"Gedebruk !...Bruk !..."
Aku terpaksa banting stir mobilku kearah kiri. Karena sebuah motor melintas cepat dari sebelah kananku.
Walaipun saat itu hujan turun sangat deras. Mana hari sudah malam lagi. Tapi aku masih bisa melihat bias lampu motor itu dari kaca spionku.
Entah mengapa, hatiku dapat menebak. Kalau motor itu akan menyerempet mobilku. Sebelum itu terjadi, aku langsung banting stir dan menabrak tiang halte bus itu. Tepat saat itu kaupun sedang berteduh dihalte itu.
Kau terkejut, lari menjauh. Beberapa saat kemudian kau mendekat. Akupun membuka pintu mobilku. Ketika aku keluar dari mobil, aku melihatmu tercengang. Tubuhku basah kuyup dibawah hujan. Katamu dikemusian hari, kau serasa bertemu dengan mahluk luar angkasa yang jatuh gedebuk didalam mobil.
Itu awal pertemuan kita dan akhirnya terus berlanjut. Sampai kita menjadi sepasang kekasih. Memang ku akui, akulah yang memulai memyatakan perasaanku padamu. Karena dari sikapmu didepanku, aku tahu; kau mencintaiku. Tapi sungkan untuk mengatakannya.
Tenti banyak alasanmu. Karena kita berbeda usia yang sangat jauh. Kau lahir di era kekinian. Sedang aku di era jauh sebelum kedua orang tuamu menjadi sepasang kekasih.
Awalnya kisah kita begitu indah. Seiring berjalannya waktu, ditengah perjalanan kisah cinta kita; aku mulai gundah gulana dan sangat gelisah.
Entah dimana tertulis, usia wanita harus lebih muda dari usia pria pasangannya. Apakah dikitab suci ?, dikitab UU ?. Memang sih...belum pernah kucari. Apalagi kutelusuri, belum pernah.
Tapi menurut beberapa ahlinya, tak ada tertulis seperti itu dikitab-kitab itu. Lalu, mengapa orang-orang mempermasalahkannya. Seakan merupakan aib. Kalau usia wanita lebih tua dari usia pria pasangannya. Menjadi bisik-bisik yang sangat hiruk pikuk.
Apakah karena Adam lebih dulu diciptakan dari Hawa ?. Okelah...Mari kita bernegosiasi saja dengan perkembangan jaman, pola fikir dan rasa pengertian.
Boleh-boleh saja usia wanita itu lebih tua dari usia pria pasangannya. Selisih satu, dua atau tiga tahun. Sudah maksimallah untuk cukup dimaklumi. Selanjutnya...entah memuji atau menyindir
"Brondong nih yeeee...."
Begitulah cuitan teman, sahabat dan lawan. Baik diucapkan secara langsung ataupun ditulis dikolom komentar. Masih bersyukur jika hanya itu yang diucapkan. Bagaimana kalau ditambahkan dengan kata-kata manis oleh para pembenci. Tapi menusuk ke ulu hati. Waktupun jadi tersita menjawab komen-komen seperti itu dengan hati panas. Dosapun bertambah, tidur terganggu dan fikiranpun terganggu. Semoga tidak sampai gila.
Tapi sekarang aku bisa menjawabnya,
"Kasihan brondongku dan malangnya aku"
Mengapa tidak ?...Setelah aku dan dia menjalin kisah asmara. Jadi sepasang kekasih. Berhubung aku seorang wanita dan usiaku jauh lebih tua dari dia, maka seperti apa kata Kotak, "Mau mu jadi mau ku..." Walaupun haris sakit seluruh tubuhku melakukan ritual berpacaran bersama dia.
Jalan, nonton, ngobrol sambil berpegangan tangan. Dia menemaniku shooping, ke salon atau aku menemani dia bermain game kesukaannya. Menonton dia tanding basket. Karena hobbynya basket dan dia punya kelompok basket.
Lalu kami makan dari kafe ke kafe. Hingga menemukan sebuah kafe yang kami sukai. Meresmikan kafe itu sebagai kafe favorit kami. Begitu pula, kami mencari lagu dan film yang menjadi favorit kami.
Jika waktu harus memisahkan kami. Aku dan dia sudah kembali ketempat tinggal kami masing-masing. Tetap ritual itu kami lakukan dengan ngobrol vidkol. Kadang teleponan biasa, chatingan...Menghabiskan malam dengan bercanda, tawa, curhat-curhatan. Sampai tebak-tebakkan. Hingga subuh datang.
Itupun sulit bagi kami untuk mengakhiri obrolan. Kakau bukan karena kantukku yang menyerang begitu hebat atau kantuk dia yang habis-habisan menyerang dia. Obrolan kami terhenti sendiri. Setelah aku mendengar dengkurannya atau dia mendengar ngorokku.
Tapi biasanya, dialah yang terlebih dulu terlelap. Karena dia tidak terganggu dengan ngorokku yang bercampur iler. Maka aku yang tidak bisa tidur. Kemudian anganku akan lari jauh. Mereka-reka pertemuan kami selanjutnya. Padahal pertemuan yang baru saja berlalu, ceritanya belum usai.
Maklum saja namanya juga sedang kasmaran. Walaupun usiaku sudah cukup usang untuk dikatakan mabuk asmara. Tetap saja gejolak jiwaku yang kasmaran tidak kalah dengan yang muda-muda.
Akibatnya aku jadi kurang tidur, kurang istirahat. Aku jadi mudah kelelahan. Kepalaku sering cenat-cenut. Kaki dan pinggangku, pegal-pegal. Tapi aku tidak mau memperlihatkannya didepan dia.
Cukup sambil ngobrol via hp, dimalam hari. Aku memijit-mijit keningku, kakiku, kepalaku. Jika masih terasa sakit juga, aku memakai obat gosok. Kugosomkan kekaki, pundak, kepala, pinggang dan....tunggu !.
"Aaaaa !!!...." jeritku kencang didalam kamarku, kemudian.
Setelah menyadari efek samping dari obat gosok itu. Aku bisa saja menipu diriku dengan gelora cinta kami, bahwa aku masih muda dan kuat. Tapi aku tidak bisa menipu tubuhku dengan usiaku.
Bagaimana kalau bau obat gosok ini tercium olehnya ?. Karena sisanya ada yang menempel diujung rambutku, diujung kukuku. Bercampur dengan aroma parfumku.
Seketika aku jadi merasa seperti nenek sihir yang menjelma jadi putri cantik. Karena meminum ramuan awet muda yang kubuat sendiri. Ketika bercermin dengan aroma obat gosok itu tercium oleh hidungku, barulah aku menyadari usiaku.
Mendapati kerutan halus dileherku, dibawah kelopak mataku dan dikeningku. Ooohhh....betapa jahatnya aku. Betapa tidak tahu dirinya aku. Masuk kekehidupan dia diera kini. Padahal aku adalah wanita cantik diera lampau.
Berprasangka seperti itu. Fikiranku jadi sering dikuasai kisan Adam dan Hawa. Hingga aku membenarkan opini itu. Jika Hawa dibuat dari tulang rusuk Adam. Maka tidaklah mungkin Hawa yang tercipta lebih dulu. Pasti Adam yang tercipta lebih dulu. Karena itulah usia Adam lebih tua dari usia Hawa, bukan sebaliknya. Usia Hawa lebih tua dari usia Adam.
Inilah jawaban yang kucari. Mengapa tumbuh subur dimasyarakat bahwa usia pria harus lebih tua dari usia wanita pasangannya
Kisah Adam dan Hawa inilah landasan dari opini tersebut.
Itu menyasarkanku bahwa aku tidak tercipta dari tulang rusuknya dia. Tapi dari pria lain. Jauh sebelum dia jadi orok. Sedang tulang rusuknya dia, ada pada wanita lain yang pasti telah mengantri dibelakangku. Atau aku (sekali lagi) dengan tidak tahu diri menghalau wanita itu berdiri diantara aku dan dia.
Kini perasan bersalahku pada wanita itu bertarung sengit dengan rasa cintaku pada dia. Logikaku pun mendukung perasaan bersalah itu untuk terus menerorku. Tak ada pilihan lain, dengan tidak rela aku harus memutuskan hubungan kami.
Sanggupkah aku ?...Kutanya pada diriku beberapa kali lagi. Logika ku menjawab, "Sanggup !"
Bukankah masalah patah hati telah pernah aku alami dahulu ?. Sampai hari ini aku masih berdiri tegar. Bahkan menjadi perempuan yang mandiri. Itu artinya aku sanggup patah hati untuk yang kesekian kalinya. Aku sudah berpengalaman untuk mengatasinya. Jika ada instansi yang berlegalitas untuk mengeluarkan sertifikat atas keahlian mengatasi patah hati, aku salah satu orang penerima sertifikat itu. Sudah teruji berkali-kali.
Tapi bagaimana dengan dia ?. Seperti yang aku ketahui, aku adalah cinta pertama dia. Kesanku pada cinta pertama adalah sulit untuk dilupakan. Dia akan sulit untuk melupakan aku. Karena aku yang pertama dicintainya dan aku pula yang pertama melukai hatinya.
Maka disaat kalimat, "Putus" kukatakan. Dia terdiam dan hanya menatapku pergi dari hadapannya. Saat itu hujan turun sangat lebat. Aku tidak perduli. Aku tidak ingin melihat dia terluka. Aku terobos hujan itu dan aku masuk kedalam mobilku.
"Wus !...." mobilku melaju kencang. Mirip piring terbang mahluk luar angkasa.
Kedatanganku dan kepergianku selalu diwarnai hujan deras. Aku datang "Gedebuk !" dihadapannya dan aku hilang "Wus !" juga dari hadapannya. Aku dan dia tidak bisa bersama. Karena kami beda era***