Yang diketahui, anak itu cuma mempunyai gangguan perkembangan otak atau sering disebut autis.
Orang tua mana yang menginginkan anaknya terlahir sebagai penderita autis. Namun begitu, meski memiliki kekurangan, Riza mendapatkan kasih sayang luar biasa dari ibunya.
Ya, sang ibu amat perhatian pada anak satu-satunya tersebut.
Riza yang memang tak pernah kenal figur ayahnya sejak dalam kandungan sang ibu, namun caranya berprilaku sudah seperti anak normal pada umumnya.
Bahkan Riza nampak lebih dewasa dalam bertindak. Sehingga, itu membuat sang ibu tak lagi terlarut dalam kesedihan saat ditinggal pergi sang suami ke alam abadinya.
Sejak ditinggal pergi sosok ayah yang tak pernah dirasakan kasih sayangnya, praktis beban ekonomi amatlah berat. Sehingga bisa dibayangkan betapa sulitnya diawal-awal kepergian suami saat Riza masih dalam kandungan.
Beban ekonomi yang pas-pasan, bahkan bisa dibilang kurang. Sebenarnya membuat keadaan keluarga Riza amatlah sulit. Jangankan untuk menyekolahkan Riza di tempat pendidikan berkebutuhan khusus, untuk makan sehari-haripun terasa amat berat.
Untuk menghidupi keluarga yang hanya tinggal berdua, ibunya Riza mencari rejeki dari hasil julan kerupuk setiap harinya.
Ditengah tekanan ekonomi yang cukup memprihatinkan tersebut, Riza menjadi malaikat penghibur bagi ibunya.
Meskipun Riza terlahir sebagai anak berkebutuhan khusus, akan tetapi tingka laku Riza cukup membanggakan dimata ibunya
Riza tergolong anak yang rajin. Setiap pagi bangun lebih awal demi membantu menyiapkan kebutuhan sang ibu untuk berangkat mencari nafkah. Walaupun sebenarnya untuk menyiapkan kebutuhan tersebut tidak terlalu sulit, namun sang ibu membiarkan Riza malakukan itu. Sebab baginya, itu adalah bentuk pembelajaran bagi Riza yang tak pernah merasakan pendidikan bagi anak seusia dan senasib dengannya.
Malah terkadang Riza melakukan inisiatifnya diluar dugaan sang ibu. Pernah satu ketika Riza membantu mencuci baju atau mencuci piring kotor. Walaupun hasilnya cuciannya tidak seperti yang diharapkan, akan tetapi bagi ibunya hal tersebut sangatlah menyentuh.
Masa-masa sulit yang penuh keceriaan bagi Riza nampaknya menemui ujian, manakala Riza seperti biasa menemani ibunya keliling berjualan kerupuk, lalu tiba-tiba saja ada razia gelandangan dan pengemis.
Situasi menjadi rumit saat pedagang kaki lima juga ikut panik dan berhamburan menyelamatkan barang dagangannya agar tak terkena razia.
Termasuk Riza dan ibunya juga turut dalam kepanikan. Dalam kondisi kepanikan seperti itu, sang ibu tanpa mempedulikan barang dagangannya, memegang erat tangan Riza dan berlari sekencang-kencangnya untuk menyelamatkan diri. Namun, ibunya Riza tak menyadari bahwa tangan Riza yang dipegang nya erat terlepas ketika bertabrakan dengan orang-orang yang berlarian menyelamatkan diri.
Saat tersadar Riza tertinggal dibelakang, lalu wanita separuh baya itu berlari kembali ke tempat semula sambil berteriak memanggil manggil nama anaknya.
"RIZA.. RIZAAAA...! DIMANA KAMU NAK.." - Teriakan ibunya Riza terdengar lirih.
Suara serak parau masih terdengar dari ibunya Riza yang masih berusaha menncari keberadaan anaknya. Namun hingga sore hari tak juga menemui putra kesayangannya itu.
Seperti lazimnya seorang ibu, tentu membayangkan hal-hal buruk yang terjadi pada anaknya. Apalagi anaknya itu berkebutuhan khusus. Hanya doa dan keajaibanlah yang bisa menjawabnya.
Sementara itu, Riza yang akhirnya berpisah dengan sang ibu, hanya bisa memanggil-manggil ibunya dengan perasaan cemas, khawatir dan ketakutan yang tak pernah ia bayangkan.
Dalam keadaan seperti itu, bisa dibayangkan apa dan bagaimana kemudian yang bisa Riza lakukan.
Malam mulai larut, perut Riza yang sejak berpisah dengan ibunya dari siang hari mulai terasa lapar. Namun apa daya Riza tak bisa berbuat apa-apa.
Meski didalam sakunya ada beberapa lembar uang hasil dagangan bersama ibunya, tetapi Riza takut dan bingung membelanjakannya.
Perutnya yang lapar semakin menjadi-jadi, sehingga secara manusiawi Riza hanya bisa menangis. Berharap dari tangisannya ada seseorang yang mengerti keadaannya.
Tangisan Riza terdengar oleh kumpulan anak-anak jalanan seusianya. Anak-anak tersebut lalu menghampiri Riza.
Dan saat mengetahui bahwa Riza adalah anak yang berkebutuhan khusus, bukannya kasihan dan membantu, tetapi sebaliknya malah melakukan pelecehan.
Riza diejek, ditertawakan, didorong kesana kemari hingga uang dalam sakunya keluar dan terjatuh.
Anak-anak berandalan yang mengetahui bahwa uang Riza terjatuh, lalu mengambilnya.
Rizapun berusaha merebut uang tersebut. Namun usahanya sia-sia, sebab anak-anak tersebut menggoda Riza sambil melempar uang tersebut ke satu teman, ke teman yang lainnya. Hingga ada satu momentum yang membuat Riza akhirnya spontan melakukan tindakan diluar dugaan.
Dengan sekuat tenaga Riza menabrak anak terakhir yang memegang uang tersebut hingga jatuh terjerembab. Anak tersebut bernama Iwan.
Menyaksikan kejadian tersebut, teman-temannya Iwan semakin kalap. Mereka beramai ramai memukuli dan menendang Riza.
Sambil berteriak sejadinya dan menutupi kepala dengan kedua tangannya, Riza hanya bisa bertahan dari pukulan demi pukulan tanpa bisa berbuat banyak.
Beruntung kemudian ada orang dewasa yang melintas ditempat kejadian tersebut melerai dan menghentikan perkelahian yang tak seimbang tersebut.
Akhirnya, anak-anak berandalan itupun menghentikan aksinya. Namun nampaknya Iwan yang ditabrak hingga tersungkur oleh Riza tadi, masih belum puas menganiaya Riza.
Iwan sepertinya merencanakan sesuatu untuk kembali menganiaya Riza keesokan hari atau dikesempatan hari lainnya.
Lalu beberapa saat kemudian mereka membubarkan diri dan meninggalkan Riza yang masih dalam posisi duduk ketakutan sambil menutupi kepalanya.
Sementara itu, Riza yang ditinggal sendiri sambil terengah-engah bangkit dan berdiri. Ia masih ingat selintas orang dewasa yang tadi melerai pertikaian.
Orang tersebut masih berjalan belum terlalu jauh. Kemudian Riza membuntuti orang dewasa tersebut
Orang tersebut merasakan ada yang membuntuti. Lalu ia menoleh ke belakang.
Ternyata yang dilhatnya adalah anak yang tadi dikeroyok oleh anak-anak berandalan.
"Eh, eLu ngapain ngikutin gue ?" - Tanya orang tersebut.
Riza tak menjawab apapun, ia hanya diam sambil menoleh kesana kemari seperti orang bingung.
Dari bahasa tubuhnya, sebenarnya Riza sedang memohon belas kasihan dan mengharapkan pertolongan agar bisa bertemu ibunya. Namun apalah daya, Riza tak sanggup untuk mengungkapkan perasaannya.
Tampaknya lelaki dewasa yang dibuntuti tahu kondisi Riza dari wajahnya. Lalu ia merasa kasihan dan kemudian mengeluarkan sesuatu dalam tas yang dibawanya.
"Lu laper ? Nih ada roti sama aqua gelas buat minum. Bae-bae lu yak, jangan berantem lagi.." - Orang tersebut berseru sambil memberikan sebungkus roti dan segelas air mineral. Lalu pergi meninggalkan Riza.
Riza yang sangat lapar, lalu memakan Roti itu dengan lahapnya.
Malampun kian larut. Riza sepertinya mulai kelelahan berjalan seharian. Apalagi badannya terasa amat nyeri akibat dikeroyok oleh Iwan dan teman-temannya.
Riza kemudian beristirahat disebuah halte pinggir jalan lalu tertidur pulas.
Hari berganti pagi. Suara bising knalpot motor membangunkan Riza dari tidurnya.
Setelah terbangun, Riza kembali berjalan tanpa tujuan. Yang sangat Riza harapkan itu ada orang baik yang mau menolong agar bisa kembali bertemu ibunya.
Panasnya terik amat terasa membakar kulit. Riza yang berada dipinggir jalan tampak masih bingung, cemas dan ketakutan, sambil memperhatikan mobil yang lalu lalang.
Tiba-tiba terdengar suara dari arah belakang Riza.
"COPET.. COPEEETTTT...!"
Riza sebenarnya trauma mendengar suara keributan seperti itu. Sebab yang terbayang adalah kepanikan saat momen perpisahan dengan ibunya.
Lalu ada anak seusianya lewat disamping Riza. Sekilas Riza tampaknya mengenal anak itu. Ya, anak itu adalah Iwan yang mengeroyoknya tadi malam.
Iwan rupanya adalah pencopet yang dimaksud dan sedang melarikan diri dari kejaran.
Lalu kemudian, tanpa melihat kanan kiri Iwan menerobos jalan raya yang sedang ramai-ramainya kendaraan melintas.
Sekitar jarak tak sampai 20 meter, disaat yang bersamaan ada senuah mobil dengan kecepatan tinggi sedang melaju tepat ke arah Iwan.
Entah bagaimana kemudian Riza yang berada tak jauh dari Iwan yang baru saja melewatinya, dengan naluri yang begitu kuat, lalu secara tak terduga, Riza secepat kilat berlari menabrak Iwan untuk kedua kalinya, hingga membuat Iwan terpental sampai seberang jalan dan pingsan seketika karena kepalanya terbentur trotoar.
Sementara itu, mobil yang melaju kencang tak sempat menghindar dan menabrak dengan keras tubuh Riza hingga terpental beberapa meter. Darah segar mengalir dari mulut Riza. Iapun tewas seketika.
Sepertinya, Riza telah membalas dendamnya dengan cara yang luar biasa, pada Iwan yang telah mengambil uang dagangan ibunya.
Rizapun akhirnya menemukan penolong sejati Yang Maha Mengerti setiap ungkapan demi ungkapan dalam hatinya. Ia tersenyum menunggu ibunya dialam abadi bersama ayah yang tak pernah ditemuinya.
Sementara Iwan diselamatkan oleh malaikat yang tak pernah disadarinya.
Tamat.