Patisserie for my cafe
Happy Reading!!!
Disini saya akan menceritakan kegundahan hati saya sejak 2 bulan ini. Sebelum itu, Nama saya Muhammad Indra. Saya pemilik sebuah cafe yang bernama happy cafe, umur saya 25 tahun.
Happy cafe ini merupakan warisan dari kedua orang tua saya yang telah meninggal 8 tahun yang lalu.
Cafe ini banyak di datangi pengunjungnya, Tetapi, sejak Pak Wawan patisserie kepercayaan orang tua berhenti bekerja di karenakan sudah berusia lanjut, cafe ini menjadi sepi.
Banyak pengunjung yang merasa kecewa, dengan makanan yang di sajikan oleh patisserie yang baru.
Mereka merasakan rasa masakannya yang berbeda dengan yang dulu.
Hal tersebut, membuat saya beberapakali memecat patisserie yang baru. Tetapi bukan hanya karena masakannya yang tak enak tetapi karenakan tidak jujur dan beradap buruk.
Apa yang harus saya lakukan? sudah pendapatan semakin lama menurun, dan saya harus menggaji para karyawan lain yang bekerja. Bagaimana saya harus mendapatkan Patisserie seperti Pak Wawan? Serta meningkatkan kembali minat pelanggan pada cafe ini.
Author POV
Indra keluar dari ruangannya, saat dia berjalan kearah pintu belakang seorang lelaki separuh baya menghampiri, lalu bertanya “Pak Indra, anda mau kemana?” Indra yang ditanya lalu menghadap lelaki tua itu dan berkata “Saya ingin ke mesjid yang sering saya datangi setiap bulannya, karena beberapa bulan ini saya tak pernah kesana..” beritahu Pria itu.
“Bukankah lebih baik anda memakai baju koko, supaya terlihat rapi. Saya sudah menyiapkannya di meja anda..” usul Pak Hardiman.
“Oh iya benar juga terima kasih Pak Hermawan,” lalu Indra mengganti pakaian koko yang telah di sediakan Pak Hermawan lalu pergi ketempat yang ingin dia tuju, mengendarai mobilnya.
Terlihat jelas, Indra sangat senang saat sampai ke tempat yang Dia tuju. Indra lalu memasuki mesjid tersebut dan memandanginya, dia sangat rindu dengan suasana ini.
Kemudian indra mengambil wudhu dan solat, selesai solat ia berdoa.
“Ya Allah hamba hanya mahkluk fana yang memiliki banyak dosa, dan hanya kepadamu tempatku mengadu, dan hanya kepadamu tempatku meminta. Bantulah hambamu ini menemukan jalan keluar untuk permasalahan ini,” pintanya sambil meneteskan air mata.
Selesai berdoa Indra duduk termenung, mengenang saat dulu dia kesini bersama orang tuanya. Mereka sering mendengar ceramah dari ustad-usyad tenama.
Setelah itu, Indra bangun dan pergi untuk mencuci muka, saat Indra ingin mengambil uang di dompetnya untuk kotak amal, dompetnya tak ada di sakunya. Dia lantas mencari ketempat yang dia datangi tadi, tetapi alhasil tidak ada.
Setelah mencari dan tak ada hasil indra memutuskan pulang, tetapi saat bejalan keluar Mesjid Indra kebetulan bertemu dengan Pak Wawan. Dia lantas segera mencium tangan dan memeluk Pria tua itu.
Indra lalu mengajak Pria tua itu duduk di kursi terdekat.
“Pak, saya sangat kangen..” kata Indra sembari memijat pundak Pak Wawan.
"Bapak juga.." balasnya yang di senyumi Indra.
Indra lalu menceritakan masalahnya, yang ada di cafe.
Sejak kecil Indra selalu menganggap Pak Wawan sebagai orang tuanya. Diabselalu mempercayakan cafe kepada Pak Wawan setelah orang tuanya meninggal karena saat itu dirinya sedang menyelesaikan kuliahnya.
“Bapak paham masalahmu, tetapi Bapak tidak bisa membantu di cafe kembali. Kamu tau sendiri Bapak sudah sangat tua. Bapak sering salah membedakan bumbu dan tidak bisa berdiri terlalu lama..,” kata Pak wawan sedih.
Indra pun tersenyum, dia tau betul prihal tersebut. "Iya, Pak.." balasnya.
Tanpa sadar, langit mulai gelap.
"Bapak saya mau pulang ya, terimakasih telah mendengarkan cerita saya. Jangan lupa main ke cafe, assalamu’alaikum,” salam Indra senyum.
“Wa'alaikumsalam” Jawab Pak Wawan senyum.
Saat sampai di depan pintu mesjid, seorang prempuan berhijab menghampirinya dan berkata, “Assalamu’alaikum Mas..”
Indra yang sadar di sapa lalu berkata, “Wa'alaikumsalam..” balasnya.
“Saya ingin memberikan dompet Bapak yang terjatuh,” kata prempuan tersebut sembari menyerahkan dompet Indra.
Indra memperhatikan sejenak, benda yang ada di tangan Wanita itu.
“ahhh terimakasih,” kata Indra senyum sembari mengambil dompetnya, lalu Indra memandangi pakaian prempuan tersebut yang berpakaian biasa saja.
Terbesit dalam fikiran Indra, mengapa prempuan ini tidak mengambil dompetnya dan malah memberikan padanya?
Indra lalu membuka dompetnya dan memberikan tiga lembar uang berwarna biru.
“Ini uang untuk kamu sebagai tanda terimakasih saya..”
Wanita itu terlihat menggelengkan kepala.
“Maaf saya tak bisa menerima uang anda, karena saya ikhlas menolong anda..” Kata prempuan tersebut menolak uang yang di berikan Indra.
Indra yang merasa tak enak lantas kembali berkata, “Lalu apa yang kamu inginkan?" tanya Indra.
Wanita itu terlihat berfikir lalu berkata, “Jika anda bertanya, saat ini saya menginginkan bekerjaan, karena jika saya menerima uang dari anda itu hanya untuk sesat sedangkan pekerjaan untuk selamanya..” Kata prempuan itu.
Indra yang mendengarkan perkataan prempuan tersebut tersenyum. Dia lantas teringat prihal cafenya.
“Saya mempunyai pekerjaan di cafe, tetapi orang tersebut harus bisa masak. Apa kamu bisa memasak?”
“Saya bisa memasak Mas, Ayah saya sering mengajarkannya pada saya..” jawab prempuan.
“Baiklah kalau begitu, Ini kartu nama saya. Mulai esokb kamu daftar dan sekalian dites dengan pendaftar yang lain..” Kata Indra sembari menyodorkan kartu nama yang sudah ada alamat cafenya.
“Oh iya, boleh saya tau nama kamu siapa?” tanya Indra kembali yang belum mengetahui nama Wanita itu.
“Nama saya Annisa putri..” jawab wanita itu.
Sesampai di rumah, Indra segera membaringkan dirinya di atas sofa.
“Haahhhh, semoga saja besok saya menemukan Patisserie yang sesuai kriteria. Ya semoga saja..” gumamnya sembari menghela nafas panjang.
Pagi pun tiba, Indra sudah siap-siap untuk berangkat ke Cafe jam 07.00. karena tes tersebut di mulai jam 09.00.
Sampai di cafe, yang terlihat hanya pendaftar patisserie, sedangkan pegawai lain di liburkan karena cafe hari itu tutup.
Sekitar jam 08.45 semua pelamar sudah berkumpul, Indra lalu menjelaskan beberapa hal pada semua pelamar.
“Baik, saya akan memberika 2 tes kepada kalian, tes pertama memasak dan kedua interview. Di tes memasak kalian akan di berikan waktu 15 menit untuk memasak lalu menghidangkan makanan tersebut.." jelasnya yang di pahami para pelamar.
Dimulailah test tersebut, satu persatu pelamar di panggil dan mulai memasak. Berbagai macam masakan yang mereka masak dari masakan Nasi Goreng, Bakso Boom, Martabak, Roti panggang, dan banyak lainnya. Masakannya pun ada yang gosong, belum mateng, dan tentu ada yang lezat.
“Pak Indra, Siska pelamar terakhir kita. Sebaiknya Bapak makan siang terlebih dahulu karena sekarang sudah jam 02.00 siang,” kata Pak Hermawan. Indra menganggukan kepala, lalu Pak hermawan pergi.
Saat makan bergumam dalam hatinya, “Pelamar ada sepuluh orang, tetapi yang lolos hanya empat orang. Bagaimana saat Interview mereka tidak ada yang lolos?. Beberapa bulan yang lalu saja, tes pertama yang lolos dua orang dan saat interview mereka tidak ada yang lolos..” Indra menggelengkan kepalanya.
Saat Indra makan siang, Pak Hermawan menghampiri dan berkata, “Pak maaf mengganggu, ada prempuan bernama Annisa Putri. Dia terlambat test.
“Siapa? Annisa Putri!" serunya yang teringat sosok Wanita di mesjid.
"Ohhh iya tidak apa-apa, suruh saja langsung memasak..” kata Indra.
Selama menunggu masakan Annisa, Indra menghabiskan makasiangnya.
Tak butuh waktu lama, masakan Wanita itu sudah ada di meja Indra.
“Pak ini makanan yang di masak Annisa namanya Roti coklat goreng, kopi susu dan juga nasi goreng..” Kata Pak Hermawan. Lalu Indra memakannya sedikit, kemudian mengambil dengan porsi di banyakin
“Gimana pak hasilnya,” tanya Pak Hermawan.
“Enak dan cara menyajikannya juga bagus. Dia lolos,” kata Indra senyum lalu bergumam dalam hatinya.
“Saya tak menyangka ternyata, dia pandai memasak dan pintar dalam menyajikan makanan.." batinnya.
"Tapi ini baru test awal.." katanya kembali.
Jam 03.00 siang, dimulai test ke 2, para pelamar yang lolos satu persatu ditanya. Dan sampailah pada peserta terakhir yaitu Annisa.
“Annisa sekarang giliranmu,” kata Pak Hermawan senyum sembari memberi isyarat berjuang. Annisa hanya membalas dengan senyuman.
Tok tok tok
Suara ketokan pintu berbunyi.
“Silakan masuk!,” kata Indra. Lalu Nisa membuka pintu dengan perlahan, sebelum masuk dia mengesetkan sepatunya di atas keset, lalu di menutup pintu dengan pelan dan lembut.
“Assalmu’alikum, Nama saya Annisa putri” kata Annisa sopan.
“Wa'alaikumsalam, silakan duduk..” perintah Indra.
Dia memperhatikan Wanita di depannya yang sopan dan juga bersih. Tak lupa dia juga lembut, seperti saat dia menutup denhan pelan pintu.
“Saya akan bertanya tentang keseharian kamu selama ini dan kamu harus menjawabnya..” Kata Indra.
“Iya Pak..” jawab Annisa.
“Jenis makanan cafe apa saja yang bisa kamu masak?" tanyanya.
"..saya dapat membuat brownis, cake kokelat, bolu panda, dan berbagai jenis masakan lainnya..” kata Annisa tenang.
“Bagaimana kamu dapat membuat jenis makanan? Apa kamu sekolah masak?.” Tanya Indra kembali.
“Saya suka belajar masak dari kecil dan saya memang sekolah jurusan masak..” Jawab Annisa.
Indra lalu melihat Annisa yang menunduk, dirinya baru menyadari jika di perhatikan Wanita itu mirip seseorang.
“Baiklah kamu boleh keluar,” kata Indra.
"Iya Pak, terimakasih assalamu’alaikum” kata Annisa seyum.
"Wa'alaikumsalam” jawab Indra.
Setelah kompromi dengan Pak Hermawan selama 30 menit, di tentukanlah siapa yang di terima? Lalu Indra keluar ruangan bersama Pak hermawan, untuk mengumumkan siapa yang di terima?
“Baiklah, terima kasih atas kesabaran kalian untuk menunggu. Dan yang di terima sebagai Patisserie di sini adalah Annisa Putri” beritahu Indra.
Para pelamar lain yang tidak di terima lantas sedih. Mereka lalu izin pamit pulang.
Indra yang sejak tadi penasaran akan sosok Wanita itu yang tak asing lantas menghampiri Annisa untuk menanyakan beberapa pertanyaan.
Annisa yang sadar di hampiri lalu menghadap Indra lalu berkata, “Ada apa Pak Indra?”
“hemm Annisa Kamu....” perkataan Indra terputus karena dia kaget karena ada yang menepuk bahunya.
“Asalamu’alaikum Indra,” sapa Pak Wawan.
Indra kaget dengan sosok Pria tua di belakangnya.
“..wa'alaikumsalam Pak Wawan, saya senang Bapak kesini..” Kata Indra bahagia.
“Bagaimana hasil test, siapa yang lulus” kata Pak Wawan senyum.
“Hasil test bagus Pak, Annisa yang lulus..” Kata Indra sembari mengenalkan Annisa pada Pak Wawan.
Pak Wawan tertawa lalu berkata, “Saya sudah gak sanggup lagi, bersandiwara Pak Hermawan. Saya merasa kasihan pada Indra yang kita bohongi..”
Lalu Pak Hermawan datang dan menjelaskan Pada Indra.
“Sebenarnya, Annisa anak Pak Wawan yang baru lulus kuliah 1 bulan yang lalu.
“Pak Wawan ingin Annisa bekerja di cafe ini, Pak Wawan ingin kamu menerima Annisa bukan karena Anak Pak Wawan tetapi karena kemampuannya. Dan semua rencana ini sudah kami susun. sepertihalnya dompet kamu yang tidak ada, Bapak mengambilnya ketika kamu mengganti pakaian..”
Indra pun mengerti maksud dari Pak Wawan lalu berkata, “Terima kasih karena kalian begitu menyayangi cafe ini, dan selamat datang untuk Annisa sebagai Patisserie di Cafe ini.”
Lalu mereka tersenyum bersama, dan Cafe yang sepi kembali ramai pembeli.
Terimakasih sudah membaca cerita pendek SMIM
Tekan like, komen dan baca cerita saya lainnya