Aah, ini di mana? Tempat ini terasa asing bagi ku. Melihat sekeliling memproses apa yang sebenarnya terjadi. Nampak kalender di salah satu gubuk, tahun 1 Janoeari 1947?Aku... tidak mungkin kan menjelajahi waktu!?
Akh sial, aku hanya membuka buku kakek tidak tau nya malah berakhir seperti ini. Hahaha ini hanya mimpi Nata, tidak mungkin seorang gadis berusia 18 hidup di tahun 2021 bisa masuk ke buku kekek nya sendiri. Tidak mungkin, ini mimpi... yah mimpi!
Sudah hampir 2 jam berdiri dan menunggu agar terbangun dari mimpinya. Namun usaha nya sia- sia, hanya panas matahari yang ia terima.
Sial... ini bukan mimpi ya(╥﹏╥)
Namun tak lama ada seseorang yang menepuk gadis itu.
" Nembe napa mbak? " ( Lagi ngapain mbak? )
Ucap pria itu kepada Nata.
Eh, nembe? Ah ini bahasa jawa ya, aduh bagaimana menjawab nya.
" E, anu mas n..niki ana ngendi ya mas? " ( Ini ada di mana ya? )
Haduh semoga dia ngerti, ini saja yang kakek ajarkan kepada ku.
" Niki ana ing... "
" B..bahasa Indonesia saja saged mas?💧 "
Pria itu hanya tertawa.
" Bisa kok, mbak nya bukan orang sini ya? "
Nata menganggukan kepala nya. Pria itu mengajak Nata untuk mampir dan berpincang santai di rumah nya. Gadis itu hanya mengangguk setuju karena tidak tau lagi harus pergi kemana.
Tempat ini berbeda sekali dengan di kota. Lentera penganti lampu, daun pisang dijadikan buku untuk anak yang sedang belajar, jalan berbatu, dan lain nya. Ini... seperti yang ada di diary kakek.
Pikir Nata sambil melihat- lihat suasana sekitar. Sesampainya, rumah sederhana lah yang manjadi tempat menaung pria asing itu. Dengan sopan ia mempersilahkan Nata untuk duduk terlebih dahulu. Pria berumur 19 tahun itu masuk ke rumah dan membuatkan sesuatu untuk tamu nya.
" Haah, di sini sangat tenang "
Ucap Nata memejamkan matanya dan merasakan angin yang begitu sejuk. Namun ketenangan itu hilang dalam sekejab. Tiba- tiba saja ada segerombolan anak- anak yang menghampiri Nata.
Anak- anak sangat takjub dengan penampilan Nata. Tentu saja, itu karena Nata masih menggunakan pakaian yang sama di tahun 2021. Dengan bahasa Jawa, semua bertanya kepada gadis itu.
" Waah, kakak sangat cantik "
" Itu anting nya berbeda dengan punya ku "
" Lihat jas nya, berbeda sekali dengan punya kak Wira! "
Kalian itu ngomong apa sih(╥﹏╥)
Namun tak lama pria itu datang dengan pandangan menyeramkan.
" Kalian jangan mengganggu tamu kita dong "
Dalam sekejab anak- anak itu bersembunyi di belakang Nata. Gadis itu hanya tertawa kecil.
" Kami tidak mengganggu kok "
" I..iya, kak Wira bawel "
Wira? Namanya Wira ya, sepertinya aku pernah dengar.
Pria bernama Wira itu menghela nafas nya, ia memberikan secangkir teh kepada Nata.
" Silahkan, mumpung hangat "
Ucap Wira dengan tersenyum ramah.
Coba saja ada baju bagus di sini, dengan mengubah beberapa tampilan Wira tidak akan kalah tampan dengan pria masa depan.
Pikir Nata sambil meminum secangkir teh. " Hangat ", itulah yang pertama kali Nata pikirkan saat meminum teh tersebut.
" Ngomong- ngomong kamu tinggal dimana? Atau jangan- jangan kau seorang mata- mata "
Ucap Wira dengan tatapan serius.
" Ya kali mata- mata diam saja selama 2 jam di jalan? Dan jika mata- mata kenapa kau malah mengajak ku ke rumah mu?-_- "
Wira hanya tertawa terbahak- bahak mendengar penjelasan Nata.
Bagaimana ini, apakah aku bisa kembali? Bagaimana pula aku bisa terlempar di jaman dulu. Dan jika di pikir- pikir lagi, belum lama Indonesia merdeka di tahun ini. Apakah masih aman bagiku untuk tinggal sementara di sini. Haah, ini rumit.
Sedangkan Wira hanya tersenyum sambil memandangi Nata. Namun tak lama Nata yang menyadari hal itu langsung salah tingkah. Begitu juga Wira yang langsung memalingkan wajah nya.
Entah mengapa, saat melihat nya aku rindu akan sesuatu.
Itulah yang di pikirkan Wira dan Nata dengan mata sayu.
" Ee Wira apakah aku boleh... ehem tinggal sementara disini? Aaa kalo ngak boleh kau bisa kasih tau alamat tempat penginapan di sini "
Ucap Nata dengan nada yang cepat karena kelabakan tidak tau harus berbuat apa. Di satu sisi ia tahu tidak sopan jika meminta sesuatu dari orang yang baru kenal, namun di satu sisi ia juga bingung bagaimana cara ia bertahan hidup di masa ini.
" Ok, kamu bisa tidur bersama mereka. Tapi tidak ada yang gratis di dunia ini "
Ah ngak papa jika tidur bareng anak- anak, itu saja aku sudah bersyukur(╥﹏╥)
" Ya? Apakah aku harus bayar? "
" Tidak juga, cukup bantu aku di kebun, memasak, menjaga anak- anak, dan sebagainya "
Ucap Wira dengan senyum mencurigakan.
Hah? Apa? Baru masuk ke dunia baru dan sekarang aku jadi babu? Dan lihat tampang menyebalkan nya dia. Ah sudahlah, ini lebih baik daripada tidak sama sekali.
Nata dengan terpaksa menyetujui permintaan Wira.
Ngomong- ngomong aku baru tau mereka tinggal bersama dengan Wira. Apakah ini panti asuhan?
Pikir Nata sambil melihat anak- anak yang sibuk bermain bersama.
Hari demi hari Nata lewati dengan ehem... cobaan berat bagi anak 2021. Di mulai harus membiasakan diri tanpa medsos, tidur lesehan di tikar, nyamuk dimana- mana, makan makanan seadanya, dan lain nya.
" Huaah, Wir! Ini singkong nya taruh dimana? "
Ucap Nata dengan suara keras agar terdengar oleh Wira yang jauh dari hadapan nya.
" Taruh saja di plastik! "
Balas Wira tanpa melihat ke arah Nata.
Makan nyari sendiri, tidur nyari kunang- kunang sendiri supaya terang, baju kuno yang lusuh, tidak ada handphone, aku sudah tidak tahan! Bagaimana cara agar aku dapat kembali!? Sudah hampir 2 minggu aku terjebak di tahun ini(ᗒᗩᗕ)
Keluh Nata dengan kesal.
Tapi, entah mengapa saat merada di samping Wira aku merasa nyaman.
Ucap Nata tersenyum kecil. Namun karena tersadar, ia memukul pipi nya berulang kembali.
Ayolah Nata, jangan pikirkan orang kejam itu.
Tak lama terdengar suara tawaan yang begitu keras. Dengan spontan gadis itu menengok ke sumber suara.
" Apa yang kau tertawakan? "
Tanya Nata ke Wira dengan kesal.
" Pfftt, maaf uhuk... aku tau para gadis menggunakan tepung untuk di jadikan bedak, namun baru kali ini aku melihat gadis memakai tanah sebagai bedak "
Ucap Wira yang tidak henti- henti nya tertawa.
Dengan spontan Nata memegang pipi nya, betapa malu nya dia karena tersadar bahwa tangan nya penuh pasir kotor. Dan dengan bodoh nya ia menepuk pipi nya berulang- ulang kali.
Menyebalkaannn!!////
" Wahaha penemuan ku hebat kan? Nah bagaimana jika pria ikut mencoba nya "
Ucap Nata sambil melemparkan tanah basah ke Wira. Wajah yang awal nya bersih kini penuh lumpur dan sedikit pasir di wajah Wira.
" Wohoho, kau ngajak berkelahi? "
Ucap Wira yang tidak mau kalah dengan Nata. Gadis itu hanya menjulurkan lidah nya. Mereka saling berlari dan melemparkan apapun yang mereka temukan.
Tak lama...
" Ehem, Wira... Nata... "
Mereka berdua berhenti mendadak saat mendengar suara berat memanggil nama mereka.
" Pakde? "
Ucap Wira dan Nata secara bersamaan.
Orang yang dipanggil Pakde adalah pemilik kebun yang Nata dan Wira kerjakan. Namun kedua nya sadar akan perbuatan yang mereka lakukan. Banyak sayur dan tanaman berserakan. Mereka hanya menulan ludah dan saling berpandang satu sama lain.
Yah hari berganti hari, kini sudah hampir 1 bulan Nata tinggal di masa ini. Tak tau lagi harus apa, dia mengurung diri di tempat tidur nya sambil menangis di malam hari. Anak- anak yang tidur bersama Nata menjadi khawatir, mereka kemudian mengadukan ini kepada Wira.
" Kalian yakin? "
" Benar, apakah kak Nata sakit? "
" Iya, aku juga khawatir dengan kak Nata "
Sebagai anak tertua, Wira menyembunyikan wajah gelisah nya dengan senyuman hangat.
" Nanti kakak cek ya, dan kak Wira minta tolong kalian tidur seperti biasa saja supaya kak Nata tidak curiga "
Ucap Wira menempelkan telunjuk nya di mulut menandakan tanda diam dan rahasia. Anak- anak hanya mengangguk mengerti.
Seperti yang di rencanakan, Wira menunggu anak- anak dan Nata tertidur. Ia berjaga di depan pintu kamar di temani dengan secangkir wedang jahe. Namun tak butuh waktu lama suara isakan tangis terdengar di balik pintu. Walau samar, Wira mengenali suara yang ia dengar merupakan suara Nata.
Dengan perlahan ia membuka pintu dan berbisik...
" Pstt, Nata... temenin aku yuk "
Wira!? Tunggu, kenapa dia datang kesini?
Nata bergegas menghapus air mata nya dan menghampiri Wira. Mereka duduk di bangku dan diam dalam beberapa menit.
" M..mesum! "
Ucap Nata dengan spontan karena ingin membuka percakapan.
" Benarkah? Aku di depan kamar lho, bukan masuk kamar, kejam nyaಥ_ಥ "
Elak Wira saat mendengar ucapan Nata.
Mereka berdua diam kembali selama beberapa waktu, kemudian Wira berkata...
" Kenapa kau menangis? "
" Aku... itu, tidak "
Nata masih belum siap menyeritakan apa yang sebenar nya terjadi. Namun karena tidak tahan, gadis malang itu tanpa sadar mengeluarkan air mata.
" Aku..hiks, ingin pulang "
Wira panik karena tidak tau apa yang harus ia lakukan. Namun tak lama ia memberikan gula jawa yang terdapat di kantong nya.
" Hiks, buat apa bodoh "
Nata menahan tawa nya.
" Ee karena kau suka ini, kupikir kau akan berhenti menangis jika ku berikan ini "
Nata hanya tertawa kecil mendengar alasan Wira dengan wajah panik. Dengan helaan nafas, Nata mempersiapkan diri nya untuk bercerita.
" Aku tidak berharap kau percaya, tapi yah... ini benar nyata nya "
Nata bercerita bagaimana dia datang di masa ini. Datang di tahun 2021. Ia tiba- tiba saja berada di tahun 1947 saat membuka buku diary kakek nya. Entah bagaimana dia kembali ke masa lalu, awalnya gadis itu berpikir mungkin waktu adalah jawaban nya. Namun sudah lama ia tidak kembali, "tidak bangun dari mimpi buruk"... itulah sebutan Nata ke masalah yang ia alami.
Wira yang mendengar nya hanya diam membisu. Sulit mempercayai semua ini, namun jika di pikir kembali saat ia bertemu Nata pakaian nya berbeda, tak sesekali mengatakan bahasa yang ia tak pahami, dan keanehan lain nya.
" Aku... tidak banyak membantu tapi jika ingin sesuatu, dan mengatakan isi hati ku, aku akan memejamkan mata sambil berdoa... tak sesekali aku juga melihat berbagai bintang "
Ucap Wira dengan senyuman.
" Hahaha, aku sudah menduga kau tidak akan bisa membantuku... tetapi terima kasih atas hiburan nya "
Ucap Nata yang langsung mengambil gula jawa di tangan Wira. Pria itu hanya tersenyum melihat tingkah laku Nata.
Ini enak, hahaha.. aku memejamkan mata ku dan berdoa...
Jika di perbolehkan, aku ingin kembali ke masa ku. Kembali ke pelukan ayah ibu, adik ku yang nakal, kakak ku yang menyebalkan, dan kakek yang hangat...
Setelah nya aku menatap langit malam yang indah. Yah perasaan ini membuat ku menjadi lebih baik. Ehem ngomong- ngomong walau perasaan ku nyaman saat di dekat Wira, entah kenapa aku tidak menganggap ini rasa suka terhadap lawan jenis. Entah aku harus menyebut apa.
Namun tak lama ada seseorang yang menarik ku dari belakang, siapa? Belum sempat aku berteriak, bayangan Wira menjadi kabur. Kulihat ia hendak memegang tangan ku, wajah panik terlihat dari nya. Hahaha, terima kasih....
.
.
.
BRUUKK!
" Aduh! "
Akhh, kepala ku... ini dimana?
Tit tit tit
Hah, ini kan suara alarm ku.
Nata segera bangun dari tempat nya terjatuh. Kamar berantakan, penuh dengan poster idol kpop, dan alarm yang tak henti- henti nya bersuara nyaring. Dengan perasaan tidak percaya ia mengecek kalender yang terpasang di kamar nya.
3 Maret 2021, ini tidak mungkin kan!? Aku.. aku kembali?
Ucap Nata dengan perasaan senang. Namun perasaan itu menghilang karena teringat seseorang.
Wira, aku belum mengucapkan selamat tinggal yang benar. Anak- anak itu... apakah mereka khawatir dengan ku? Wira juga, tadi wajah nya sangat pucat. Waahh semua karena takdir, sini kau! Kau membuang dan mengembalikan ku seenak nya tanpa aba- aba💢
Atau, itu semua hanya mimpi ku? Ah tidak, perasaan itu sangat nyata.
Namun tak lama ada seseorang yang membuka kamar Nata.
" Kakek! "
Ucap Nata dengan senang. Ia memeluk kakek nya dengan erat.
" Aduh cucu kakek, pagi begini masih molor ya... hahaha "
Kakek membawa sesuatu, dari bentuk dan warna nya... jangan- jangan!
" Itu diary kakek ya!? "
Ucap Nata yang segera bersembunyi di balik selimut. Masih takut hal yang sama terulang kembali. Namun beliau hanya tertawa dan berjalan mendekat ke arah Nata.
" Tadi kamu meletakan nya di sembarangan tempat, jadi kakek ambil "
Beliau membuka buku tersebut. Merasa aman karena ada sang kakek, Nata perlahan keluar dari tempat dia bersembunyi. Betapa terkejut nya di melihat gambar- gambar di diary tersebut.
" I..ini kakek!? "
Beliau mengangguk mengiyakan.
N..ngak ngak mungkin! Kenapa ada foto Wira di diary kakek!? Bahkan rumah, suasana, bahkan anak- anak dalam foto hitam putih itu sama seperti mereka. Bedanya mereka sudah jauh lebih besar, kecuali foto yang mirip dengan Wira! Ini sangat mirip.
" Ini tahu b..berapa kek? "
Ucap Nata sekali lagi memastikan.
" Mungkin sekitar 1952? Saat kakek dapat kamera pertama kakek di umur 24 tahun, hahaha "
Kakek sekali lagi membuka diary nya. Bukan foto yang ada, melainkan catatan kakek yang sudah usang. Aku ikut membaca nya.
.....................
Di tahun 1947, aku bertemu dengan gadis aneh di depan rumah Pakde. Pakaian yang aneh, dengan wajah yang linglung. Aku mengajak nya untuk tinggal bersama ku, hampir 2 bulan lebih kita tinggal bersama dengan anak- anak lain. Namun ada satu fakta mengejutkan dari cerita gadis tersebut.
Walau tidak percaya, aku mencoba menghibur nya. Ia sangat suka gula jawa, aku memberi nya sepotong. Namun ada seseorang yang menarik gadis itu.
Bohong? Dia menghilang dalam sekejab. Aku mencari nya ke mana- mana dengan perasaan cemas, namun usaha ku sia- sia. Walau begitu aku bersyukur, sebelum dia pergi gadis itu tertawa dan mengucapkan terima kasih pada ku... walau suara nya sangat samar.
....................
Nata hanya menganga saat melihat tulisan dari sang kakek.
J..jangan- jangan, Wira itu kakek? Aku kembali di zaman nya kakek? Itulah alasan kenapa aku selalu nyaman di dekat Wira? Uapaa!?
" Oh ya, kakek sempat ingat gadis itu sama sepertimu. Walau kakek tidak begitu mengingat nya sih, dia juga suka gula jawa "
Ucap Kakek berusaha mengingat gadis yang ia lihat.
Ahahaha, aah sudahlah...(╥﹏╥)
[ TAMAT ]
.
.
.
Cerita ini hanya fiksi belaka, jangan lupa Like and Komen... Bye👋🏻