Joshua POV
Saat pagi hari ...
Aku bangun lebih dulu dari Hana.
Aku melihat Hana yang masih tertidur pulas.
Badanku sakit sekali.
Bukan ... Bukan karena semalam kami ...
Tapi karena Hana tidak bisa diam saat tidur. Ia bergerak ke sana ke sini. Bahkan jempol kakinya hampir saja masuk mulutku.
Alamak ...
Kemarin malam memang seharusnya menjadi malam pertama kami. Tapi ... Kemarin kami sudah terlalu capek. Dari subuh kami sudah bersiap-siap untuk hari bahagia kami. Sampai akhirnya acara resepsi berakhir saat hari sudah malam. Karena itu kami memutuskan untuk menunda malam pertama kami.
Mungkin malam ini kami ...😏
Aku melihat jam. Sudah jam sembilan pagi.
Hana kok nggak bangun-bangun?
"Krukkk ... Krukkk ..." Perutku berbunyi. "Cacing-cacing" di perut minta diberi makan.
Impianku saat pagi bangun karena aroma kopi buatan istri harus aku kubur dalam-dalam.
Aku berjalan menuju ke dapur. Menyalakan mesin kopi dan membuat kopi. Sembari menunggu, aku memanggang dua roti dan membuat telur mata sapi untuk sarapan kami.
Hana bangun saat sarapan sudah siap.
Selesai sarapan Hana membasuh tubuhnya terlebih dahulu. Setelah itu aku.
Alamak ...
Aku melihat pasta gigi yang dipencet sembarangan. Seharusnya pasta gigi itu dipencet dari bawah.
Saat aku masuk ke dalam kamar.
Alamak ...
Kenapa spreinya masih berantakan? Aku mencari Hana. Dia ada di ruang tamu. Tertidur di sofa.
Sabar ... Sabar ...
Orang sabar disayang Tuhan.
Aku lalu melipat selimut dan merapikan sprei.
Hari-hari berlalu. Hana tetap saja seperti itu. Aku hanya diam karena takut Hana salah paham. Sampai akhirnya aku bersuara karena sudah tidak tahan lagi.
Saat kami pillow talk ...
"Hana ... Aku harus mengatakan sesuatu. Tapi jangan marah atau dimasukkan ke hati."
Hana menganggukkan kepalanya.
Aku berpikir sejenak. Menghembuskan nafas panjang. Aku tak ingin rumah tangga kami mengalami keretakan karena masalah sepele. Cukup banyak contohnya.
Hana bangun siang, aku bisa paham.
Hana tidak membuat sarapan, aku bisa paham. Karena ia yang mencuci piring.
"Sebenarnya ini masalah sepele. Tentang odol yang dipencet sembarangan. Odol itu seharusnya dipencet dari bawah."
"Kalau begitu kita pisah odol aja. Aku sebenarnya kurang cocok dengan pasta gigi punyamu."
Satu masalah beres.
"Tentang barang-barang yang berantakan."
"Maaf." Hana mengakui kesalahannya. Hana sudah terbiasa melempar kaus kaki bekas di mana saja. Bukan itu saja, kunci, handphone, dompet dan barang lainnya. Sampai-sampai aku harus ikut mencarinya.
"Aku akan berusaha lebih teratur. Tapi aku punya permintaan juga."
"Apa?" Aku jadi penasaran. Apa aku ada salah? Aku merasa aku sudah melakukan yang terbaik sebagai suami.
"Aku ingin kita pisah kamar."
Secepat itukah kami berpisah? ~ batinku.
"Kenapa?" Aku bertanya karena penasaran dan bingung.
"Aku tidak tahan suara ngorokmu."