga rakyat.
Dia juga mempelajari hal-hal sederhana hanya dengan beberapa kali mengamati. Dia diberi gelar oleh sang pemimpin dalam negeri, yaitu gelar 'wanita pertama yang paling jenius dan lebih banyak berkontribusi untuk negara.'
Dia memang punya cara untuk menyebut para bangsawan dengan khas miliknya seorang. Memanggil dengan istilah yang mulai dari ilmiah sampai tokoh dunia. Tak lupa dengan pelajaran tentang kehidupan.
"Oh! Bicara soal kesenangan sesaat, bukannya anda pernah dilamar oleh 'dia' saat anda berumur 18 tahun? Dia sekarang ada disini!" Kata Interesy menggoda.
"Aku kira apa dia sudah menyerah? Tapi, ternyata bisa jadi kan, kalau dia masih mengejar wanita tangguh ini?" Analys bertanya-tanya.
"Tuan... ah, maksud anda sekalian itu adalah tuan smile in snow?" Curscalnme bertanya. Mereka mengangguk kecil.
"Tapi, apa 'dia' sudah menemui anda?" Kata Analys.
"Tidak. Belum. Dan untuk apa?" Dia bertanya setelah meneguk wine sampai tersisa sedikit.
"Tentu saja untuk melamarmu lagi! Seharusnya dia bersyukur dapat kesenangan sesaat karena melamar di depan umum dengan alasan cinta pandangan pertama." Jawab Interesy dengan penuh percaya diri.
Lalu bayangan mulai menghalangi pandangan kedua wanita itu dengan skala kecil.
"Yah, dia satu-satunya yang menyatakan cinta pada anda. Setelah itu tak ada lagi. Mungkin mereka lebih tertarik membiarkan anda sendiri melajang selama 2 tahun hanya untuk melihat tontonan yang romantis?" Kata Analys.
"Ehem!" Mereka berbalik untuk melihat siapa yang berdeham sembarangan. "Sepertinya nona-nona ini sedang membicarakan saya?" Ucap sang pria dengan rambut putihnya.
"Ah... haha. Kami hanya bergurau." Kata Interesy sambil memberi kode pada Analys untuk pergi.
"Kalau begitu, kami akan kembali setelah melihat-lihat sesuatu disana." Kata Analys.
Mereka pergi meninggalkan keduanya. Wanita itu mungkin tak heran dengan apa yang mereka lakukan. Lagipula apa yang bisa dilihat disana?
"Nona Curscalnme, maaf untuk 'tak sengaja mengganggu obrolan tadi' dengan terlihat seakan sengaja." Kata pria itu yang tak lain nama aslinya adalah Fredrick laures.
"Pfft..." dia menahan tawa saat mendengar kata-kata yang tak mudah di rangkai. "Ah, maaf untuk itu. Dan kurasa tak apa juga mereka pergi dari sini." Sambungnya.
"Agar kita bisa bertemu secara dekat atau empat mata?" Tanya Fredrick percaya diri.
"Puff... haha!" Dia menutup tawanya dengan tangan kiri. "Yah, mungkin juga?" Katanya sambil mengangkat alis.
Fredrick hanya melihat tanpa menjawab. Pria yang memiliki rambut seputih salju itu tersenyum dan menatap lekat matanya.
"Ada apa?" Tanya Curscalnme sambil meletakkan gelas diatas meja.
"Oh, ya... apa bisa kita ke balkon?" Tanya pria itu gugup.
"Tentu. Kenapa tidak?" Ucap wanita itu.
Mereka pergi tak hanya sekedar memandang satu sama lain. Mereka juga merasakan angin dan deburan ombak pada malam yang agak sunyi sedikit.
Tapi, sungguh disayangkan. Percakapan mereka tak terlalu romantis seperti yang ada dalam bayanganmu. Mereka tengah membicarakan betapa menggelikannya manusia.
"Memang. Manusia itu unik. Tapi, juga aneh di waktu yang sama." Kata Curscalnme.
"Dan sejauh ini, bagaimana dengan kata 'psikologi' itu sendiri? Terdengar seperti kau akan membedah otak manusia secara terang-terangan." Kata Fredrick.
"Memang." Fredrick kaget mendengarnya.
"Tapi, bukan berarti darah akan menjadi pemandangan sehari-hari. Maksudku itu tentang, seberapa banyak manusia akan bertindak dengan tindakan yang sama." Dia menatap langit dan kembali memandangi ombak.
"Kenapa dan bagaimana cara berpikir kita bisa seperti deburan ombak yang datang dan pergi begitu saja." Kini dia menyilangkan tangannya agar dapat sedikit kehangatan.
"Atau... bagaimana sikap mereka tak sama ketika sedang marah. Itu hampir seperti mental tapi, lebih dari itu." Sambungnya. Lalu dia melihat tuan Fredrick yang diam mendengarkan.
"Ini." Lalu dia memberikan jasnya dan langsung mendarat ke punggung wanita itu. "Disini memang dingin. Apa kau mau masuk ke dalam?" Tanyanya.
"Kurasa. Baiklah." Jawab wanita itu tersenyum.
Mereka masuk ke dalam dan disambut oleh pandangan orang-orang yang penasaran. Walau sudah berusaha disembunyikan, Curscalnme tahu bahwa mereka dari tadi dilihat oleh banyak orang.
"Lalu, setelah semua itu, apa kau akan menemukan jawaban dari... bagaimana seseorang menyukai orang lain?" Tanyanya ragu.
"Haha! Mungkin saja begitu." Katanya enteng.
"Sungguh?" Lantas Fredrick kaget mendengarnya.
"Mungkin." Katanya singkat.
Hening sejenak. Orang-orang masih saja berbisik.
"Kau ingat kata-kata apa yang kau ajukan waktu itu?" Tanya wanita itu tiba-tiba.
"Oh! Ehmm... apa kita harus membicarakan itu?" Tanyanya balik.
"Yah, samar-samar aku ingat kau yang tak mengetahui apapun tentangku," dia menatap pria yang masih malu.
"Yang sudah mutlak tak bisa mengatakan nama, melamar padaku dengan akhiran kalimat 'jika kau memanggil namaku dengan bibir indahmu itu, aku akan jatuh cinta." Katanya menggoda pria itu.
"Yah, namun, pada akhirnya kau mengatakan 'aku hanya berharap menikah pada seseorang yang mentalnya sudah cukup tua meskipun umurnya masih muda' itu dengan tatapan menyedihkan." Kata Fredrick dengan agak kesal itu.
"Itu wajar saja. Tak banyak orang mengenalku dengan rumor seperti itu. Jadi, yah... tak apa-apa, bukan?" Kata Curscalnme menenangkan. Sempat dia menahan tawanya.
Perjamuan itupun selesai tanpa adanya dansa dari wanita yang kini tengah di bicarakan itu. Bahkan Fredrick disebut kembali dengan kenangan yang menurutnya memalukan itu.
Sempat beberapa diantara mereka mungkin kecewa tak melihat adanya bunga yang mekar di malam adanya Curscalnme. Namun, ada pula yang masih sinis atau bahkan iri akan hal itu.
Tapi, diantara kerumunan itu ada yang mengembangkan senyuman yang tak enak dilihat.
"Kau mengantarku sampai sini. Apa tidak kerepotan?" Tanya Curscalnme yang duduk di keretanya.
"Tentu tidak. Dan mungkin untuk nanti, seandainya kita bertemu di kuil Weds, kembalikan jas itu padaku." Kata Fredrick.
"Sekarang, apa kau sedang melamarku dengan cara yang berbeda?" Tanya wanita itu yang beranggapan bahwa itu candaan.
Secara umum, kuil Weds adalah tempat suci untuk berdoa, diberi pemberkatan dan juga tempat acara pernikahan.
"Ya." Jawabnya singkat. Dari matanya saja sudah sangat serius. Apalagi dengan ucapannya.
Wajah Curscalnme memerah. Tentu itu membuat Fredrick tertawa. Dalam hati, Curscalnme sangat malu akan mengatakan sesuatu yang malah membuatnya gugup. Mungkin saja sekarang jantungnya berdegup sangat kencang, benar?
Kereta itu pergi dan melewati lebatnya hutan. Derap tapal kuda kini hanya menemani kesunyian. Meskipun derap tapal kuda kini bertambah lebih banyak. Tunggu, apa? Pikirnya.
Lalu tak lama setelah itu, suara teriakan terdengar oleh Fredrick. Pikiran negatif terus hinggap di pikirannya. Dia sudah tak bisa berpikir positif. Jelas teriakan itu adalah milik Curscalnme. Dia merebut tali dari si kusir pribadinya.
"Aku pinjam sebentar!" Kata Fredrick pergi meninggalkan satu kuda dan si kusir.
"Tapi, tuan...!" Dia tahu bahwa tuannya sudah tentu tak akan bisa mendengarnya dari jarak sejauh itu. Meski begitu dia berharap dia tidak dipotong gajinya karena kejadian ini.
Secepat angin, dia menemukan kereta yang di tumpangi gadis itu. Ada bercak darah di sepanjang jalan gadis itu berlari. Sementara, disekitarnya tak ada lagi yang bernyawa. Satu kuda mati. Satunya lagi menghilang.
Menunggangi kuda pada malam ini hanya membuat dia gelisah. Dia mendengar derap kuda yang lainnya hanya dari mengejar darah yang jatuh secara sembarang itu. Dari suaranya saja seperti mengejar atau dikejar.
"Aaaahhhkk..." teriakan kini terdengar jelas disertai suara kuda yang kesakitan.
"Hya!" Tanpa pikir panjang, dia pergi ke sumber suara yang mengarah ke jurang tersebut.
Sekarang, yang ia lihat adalah jurang dan Curscalnme. Pria yang mengejarnya juga tak luput dari penglihatan Fredrick.
"Hahaha! Misiku pasti akan berhasil kali ini. Dan kau akan dapat ganjaran sudah melukai wajahku ini!" Kata pria itu yang memegang pedang itu.
"Jangan bergerak!" Teriak Fredrick. "Lawanmu kini telah datang." Katanya sambil mengeluarkan pedang milik kusir yang sudah tiada tadi.
"Sial*n!" Lalu pria itu mulai menatap tajam pada Fredrick.
"Tidak Fredrick!" Tanpa sadar Curscalnme mengucapkan namanya.
"Kau terluka. Sebaiknya menepilah. Kau tahu, aku masih menunggu kau memanggil namaku selama ini." Katanya.
Pertarungan itu memang tak pernah diharapkan. Dengan sigap Fredrick melampaui keahlian pria misterius itu. Namun, dia kalah cepat dan malah mendorong Fredrick ke jalan buntu. Yaitu jurang.
"Tidak! Hentikan sekarang juga!" Teriak Curscalnme.
"Sudah terlambat!" Lalu pria itu menusuk perut Fredrick cukup dalam. Namun, disaat yang bersamaan, dia lengah dan langsung menebas kepala pria tersebut.
"Hah... hah... terimakasih untuk hadiah terakhirnya." Fredrick kehilangan kesadaran dan tubuhnya terjun ke bawah jurang. Curscalnme berlari dan berharap dia bisa menangkap tubuh itu.
Namun, dia terlambat.
"Tidak! Hah... hah..." dia hanya bisa menatap lautan yang menenggelamkan tubuh Fredrick.
Hal yang sama seperti 7 tahun lalu. Dia memanggil salah satu nama keluarganya dan tak ada yang selamat selama lebih dari 5 menit.
Bukan tanpa alasan. Kakaknya malah membuat marah besar sang penyihir. Dan entah bagaimana imbasnya malah kepada adiknya. Tapi, Curscalnme memanfaatkan kutukan tersebut untuk keegoisannya sendiri. Namun, untuk sekarang? Tentunya tidak sama sekali.
Cursed calling name atau singkatnya Curscalnme adalah nama yang tepat untuk wanita itu. Sampai dia tidak bisa melihat lautan yang membuatnya bersedih dan menuju keabadian yang sebenarnya.