#Merawat Dia Semalaman Ketika Dia Sakit
***
Manik mata ini tak hentinya menatap tubuh lelaki yang sedang terbaring di ranjang rumah sakit.
Sudah semalaman ini aku menjaganya. Ia harus dibawa ke rumah sakit karena penyakit asmanya kumat lagi. Sejak kemarin sore dia tak sadarkan diri.
Orang tuanya yang sama-sama sibuk tidak bisa menemani pria berparas tampan ini. Mereka berdua memintaku untuk menjaganya. Sebab, mereka tahu aku adalah sahabat terbaik anaknya yang mereka kenal. Mereka percaya aku dapat menjaga anaknya.
Lelaki itu bernama lengkap Arga Wisnutama. Dia adalah pria yang kucintai tapi, tidak dapat dimiliki. Bisa dikatakan aku hanya mencintai seorang diri. Arga hanya menganggap aku sahabat. Selamanya akan terus begitu, katanya.
Aku yang sedikit merasa kecewa tadinya. Kemudian dapat memahami. Karena, perasaan memang tidak bisa dipaksa.
"A-Ail-en." Suara serak Arga menyadarkanku yang sedang melamun sejak tadi. Pria itu memanggil namaku dengan terbata-bata.
Perkenalkan namaku Ailen Rinjani. Usiaku menginjak 16 tahun sama seperti Arga. Karena memang kami satu kelas.
"Hei, Ga. Iya ini aku Ailen," sapaku dengan tersenyum lebar. "Syukurlah kau sudah sadar,"
"Sadar? Memangnya kenapa denganku? " Ia mencoba bangkit tapi kutahan karena keadaannya masih belum pulih.
"Tetaplah berbaring. Kemarin asma kamu kambuh dan tiba-tiba saja pingsan. Lalu aku dan Rania melarikan kamu ke rumah sakit dan sekarang kamu baru sadarkan diri," sahutku.
Rania itu adalah sepupuku. Kami satu kos-kosan. Aku meminta bantuan padanya untuk menemaniku membawa Arga. Karena, pacar Rania memiliki mobil jadi akan lebih cepat membawa Arga ke rumah sakit. Itulah yang terlintas dipikiranku.
"Dan sekarang mana Rania?"
"Dia pamit pulang," jawabku.
"Kamu sendiri kenapa tidak pulang?"
"Ya, aku hanya ingin menjagamu. Memangnya tidak boleh?" ketusku. Dasar lelaki tidak pernah peka. Aku menjaganya semalaman karena mengkhawatrikannya. Dia malah bertanya begitu.
"Uhh, baik sekali sahabatku yang satu ini." Arga mendekatiku yang jaraknya tidak terlalu jauh dengannya. Dia lalu mencubit kedua pipi ini. Hingga berubah memerah.
"Arga apa-apaan sih kamu, baru juga sadar sudah usil." Arga hanya terkekeh.
"Sebentar ya aku ambilkan buah-buah dulu." Aku mengambil sebuah wadah dengan berbagai macam buah-buahan terletak di atasnya. "Oh iya, kamu mau buah apa? Biar aku kupasin," kataku menatap wajahnya yang masih terlihat lesu.
"Terserah kamu saja," lirihnya. Bola mata hitamnya tampak mencari-cari sesuatu. Aku baru menyadari sekarang.
"Kamu sedang mencari siapa?" tanyaku. Mengikuti arah bola matanya.
"Bunda sama Ayah mana?"
"Mereka sedang sibuk tidak bisa datang. Aku disuruh mereka menjagamu." Aku hanya mencoba berterus terang.
"Sudah kuduga," lirihnya. "Ale, apa kamu punya alasan kenapa selalu ada saat aku di masa sulit? Padahal orang tuaku saja tidak pernah peduli denganku. Jangan bilang kamu-"
"Aku punya alasan aku peduli padamu karena kamu sahabat terbaik yang kupunya saat ini." Aku menyela perkataan Arga. Padahal sebenarnya bukan karena itu saja. Selain itu aku juga mencintai Arga. Namun, sangat sulit jika harus berterus terang.
"Hanya itu saja?"
"Emm iya… Ini Mangganya sudah selesai dikupas," ucapku memcoba mengalihkan pembicaraan. Aku menyerahkan padanya. "Makanlah,"
"Terimakasih." Ia mengambilnya. Setelah itu kami sama-sama diam. Padahal kami tak pernah secanggung ini sebelumnya.