Stephanie Young, gadis jutek itu menghela napas kesal melihat cowok di depannya. Agaknya, petuah Mommy tentang "semua cowok sama aja" itu memang benar adanya.
"Aku gak mau."
"Aku ga nanya. Aku maksa."
Heol, apa otak cowok ini hanya sebesar biji jagung? Atau jangan-jangan sebelum kemari kepalanya tidak sengaja membentur tiang listrik?
"Jangan ngadi-ngadi, ka. Kita temenan aja."
Stephy berbalik dan melengos pergi meninggalkan ketua OSIS Perps High School. Cowok itu, Justinson Jeon jelas tidak mau mengakui bahwa dirinya baru saja ditolak sang pujaan hati.
__________________________________________
Dering bel pulang sekolah mengecai rungu Stephy. Selaras dengan jantungnya yang memompa cepat—efek panik—cewek itu lekas membereskan alat tulisnya. Memasukan acak ke dalam ransel hitam lantas menyampirkannya ke pundak.
"Stephy, tadi senior Jeon nyariin." Darren, ketua kelas 2-1—kelasnya Stephy berbicara lantang sebab jarak mereka terpisah 5 bangku vertikal.
"Bilangin gue ga ada."
"Hah?"
Tanpa mengindahkan kebingungan Darren, Stephy segera ngacir keluar kelas. Bukannya parkiran tujuan tungkainya melangkah, cewek itu malah berakhir di taman halaman belakang sekolah.
Menurutnya, Justinson akan kesulitan mencarinya.
"Eh, pohonnya kok ada lubang gelap gitu?" Stephy memiringkan kepala bingung manakala meliat sebuah pohon maple. Seolah tersihir, tahu-tahu dirinya sudah berada di depan lubang hitam itu. Hawa dingin mulai menjalari tubuhnya.
Anehnya, asap mulai mengepul mengelilingi tubuhnya. Saat asap itu menghilang, keadaan seolah berubah total. Satu-satunya yang sama dalam pandangannya hanyalah pohon maple itu.
Ceklek.
Terkesiap kaget, Stephy merasakan dinginnya besi mengenai lehernya. Jelas apa yang ia pikirkan tidak keliru: itu adalah ujung pistol.
"Siapa kamu?"
Stephy merinding. Suara itu jelas mirip dengan cowok yang akhir-akhir ini mengejarnya. "K-kak Justinson?"
"Justinson?" cowok itu maju ke hadapan Stephy. Dan Stephy bersumpah matanya tidak salah lihat.
Itu jelas Justinson. Tapi kini di depannya, bukannya memakai seragam SMA, Justinson malah memakai jaket kulit hitam layaknya seorang mafia. Pipi cowok di depannya juga ada bekas noda merah berbau anyir. Apa itu darah?!
"Siapa kamu?"
"Aku? Aku Stephy. Kakak lupa? Perasaan baru tadi siang kakak nembak aku di rooftop sa—" Stephy yang hendak mencairkan suasana terdiam saat berniat menunjuk bangunan sekolahnya.
Nihil. Yang ada hanya mansion mewah yang bahkan lebih besar dari rumahnya.
"Menarik," cowok itu menyeringai. "Tapi, aku baru akan 'menembakmu' sekarang, bukan tadi. Lagipula, Babe. Tolong panggil aku dengan benar. Namaku bukan Justinson. Aku Justin. Justin Jeon."
Fin.
*ide diambil dari CS ku, "Terjebak Cinta Mafia"
Jangan lupa mampir dan tinggalkan jejak, ya 💕