Aryo menyeka keringat di dahinya ia merasa lelah karena seharian mencangkul di sawah.
Aryo memutuskan untuk beristirahat ia duduk di bawah pohon randu dengan bersandar dan kedua kakinya berselonjor.
Aryo teringat perkataan ibunya--Maryam.
"Kapan kamu nikahnya, Le. Mamak sudah nggak sabar menimang cucu," kata wanita berusia 50 tahun itu.
"Tidak ada yang mau sama pemuda miskin seperti ku, Mak. Sekali pun ada palingan gadis jadi-jadian."
"Hus! Ojo ngawur."
"Hehehe."
Angin semilir menerpa wajah Aryo dengan lembut.
Aryo merasa mengantuk. Kantuk yang menderanya tak bisa ditahan ia pun tertidur lelap.
Lalu, setengah jam kemudian ....
"Mas," seseorang membangunkan dengan lembut.
Seseorang itu mengguncang bahu Aryo.
"Mas."
Aryo terkesiap dan ia pun bangun. Ia nampak bingung karena ada seorang gadis di hadapannya. Gadis itu berwajah cantik.
"Iya, Mbak. Ada apa?" tanya Aryo. Ia mengumpulkan kesadarannya karena terkejut.
"Maaf. Saya mengganggu tidurnya. Bisakah, Mas membantu saya," ulas gadis cantik itu.
Rambut panjang terurai begitu saja. Sebagian rambutnya menutupi separuh wajahnya. Ia mengenakan pakaian kebaya bewarna hijau muda. Kulit putih sangat kontras dengan warna bajunya.
"Apa yang bisa saya bantu, Mbak?"
Aryo dan gadis itu berdiri. Namun, gadis tersebut nampak kesulitan untuk berdiri.
Aryo dengan cepat memapahnya.
"Tolong antar kan ke rumah saya. Kaki saya tekilir."
"Oh, baik. Saya antar ke mana?"
"Itu." Gadis itu menunjuk ke arah bukit. "Rumah saya ada di balik bukit itu."
Aryo mengikuti arah telunjuk gadis tersebut. Aryo bingung pasalnya di bukit itu tidak ada rumah satu pun. Akan tetapi, ia menepis rasa bingungnya. Barangkali rumah gadis itu masuk ke dalam jalan setapak.
"Mbak tunggu di sini. Saya mau ambil motor dulu."
Seribu pertanyaan di benak Aryo tentang gadis itu. Mengapa gadis cantik seperti dirinya berada di tengah sawah dan hutan.
Aryo datang dengan menaiki kuda besinya.
Ia pun turun untuk memapah gadis cantik tersebut.
"Oh, ya. Nama mas, siapa?" Gadis itu mengulurkan tangannya untuk bersalaman.
"Aryo." Ia pun menyambutnya.
"Lintang."
"Nama yang cantik seperti orangnya," gumam Aryo lirih. Ia sembari menaiki sepeda motornya.
"Apa tadi, Mas?"
"Eh, enggak. Hehehe."
*
*
*
Ketika jalan menanjak Aryo merasakan keanehan. Ia memasuki sebuah gerbang dan melihat banyak rumah-rumah di sekitarnya.
"Kok, bisa seramai ini," gumam Aryo tak habis pikir.
"Terus saja ya, Mas. Sebentar lagi sampai," kata Lintang.
"Siap."
Sekitar 25 menit sampai lah di depan rumah Lintang.
"Mampir dulu, Mas."
"Lain kali saja, Lin," balas Aryo menolak.
"Hari mau hujan. Lihatlah, mendung sebentar lagi akan turun hujan deras." Lintang menunjuk ke arah langit.
Aryo terkesiap tak percaya. Ketika ia masuk gerbang gapura tadi cerah saja. Tapi kenapa sekarang gelap.
Jduarr!
Halilintar menyambar dan disertai hujan deras.
Aryo pun berlari untuk berteduh. Lintang menggandeng tangan Aryo agar segera masuk ke dalam rumahnya.
Bangunan rumah itu sangat sederhana. Rumah panggung berukuran sedang dan panjang.
Lintang memperkenalkan Aryo kepada anggota keluarganya.
Dan mengajak Aryo untuk makan malam. Setelah selesai Aryo berpamitan hendak pulang tapi dicegah Lintang.
"Mas tak usah risau. Ini sudah tengah malam. Besok saja pulangnya."
"Tapi--," kalimat Aryo terputus.
"Benar kata Lintang. Bermalam lah di sini," Abimanyu---ayah Lintang menimpali.
Aryo pun menurut.
"Mas bisa istirahat di sini." Lintang membawa Aryo ke sebuah bilik kamar.
Senyum manis itu mengganggu pandangan Aryo. Ia belum pernah merasakan sensasi di dalam dadanya. Aryo jatuh cinta kepada Lintang.
Tak ada seorangpun wanita yang mau berbicara dengan Aryo kecuali Lintang.
"Kok, bengong?" Lintang meniup wajah Aryo.
Napas itu harum.
"Ehm, tidak. Hehehe," Aryo cengengesan.
"Istirahat lah, besok baru boleh pulang."
Aryo masuk ke dalam kamar dan menutup daun pintu tersebut.
*
*
*
Aryo merebahkan tubuhnya di atas ranjang kayu jati berukiran naga.
Kemudian ia terlelap ....
Tiba-tiba ia merasakan sesuatu yang mendesak segera di keluarkan. Aryo pun terbangun ingin buang air kecil.
Ia membuka pintu dan melangkah ke arah belakang mencari WC.
Ketika melewati lorong antara dapur dan kamar mandi ia melihat Abimanyu berjalan dengan mundur. Kedua kakinya tak menapak di lantai. Sadar diperhatikan kepala itu berputar 180 derajat ke arah Aryo.
Aryo terkejut ia pun bergegas ke kamar mandi.
Jantungnya berpacu kencang. Ia masih mengingat apa yang dilihat barusan.
Ketika selesai urusannya di kamar mandi. Aryo membuka pintu dan mengintip kalau-kalau mahluk kepala muter itu masih ada.
Dirasa aman Aryo ke luar. Dan kembali ke kamar.
"Kau lihat, apa?!" Suara Abimanyu mengejutkan Aryo yang menengok ke belakang. Takut sosok itu mengikutinya. Rupanya sosok itu sudah di hadapan Aryo.
"T----tidak." Aryo tergagap.
"Benarkah, kau tidak melihatnya?" Abimanyu berjalan mendekati Aryo lebih dekat lagi.
Aryo menggeleng. Wajahnya pucat, peluh membanjiri dahinya. Tubuhnya gemetaran.
"Bukankah, kau melihatnya? Seperti ini kan ...,"
Abimanyu memutar kepalanya secara perlahan wajahnya putih memucat. Bola matanya polos putih. Senyum menyeringai menakutkan.
Bruk!
Aryo limbung tubuhnya lemas tak bertenaga. Dengan sisa kekuatannya ia berusaha mundur dengan menyeret bokongnya.
Kepala itu terus saja memutar dan berputar dengan kecepatan tinggi.
Pluk!
Kepala itu bergelinding ke arah Aryo.
"Astaghfirullah! Ya Allah, tolong hamba!" Aryo memejamkan matanya karena takut.
"Allahuakbar, Allahuakbar!" Aryo mengumandangkan adzan.
Kepala itu menghilang berbarengan dengan kepulan asap hitam membumbung tinggi.
Wush!
Bruk!
Aryo jatuh pingsan.
"Aryo. Bangun, Le,"
"Istighfar, Le."
"Bangun, Yo. Jangan tinggalkan, Mamak. Huhuhu ...,"
Uhuk! Uhuk!
Aryo tersadar dan membuka kedua matanya perlahan. Ia mengedarkan pandangannya ke setiap ruangan. Di sampingnya Maryam dan Harto kedua orangtuanya. Dan beberapa tetangga.
"Alhamdulillah!" seru seseorang.
"Alhamdulillah, kamu sudah sadar, Le." Maryam memeluk Aryo.
"A-aryo. Kenapa?"
"Kamu ditemukan pingsan, Le. Di bawah pohon randu." Harto menjelaskan.
"Pingsan? Di bawah pohon randu?" Aryo masih mengumpulkan pecahan memori yang membuatnya pusing.
"Seminggu kamu pingsannya," seloroh tetangganya.
"Seminggu? Bukankah, baru--,"
"Sudah, sudah. Jangan diingat lagi. Kamu makan, ya." Maryam mengambil makanan dan menyuapkan para Aryo.
"Ke mana, Lintang?"
"Lintang?" Semua orang saling berpandangan.
"Gadis itu. Gadis yang Aryo antar kan ke rumahnya." Aryo mengingat sesaat.
"Ssst. Sudah, sudah. Makan yang banyak." Maryam menyuapkan nasi ke mulut Aryo.
*
*
*
"Mas Aryo ...," panggil seseorang. Di antara kabut putih.
"Lintang?!" Aryo berlari mendekati dan memeluknya.
"Kamu ke mana saja?"
Lintang melepas pelukan Aryo.
"Maafkan, aku. Aku harus pergi," ucap Lintang berderai air mata.
"Mas cinta sama kamu. Jangan tinggalkan, Mas. Mas mohon ...,"
"Maaf. Sudah terlambat. Aku sudah dijodohkan oleh ayah."
"Mas mohon, Lin!"
"Tidak, Mas. Dunia kita berbeda."
"Maksudnya?"
"Aku--,"
Krek!
Kepala Lintang menggelinding dan terjatuh di bawah kaki Aryo.
"Aaaaa!"
"Astaghfirullah, Le. Bangun!" Harto menepuk pipinya.
Aryo terlonjak bangun.
"Astaghfirullah, cuma mimpi."
Aryo bergidik ngeri.
Aryo melupakan kejadian yang mengerikan itu. Ia menganggap ini adalah sebuah mimpi.
Selesai